
Akhirnya Brian dengan berat hati memilih membiarkan cucunya mendapatkan zat psikotropika itu untuk yang terakhir kali. Lagi pula satu kali mengkonsumsi obat itu tidak akan mengubah keadaan. Rio sudah kecanduan, dan mereka tetap bisa melakukan rehab untuk anak itu setelah ini.
Hari ini Rio dibiarkan pergi sekolah seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Keluarganya terus memantau melalui kamera pelacak yang sudah terpasang pada pakaiannya.
Aktifitas Rio di sekolahnya terlihat normal. Setelah jam belajarnya selesai, anak itu pun berangkat ke panti asuhan, dan menemui guru lesnya.
Seperti biasa, mereka akan belajar di sebuah ayunan yang ada di taman panti, yang tidak terjangkau oleh CCTV.
"Mana permenku?" pinta Rio.
"Kau masih harus menjalankan satu tugas lagi!" perintah Vita.
"Tante bilang yang kemarin itu terakhir."
"Tapi Rara tidak mati dan Luna tidak keguguran sial, makanya kau harus memasukkan ini pada botol infus mamamu, dan masukkan yang satu ini ke dalam makanan Luna!" perintah Vita seraya memberi dua buah botol kecil dengan warna berbeda kepada Rio.
Rio melirik sekilas, dia menerima barang pemberian Vita. Zat terlarang yang dikonsumsinya membuat anak itu benar-benar seperti zombie, dia bahkan tidak merasa bersalah ataupun menyesal setelah mencelakai orang-tuanya.
"Bagus, ini untukmu!" Vita memberikan apa yang diinginkan Rio.
Rio menerimanya, lalu mengisap zat psikotropika berbentuk permen itu dengan lahap.
'Rara dan Luna akan tamat setelah ini, bersamaan dengan aku yang akan menghilang dari kehidupan kalian. Dan kau bocah sialan, kau akan menjadi gila karena tidak mendapatkan obatmu lagi, sedangkan keluargamu tidak akan ada yang mau mengurusmu. Kau akan dikucilkan dan dibenci karena sudah menjadi pembunuh,' batin Vita sembari tersenyum puas.
Sedetik kemudian mata Vita menyepit, sorot tajam itu terfokus pada kancing kemeja Rio yang paling atas. Sekilas, jika dilihat oleh mata orang awam itu memang seperti kancing baju biasa, tapi jika dilihat dengan perlahan, seksama, dan teliti, maka akan terlihat benda itu memiliki lensa.
Vita yang menyadari dirinya sudah kecolongan, langsung menggeram seperti orang kesetanan.
"Bajingan! Beraninya kau menjebakku, kau akan mati anak sialan! Kau harus mati di tanganku!" raung Vita, dia lantas mencekik Rio sekuat tenaga dengan mata melotot dan giginya yang menggertak keras.
"A-aah-aahhk ...." Rio menjerit tertahan, tangannya mencoba menggapai tangan Vita yang mencengkeram lehernya.
Tentu saja hal ini membuat napas keluarganya yang sedang memantau dari layar monitor langsung tercekat.
"Cepat hubungi petugas keamanan di sana, Brian. Cucumu bisa mati!" pekik Fanny panik.
Dalam keadaan kacau Brian langsung menghubungi security, yang kemudian langsung menghentikan aksi Vita.
Sayangnya, saat cekikan Vita terlepas, Rio sudah kehilangan kesadaran. Tidak ada yang tahu entah anak itu sudah tiada akibat kehabisan napas, atau masih bernyawa.
Dengan napas terengah-engah seperti orang yang baru saja dikejar setan, Fanny membenturkan kepalanya ke meja.
__ADS_1
"Maafkan aku, Brian. Aku sudah membahayakan nyawa cucumu. Aku tahu wanita itu sangat teliti dalam pekerjaannya, tapi aku sama sekali tidak mengira dia sampai memperhatikan detail sekecil itu," lirih Fanny sambil berusaha mengatur napasnya.
"Sudahlah, kita di sini bukan untuk saling menyalahkan, kita yang sama-sama memilih jalan ini, dan itu artinya kita sudah siap dengan segala risikonya." Lucas menepuk bahu Fanny, agar wanita itu tidak semakin menyalahkan dirinya.
"Benar kata Lucas, kau jangan menyalahkan dirimu. Kami akan ke rumah sakit untuk mengetahui kabar cucuku, apa kau ingin ikut?" tanya Brian.
Fanny mengangkat wajah lalu menggeleng pelan. "Kalian duluan saja, nanti aku akan menyusul untuk menjenguk cucumu. Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku."
"Baiklah, kami pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik."
Lantas kedua pria yang tak lagi muda itu beranjak meninggalkan ruangan tersebut. mereka segera meluncur ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit Brian menghubungi asistennya.
"Cari tahu data lengkap wanita yang ingin yang mencelakai keluargaku, secepatnya!"
"Baik, Tuan."
Brian memutuskan sambungan telponnya, lalu mengalihkan pandangan pada Lucas yang sedang mengemudi. "Kau melihat wajah wanita tadi itu, Luke? Kira-kira apa motifnya?"
"Entahlah, dia menyusup ke panti asuhan dengan menjadi guru, lalu memperalat Rio untuk mencelakai menantu kita. Jadi kemungkinan terbesarnya dia mempunyai dendam pada Luna dan Rara," sahut Lucas.
"Jika dia memang musuh menantu kita, lalu kenapa mereka menerimanya bekerja di sana? Terlebih Luna menantumu, selama ini Luna terlihat mampu memahami kepribadian orang di sekitarnya, tapi dia kecolongan kali ini. Dan yang paling aneh, Luna dan Rara tidak mengenalinya!"
Kurang satu jam perjalanan, mereka pun tiba di rumah sakit. Di ruang tunggu keluarga pasien, mereka mendapati para wanita yang sedang bertangisan.
Melihat kedatangan suaminya, Lidya langsung menghampiri Brian dengan wajah sembapnya. "Lihatlah, hasil dari pekerjaanmu kali ini! Kau sudah mencelakai cucuku. Aku sudah bilang kita obati saja Rio, tidak perlu bernafsu mencari pelakunya dengan menjadikan cucuku sebagai umpan!" raungnya.
"Maaf ...." Brian menunduk lesu sembari merangkul istrinya untuk duduk, "Bagaimana keadaan anakmu Sean?" Brian mengalihkan pandangan pada putranya.
Sean menggelengkan kepala. "Tidak tahu, Ayah ... dia sedang menjalani penanganan darurat."
"Lun!" panggil daddy Lucas.
"Ya, Dad?"
"Apa kau tidak mengenal wanita yang menjadi guru les di panti itu sebelumnya?" tanya daddy Lucas.
"Tidak, Dad. Apa dia pelakunya?"
Daddy Lucas membenarkan. "Ya, dia pelukanya, dia memanfaatkan Rio untuk mengincarmu dan Rara. Jadi dapat dipastikan dia memiliki dendam padamu dan Rara, apa kau benar-benar tidak mengenali musuhmu?"
__ADS_1
"Tidak mungkin, Dad. Kami tidak saling mengenal, aku bahkan baru pertama kali bertemu dengannya di panti, saat peresmian," jawab Luna.
Brian yang melihat ponsel bergetar, berdiri untuk menjauh dari keluarganya.
"Apa kau sudah mendapatkan datanya?" Brian menjawab panggilan yang telpon yang tak lain dari asistennya.
"Dia bukan guru les biasa, Tuan. Dia memiliki kekayaan yang sangat besar, seluruh kekayaan yang dimiliki tuan Dion adalah atas namanya."
"Maksudmu ... Dion ayahnya Rara?" tanya Brian.
"Benar, Tuan. Dari data yang didapat orang kita, dia membeli seluruh aset tuan Dion dari Vita."
"Vita? Apa dia sudah bebas?"
"Dia sempat bebas selama beberapa hari, Tuan. Sebelum akhirnya meninggal."
"Baiklah." Brian memutus sambungannya.
Info yang diberikan asistennya, sudah cukup untuk membuat otak cerdas Brian menyimpulkan bahwa gadis itu adalah Vita.
Brian kembali menghampiri keluarganya.
"Sean, temui gadis itu di ruang penyekapan, bawa kemari sampel darahnya!" perintah Brian.
"Tapi untuk apa, Ayah?"
"Kemungkinan terbesarnya dia adalah Vita!"
"Apaaa!?" Semua orang yang di sana berucap serentak, dengan raut wajah yang sama terkejutnya.
"Tapi bagaimana mungkin?" gumam Luna pada diri sendiri.
Sean mengepalkan tangannya. "Aku akan membuatnya tersiksa sampai mati, jika dia benar dia adalah Vita!"
Sean menggertakkan giginya, dia bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Dia juga mengincarkan istriku! Aku tidak akan melepaskannya!"
Gio berdiri seraya melangkah dengan cepat menyusul Sean.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, dan komentarnya, ya.
Terimakasih.