
Gio bergegas menyusul ke mansion Richard setelah mendengar Luna memaksakan diri untuk pulang bersama Rio. Dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu, mengingat kondisi psikis Rio yang tidak baik-baik saja.
Gio baru bernapas lega setelah memastikan tidak terjadi satu hal pun pada Luna, saat ini istrinya itu menggendong baby Caca di taman belakang mansion.
"Kenapa harus maksa pulang, Lun? Kata onty Alya kamu masih harus bedrest di rumah sakit satu hari lagi," ujar Gio dengan nada mengeluh seraya merangkul pundak Luna.
"Aku sudah sehat kok, Gi. Kamu bisa lihat sendiri keadaan aku sudah membaik!" sahut Luna biasa saja.
"Ya sudah, oke. Tapi jangan lama-lama berdiri ya, kamu masih harus banyak istirahat."
Luna mengangguk pelan, Gio lantas menuntunnya untuk beristirahat di gazebo. Sedangkan Caca masih terlelap nyaman dalam gendongan Luna.
"Gi, kita bisa tinggal di sini untuk sementara, kan?"
Pertanyaan Luna itu membuat Gio menoleh dengan tatapan heran. "Bisa, tapi mengapa kita harus tinggal di sini?"
"Gi, saat ini Rara masih koma, dan kita tidak tahu kapan dia akan sadar. Sedangkan Sean sudah pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sakit untuk menjaga Rara. Aku ingin di sini biar bisa mengawasi Rio dan Caca," terang Luna.
"Lun, di sini itu tidak kekurangan pelayan, Caca punya pengasuh, dan Rio juga akan ditemani psikolog anak untuk menemani rehabnya," balas Gio kurang setuju.
"Iya, aku ngerti. Tapi Rio sama Caca juga butuh perhatian dari keluarganya, yang untuk saat ini tidak bisa diberikan Rara. Terutama Rio, aku tidak bisa menjahuinya dengan kondisi dia yang sekarang."
"Justru itu yang aku khawatirkan, Lun. Menjaga Rio itu sangat berisiko bagi kamu, mungkin sekarang Rio terlihat baik-baik saja karena efek barang haram itu masih ada. Tapi besok saat dia tidak lagi mendapatkan barang itu, dia bisa mengamuk, dan bisa mencelakaimu."
"Aku bisa menjaga diri, Gi. Justru karena tahu Rio sedang tidak baik-baik saja, makanya aku ingin di sini. Aku tidak tega membiarkan dia sendiri dalam kesakitan karena menginginkan barang haram itu."
"Lun, kamu sedang hamil, tidak boleh banyak pikiran, tidak boleh stres. Jadi untuk saat ini cukup pikirkan kandunganmu saja, tidak perlu memikirkan yang lain-lain," debat Gio.
Luna menggelengkan kepalanya. "Berhentilah egois, Gi. Justru aku akan stres berat jika tidak di sini, aku tidak bisa tenang sementara Rio kesakitan di sini. Ingat, Rio itu keponakanmu juga!"
Lelah berdebat dengan Gio, Luna pun berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan mengantar Caca ke kamarnya."
__ADS_1
Gio mengangguk pelan, matanya menyoroti Luna yang berlalu menjauh. Bukan tidak suka melihat Luna yang terlalu mengkhawatirkan Rio, dia hanya tidak ingin istrinya itu kenapa-kenapa.
Sejenak Gio memikirkan semua omongan Luna tadi, dia tahu seperti apa kerasnya Luna. Jika wanitanya itu sudah berkehendak, maka dia akan melakukan keinginannya tanpa peduli pendapat orang lain.
Setelah menimbang keputusan, Gio pun pergi menyusul Luna ke kamar Caca. Dia merasa lebih baik mengalah dan mengikuti keinginan Luna. Lagi pula dia yang sudah tahu kondisi Rio bisa lebih berhati-hati untuk menjaga Luna.
"Baiklah, kita akan tinggal di sini sampai Rara sembuh!" ujar Gio seraya mendudukkan diri di samping Luna.
"Jadi kamu setuju?" tanya Luna sumringah.
Gio mendesah berat. "Apa aku punya pilihan selain menuruti keinginanmu, My Kwen?"
Luna tersenyum senang, kemudian memeluk suaminya itu. " Terimakasih, Gi!"
"Kalau begitu aku pulang sebentar untuk mengambil pakaian kita," ujar Gio.
"Kau bisa sendiri, kan?"
"Kau pasti akan memilih di sini untuk menemani Caca daripada ikut bersamaku."
***
Keesokan harinya hasil cek laboratrioum sampel darah Vita pun keluar. Sean semakin kesal setelah mengetahui kebenaran ini, dia menghubungi Gio sebelum berangkat ke gedung URM group.
"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Sean pada bodyguard yang berjaga di sana.
"Dia kadang menggila karena efek obat itu, kemudian jatuh pinsang, terus seperti itu secara berulang-ulang, Tuan" jelas bodyguard tersebut.
Sean menarik sudut bibirnya, lalu melangkah ke ruangan tempat Vita dikurung. Saat ini wanita itu tengah pingsan karena tidak sanggup menahan dosis obat yang dikonsumsinya.
"Siram dia!" perintah Sean.
__ADS_1
Pengawal itu pergi, lalu kembali dengan membawakan beberapa ember air. Dan segera menyiramkannya ke Vita hingga membuatnya terbangun dalam keadaan gelagapan.
Melihat ada Sean di depannya, mata Vita pun menghunus tajam. "Tidak punya perasaan! Kau memperlakukanku seperti binatang!" raungnya.
Sean mendekat dan langsung menarik rambut Vita. "Kau sendiri berhati binatang, makanya pantas diperlakukan seperti ini!" bentaknya tak kalah keras.
"Kau tahu seberapa sayangnya Rara padamu? Dia bahkan memohon agar tidak memenjarakanmu setelah kau nyaris membunuhnya dan Rio. Dia juga tidak mau merebut kembali aset keluarganya yang dikuasai oleh ibumu, padahal sudah jelas semua itu haknya dia, itu asetnya mama Maira. Kau tahu kenapa? Dia membiarkan semua itu menjadi milikmu agar kau tetap punya uang, Rara berharap kau berubah setelah keluar dari penjara!"
"Huh, tapi sayangnya Rara malah mengasihani binatang buas, yang kemudian berbalik memangsanya. Kau bahkan tega merusak Rio demi memuaskan hawa nafsu binatangmu itu, Rio itu keponakanmu juga sialan! Di mana hatimu?!" Sean menumpahkan segenap kemarahannya dengan suara meledak-ledak.
Sejurus kemudian Gio juga tiba di sana, dia menatap Vita seperti orang kesetanan, dengan tangan kekarnya yang langsung mencengkeram rahang Vita.
"Mengapa kau juga menyasar Luna, huh? Kau hampir membuatnya kehilangan janin kami!" seru Gio dengan suara menggelegar.
Vita mengelengkan kepala sampai Gio melepaskan cengkeraman di wajahnya, dia lantas menatap Gio penuh kebencian.
"Luna memang pantas mati, dia memukuliku sampai wajahku menjadi cacat!" raung Vita yang kemudian mengalihkan pandangan pada Sean. "Rara si wanita murahan itu juga seharusnya mati, dengan tidak tahu malunya dia merebutmu dariku. Dia wanita laknat, dia pantas mati, dia menghancurkan semua impianku!"
Sreeett!!
Mulut Sean dan Gio seketika menganga lebar, saat melihat darah segar menyembur dari leher Vita, tubuh wanita itu mengejang beberapa kali sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Gio dan Sean tidak menyadari entah sejak kapan Luna berada di sana. Di tangan istri Gio itu terdapat sebuah belati yang sangat tajam, benda itulah yang baru saja ia gunakan untuk menebas urat nadi di leher Vita.
Alih-alih menjerit trauma setelah menghilangkan nyawa orang, Luna malah menatap Vita yang sudah menjadi mayat dengan sorot mata puas.
"Lu-lun ... apa yang kau lakukan?" tanya Gio dengan suara tertahan.
"Aku membunuhnya!" sahut Luna dingin.
"Iya, aku tahu kau membunuhnya, tapi mengapa kau melakukan itu? Kau sedang hamil, Luna ... dan bagaimana kau akan menjelaskan pada Rara setelah membunuh adiknya?" sesal Gio sambil mengusap kasar rambutnya.
__ADS_1
"Aku lebih memilih dibenci Rara karena telah membunuh adiknya. Daripada membiarkan adik berhati iblisnya ini hidup, dan terus-terusan ingin mencelakai Rara dan Rio."
Bersambung.