Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Pasangan Yang Bahagia


__ADS_3

Selain memiliki Air bewarna biru kehijauan dan pasir putih nan indah, sebagian pantai-pantai di Lombok juga memiliki khas tersendiri dengan dengan pasirnya yang berbentuk butiran merica.


Pantainya yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, juga sangat menarik minat peselancar untuk memacu adrenalin, karena ombaknya sangat menantang.


Di sinilah Gio dan Luna sekarang berada. Pantai Seger, memandangi gelombang ombak yang menyapa pantai, sembari menikmati air kelapa muda.


"Pernah dengar legenda pantai ini?" tanya Gio di sela-sela menyesap air kelapanya.


"Legenda apa?" tanya Luna.


"Konon, Pantai Seger ini adalah tempat seorang putri menenggelamkan dirinya ke laut, namanya adalah Putri Mandalika," ujar Gio memulai ceritanya.


Luna mengkerutkan dahi. "Mengapa dia bunuh diri?"


"Putri Mandalika adalah gadis yang sangat cantik, saking cantiknya dia menjadi rebutan tiga orang pangeran. Dia bingung harus memilih yang mana, kalau pun dia bisa memilih salah satu khawatir ujung-ujungnya akan terjadi pertumpahan darah dan peperangan. Karena tidak ingin hal buruk itu terjadi, dia pun memilih mengakhiri hidup dengan terjun dari atas tebing di Pantai Seger ini," lanjut Gio.


"Ehmm ... kalau aku yang jadi putri itu, aku terima saja lamaran ketiganya. Lagi pula mereka sama-sama pangeran, dan sudah pasti semuanya tampan-tampan," celutuk Luna seraya terkekeh jahil menunggu reaksi suaminya yang pencemburu itu.


"Sebelum kau menerima lamaran pria lain, lebih baik aku membunuhmu terlebih dulu!" Gio menggeram kesal.


Luna berpura-pura bergidik takut. "Ternyata suamiku ini punya jiwa psikopat juga, ya!" Luna kembali terkekeh. "Ya, sudah, ayo lanjutkan ceritanya!"


"Setelah melompat ke laut, alih-alih meninggal, Putri Mandalika malah berubah menjadi Nyale. Itulah mengapa ada banyak Nyale di pantai ini, dan penduduk lokal percaya bahwa Nyale-nyale tersebut adalah jelmaan dari Putri Mandalika."


"Untuk itu pada bulan ke sepuluh tepatnya hari ke dua puluh berdasarkan penanggalan tradisional Sasak, masyarakat lokal di sini selalu mengadakan Bau Nyale setiap tahunnya, sebagai penghormatan untuk putri Mandalika," pungkas Gio.


Luna menatap suaminya dengan tangan menopang dagu. "Bau? Apanya yang bau? Lalu Nyale itu apa?"

__ADS_1


Membalas tatapan yang menggemaskan itu, Gio mengulurkan tangan untuk mencubit hidung istrinya. "Nyale itu adalah cacing laut. Dan Bau Nyale adalah nama festival yang diadakan masyarakat lokal. Pada hari festival itu masyarakat akan berkumpul di tepi pantai untuk mengumpulkan Nyale. Nyale itu biasanya dijadikan olahan lezat oleh masyarakat lokal dengan cara ditumis atau dipepes."


"Apa rasanya enak?" tanya Luna penasaran.


"Entahlah, aku juga belum pernah mencobanya, tapi katanya Nyale itu memiliki kandungan protein yang sangat tinggi," jawab Gio.


Luna mengangguk-angguk, meski penasaran tapi dia tidak kepikiran untuk mencobanya.


Mereka menghabiskan air kelapanya, kemudian mulai menyisir tepi Pantai Seger. Luna tampak bahagia bisa menghabiskan hari-hari yang penuh keromantisan bersama suaminya.


"Habis dari sini kita mau ke mana lagi?" tanya Luna sembari bermanja-manja di lengan Gio.


"Sebelum petang, kita akan pergi ke Bukit Merese untuk melihat sunset. Kita juga akan berkemah di sana untuk menunggu sunrise. Sepertinya saat ini Sean dan Rara sedang mempersiapkan perkemahan untuk kita," jawab Gio.


"Hehe ... sepertinya menginap di perkemahan lebih baik. Daripada membuatmu pusing saat tidur di resort, tapi belum boleh menyentuhku." Luna tergelak, yang berhasil memancing tatapan kesal dari Gio.


"Lihat saja, aku tidak akan mengampunimu setelah boleh nanti!" Gio mengamcam sembari menampakkan seringaian liciknya.


Gio menginginkan bulan madu yang serba romantis, yang dia bayangkan saat bulan madu adalah bercinta di mana pun dan kapan pun dengan istrinya.


Bercinta di kamar, kolam renang, balkon, teras resort, itulah yang ada di pikiran Gio. Yang sayangnya semua itu tidak kesampaian karena ada keluarga yang menemaninya berbulan madu.


Meski begitu, Gio bisa kembali ke Ibukota setelah liburan selama 2-minggu di Lombok dengan wajah cerah. Bulan madunya diisi dengan berbagai keseruan yang dia lakukan bersama sang istri, pergi diving ke tiga Gili terkenal di Lombok, jalan-jalan ke berbagai pantai, mendaki dan berphoto-photo dengan latar danau indah di puncak Rinjani, menikmati indahnya sunset di Bukit Merese, sampai berkemah di sana menunggu sunrise yang tak kalah membuat mata memandang takjub, dan masih banyak lagi.


Tentu saja yang paling membuat Gio bahagia adalah dia sudah bisa melakukan ritual suami istri dengan Luna secara continue. Dan yang semakin membuat Gio bahagia, ternyata istrinya itu sangat hot dan memiliki hasrat liar yang terpendam. Tidak jarang Luna meminta lebih setelah ia merasakan nyaman dan tahu indahnya melakukan hubungan suami istri.


Saat ini mereka sudah berada di kamar mansionnya, dan bersiap untuk tidur setelah melakukan ritual suami istri yang penuh gairah.

__ADS_1


"Mengapa kau senang sekali mengusap perutku?" tanya Luna sembari memegangi tangan Gio yang berada di atas perutnya.


"Aku tidak sabar menunggu hari saat benihku tumbuh di rahimmu, dan Gio junior akan hidup di sini." Gio duduk sebentar untuk mengecup perut Luna sebelum kembali rebahan.


Luna memutar tubuh menghadap suaminya. "Jika aku diberi rizki untuk hamil, kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanyanya.


"Sebenarnya aku ingin anak laki-laki, tapi walaupun anak pertama kita nanti perempuan, kasih sayangku tetap akan sama, aku tidak akan membeda-bedakannya. Dan kita bisa membuat adik laki-laki untuknya."


Luna mencebik. "Bagaimana kalau anak kedua kita perempuan lagi?"


Gio terkekeh menampakkan seringai mesumnya. "Kita bisa terus memberinya adik sampai ada yang laki-laki."


"Itu sih maumu!" sungut Luna yang membuat Gio langsung tergelak.


"Tapi kau juga menikmatinya kan, My Kwen. Bahkan kau lah yang mengerang paling keras saat mencapai pelepasanmu." Gio terkekeh jahil, tangannya terulur menyelipkan anak rambut Luna ke belakang kupingnya. "Tidurlah, My Kwen ... tugas kantormu pasti sudah menumpuk semenjak ditinggal mempersiapkan pernikahan kita, sampai kita pergi liburan."


"Kau benar, ditambah lagi besok adalah peresmian panti asuhan Giselle. Semoga saja kebaikan yang ia tinggalkan di sini memberikan kehidupan yang layak untuknya di sana." ucap Luna.


"Giselle, dia memiliki sifat yang hampir sama denganmu, My Kwen. Dia gadis berhati baik, mandiri, dia suka memendam masalahnya seorang diri tanpa mau membebani orang lain," lirih Gio.


"Apa sekarang kau menyesal sudah mengabaikannya?" tanya Luna.


"Penyesalan itu pasti ada, My Kwen ... apalagi aku sudah gagal melindunginya. Tapi kita hidup untuk saat ini dan masa yang akan datang, bukan? Dan lagi saat ini aku sudah bersama wanita yang telah lama mengisi hatiku, jauh sebelum Giselle hadir," jawab Gio.


Luna tersenyum lembut, dia memejamkan mata lalu mulai tertidur dalam dekapan suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalkan like, dan komentarnya, ya.


Terimakasih, salam hangat.


__ADS_2