
Gio menimang putrinya penuh kasih, dia sangat bahagia karena Luna sudah berhasil menghadirkan buah hati mereka ke dunia dengan selamat, dan bayinya juga sehat tanpa kurang satu apa pun.
Bayi cantik itu kini tampak nyaman dalam gendongan sang ayah, setelah kenyang menyusu dari ibunya.
Saat tengah asik menggedong putrinya, Gio melihat Sean keluar dari ruang bersalin dalam kondisi yang acak-acakan. Tidak hanya wajahnya yang memerah, tapi juga ada banyak bekas gigitan di lengannya.
Gio pun tersenyum Geli, dia merasa ngeri untuk sekedar membayangkan apa yang dilakukan Rara pada Sean di dalam sana.
"Hei, kau kenapa, Bro? Apa kau baru saja bertarung dengan monster di dalam sana?" tanya Gio dengan maksud mengejek.
"Sialan kau!" sungut Sean yang disambut tawa cekikikan oleh Gio.
"Bagaimana menurutmu? Putri kecilku ini cantik, bukan?" Gio memamerkan anaknya.
"Tentu saja cantik, kalau tampan berarti dia laki-laki," kelakar Sean.
"Bukan itu maksudku sialan! Lihatlah, bibirnya, matanya, hidungnya, semuanya mewarisi kecantikan Luna. Saat besar nanti, dia pasti akan menjadi rebutan banyak pria," ujar Gio dengan bangga.
"Dan karena itu kau harus melakukan penjagaan ekstra, agar dia tidak menjadi korban casanova tengik seperti daddynya." Sean terkekeh sembari menepuk bahu Gio.
"Berpikir dirimu itu pria suci, huh? Kau juga harus menjaga Caca dari playboy busuk seperti papanya!" balas Gio tak ingin kalah.
"Ya, ya ... kau memang benar." Sean tidak mengelak, "Tapi tugasku sedikit lebih ringan, karena Mario dan Galvin pasti akan melindungi saudari perempuan mereka dari semua kutu busuk yang ingin mendekat."
"Kau menamai putra kecilmu Galvin?"
__ADS_1
"Ya, Galvin Arkananta Richard. Apa kau sudah memberi nama untuk putri cantikmu ini?" jawab Sean yang kemudian bertanya.
"Aku menamainya Gita yang berarti mutiara, karena putriku ini adalah mutiara hidupku dan Luna. Lalu Luna menambahkan Alivia untuk nama tengahnya. Gadisku ini bernama lengkap Gita Alivia Morelli."
"Ehmm, nama yang indah," gumam Sean sembari manggut-manggut, "Ah, ya ... putraku dan putrimu lahir di hari yang sama, dan memiliki nama dengan awalan yang sama. Bagaimana jika kita jodohkan saja, sepertinya cocok."
"Bukan ide yang buruk." Gio setuju dengan usul Sean, "Tapi sebaiknya kita bicarakan dulu dengan para istri, aku tidak mau membuat keputusan yang bisa membuatku terusir dari kamar."
"Hahaha ... dasar suami takut istri!" ejek Sean.
Gio tersenyum tipis, lalu balas mencibir, "Hei, Bung. Jangan pikir aku tidak tahu kau tidur di sofa saat malam pengantinmu, hahaha ...."
Sean mendelik, dari mana Gio tahu aib terbesarnya itu? Ah, pasti Rara bercerita pada Luna, lalu Luna menceritakan lagi pada suaminya.
Dasar mulut wanita, sial!
"Sayang, bawa Gita ke sini," panggil Luna.
Gio mendekati brankar Luna, lalu meletakkan putri kecil mereka di samping sang ibunda.
"Anak kita cantik ya, Gi," lirih Luna, sambil mengusap pipi putrinya yang sedang tidur.
Saat ini Luna masih agak lemas setelah proses melahirkan yang menguras begitu banyak energi.
"Sangat cantik, persis seperti mommynya," balas Gio seraya memberikan kecupan di dahi Luna. "Oh, ya, Sayang ... ada yang ingin aku bicarakan."
__ADS_1
"Apa itu? katakan!"
"Tadi aku dan Sean berencana untuk menjodohkan putra putri kita, apa kau setuju?"
Luna mengangguk. "Aku dan Rara memang sudah membahas hal yang sama sejak jauh-jauh hari. Tepatnya saat kita membeli perlengkapan bayi, hanya saja aku dan Rara sengaja belum memberitahu tentang ini, karena ingin menunggu setelah lahiran."
"Jadi kau setuju, Sayang?"
"Tentu saja, ini akan semakin mempererat tali keluarga kita," sahut Luna.
"Masih ada satu lagi, Sayang."
"Ehmm, apa?"
"Setelah ini kita harus membuat adik laki-laki yang banyak untuk Gita, agar tidak ada anak nakal yang berani mengganggunya."
"Apa isi kepalamu tidak ada yang lain, Gi? Aku masih terbaring di brankar rumah sakit, tapi kau sudah memikirkan adik untuk Gita!" suntuk Luna sambil melotot kesal.
Beratnya perjuangan dan sakit yang harus ia tanggung saat proses melahirkan belum juga hilang, tapi suaminya sudah berencana untuk membuat anak yang banyak, dasar gila!
"Itu kan baru rencana, Sayang. Eksekusinya baru akan dimulai setelah masa nifasmu selesai." Gio terkekeh jahil.
Luna memalingkan wajah sembari membuang napas jengah. Lebih baik dia tidur untuk memulihkan tenaga, daripada meladeni Gio yang pikirannya tidak pernah jauh dari hal mesum.
Bersambung.
__ADS_1
Salam hangat @poel_story27