
Persis seperti yang ada di pikiran Luna, saat ini perawat itu sedang membuka pakaian Gio. Bahkan dari gerakannya yang centil, Luna tahu perawat itu sedang memanfaatkan keadaan untuk menggoda Gio.
Seperti inikah mereka setiap hari? Membayangkannya saja sudah membuat mata Luna memanas, dia tidak terima meskipun ini memang tugas perawat tersebut.
"Ada apa Lun?" tanya Gio yang heran melihat Luna masuk ke kamarnya dengan napas tersengal.
"Kau ingin mandi, bukan? Biar aku saja yang memandikanmu!" ujar Luna seraya melangkah semakin dekat.
Gio mengernyit heran, ditambah lagi Luna menatap perawat tersebut dengan pandangan tidak suka.
"Kamu keluar saja, biar aku yang memandikan Gio," usir Luna pada gadis yang menjadi perawat Gio.
"Tapi ini memang tugas saya, Nona," tolak gadis bernama Aline tersebut.
Dia masih berdiri di tempatnya, seolah tidak akan membiarkan Luna mengambil alih tugasnya.
"Astaga Luna ... dia itu hanya melakukan tugasnya, mengapa kau jadi bersikap aneh seperti ini?" Gio menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Mendengar pembelaan dari Gio, perawat itu tersenyum tipis. Apalagi melihat wajah Luna yang memerah menahan marah, membuat hatinya semakin puas.
"Jadi setiapnya harinya gadis ini selalu memandikanmu? Dan kau membiarkan begitu saja saat dia melihat tubuh polosmu?" cecar Luna dengan mata yang melirik kesal ke arah Aline.
__ADS_1
Gio menggelengkan kepala. "Iya, lalu apanya yang salah Luna? Dia hanya melakukan tugasnya."
"Ck, tentu saja salah. Kau tidak lihat gadis ini sengaja mencari kesempatan. Dia memanfaatkan tugasnya untuk bisa menggodamu!" kesal Luna.
"Luna ... berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Kecemburuanmu itu tidak masuk akal, Aline hanya melakukan pekerjaannya, tidak ada yang lain!"
"Maksudmu, pekerjaan untuk menggodamu, huh?"
"Luna, hentikan itu! Hubungan kita baru saja dimulai, tapi kau sudah bersikap berlebihan!"
"Berlebihan apanya? Bilang saja kau suka dimandikan olehnya. Sudahlah, terserah kau saja! Aku malas peduli padamu!" kesal Luna lalu bergegas meninggalkan kamar tersebut.
"Luna!" panggil Gio, tapi diabaikan begitu saja oleh Luna.
***
Di sebuah ruang jenguk, seorang gadis berwajah rusak sedang menyantap makanan yang dibawa Aline dengan begitu lahap, persis seperti orang yang benar-benar kelaparan.
"Semalam aku berhasil membuat Luna cemburu, dia lantas pergi meninggalkan mansion Morelli dengan wajah kesal. Sepertinya hubungan yang baru terjalin itu akan segera kandas!" ujar Aline memberitahu.
Mendengar cerita Aline, gadis itu tertawa dengan begitu puas, menampakkan barisan gigi depannya yang sudah ompong.
__ADS_1
"Awalan yang baik Aline. Kau harus bisa mengacaukan hubungan mereka. Ingat untuk bermain cantik dan halus, karena mereka dikelilingi oleh orang yang sangat pintar membaca kepribadian orang."
"Kau tenang saja, bersandiwara adalah bakat naturalku." Sahut Aline sambil mengibaskan tangannya. "Sepertinya misiku kali ini bukan hanya untuk menghancurkan Luna, karena aku mulai tertarik untuk mendapatkan Gio."
"Itu lebih bagus, jika kau berhasil merebut Gio maka Kita akan mendapatkan kekuatan tambahan, keuntungan lainnya kau akan menjadi seorang nyonya muda!" ujarnya dengan sorot mata penuh dendam. "Luna harus mendapatkan balasannya karena sudah membuat wajahku menjadi cacat seperti ini!"
"Kau bisa melakukan operasi plastik setelah terbebas nanti, ngomong-ngomong berapa lama lagi hukumanmu?" tanya Aline.
"Kau jangan membuatku kesal, Lin. Aku baru selesai sidang beberapa hari yang lalu, tuntutanku 4-tahun dan hanya dipotong 3-bulan masa tahanan!"
Aline menepuk bahu temannya itu. "Bersabarlah, aku pun tidak tinggal diam. Aku akan mengupayakan remisi untukmu, agar kau bebas secepatnya."
"Aku mengandalkanmu, Lin. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kau tahu sendiri, kedua orang-tuaku pun mendekam di sini, dan sialnya mereka terkena hukuman seumur hidup."
Aline tersenyum santai. "Percayakan padaku!"
Aline berdiri dari tempat duduknya saat melihat seorang sipir datang mendekat. "Waktu jengukku habis, aku harus kembali ke mansion Morelli."
"Ingat untuk selalu bermain cantik, Lin," pesannya sekali lagi.
Aline mengangguk, dia lantas melangkah pergi. Sedangkan gadis yang ditinggalkan Aline memandanginya sembari tersenyum licik.
__ADS_1
'Rara, Luna ... jangan kira dengan mendekam di sini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perlahan aku akan menggoncang kehidupan kalian, lalu badai besarnya akan menyusul setelah aku bebas nanti!'
Besambung.