
Dua bulan telah berlalu sejak hari pembukaan panti asuhan itu, sejak saat itu pula Rio selalu datang ke sana dengan alasan untuk belajar. Sepulang dari sekolah dia akan langsung ke panti asuhan diantar supir ataupun orang tuanya. Hari libur pun begitu, dia pasti akan meminta diantar ke sana dengan alasan yang sama, yaitu belajar bersama teman-temannya.
Tidak ada yang curiga dengan Rio, keluarganya malah berpikir ini adalah hal positif, sebab setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu, Rio berubah menjadi anak yang sangat tertutup pada orang baru.
Rita ataupun Vita menjalankan misi balas dendamnya dengan sangat hati-hati, di sebuah ayunan taman depan panti tidak terjangkau oleh CCTV itulah setiap harinya dia memberikan sebuah permen yang entah terbuat dari apa kepada Rio, yang jelas anak itu sangat ketagihan.
Siapa pun yang melihat mereka di ayunan itu, pasti akan mengira Rio sedang belajar dengan guru lesnya. Licik, pintar, dan sangat cerdas, itulah yang dilakukan Vita. Dia akan memaksa Rio untuk belajar bersamanya di ayunan itu, sebelum memberikan apa yang diinginkan anak itu, sehingga tidak ada mencurigai mereka.
Dosis yang dia berikan kepada Rio pun sudah diatur sesuai takaran, sehingga anak itu tidak pernah bertingkah over yang bisa memancing kecurigaan keluarganya.
Hari ini satu lagi permen yang mengandung zat adiktif itu Vita berikan pada Rio, dan anak kecil tidak berdosa itu langsung menghisapnya seperti orang sakau. Vita yang melihat itu pun tersenyum puas.
'Baiklah, aku rasa dua bulan ini sudah cukup untuk membuat anak ini ketergantungan padaku. Hari ini aku akan mulai mencoba memberinya perintah.'
'Keluarga Richard dan Morelli yang berkuasa, keluarga yang saling menyayangi. Aku memang akan kalah jika mengadu kekuatan untuk menghancurkan kalian. Tapi bagaimana jika cucu kesayangan kalian ini yang akan aku gunakan untuk memutus ikatan kasih sayang di antara kalian itu? Aku pastikan sebentar lagi kalian akan hancur dan menjadi keluarga yang saling membenci satu sama lain,' Vita bermonolog sembari tertawa puas dalam hati.
"Bagaimana, Sayang apa kau senang hari ini?" tanya Vita.
"Iya, Tante, permennya enak!" sahut Rio senang.
Efek dari zat adiktif yang diberikan Vita sangat luar biasa, Rio akan menjadi rileks dan berenergi setelah mengkonsumsinya, tapi dia akan merasakan tubuhnya melemah jika tidak mendapatkan benda itu satu hari saja. Itulah mengapa Rio harus memutar otak setiap hari agar bisa bertemu Vita.
'Bagus keponakan sialanku, tapi mulai besok kau sudah harus mulai melaksanakan tugasmu baru bisa mendapat jatah, kau akan menjadi senjata terbaikku,' gumam Vita sembari tersenyum culas.
***
__ADS_1
Kantor Paradise Fashion.
"Ra, nanti abis makan siang temanin aku ke dokter ya," ujar Luna sembari terus fokus pada desain gaunnya.
"Kamu sakit?" Rara menoleh.
"Cuma kurang enak badan sih, tadi pagi aku juga muntah-muntah, seperti gejala kehamilan gitu," ujar Luna.
"Kamu udah coba cek pake test pack?" tanya Rara.
Luna menggeleng. "Belum, soalnya aku lupa beli. Makanya hari ini aku mau langsung periksain ke dokter, biar lebih pasti aja."
"Oke, nanti habis makan kita ke rumah sakit," sahut Rara.
Mereka langsung mencari praktik dokter obgyn, karena Luna cukup yakin yang sedang dia alami sekarang adalah gejala kehamilan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Luna pun dinyatakan positif hamil. Kata dokter kehamilannya sudah memasuki usia sepuluh minggu. Luna pun sangat bahagia mengetahui berita baik ini, meski kandungannya dinyatakan agak lemah.
"Selamat ya Lun ... akhirnya aku bakal punya keponakan." Rara memeluk sahabatnya itu, dia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Luna saat ini.
"Makasih ya, Ra ... aku bahagia banget, aku sudah nggak sabar mau ngasih tau Gio," ujar Luna sembari membalas pelukan Rara.
"Ngabarin Gio nanti aja, Lun ... bakal lebih surprise kalau ngasih taunya ngomong langsung," saran Rara.
"Benar juga sih, pasti Gio nanti senang banget!" seru Luna.
__ADS_1
"Nanti habis nemanin aku check up ke dokter umum, kita langsung pulang," balas Rara.
"Eh, bentar, Ra ... tadi kan kamu bilang kalau gejala yang kamu alami itu sama kayak aku. Kenapa nggak diperiksain di sini dulu? Siapa tahu kamu juga hamil," cerocos Luna.
Rara menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin, Lun ... aku pasti cuma masuk angin biasa. Dulu waktu hamil Rio sama Caca, Sean itu setiap paginya muntah-muntah. Sekarang dia sehat-sehat aja tuh!"
"Tidak setiap kali istrinya hamil seorang suami akan mengalami gejala kehamilan simpatik, Nona." Dokter yang tadi memeriksa Luna menyela.
"Tapi, Dok. Suami saya selalu memakai pengaman setiap kami berhubungan, kecuali ...." Rara tiba-tiba teringat Sean pernah melakukannya tanpa pembatas, saat itu Sean sedang kehabisan stock pengaman, itu pun cuma satu kali, saat mereka di Lombok.
"Kecuali apa?" tanya Luna.
"Pernah sekali," sahut Rara seraya menggigit bibirnya.
"Itu artinya ada kemungkinan Nona juga sedang hamil," ujar dokter obgyn tersebut.
Wajah Rara memucat, bukan karena dia tidak senang jika diberi kepercayaan lagi, tapi Rara kasihan pada Caca jika harus berhenti mendapat asupan ASI, sedangkan saat ini ia baru berumur 5-bulan.
Umur putrinya masih terlalu dini untuk mempunyai adik, itulah yang membuat dia dan Sean selalu mengunakan pengaman saat berhubungan suami istri.
Tapi apakah satu kali melakukannya tanpa pengaman itu membuatnya langsung kecolongan?
Setelah terus didesak oleh Luna dan dokter obgyn itu, akhirnya Rara pun naik ke atas ranjang untuk melakakukan tes USG.
Bersambung.
__ADS_1