Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Pria Berhati Barbie


__ADS_3

Gio duduk di kabin belakang sembari merangkul Luna, dia terus mengusap lembut wajah istrinya penuh kasih, seolah turut merasakan sakit yang dirasakan Luna.


"Apa masih sakit, Sayang?" Gio meraih tangan Luna, mengenggamnya erat dan dikecupnya berkali-kali.


Luna menggelengkan kepala, rasa sakit itu memang hanya saat kontraksinya datang. Namun, Luna akan merasakan sakit yang luar biasa, sampai-sampai nyawanya serasa dicabut saat kontraksi itu kembali.


"Tahan ya, Sayang ... Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," bisik Gio menghibur Luna terus-terusan.


Luna mengangguk lemah, tenaganya seakan sudah habis menahan sakit setiap kali putrinya bereaksi untuk mencari jalan keluar.


Bola mata Gio sudah memerah menyaksikan penderitaan Luna, andai saja dia bisa menggantikan Luna untuk bertaruh nyawa menghadirkan putri mereka ke dunia, maka dengan ikhlas Gio akan melakukannya.


Dia tidak tahan melihat istrinya tersayang menderita seperti ini.


Pagi ini jalanan ibukota sangat padat. Namun, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja ada petugas lalu lintas yang mengawal laju mobil mereka.


Jalur yang akan dilalui mereka langsung disterilkan, sehingga mobil mereka bisa melaju seperti di jalan bebas hambatan.


Satu regu tim medis juga sudah bersiaga di depan rumah sakit untuk menanti kedatangan Luna, dan ia pun segera dilarikan ke ruang bersalin.


Gio menyusul dengan langkah pelan, pipinya sudah basah oleh airmata, dia benar-benar tidak sanggup melihat Luna terus kesakitan.


Tak lama kemudian keluarga besar pun berdatangan, mommy Delia mempercepat langkahnya saat melihat Gio terduduk lemah, sambil mengangis sesunggukan di depan ruang rawat.

__ADS_1


"Gi, ada apa?" tanya mommy Delia cemas.


"Luna, Mom ... Luna ... hu ... hu!"


"Iya, Luna kenapa?" desak mommy Delia.


Gio masih sesunggukan. "Kasihan Luna, Mom. Dia kesakitan, aku tidak sanggup melihatnya, hu ...."


"Tapi dia baik-baik saja, kan?"


Gio menggangguk lemah sebagai jawaban dari pertanyaan ibunya, yang membuat seluruh anggota keluarganya mengelengkan kepala.


"Kau ini bikin orang khawatir saja! Ya sudah, kau di sini saja kalau tidak sanggup, biar mommy yang menemani Luna di dalam," ujar mommy Delia seraya melangkah masuk.


"Aahhkk!" Gio mengaduh karena tiba-tiba ada yang memukul kepalanya.


Gio menoleh, ternyata pelakunya adalah Sean yang kini sedang tersenyum mengejek padanya.


"Kau ini! Badan saja yang besar, tapi hatimu seperti barbie. Istrimu yang mau melahirkan tapi kau malah menangis seperti anak kecil," cibir Sean.


Gio diam saja, apa yang ia rasakan saat ini hanya dia yang tahu. Mereka semua tidak akan mengerti.


Sedangkan keluarga yang lain segera mencari tempat duduknya masing-masing, mereka tidak lagi menghiraukan Gio setelah tahu penyebab pria itu menagis.

__ADS_1


"Aku masuk ya, mau menyusul onty Delia menemani Luna di dalam," pamit Rara yang dibalas anggukan oleh suaminya.


Baru dua kali melangkah, tiba-tiba terdengar Rara menjerit sambil memegangi perutnya, "Sakit ...."


Untung Sean dengan sigap menyambar tubuh Rara, ketika istrinya itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.


"Sayang, kau kenapa?"


"Ba-bayinya mau keluar .... sepertinya aku juga mau melahirkan," jawab Rara sambil meringis menahan sakit.


"Mau melahirkan? Kapan?"


"Tentu saja sekarang, mana mungkin tahun depan," geram Rara kesal.


Dan wajah Sean langsung berubah pucat mendengarnya, ini seperti balasan tunai karena ia menertawai Gio barusan.


Sejurus kemudian tim medis datang membawakan brankar dorong, Rara dinaikkan ke atasnya lalu segera dibawa ke ruang rawat untuk diberi pertolongan.


Sean menyusul Rara dengan langkah lemas. Bukan apa-apa, rasanya baru kemarin dia digigit, dipukul, dijambak, saat istrinya melahirkan Caca.


Dan sepertinya kejadian na'as itu akan terulang saat ini juga.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2