Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Hari Yang Dinanti


__ADS_3

Setelah urusannya di Palermo selesai, Vita kembali ke Milan. Hari ini dia akan kembali ke Indonesia, dan sekarang sudah berada di bandara untuk menunggu keberangkatan.


"Vita, bukankah itu Luna dan Gio," tunjuk Aline saat melihat dua orang yang sedang berjalan menuju pintu.


Vita menoleh kemudian tersenyum tipis. "Ternyata mereka sedang di sini?" gumamnya.


"Kita harus menunda kepulangan, kita harus mengganggu mereka di sini!" ujar Aline.


Vita menggeleng. "Tidak, kita tetap pada rencana awal, untuk menunggu pergerakan dari Justino terlebih dulu. lebih baik bersabar daripada harus ketahuan dan membuat semua rencana yang sudah kususun dengan rapi menjadi berantakan."


"Tapi Gio dan Luna akan mempersiapkan pernikahan!" sela Aline.


"Hei ... aku yang mengirimmu untuk menjadi pengasuh Gio, tanpa aku kau tidak akan mengenal Gio! Mengapa sekarang kau ingin mengaturku!?" geram Vita.


"Tapi sejak mengenal Gio aku jadi benar-benar tertarik padanya. Dia tidak boleh menjadi milik Luna."


"Makanya sabar! Ikuti saja instruksiku jika ingin berhasil, awas saja jika kau bertindak ceroboh dan membuat rencanaku terbongkar!" ancam Vita.


"Baiklah," sahut Aline sambil menunduk lesu, sementara ekor matanya terus mengawasi sosok Luna dan Gio sampai kedua orang itu menghilang.


***


Gio dan Luna beristirahat selama satu hari, barulah keesokan harinya mereka pergi ke pemakaman Geovanni, dan dilanjutkan ke pemakaman ibunya Luna untuk meminta restu.


Sepulang dari pemakaman ibu Luna, mereka pun pergi untuk menemui ayah Luna. Pria paruh itu kini tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Milan.


Tuan Dave tidak bisa berkata-kata saat melihat Luna sudah berdiri di hadapannya, airmatanya menetes menyesali perbuatannya selama ini. Dia menarik Luna dan mendekap putrinya itu dengan erat.


Luna membalas pelukan ayahnya itu dengan penuh kerinduan. Selama ini bukannya dia tidak rindu, hanya saja dia tidak ingin peduli selama ayahnya itu masih mempertahankan wanita yang menjadi pengacau di keluarganya.


"Maafkan papi Luna, selama ini papi hanya memberikan penderitaan dan penderitaan di hidupmu, sebagai orang tua papi bukan ayah yang bertanggung-jawab, dan papi juga tidak bisa melindungi kamu," lirih tuan Dave menyesal.


Luna mengurai pelukannya, lalu menatap iba pada pria yang kondisinya tidak terurus itu. "Sudahlah, Pi. Jangan disesali lagi, yang penting papi sudah sadar sekarang."

__ADS_1


Tuan Dave mempersilakan mereka untuk masuk, dan berbicara di ruang tamu.


Sebagai seorang pria, Gio dengan gentle bicara secara langsung kepada tuan Dave untuk meminang putrinya, yang sukurnya mendapat persetujuan.


Mereka kemudian berbagi cerita panjang lebar. Luna berusaha membujuk ayahnya untuk ikut dengan dirinya, tapi tuan Dave keukeh ingin tetap di sini, dengan berbagai alasannya yang tidak bisa dibantah Luna.


***


Luna dan Gio menghabiskan waktu selama seminggu di Milan, dia membebaskan rumah lamanya yang disita oleh bank, agar ayahnya bisa kembali ke rumah tersebut.


"Aku sangat merindukan rumah ini, masa kecilku sangat bahagia sebelum mamiku meninggal dan wanita itu hadir ke hidup papi, yang kemudian merengut semua kebahagiaanku," lirih Luna saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya.


"Jangan ingat lagi kesedihanmu, mami sudah tenang di sana dan papi juga sudah menyadari kesalahannya," bujuk Gio sembari merangkul dan membawa wanitanya itu untuk duduk.


Luna mengangguk, sekarang semuanya sudah baik-baik saja, dan sudah seharusnya ia melupakan masa lalu yang buruk itu.


"Apa yang akan kau lakukan setelah kita menikah? Apa kau akan bekerja di URM Group?"


"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik untuk bekerja di URM Group," sahut Gio.


"Sepertinya aku akan membangun sebuah club eksklusif di Jakarta, seperti di sini!"


Luna mengkerutkan dahinya. "Mengapa harus bisnis hiburan malam? Seperti tidak ada yang lain saja!"


Gio menanggapi ucapan Luna dengan terkekeh kecil. "Aku hanya menjalankan apa yang aku suka, Lun. Bekerja sesuai passion itu sangat menyenangkan!"


"Agar kau bisa meniduri gadis-gadis yang kau temui, seperti itu? Lagi pula di keluarga besarmu hanya kau sendiri yang memiliki bisnis gelap itu," suntuk Luna yang nada bicaranya mulai kesal.


"Bisnis gelap bagaimana Lun? Bisnisku legal, club milikku hanya menjadi tempat hiburan, bukan sebagai tempat transaksi terlarang seperti kebanyakan club lainnya," sangkal Gio.


"Pokoknya aku suka suamiku kerja di tempat seperti itu, aku tidak mau memiliki suami yang selalu pulang dini hari. Sementara aku harus tidur sendirian di rumah, tanpa tahu apa yang dilakukan suamiku di tempat kerjanya," desis Luna.


Gio terkekeh sembari mencubit hidung Luna. "Ternyata kau sangat posesif, ya! Baiklah, aku memikirkan pekerjaan lain. Lagi pula aku tidak akan membiarkan istriku ini tidur sendirian," goda Gio.

__ADS_1


Wajah Luna bersemu merah mendengarnya, sekitar setengah jam kemudian mereka pun beranjak meninggalkan rumah itu untuk bertemu ayahnya Luna. Mereka berpamitan karena besok akan kembali ke Jakarta.


***


Hampir sebulan disibukkan dengan persiapan pernikahan yang melelahkan, akhirnya hari yang paling dinanti itu pun tiba.


Saat ini Luna sedang tersenyum di depan sebuah cermin rias, memandangi bayangan dirinya yang tampil cantik dengan balutan gaun pengantin yang ia desain sendiri. Wajahnya diberi hiasan tipis agar terkesan natural, sementara rambutnya disanggul modren dengan model messi bun, dengan beberapa helaian yang dibiarkan terurai untuk menambah kesan naturalnya.


"Akhirnya ya, Lun ... sekarang kamu sudah resmi menjadi menantu onty. Eh, maksudku mommy." Wanita paruh yang masih begitu cantik itu menatap Luna dengan penuh haru, lalu memeluk menantunya.


"Delia ... kau merusak riasannya," sentak ibu Lidya seraya menarik adik iparnya itu menjauh.


"Eh, iya, Kak. Maaf ... ya sudah, ayo kita keluar. Gio pasti sudah tidak sabar menunggu pengantinnya datang," ujar Mommy Delia.


Mereka lantas memapah Luna meninggalkan kamar, menuju ballroom hotel yang menjadi tempat diadakannya resepsi.


Di sana Gio terlihat begitu tampan dalam balutan tuxedo bewarna putih, pria yang sudah sah menjadi suami Luna itu menyambut kedatangan istrinya dengan senyum merekah.


Begitu Luna sampai di depannya, Gio tiba-tiba berlutut kemudian mencium tangan Luna, yang langsung di sambut tepukan riuh dari seluruh tamu yang ada di sana.


Lalu Mc dari acara tersebut menghampiri Gio dan memberikan sebuah mic kepadanya.


Luna ... aku sudah menjadi gila saat pertama kali melihatmu. Hari ini aku berdiri di hadapanmu untuk memulai sebuah kehidupan baru. Tidak ada aku dan kamu, yang ada hanya kita.


Datang kepadaku saat kau butuh pelukan, datang kepadaku saat kau butuh perlindungan, aku akan selalu ada untuk menjadi penjagamu.


Aku memilihmu di antara banyaknya pilihan, aku memilihmu sebagai tempat berbagi, dan Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.


Aku hanyalah pria biasa yang tak luput dari salah, ingatkan aku apabila di kemudian hari ada perbuatanku yang menyakitimu. Tapi jangan pergi tinggalkan aku, karena aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu.


Aku berjanji di depan seluruh saksi untuk menjadikanmu satu pasanganku seumur hidup.


Bersambung.

__ADS_1


Eh, udah hari senin nih, jangan lupa berikan votenya ya My Beloved Readers😊


__ADS_2