
Mommy Delia kembali duduk di samping daddy Lucas. Namun sorot matanya masih memperhatikan langkah Luna.
"Semoga saja dengan keadaan Gio yang sekarang Luna mau membuka hatinya untuk putra kita itu," ujar mommy Delia sembari menghembuskan napas berat.
Daddy Lucas tersenyum tipis. "Sepertinya kau sangat mengharapkan gadis itu untuk jadi menantumu."
"Tentu saja, dia gadis yang baik. Dan yang paling penting Gio kita juga menyukainya," sahut mommy Delia.
"Aku tahu dia gadis yang baik, dan sangat tulus pada orang-orang di sekitarnya. Tapi semua itu percuma jika hatinya masih terkunci di masa lalu, dan yang lebih buruk lagi dia tidak mungkin melupakannya, karena dia akan kembali menyelami kenangannya itu setiap kali melihat Gio." Daddy Lucas ikut menghembuskan napas berat.
"Entahlah, aku hanya berharap dia bisa membuka hatinya. Gio pasti akan semakin kecewa jika perhatian yang dia berikan sekarang karena alasan kasihan," sambung mommy Delia.
Mommy Delia yang hendak melangkah ke ruang keluarga tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, ya ... Dad. Aku sampai lupa, bagaimana kabar orang-tuanya?"
"Tuan Dave masih dalam perawatan, nanti aku akan menghubungkannya dengan Luna setelah kesehatannya pulih."
Mommy Delia mengangguk, mereka sudah tahu keretakan hubungan antara ayah dan anak itu. Mereka sengaja belum membicarakannya dengan Luna, karena tahu sifat kepala batu yang dimiliki gadis itu.
Sementara itu Luna yang tengah mereka perbincangkan, sudah berada di depan kamar Gio. Dengan tangan sedikit gemetaran dia mengetuk pintu kamar itu, ini adalah kegugupan terbesar yang pernah ia rasakan.
"Gi, boleh aku masuk?" ujar Luna dengan suara yang begitu pelan. Setelah itu dia merutuki diri sendiri, bagaimana mungkin Gio bisa mendengar suaranya yang sangat kecil.
"Siapa di luar sana?"
Tangan Luna yang hendak mengetuk lagi terhenti saat mendengar suara tersebut.
"Aku Luna ... bolehkah aku masuk?"
Hampir setengah menit berlalu tapi tidak ada jawaban, membuat Luna nekat membuka itu tanpa menunggu izin. Luna melangkah masuk, dilihatnya Gio hanya berdecak menyambut kedatangannya.
"Aku membawakan makan malam untukmu, Gi." Luna mendorong trolley ke arah ranjang, tempat di mana Gio duduk bersandar pada headboardnya.
"Untuk apa repot-repot Lun? Rumah ini tidak kekurangan pelayan!" sahut Gio dengan nada sarkas.
Luna menghela napasnya, lagi-lagi dia harus mendengar nada penolakan dari mulut Gio. "Anggap saja aku memang pelayanmu, Gi. Dan aku rela menjadi pelayanmu seumur hidup."
__ADS_1
Gio menggeleng karena lelucon yang keluar dari mulut Luna. "Tidak lucu, Lun!"
"Aku memang tidak sedang melawak, aku datang membawakan makan malam untukmu!" Luna mendudukkan diri di samping Gio tanpa permisi, yang membuat Gio semakin kesal.
Luna mengambilkan makanan dari trolley, lalu hendak menyuapi Gio.
Tapi bukan menerimanya, Gio malah mengambil piring tersebut dari Luna. "Aku bisa sendiri Lun. Kakiku memang masih lumpuh, tapi tanganku sudah bisa digerakkan."
"Baguslah, aku senang jika kau bisa pulih dengan cepat." Luna tidak keberatan Gio ingin makan sendiri, sudah sukur pria itu tidak mengusirnya kali ini.
Gio tersenyum kecut. "Ya, jadi kau tidak perlu memaksakan diri untuk perhatian padaku jika aku sudah sembuh."
Mengkerutkan dahi. "Apa maksudmu Gi? Kepedulianku bukan karena terpaksa, tapi karena ...." Lidah Luna terasa kelu untuk melanjutkan ucapannya.
"Karena apa?" desak Gio.
"Karena aku memang peduli padamu."
'Tuhan ... mengapa sulit sekali untuk mengatakannya? Lagi pula kenapa aku yang harus memulai, harusnya pria yang lebih dulu mengungkapkan perasaan,' jerit Luna dalam hati.
"Sudahlah, Lun. Akui saja kau hanya kasihan karena keadaanku yang sekarang," lirih Gio.
Luna menerima piring Gio yang sudah kosong. "Kau mau tambah lagi?"
"Tidak, aku sudah kenyang."
"Gi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Luna.
"Apa?"
Luna mengeluarkan sebuah boneka kecil yang tak lain adalah mainan tas, benda itu masih begitu terawat meskipun kainnya sudah mulai usang. Hadiah dari Gio saat mereka masih sekolah dasar.
"Apa kau masih mengingatnya, Gi?" tanya Luna penuh harap, seraya menyerahkan mainan tas itu kepada Gio.
Gio menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, benda apa ini?"
__ADS_1
'I-itu ... ah, sudahlah. Sini kembalikan, kau tidak perlu mengingatnya," ujar Luna dengan nada kecewa.
"Ya, tapi katakan dulu benda apa ini?" Gio tidak memberikan saat Luna memintanya kembali.
Mood Luna tiba-tiba memburuk mengetahui Gio tidak mengingatnya. "Tidak perlu, kau tidak akan mengingatnya, karena pastinya ada ratusan gadis yang kau rayu saat masih kecil!"
Luna yang kesal bergegas berdiri dari tempat duduknya, lalu mendorong trolleynya keluar dari kamar Gio.
"Hei, kau belum memberiku minum!" teriak Gio, tapi Luna menghiraukan dan terus melangkah tanpa menoleh lagi.
Gio menggaruk kepala, dia tidak mengerti apa yang membuat Luna tampak kecewa.
"Ya Tuhan ... apa dia ingin membuatku mati kehausan?" Gio bersusah payah menggeser tubuh, demi meraih alat komunikasi di atas nakas, untuk meminta pelayan membawakan minum.
Setelah mengantar Trolleynya ke dapur, Luna yang kesal ingin segera pamit pulang. Tapi melihat keberadaan orang tua Gio di ruang keluarga membuat Luna teringat sesuatu.
Luna menghentikan langkah tepat di samping mommy Delia. "Onty, Uncle. Boleh aku minta tolong?"
"Duduklah, Lun. Kau mau minta tolong apa?" tanya daddy Lucas.
Luna mendudukkan diri di samping mommy Delia sebelum menjawab pertanyaan daddy Lucas. "Ini tentang wasiat Giselle, Uncle. Bisakah Uncle mencairkan tabungannya, aku sudah berjanji padanya akan mendirikan sebuah panti asuhan dengan uang itu."
"Baiklah, nanti uncle akan mencobanya. Seharusnya ini tidak terlalu rumit." Daddy Lucas menyanggupi.
"Terimakasih, Uncle. Aku hanya ingin keinginan mulia Giselle bisa terwujud," tutur Luna.
Setelah itu Luna pamit pulang, hari juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, belum lagi malam sebelumnya dia juga kurang tidur.
Sementara itu Gio baru merasa lega setelah pelayan mengantarkan minum untuknya. Kini perhatian Gio sepenuhnya tertuju pada boneka kecil, usang, yang tadi diberikan Luna.
Gio juga bertanya dalam kebingungan, apa yang membuat Luna begitu marah saat dia tidak mengingat benda tersebut? Luna juga mengungkit masa kecilnya, tapi Gio belum mengingat jika mereka pernah saling mengenal semasa kecil.
Gio mencoba memutar memori dalam ingatannya, memang cukup banyak gadis yang ia dekati saat masih kecil. Tapi seingatnya dia tidak pernah menghadiahkan apa pun kepada gadis-gadisnya, malah para gadis itulah yang sering mengirimkan hadiah untuknya, kecuali satu ....
Ya, seorang gadis kecil yang selalu menyendiri di taman sekolahnya.
__ADS_1
'Benarkah Luna adalah gadis penyendiri itu? Jadi Luna masih mengingatku? Ya Tuhan ... aku senang sekali!'
Bersambung.