Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Dia Anakku!


__ADS_3

Nyonya Inggrid dan Laura baru saja tiba di rumahnya, sekilas Laura melihat sosok daddynya keluar dengan menyeret sebuah koper besar.


Bergegas gadis kecil itu turun dari mobil, lalu berlari menghampiri daddynya.


"Daddy mau ke mana?" tanya Laura heran.


"Daddy mau pergi kerja," jawab Calvin datar.


"Kok Daddy ke kantor bawa koper besar? Kan ini sudah malam Daddy," ujar Laura kebingungan. Meski masih kecil, tentu saja Laura tahu kapan waktu istrahat dan kapan waktunya kerja.


"Daddy kerjanya ke luar kota, Laura. Makanya berangkat malam-malam. Kamu di rumah sama oma ya, jangan nakal," pesan Calvin.


Laura tampak mencebik dengan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Daddy kok pergi, besok sore kan ulang tahun Laura," lirihnya.


"Kamu itu jangan manja, daddy kan pergi cari uang, buat kamu juga! Besok tante Nita akan gantiin daddy di acara ulang tahun kamu!" tegas Cavlin.


Dia kemudian melangkah meninggalkan putrinya. Laura sudah terbiasa dengan sikap daddynya seperti ini, dingin dan tidak peduli padanya. Meski begitu, dia tidak berhenti berharap suatu saat daddynya itu akan peduli padanya.


Sebagai anak kecil, Laura selalu iri jika melihat teman-teman sekolahnya dijemput oleh daddy atau mommynya, Sementara dia? Kehidupannya tidak seberuntung itu, dia hanya memiliki seorang daddy karena mommynya sudah meninggal saat ia masih bayi. Kepada siapa lagi dia akan mengiba perhatian kalau bukan pada daddynya, itu pun tidak dia dapatkan.


Calvin berpamitan pada nyonya Inggrid sebelum melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah. Meninggalkan Laura yang hanya bisa menangis kecewa karena terus-terusan diacuhkan oleh Daddynya.


***


Keesokan harinya Luna tengah bekerja, saat mendengar pintu ruangan tempatnya berada diketuk beberapa kali.


"Masuk!" sahut Luna.


Tampak sosok resepsionisnya memasuki Ruangan membawa gadis kecil yang tak lain adalah Laura.


Dahi Luna berkerut heran. "Kamu ke sini sama siapa, Sayang?"


"Anak ini tadinya mendatangi resepsionis, Nona. Katanya dia ingin bertemu dengan Nona." Mily si resepsionis terlebih dulu menjelaskan.


"Ya sudah, tidak apa-apa Mil. Kamu boleh kembali bekerja," sahut Luna.


Wanita itu mengangguk kemudian pamit meninggalkan ruangan tersebut.


Luna keluar dari balik meja kerjanya, lalu menintin Laura menuju sofa. "Kamu ke sini sama siapa, Sayang? Oma kamu mana?"


"Oma nggak ikut, tadi Laura ke sini sama supir," jawab Laura yang masih mengenakan seragam sekolah.

__ADS_1


Luna mengernyitkan dahi. "Jadi oma kamu nggak tahu kalau kamu datang ke sini?"


"Nggak Tante."


"Ya, sudah. Ayo tante antar pulang, kasihan oma kamu nanti nyariin," bujuk Luna.


Gadis kecil itu menggeleng tidak setuju. "Laura nggak mau pulang, maunya sama tante aja di sini!"


"Lho, bukannya nanti sore itu ulang tahunnya Laura, ya?"


Laura mengangguk tidak semangat. "Iya, makanya Laura ke sini. Nanti Tante nggak mau datang."


Luna menghela napas berat, dia juga kasihan kalau harus mengusir Laura. Jadi dia tidak memaksa Laura untuk pulang, dan memilih untuk mengabari nyonya Inggrid bahwa saat ini Laura sedang bersamanya.


Setelah memberi kabar kepada nyonya Inggrid, Luna kembali menghampiri Gadis itu sembari membawakan minuman untuknya.


"Sayang, kamu main sendiri nggak apa-apa, kan? Tante lagi kerja soalnya," ujar Luna.


"Nggak apa-apa kok Tante, tapi nanti Tante berangkat sama Laura ke rumah, Kan?" tanya Laura penuh harap.


"Iya, Sayang." Luna mengusap puncak kepala gadis kecil itu sebelum kembali ke meja kerjanya.


Sedangkan Luna terus sibuk dengan pekerjaannya, hingga tanpa terasa waktu berputar begitu cepat, dan kini sudah menunjukkan pukul setengah satu.


Luna membereskan meja kerjanya dengan cepat, lalu keluar dari sana. Dia kasihan kalau Laura sampai kelaparan karena menunggunya.


"Kamu lagi ngapain, Sayang?" tanya Luna saat melihat Laura masih asik dengan crayon miliknya.


"Laura lagi gambar, Tante."


Luna mendudukkan diri di samping Laura, dia tersenyum melihat hasil karya anak itu. Ternyata dia sedang menggambar sebuah gaun princess, dan hasilnya sangatlah bagus untuk anak berumur lima tahun.


"Gambar kamu bagus sekali, Sayang," puji Luna sembari memeluk anak Laura, yang membuat aktivitas menggambarnya terganggu.


"Kan Laura pengen jadi tukang buat baju yang bagus seperti Tante," jawabnya antusias.


"Oh, iya. Lupa tante. Sekarang Laura beresin barang-barangnya ya, kita pergi makan siang dulu. Habis itu kita ke rumah kamu, kan bentar acara ulang tahun kamu mau mulai." Luna mengingatkan pesta ulang tahun gadis kecil itu yang akan diadakan sore ini.


"Iya, Tante." Laura mengemasi crayon berikut buku gambarnya ke dalam tas. "Tante ... Laura beneran boleh panggil Mami, kan?"


Luna mengangguk sembari tersenyum pada gadis kecil yang sedang menatapnya penuh harap itu. "Iya, Sayang."

__ADS_1


"Yee ...." Gadis kecil itu beringsut memeluk Luna. "Makasih Mami ... akhirnya Laura punya mami!" ujar Laura dengan raut wajah begitu bahagia, yang membuat Luna hati mencelos terharu.


"Sekarang ayo kita cari tempat makan, Laura mau makan apa?" tanya Luna sembari berdiri membawa Laura dalam gendongannya.


"Terserah Mami aja."


Mereka keluar dari ruang kerja Luna. Tepat saat membuka pintu, Pandangan Luna bertemu dengan Gio yang akan masuk ke ruangannya.


"Masih ingat sama aku? Kirain sudah lupa, karena asik setiap hari dimanjain sama perawat kamu yang kecentilan itu!" sindir Luna sarkas.


Laura yang ada dalam gendongan Luna menoleh. "Mami, om ini siapa?"


"Mami?" Gio mengkerutkan dahi. "Siapa anak ini, Lun? Mengapa dia memanggilmu mami?"


"Sudah jelas dia memanggilku mami, itu artinya dia anak aku!" sahut Luna ketus.


"Aku bertanya serius, Lun! Jangan mengada-ada," balas Gio bingung.


"Aku sedang tidak ingin berdebat, Gi. Saat ini aku sedang lapar, aku butuh makan!" Luna lantas meninggalkan Gio begitu saja.


Kali ini Gio tidak datang bersama perawatnya, melainkan diantar supir. Tapi bukan berarti Luna akan senang melihatnya, membayangkan keseharian Gio bersama perawat centilnya itu membuat Luna jijik.


Gio memerintahkan supirnya untuk mengejar Luna, karena kedatangan dia ke sini untuk mempebaiki keadaan, bukan semakin memperkeruhnya.


Gio mengikuti Luna ke sebuah retoran cepat saji, saat ini yang ada di pikiran Gio bukan cuma membujuk Luna. Hatinya juga dipenuhi tanya, kenapa gadis kecil itu memanggil Luna dengan sebutan mami?


Kini meraka sudah berada di salah satu meja, dan telah memesan makanannya masing-masing.


Gio menghela napas, mempersiapkan dirinya sebelum berkata. "Lun, kamu tidak bisa cemburu buta seperti itu, segitu marahnya kah kamu sampai tidak pernah menjengukku selama seminggu ini?"


Luna menajamkan tatapannya. "Kita bicarakan nanti, Gi. Jangan membicarakan masalah orang dewasa di depan anak kecil."


"Om ini siapa?" tanya Laura dengan pandangan menelisik.


"Ini namanya om Gio, Sayang. Dia temannya mami," jelas Luna.


"Tadi Laura pikir Om ini pacaran sama Mami. Laura nggak mau mami pacaran sama Om ini, nanti nggak bisa jadi maminya Luara," suntuk gadis kecil itu.


"Hah?" Mata Gio terbelalak, sedangkan Luna hanya tersenyum geli melihatnya.


Besambung.

__ADS_1


__ADS_2