
Keesokan harinya ...
" Wun Da Ree, nanti sore ada acara kemana ? " tanya Je Si Ka.
" Kayaknya gak ada kemana-mana deh. Aku keseringan dirumah aja sih. Kenapa ya ? " jawab diriku.
" Gak kenapa sih. Cuma nanya saja. Terus ... Cowokmu gimana ? Dia sudah ada kabar belum? " tanya Je Si Ka lagi dengan ekspresi penasaran banget.
" Ntahlah.. Males ah. Kemana dia? Aku pun belum dapat kabar dari dia. Dia menghilang gitu aja dari kemarin. " ujar diriku dengan muka kesal.
Tiba-tiba ...
Ping!!!
Ping!!!
Ping!!!
Handphone Wun Da Ree pun bergetar.
__ADS_1
" Siapa yang ngeping contact ya? " tanya diriku.
" Ah... Pasti Ung De dah tuh. Baru mau ngajak keluar. Malah ada pengganggu. Hm. " jawab Je Si Ka dengan nada kesal.
" Iya. Benar. Ini dari Ung De. " jawab diriku yang langsung tersenyum lebar.
Aku membaca isi chatnya. Ung De menjelaskan bahwa handphonenya sempat rusak. Jadi seperti error gitu. Nge-blank lebih tepat namanya. Dan Ung De meminta maaf karena gara-gara itu, dia jadi tidak bisa memberi kabar. Iya, aku percaya saja dengan penjelasan dia itu. Tapi tidak untuk Je Si Ka.
" Ah. Bohong kali? " tanya Je Si Ka dengan nada kesal.
" Je Si Ka, positif saja. Kalau bener, gimana ? Ya, kalau aku sih percaya-percaya saja. Namanya juga karena keadaan hapenya rusak. Ya mesti gimana donk? Ya, dia jadinya gak bisa ngechat. Ya kan? " ujar diriku dengan kepercayaan yang penuh terhadap Ung De.
" Je Si Ka. Jangan marah. Masa iya ? Kita jadi berantem hanya gara-gara ini doank deh. " ucap diriku mencoba meluluhkan amarahnya Je Si Ka.
" Gak. Aku cuma gak mau kamu dipermainkan lagi sama laki-laki kayak yang kemarin-kemarinnya itu. Aku cuma khawatir. Salah ? Iya? Aku salah? " tanya Je Si Ka.
" Gak. Gak salah. Tapi tolonglah. Persahabatan kita harus tetap damai. Jangan gara-gara cowok aku. Persahabatan kita jadi berantakan. Tolonglah. Aku mohon. " jawab diriku.
" Sudah ah. Kamu gak pernah mengerti perasaanku. " jawab Je Si Ka yang langsung meninggalkanku sendirian begitu saja.
__ADS_1
" Hei.. Je.. Tunggu. Gak pernah mengerti darimananya ? Je ! Aih... Aku rasa kamu salah paham sama aku deh. Je Si Ka !" ujar diriku sambil mengejar Je Si Ka. Disusuli oleh Mi Rah yang baru saja habis belanja dari kantin.
" Hei! Je ! Tunggu aku! Aku jangan ditinggal donk ! Je ! Hei ! " teriak Mi Rah sambil berlari.
" Cepetan! Sini! Lama amat sih!" jawab Je Si Ka.
" Ih ! Ada apa sih ni anak? Tiba-tiba jadi emosian gini ? Gak pernah aku lihat kamu ini gak emosian sama aku. Setiap pulang, emosi melulu. Kenapa sih? Kenapa harus aku yang kena pelampiasan marahmu ? Kenapa gak langsung ke Wun Da Ree aja ? Kenapa ? " jawab Mi Rah dengan kesal.
" Mau ikut gak ? " lanjut Je Si Ka.
" Ikut ! Ikut !! Hehe. Maaf ya. Ampun deh ya. Aku salah deh. Aih .. Jangan galak-galak lagi ya. Yuk Yuk. Kita pulang sekarang. Ayo! Gas Gas. Gas. " lanjut Mi Rah.
" Bawel banget sih. " ucap Je Si Ka.
Sementara aku yang awalnya mengejar namun saat sudah didekat Je Si Ka, aku hanya terdiam mematung menyaksikan Je Si Ka dan Mi Rah yang langsung pergi meninggalkanku dengan motor saling berboncengan. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dimataku. Je Si Ka seperti sudah bukan sahabat yang aku kenal biasanya. Aku pun seperti merasa sendirian lagi.
" Je Si Ka. Kenapa dia lebih sensitif sekarang ya ? Kenapa aku jadi kepikiran sama candaan dia kemarin ya ? Bilang suka sama aku ? Jangan-jangan ... Itu sungguhan ? Ah gak mungkin. Aih. Apa yang aku pikirkan ? Dia juga bilang cuma bercanda. Gak mungkin kan? Hm .. " ujar diriku dalam hati.
Aku pun langsung segera pulang ke rumah.
__ADS_1