
*Sekolah Wun Da Ree.
" Terima kasih ya, Sayang. Sudah antarin ke sekolah. Oya. Sayang gak telat nih? Jam berapa bel sekolahnya? " ujar diriku yang khawatir dengan Kris Na.
" Tenang saja, Sayang. Sekolahku deket kok. 5 menit pasti nyampe. Sekarang masih ada waktu lagi 15 menit. Ya sudah. Aku tinggal dulu ya. Nanti siang aku jemput. Dah. Sayang. " ujar Kris Na.
" Iya sayang. Hati-hati di jalan. " ujar diriku.
Kris Na pun meninggalkanku dan aku pun berjalan menuju kelasku. Kebetulan Je Si Ka dan Mi Rah memperhatikanku dari jauh. Aku pun menghampirinya.
" Hai, Je Si Ka. Mi Rah. " ujar diriku.
" Hai juga. Di anter sama Kris Na ya? " ujar Je Si Ka.
" Huhuk. Dianter pake moge lho. Keren banget sih. Berkat aku ya. Kalian jadi kenal. Haha. Memang cocok aku mah jadi mak comblang. Haha. " ujar Mi Rah.
" Hehe. Makasi ya. " ujar diriku.
" Kalian cocok. Oya. Kalau sudah antar jemput begini. Kayaknya hubungan kalian sudah lebih dalam banget deh. " ujar Mi Rah.
" Ya. Begitulah. " ujar diriku.
" Kamu bahagia sama dia? " tanya Je Si Ka.
" Bahagia banget. " ujar diriku.
Tanpa sengaja, ada seseorang menabrakku dengan sengaja.
Dduukkk!
" Aduh! " ujar diriku.
__ADS_1
" Eh maaf. maaf. Gak sengaja. " ujar Ram Da Mee.
" Punya mata gak sih ? " ujar Je Si Ka.
" Kamu sengaja ya? " ujar Mi Rah.
" Apa-apaan sih? Kenapa pada nyalahin aku? Aku gak sengaja. Aku juga sudah minta maaf. " ujar Ram Da Mee.
" Minta maafmu gak tulus! " ujar Je Si Ka.
" Sudah. Sudah. Je Si Ka. Yuk. Yuk. Yuk. Kita ke atas. Sudah mau jam bel nih. " ujar diriku.
Aku pun menarik tangan Je Si Ka dan menuju kelasku yang berada di lantai 3.
" Wuuu... " ujar Mi Rah.
Mi Rah mengikuti kami berjalan dari belakang.
Mendengar pernyataan tersebut, Je Si Ka pun gak tahan emosi. Ia pun menghampiri Ram Da Mee.
" Apa maksudmu!? Jaga mulutmu ya! " ujar Je Si Ka.
" Je Si Ka. Sudah. Sudah. Biarin saja. Ayo. Ayo. Kita naik ke atas. Sudah mau bel nih. " ujar diriku tetap menarik tangan Je Si Ka.
" Iya. Je Si Ka. Jangan diurusin omongannya. Daripada kita nanti kena masalah. Ribet ngurusnya. Abaikan saja. " ujar Mi Rah.
Je Si Ka pun menurut. Ia pun berjalan dan meninggalkan Ram Da Mee.
" Ih. Wanita kotor. Jijik. Weekk.. " ujar Ram Da Mee.
.
__ADS_1
.
.
Kring kring kring ...
Jam bel pulang sekolah pun berbunyi.
" Wun Da Ree. Kris Na belum jemput? " ujar Je Si Ka.
" Belum. Tapi dia dah chatting aku sih. Dia masih dalam perjalanan kesini. Kalian pulang dah duluan. " ujar diriku.
Tanpa sengaja. Ram Da Mee pun melewati kami.
" Eh. Ketemu lagi sama wanita kotor. Ih. Jijik. " ujar Ram Da Mee.
" Kamu! " ujar Je Si Ka.
Aku pun menarik tangan Je Si Ka.
" Sudah, Je Si Ka. Biarin saja. Ini masih lingkungan sekolah. " ujar diriku.
" Eh. Kalian jangan dekat-dekat sama cewek ini. Dia ini kotor. Sudah tidak suci. Menjijikkan. Murahan. Gak punya harga diri. Haha. " ujar Ram Da Mee.
" Kamu! " ujar Je Si Ka.
Aku pun tetap menarik tangan Je Si Ka.
" Eh ! Jaga mulutmu ya! Wun Da Ree gak kayak gitu! Kamunya aja yang jadi cowok tuh kurang ajar! " ujar Mi Rah.
Sementara Je Si Ka kesal. Karena aku terus menghalanginya.
__ADS_1
" Wun! Dia sudah keterlaluan mulutnya! Lepasin gak tanganku? " ujar Je Si Ka.