
" Ah iya. Aku memang terbiasa berlama-lama disini. Tempatnya nyaman. Kebetulan bosan juga dirumah. Gak ada siapa. " ujar Kris Na.
Kami pun saling bercerita satu sama lain. Sampai akhirnya aku pun melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.
" Pulangnya hati-hati ya. " ujar Kris Na.
" Iya. Kris Na juga. Hati-hati dijalan. Jangan ngebut. " ujar diriku.
" Hem. Hem. Ada yang memberi perhatian nih ke aku. Kalau aku jatuh cinta. Gimana ya? " tanya Kris Na.
" Hm. Kayaknya gak mungkin deh. " ucap diriku.
" Gak ada yang gak mungkin di dunia ini. " lanjut Kris Na.
" Hm. Dah ah. Aku mau pulang. Dah. " ucap diriku.
" Hei. Kabur dia lho. Ya sudah. Ingat chatting nanti ya kalau dah sampe rumah. " ujar Kris Na.
" Kalau aku ingat. Haha. Dah. " ujar diriku yang langsung meninggalkan Kris Na dari parkiran Warung An Diz.
" Hm. Dah. " ujar Kris Na.
Kami pun pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan kami berdua saling mengingat momen perkenalan secara bersamaan.
" Hais. Kenapa aku jadi lebih ingatin Kris Na ya? Apa aku sudah jatuh cinta? Aih. Apakah semudah itukah aku? Mungkin karena nyaman saja. Bukan cinta. Ah sudahlah. Nanti sampai rumah. Aku chatting dia deh. " ucap diriku dalam hati sambil mengendarai motor.
__ADS_1
Sementara Kris Na pun merasakan hal yang sama.
" Kenapa aku masih membayangkan Wun Da Ree ya? Apakah aku jatuh cinta dengannya? Ah baru deket 1 hari. Mustahil. Hm. Mungkin hanya kagum. Tidak lebih. Haha. Habisnya dia lugu banget jadi cewek. Polos banget. Kalem tingkahnya. Hm. Gimana aku bisa berhenti mikirin dia coba. " ucap Kris Na dalam hati sambil mengendarai motornya.
*Rumah Kris Na.
" Aku pulang. " ujar Kris Na.
" Hei. Kamu! Kemana aja sih? Aku nungguin kamu dari tadi tau. Aku ping ping ping berkali-kali. Gak juga dibalas. Aku hubungi juga gak diangkat-angkat. Kemana aja sih? " ucap seorang cowok namanya Ei Do. Dia adalah sahabatnya Kris Na.
" Ya biasalah ke Warung An Diz. " jawab Kris Na.
" Seneng banget sih kamu disana. Apa sih yang bikin kamu betah? Tempatnya bising begitu. Rame melulu. Pusing aku lihatnya. " ujar Ei Do.
" Ah gak juga. Kamu mah memang seleranya kampungan. " ujar Ei Do.
" Mulutmu kejam sekali. Sakit hatiku. " ujar Kris Na.
" Hehe. Maaf. Maaf. Jangan dimasuk ke hati donk. Kayak gak tau aku aja. " ucap Ei Do.
" Hm. Terus, kamu mau ngapain kesini? Gak ada siapa juga. Berani aja kamu nyelonong masuk tanpa ijin tuan rumah. Mau maling ya? " tanya Kris Na.
" Ih balas dendam nih? Kejam amat sih ngomongnya. Dah bertahun-tahun juga aku sering kesini. Sampai inap berkali-kali pula. Dah dikenal sama keluargamu juga. Dipercaya sama mereka pula. Kok gitu sih ngomongnya? " tanya Ei Do.
" Makanya tadi tuh kamu jangan gituin aku juga donk. " ucap Kris Na.
__ADS_1
" Ku dugalah. Kamu balas dendam mah sama aku. " ucap Ei Do.
Drrrrtt drrtt ...
Drrttt ddrrttt ...
Handphone Kris Na bergetar. Kris Na pun mengecek isi handphonenya. Ternyata Wun Da Ree chatting dirinya. Kris Na pun membaca isi chatnya dengan tersenyum.
\=Wun Da Ree\=
Hai, Kris Na. Aku sudah dirumah. Kris Na sudah sampai rumah?
Sementara Ei Do pun mengintip handphone Kris Na.
" Lihat siapa sih sampai bikin kamu senyum-senyum kayak gitu?" tanya Ei Do.
Kris Na pun menyadari Ei Do yang sedang penasaran.
" Eit. Main intip aja. Pulang muh. Ganggu aja. " ujar Kris Na.
" Mih. Cewek dah itu ya. Pantes chatku gak dihiraukan. Dihubungi juga gak diangkat-angkat. Aku sudah nunggu lama disini. Sekarang diusir hanya gara-gara punya pacar baru. Hiks. Sedih aku tuh. " ujar Ei Do.
" Bukan pacar! Baru kenal tadi. Hm. Gak usah berlebihan deh. Kamu juga gitu kalau sudah punya pacar. Aku gak dihiraukan. Hm. " ujar Kris Na.
" Sekarang aku kan jomblo, Kris Na. Hm. Ya sudah. Berarti aku diusir nih? " tanya Ei Do.
__ADS_1