
Keesokan harinya jam 3 sore ...
" Hmmm, Wun. Boleh minta tolong gak ? " tanya Wan Jung.
" Iya. Minta tolong apa ? " jawab diriku.
" Ini .. Setrikain baju seragamku donk. Aku gak sengaja nih ketiduran di kamar kakakmu. Jadi lecek nih bajunya. " ujar Wan Jung.
" Hm .... " ujar diriku.
" Tolonglah ya. Nanti aku ada pelajaran olahraga di sekolah nih. Tolong ya. Ya ya ya ya ? " ucap Wan Jung.
" Hais. Yaya. Tunggu sebentar. " jawab diriku.
" Hehe. Makasi ya, Wun. Aku tunggu di kamar kakakmu. " ucap Wan Jung.
" Iya. Iya. Sana dah dulu. " lanjut diriku.
.
.
.
" Nih bajunya sudah selesai. " ujar diriku.
" Hehe. Makasi ya. " ucap Wan Jung.
" Iya. Sana sana sana. Jam berapa olahraganya ? " tanya diriku.
" Iya. Sekarang dah. Dah. Sekali lagi. Terima kasih ya. " lanjut Wan Jung.
__ADS_1
" Iya. Bawel. " lanjut diriku.
.
.
.
Jam 6 sore kemudian ...
" Mbok, Wun Da Reenya mana ? " tanya Wan Jung.
" Oh. Wun Da Reenya diatas. Kayaknya dia sedang tidur. Ada Apa ya ? " jawab Pembantunya Wun Da Ree namanya Mbok Wan.
" Hehe. Maunya bilang terima kasih. Sudah bantu setrika'in bajunya Wan Jung tadi siang. " ujar Wan Jung.
" Lho kenapa gak minta tolong sama Mbok saja tadi ? " ujar Mbok Wan.
" Oh gitu. Yaya. Silakan. " jawab Mbok Wan dengan tersenyum.
*Kamar Wun Da Ree.
" Yah... masih tidur orangnya. " bisik Wan Jung.
" Hm .... nulis sesuatu ah. Mana pulpennya ya. Ah ..... ini dia. Kertas. Dirobek..... Ok. Pinjem pulpen sama kertasnya ya, Wun. " bisik Wan Jung.
Wan Jung pun menulis sesuatu di kertas.
" Terima kasih ya untuk bajunya. Ini no hp ku 087 xxxxx " tulis Wan Jung.
" Hehehe. Aku taruh kertasnya dimana ya. Ah di dekat kepalanya aja dah. Semoga dibaca ya pas begitu bangun. Hehe. Selamat tidur. Daahh. Aku mau pulang. Muah. " bisik Wan Jung.
__ADS_1
Begitu aku terbangun. Aku pun kaget. Ada sebuah kertas disamping kepalaku.
" Hmm. Apa ini ? Kok ada kertas ya. Hm. Aih. Ngantuknya. " ujar diriku yang masih belum tersadar sepenuhnya.
Mata masih merem-merem. Masih gerak gerik badan dan juga kepala. Hingga akhirnya benar-benar terbangun sepenuhnya.
" Siapa yang naruh kertas disini ya ? " ujar diriku.
Aku pun membaca isi kertas tersebut.
" Oh. Ini pasti Wan Jung. Ada-ada saja dia nih. Cuma setrika doank. Sampai buat beginian. Hm. Pake nawarin no hp segala lagi. Hm. Sudah sore banget. Mau mandi dulu deh. Hm. " ucap diriku.
1 minggu kemudian ...
" Sayang, sudah siap ? " ujar Ung De.
" Sudah, sayang. " jawab diriku.
" Ok. Sekarang kita beli makan. Oh ya. Sayang pernah makan di Warung An Diz gak ? " tanya Ung de.
" Warung An Diz ? Oh yang di dekat sekolahku itu ya ? " jawab diriku.
" Ah iya. Itu dia. Oh sayang pernah maem disana ? Pas sama siapa ? " tanya Ung De.
" Pernah sih sama Je Si Ka dan Mi Rah. Teman sekolahku. " jawab diriku.
" Kirain sama mantan pacar. Baru mau tak batalin. Takutnya nanti Wun Da Ree sayang teringat masa lalu nih. " ujar Ung De.
" Gak donk, Sayang. Wun memang belum pernah makan sama pacar disana. " ujar diriku.
" Bagus donk. Berarti sama aku untuk pertama kalinya. " ujar Ung De.
__ADS_1
" Hehe. Iya. Pertama kali makan disana sama Sayang. " ujar diriku dengan tersenyum.