
" Sayang. Jangan merasa bersalah dengan masalahku. Ini semua adalah kesalahanku. Aku yang tidak salah mengenal seseorang. Aku tidak menyangka kalau Ram Da Mee dan Wa Yan Dee ingin menjatuhkan aku. " ujar diriku.
" Itu terjadi karena sayang menolak mereka. Tapi gak seharusnya mereka jahat padamu. Mereka memang pantas ditolak. Yang paling aku kecewa saat mendengar kejadian itu. Temanmu. Mereka berdua. Harusnya ...... " ujar Kris Na.
" Sudah. Itu semua sudah terjadi, Sayang. " ujar diriku.
" Besok. Sayang masih kuat untuk hadir ke sekolah? " tanya Kris Na.
" Harus kuat. Aku berharap. Dengan waktu bisa memulihkan nama baikku. " ujar diriku.
" Hm... Jika gak kuat. Pindah sekolah saja, Sayang. " ujar Kris Na.
" Sayang. Maafin aku. Aku bukan keluarga mampu. Gak semudah itu pindah sekolah. Aku gak mau menambah beban Papa dan Mamaku. " ujar diriku.
" Aku bisa membantumu. " ujar Kris Na.
" Jangan.... Jangan mengorbankan segalanya untuk aku seorang. Sayang. Aku baik-baik saja. Aku anggap mereka semua tidak ada disekitarku. " ujar diriku.
" Sayang. Jangan bohongi dirimu. Sayang lemah sebenarnya. Sayang, jangan memaksakan diri seperti ini. Aku yang khawatir. " ujar Kris Na.
" Sayang. Sayang selalu ada buat aku. Itu sudah cukup buat aku. Sayang. Terima kasih sudah menerimaku. Aku gak tau bila aku belum mengenalmu. Aku harus lari kemana. Aku harus curhat kepada siapa.
Tuhan sudah merencanakan sebelumnya. Aku bertemu denganmu di waktu yang tepat. Terima kasih, Sayang. " ujar diriku.
__ADS_1
Kris Na pun memelukku. Aku pun merespon pelukannya.
" Jika aku sudah tidak ada lagi. Aku tetap menjagamu. Aku akan tetap melindungimu dari surga. " ujar Kris Na.
" Sayang? Sayang, kenapa ngomong gitu? Sayang sakit? Sayang mau ninggalin aku? " ujar diriku.
" Gak. Aku bercanda. Hahaha. Aku baik-baik saja. " ujar Kris Na.
" Serius nae.. Sayang sakit apa? Kenapa begitu ngomongnya? Kayak mau pergi saja. " ujar diriku.
" Gak. Lihat nae. Aku baik-baik kan? " tanya Kris Na.
" Hm... " ujar diriku dengan ekspresi cemberut.
" Sayang menakutkan.... Aku gak mau ditinggalin. " ujar diriku.
Kris Na pun memelukku lagi.
" Gak. Aku selalu ada disampingmu. " ujar Kris Na.
Wun Da Ree pun hanya terdiam. Ia berfikir yang gak-gak dalam pikirannya. Ia mulai khawatir dan merasa Kris Na mempunyai rahasia yang tidak ia ketahui.
KEESOKAN HARINYA ....
__ADS_1
" Sayang, jangan peduli omongan orang lain ya. Fokus belajar ya. " ujar Kris Na.
" Iya, Sayang. Terima kasih ya sudah anterin aku. " ujar diriku.
" Kalau ada apa-apa. Ingat hubungi aku. " ujar Kris Na.
" Iya. Sudah sana. Nanti telat. " ujar diriku.
" Ya udah. Aku pergi dulu ya. Dah. Sayang. I love you. " ujar Kris Na.
" Haha. Aku malu jawabnya. Sana. Hati-hati ya. " ujar diriku.
" Jawab dulu. I love you. " ujar Kris Na.
" Aaaa... I love you too. I love you too so much! Haha. Daaahh... " ujar diriku. Aku pun berlari meninggalkan Kris Na yang masih terdiam.
" Haha. " ujar Kris Na. Ia pun tertawa dan tersenyum. Ia pun berangkat menuju ke sekolahnya.
Brum brum brum ....
Saat aku sudah berjalan. Aku pun berbalik arah. Kris Na sudah menghilang. Aku pun berbalik lagi dan berjalan lagi menuju kelas.
Saat aku sampai di tangga. Ada seseorang dari kelas lain tetap merasa sinis dan berbisik-bisik yang tidak-tidak soal aku dengan temannya. Aku tetap tersenyum dan tetap menaiki tangga dengan tenang. Tidak peduli dengan mereka yang membenciku.
__ADS_1