
Aku pun mengikutinya dari belakang. Sampai akhirnya aku tiba di salah satu ruangan. Aku melihat beberapa orang memenuhi ruangan itu. Aku pun juga melihat Kris Na yang sedang berbaring di tempat tidur.
Hatiku terhanyut melihat kondisi Kris Na yang sudah kritis. Berbagai alat medis menempel tubuhnya. Air mataku langsung menetes membasahi pipiku.
" Kris Na? ... " ujar diriku.
Semua orang yang menemani dirinya melihat keberadaanku. Namun mataku hanya tertuju ke arah Kris Na.
Tap ... Tap .. Tap ...
" Kris Na ...? Hiks ... " ujar diriku.
Aku pun memegang tangannya. Mencium tangannya. Aku juga mengusapkan tangannya ke pipiku. Kris Na yang awalnya masih keadaan tertidur. Ia pun terbangun. Ia pun melepaskan alat perbantuan pernafasan yang menempel di wajahnya. Semua orang disisinya khawatir. Namun Kris Na memberikan kode dengan tangan untuk berhenti bicara.
" Sayang. Maafin aku ya. Tidak bisa menjemputmu lagi. " ujar Kris Na.
" Hiks. Jangan ngomong gitu. Hiks. " ujar diriku.
" Sayang. Kenalin ini Papa dan Mama. Papa. Mama. Ini pacar aku. Namanya Wun Da Ree. Maaf, aku baru ngenalin sayang ke orang tuaku. " ujar Kris Na.
Aku hanya menganggukkan kepala saja dan tetap menangis.
" Sayang. Jangan menangis. Aku baik-baik saja. " ujar Kris Na.
Aku pun menahan tangisanku. Aku pun berbicara dengannya.
" Maafin aku. Aku tidak tahu. Sayang seperti ini. Sayang, maafin aku sempat berfikir buruk tentangmu. Ku pikir sayang selingkuh dari aku karena tidak ada kabar. Sayang. Maafin aku. Aku jahat banget sama kamu, Kris Na. " ujar diriku.
" Tidak. Sayang tidak jahat. Masa lalumu yang membuatmu jadi begini. Aku tidak pernah berfikir sayang itu jahat. Buat aku. Sayang adalah wanita yang paling baik. Wanita yang paling jujur. Setia. Penurut. Terbaik dalam segalanya. Aku tidak menyesal mengenalmu. Aku bahagia menjadi milikmu. Sayang. I love you. " ujar Kris Na.
Mendengar ucapannya. Air mataku semakin mengalir. Membuat aku tidak sanggup berbicara.
" Sayang. Aku punya permintaan. " ujar Kris Na.
__ADS_1
" Hiks. Apa itu? " ujar diriku.
" Temani aku tidur ya. Mataku rasanya berat banget. " ujar Kris Na.
" Hiks. Aku akan selalu menemanimu tidur, Sayang. " ujar diriku.
" Terima kasih, Sayang. " ujar Kris Na.
Kris Na pun kembali memakai alat pernafasannya. Ia pun memejamkan matanya. Aku pun duduk dan menempelkan tangannya di pipiku. Aku pegang terus tangannya. Sampai akhirnya.
Tek .. tek ... tek ...
Detak jantung Kris Na mulai melemah. Aku tetap memegang tangannya dan berdoa dalam hati. Mama dan Papanya pun mulai panik. Dan sudah melakukan panggilan dokter untuk hadir ke ruangan.
Tek .. Tek ...
Detik demi detik, nafas Kris Na mulai setengah. Mama dan Papanya pun mulai panik dan menangis. Aku tetap memegang tangannya yang mulai dingin sedikit demi sedikit. Dokternya pun tiba mengecek kondisi Kris Na.
Tek ..
Tiiittt .....
Detik demi detik, air mataku mulai membasahi pipiku lagi.
Tak .. Tak .. Tak ...
Waktu terus berjalan. Dokter pun mengatakan Kris Na tidak bisa ditolong lagi.
Brug ..
Aku terjatuh. Air mataku semakin mengalir.
Semua orang yang menemaninya pun juga menangis.
__ADS_1
Satu persatu, alat medis pun dilepaskan dari tubuhnya.
.
.
.
Kris Na, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Walaupun hanya sebentar. Sungguh tidak terasa, kamu sudah memenuhi isi hatiku dan pikiranku dalam sekejap.
Kris Na, semoga kamu tenang di alam sana. Aku akan selalu mengingat semua saranmu dan nasehatmu yang pernah terucap. Aku akan berusaha menjadi wanita yang lebih baik.
Kris Na, aku mencintaimu.
- Wun Da Ree -
.
.
.
.
\= Informasi \=
Kris Na meninggal karena kecelakaan di perjalanan saat menjemputku.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH ♡