
" Wun Da Ree? Kamu belum pulang ? " tanya Je Si Ka.
Karena aku malu. Aku pun bergegas pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Je Si Ka.
" Je Si Ka, kamu lihat gak ? Lehernya Wun Da Ree merah lho. Kayaknya dia habis dicupang sama cowok deh. " ucap Mi Rah.
" Ah ? Yang benar ? " ucap Je Si Ka.
Suatu kebetulan Wa Yan Dee pun baru sampai di lantai dasar. Dilihat oleh Je Si Ka dan Mi Rah.
" Jangan-jangan ini orangnya ? " tanya Mi Rah.
" Hei ! Kamu ! " ucap Je Si Ka.
Wa Yan Dee pun kaget dan menoleh keberadaan mereka berdua.
" Ya ? Kenapa ? " tanya Wa Yan Dee.
" Kamu apain Wun Da Ree ?! " ujar Je Si Ka dengan emosi.
" Oh. Kamu temannya ? " jawab Wa Yan Dee.
" Aku nanya. Kamu nanya balik. Mau minta ditonjok kamu yah ! " lanjut Je Si Ka.
" Apaan sih... " ucap Wa Yan Dee.
Wa Yan Dee pun langsung meninggalkan mereka berdua.
" Ish ! Main kabur aja nih cowok !" ucap Je Si Ka.
" Sudah. Sudah. Ini juga karena Wun Da Ree yang gak bisa jaga diri. Je Si jangan terlalu urusin dia melulu donk. " ujar Mi Rah.
" Tauk ah. Kamu gak paham sama apa yang aku rasain ! Udah ah! Aku mau pulang. " ujar Je Si Ka dengan penuh emosi lagi.
" Gak paham, gimana ? Maksudnya gimana sih ? Jes ! Jes ! Jes ! Hei ! Tunggu aku ! " lanjut Mi Rah.
__ADS_1
Mi Rah pun terburu-buru mengejar Je Si Ka. Karena ia selalu diantar pulang ke rumah setiap harinya oleh Je Si Ka.
.
.
.
Sore hari di halaman rumah Wun Da Ree.
" Wun Da Ree. Boleh minta pin bbm kamu gak ? " ucap seorang cowok.
" Eh. Boleh saja. Mana hapenya Ung De? Biar aku ketik sendiri pinnya. " ucap diriku.
" Nih. " ucap Ung De.
" Aku ketik dulu. Hm.... Hm... Sudah. Nanti aku terima ya. Aku gak bawa hape. Hapeku dirumah soalnya. " ucap diriku.
" Oh ya. Gak apa. Santai saja. Ngomong-ngomong. Wun Da Ree, mau kemana ? " ucap Ung De.
" Oh ya. Aku mau belanja ke toko Ni Ga dekat sini. " ucap diriku.
" Haha. Pasti kok. Ya sudah. Aku kesana dulu ya. Dah. " ucap diriku.
" Hati-hati. " ucap Ung De.
Aku hanya tersenyum dan langsung bergegas pergi belanja ke Toko Ni Ga.
Oh ya. Singkat cerita.
Ung De, ia sering main di depan rumahku. Karena kakak perempuannya menikah sama kakak misanku disini. Rumahku ada 8 KK ( Kepala Keluarga ). Jadi 1 halaman ada 8 rumah, semuanya adalah keluarga.
*Kamar Wun Da Ree.
" Oh ya. Aku hampir lupa soal Ung De. Hm.. " ucap diriku.
__ADS_1
Aku pun langsung mengambil handphone lalu membuka aplikasi BBM. Kemudian, aku konfirmasi pertemanan dari Ung De.
" Cakep juga orangnya. Kira-kira dia dah punya pacar belum ya ? Lupa nanya tadi. Hais. Pas begitu balik dari belanja. Orangnya sudah gak ada. Mungkin dia sudah pulang ke rumahnya. Haihhh ... Kenapa aku mikirin dia ya? Ah sudahlah. " ucap diriku.
.
.
.
KEESOKAN HARINYA ....
" Wun Da Ree. Tunggu aku! " ucap Wa Yan Dee.
" Apa lagi sih ? " ucap diriku.
" Kok kamu jadi marah gini ? Salahku apa ? " ucap Wa Yan Dee.
" Salahmu apa ? Nih. Lihat leherku sampai jadi kayak gini! Aku sampai beli hansaplast buat nutup ginian ! Dah ah ! Lepasin tanganmu ! Aku mau pulang ! " ucap diriku.
" Maaf. Aku gak sengaja. Hei ! Ish. Malah pergi gitu aja. Ya sudahlah. " ucap Wa Yan Dee.
Tanpa disadari ... Je Si Ka pun mendengar pembicaraan itu.
" Ku dugalah. Jadi kamu yang merahin lehernya Wun Da Ree. " ucap Je Si Ka.
" Eh. Kamu lagi. Percuma kamu ngomong gitu sama aku. " ucap Wa Yan Dee.
" Ish ! Jadi cowok itu gentle donk ! Main kabur aja ! " ucap Je Si Ka.
" Sudah.. Sudah.. Jes, mau sampai kapan kamu peduli kayak gini sama Wun Da Ree ? Biarin aja. Kenapa sih? " ucap Mi Rah.
" Terserah aku. Bukan urusanmu. " ucap Je Si Ka.
" Ok. Ok. Ok. Aku salah. Aku minta maaf. Aku gak bermaksud ikut campur sama urusanmu. Sekarang anterin aku pulang. Ok? Jangan marah ya? Tolonglah ya. " ucap Mi Rah.
__ADS_1
" Syukur kamu masih ingat. Tanpa aku, kamu gak bisa pulang ke rumah. " ucap Je Si Ka.
" Hehe. Yuk yuk yuk ... Sekarang kita pulang. " ucap Mi Rah.