
Keesokan harinya ...
" Terima kasih, sayang. Sudah anterin aku lagi. " ujar diriku.
" Iya. Sama-sama. Sayang. Kalau ada apa-apa, ingat hubungi aku ya. " ujar Kris Na yang khawatir soal kejadian kemarin.
" Iya, Sayang. Terima kasih. Ya sudah. Sayang berangkat ke sekolah dah dulu. Nanti telat. Hati-hati dijalan ya. " ujar diriku.
" Iya, Sayang. Aku sayang Wun Da Ree. " ujar Kris Na.
" Aaa. Malu aku jawabnya. Sana dah. Haha. " ujar diriku.
" Daah. Sayang. " ujar Kris Na.
" Dah. " ujar diriku.
Aku pun memasuki gerbang sekolah. Perasaanku sudah mulai tidak enak.
" Perasaanku gak enak. Ada apa ya? " ujar diriku dalam hati.
Aku pun berjalan sampai akhirnya tiba di lantai 2.
" Ih. Sudah gak perawan ya? " ujar seseorang.
" Maksudnya? " ujar diriku.
" Jangan pura-pura tidak tahu. Gosip tentang kamu tersebar satu sekolah lho. " ujar seseorang itu.
Mendengar pernyataan itu, aku pun berlari naik ke lantai 3. Tidak memperdulikan perkataannya.
" Eh. Wun Da Ree sudah gak perawan lho. " bisik Da Yu, salah satu teman kelasku.
" Iya. Aku juga mendengar gosip itu. " ujar Rin Di, salah satu teman kelasku juga.
__ADS_1
Mendengar gosipan mereka. Aku pun merasa lemas. Hanya bisa menunduk dan memasuki kelas.
" Pagi. Wun Da Ree. " ujar Je Si Ka.
Aku hanya terdiam dan membisu.
" Hei. Kenapa lemas seperti itu? " ujar Je Si Ka.
Aku menggelengkan kepala dan tetap tersenyum padanya.
" Je Si Ka. Aku rasa gosip kemarin tersebar deh. " bisik Mi Rah.
" Hm. Wun Da Ree. Aku tetap membelamu. Tenang saja. Ada aku. " ujar Je Si Ka.
Aku hanya tersenyum dan kembali menundukkan kepala.
" Je Si Ka. Aku dengar-dengar salah satu guru kita juga mendengar gosip itu. " bisik Mi Rah.
" Kamu... Berpihak sama siapa sih? " tanya Je Si Ka.
Je Si Ka pun terdiam. Ia pun menatapku dengan ekspresi sedih. Aku pun menatapnya juga.
" Je Si Ka. Aku gak apa-apa. Kamu tidak perlu membela aku. Itu memang kesalahanku. Aku siap menerima resikonya. " ujar diriku.
Kringg kriing krriingg ... (bel sekolah)
Je Si Ka pun pergi ke tempat duduknya dan diikuti oleh Mi Rah juga. Mereka duduk sebangku.
.
.
.
__ADS_1
Ibu An Dri pun tiba. Beliau adalah Guru pelajaran Housekeeping.
" Selamat pagi, anak-anak. " ujar Ibu An Dri.
" Selamat pagi, Ibu. " ujar semuanya.
Ibu An Dri pun duduk dan menaruh Map isi buku di meja bangkunya.
" Baik. Anak-anak. Sepertinya ada berita hangat di sekolah kita ya? " ujar Ibu An Dri.
Semua pun bergosip satu sama lain. Hanya aku yang terdiam. Je Si Ka pun memperhatikan aku.
" Wun Da Ree. Apakah hadir di kelas? " tanya Ibu An Dri.
" Hadir dia, Ibu. " ujar Da Yu.
Aku pun menundukkan kepala.
" Wun Da Ree. Coba berdiri di depan kelas. " ujar Ibu An Dri.
Aku pun berdiri dan menuju ke depan kelas.
" Apakah kamu mengerti maksud saya menyuruh kamu berdiri disini? " ujar Ibu An Dri.
Aku hanya menggelengkan kepala saja.
" Wun Da Ree. Apakah kamu tahu gosip tentang kamu tersebar di grup BBM sekolah kita? " tanya Ibu An Dri.
Aku tetap menggelengkan kepala lagi.
" Kamu tidak tahu? " tanya Ibu An Dri.
Aku hanya menganggukkan kepala saja.
__ADS_1
" Kenapa hanya angguk dan geleng kepala? Kamu bisa ngomong kan? " tanya Ibu An Dri.