Cinta Wun Da Ree

Cinta Wun Da Ree
Part 24


__ADS_3

" Fitnah itu, Sayang. Fitnah. Jangan percaya sama Ei Do. " ucap Kris Na.


" Hm......... " aku pun langsung terdiam dan berfikir panjang.


" Tuh kan. Mulai dah sayang ya. Berfikir gak-gak nih. " ucap Kris Na.


" Gak kok. Sayang. Aku percaya sama sayang. " ucap diriku yang langsung memeluknya.


" Hm. Bener? Aku khawatir sama apa yang sayang pikirkan lho. Ei Do sih. Tanggung jawab ini. " ujar Kris Na.


" Kok aku? Kamu sih ngejek aku melulu. Aku nih korban bullynya kamu. " ujar Ei Do.


" Beneran, Sayang. Aku gak mikir yang aneh-aneh. " ucap diriku.


" Peluk nae. Khawatir aku tuh. " ucap Kris Na.


Aku pun memeluknya. Aku mempercayainya.


" Nyamuk! Nyamuk! Nyamuk! eee.. " ujar Ei Do.


" Haha. Kasian, Ei Do. " ujar diriku.


" Biarin aja dia, Sayang. Haha. " ujar Kris Na.


" Kris Na, jalan-jalan yuk ke pantai sanur. Masa setiap hari ke Warung An Diz melulu. Gak bosan apa kalian berdua ini ya? Hampir setiap hari sepulang sekolah, kesini melulu. Heran aku tuh. " tanya Ei Do.


" Oyaya. Kita ke pantai yuk. Sayang? " ujar diriku.

__ADS_1


" Pulang dulu. Sayang. Kita ganti baju. Biar gak kotor baju sekolahnya. Ok, sayang? " tanya Kris Na.


" Ok. Sayang. Jam berapa kita ke pantainya? " ujar diriku.


" Jam berapa ya? Sorenya aja? Gimana? Nanti aku jemput sayang dah kerumah pake mobil. Tapi tanya dulu Papa Mamanya sayang. Dikasi gak? " tanya Kris Na.


" Kamu nae masuk kerumahnya, Kris Na. Minta ijin ngajak keluar sama anaknya. " ujar Ei Do.


" Eh. Jangan. Gak usah. Aku pastikan dikasi sama Papa Mamaku. " ujar diriku.


" Kenapa ? Kok gak ijinkan aku ke rumah? "tanya Kris Na.


" Iya, Wun Da Ree. Bukannya bagus ya kalau Kris Na minta ijin ke rumahmu dulu? Terkesan gak baik lho kalau anak laki-laki ngajak anak perempuannya diam-diam pergi keluar tanpa ijin orang tua. " ujar Ei Do.


" Tumben kamu bener, Ei Do. Ku pikir cewek aja pikiranmu. " ujar Kris Na.


" Hm. Sayang berani emangnya ketemu orang tuaku? " tanya diriku.


" Sayang meragukan aku? " tanya Kris Na.


" Emangnya orang tuamu galak ya? Sampai ragu kayak gitu. " ujar Ei Do.


" Ya... Gak sih. Cuma kan Papaku fanatik. Kita kan beda agama, sayang. " ujar diriku.


" Gak apa-apa. Yang jelas, aku minta ijin dulu sama orang tuamu. Sisanya itu diurus belakangan saja. Waktu masih panjang. Kita gak pernah tau kedepannya seperti apa. Ok, Sayang? " tanya Kris Na.


" Ya udah. Aku ikutin sayang aja. Maunya gimana. Aku setuju aja. " ujar diriku.

__ADS_1


" Huhuk. Huhuk. Aku harap nanti akan baik-baik saja. Ya sudah. Kita pulang dulu berarti nih? " ujar Ei Do.


" Iya. Kita pulang dulu. Aku bayar dulu ya. Kalian duluan dah dulu ke parkiran.


" Ok. Sayang. " ujar diriku.


Wun Da Ree dan Ei Do pun ke parkiran.


" Wun Da Ree, aku nanya nih. Sebelumnya kamu pernah kenalin cowok ke orang tuamu? Mungkin mantanmu gitu. " tanya Ei Do.


" Belum pernah sih. " ujar diriku.


" Oh. Berarti Kris Na orang pertama donk? " ujar Ei Do.


" Iya. Kris Na orang pertama yang punya niat mau ketemu orang tuaku. Tapi aku takut. " ujar diriku.


" Ngapain takut? Berfikir positif aja. Aku yakin baik-baik aja. " ujar Ei Do.


Kris Na pun menyusul tiba ke parkiran.


" Sudah. Yuk. Pulang dulu. Sampai ketemu nanti ya, Sayang. Hati-hati pulangnya ya. Sampai rumah. Kabarin. Ok, sayang? " tanya Kris Na.


" Ok, sayangku. " ujar diriku.


" Sini. Peluk dulu. Tak cium juga keningnya dulu. " ujar Kris Na.


Aku pun memeluknya. Ia pun mencium keningku. Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2