
Drrtt drrrtt drrtt ...
Handphoneku pun berbunyi. Aku pun melepaskan tangan Je Si Ka. Aku pun mengambil handphoneku dari tas. Ternyata Kris Na menghubungiku.
" Halo. Sayang dimana? " ujar diriku.
" Halo. Aku sudah didepan sekolah. Sayang dimana? " tanya Kris Na.
" Aku di parkiran sekolah. Tapi ada masalah nih. Je Si Ka berantem sama Ram Da Mee. " ujar diriku.
" Ada apa? Kalau begitu aku samperin sayang ya. " ujar Kris Na.
" Iya, Sayang. Masuk aja kedalam. " ujar diriku.
Kris Na pun mematikan panggilannya. Sementara aku bingung harus gimana. Je Si Ka sudah emosi banget.
" Ngomong apa lagi kamu? Ah? Ngomong aja. " ujar Je Si Ka.
" Untung kamu cewek ya. Kalau cowok. Dah main tangan aku nih. Duh. Lepasin tangan aku. Jijik aku dekat sama teman wanita kotor. " ujar Ram Da Mee.
Je Si Ka tidak melepaskan tangan Ram Da Mee.
" Jelek banget bicaranya. Geram aku! " ujar Mi Rah.
" Sayang. " ujar Kris Na.
__ADS_1
Aku pun menolehnya dan memegang tangannya.
" Sini, Sayang. " ujar diriku.
Raut muka aku dah penuh khawatir. Takut akan terjadi kekerasan antara Je Si Ka, Mi Rah dengan Ram Da Mee.
" Oh. Ada pacarnya Wun Da Ree. Kamu tahu gak? Wun Da Ree itu bekasnya aku. " ujar Ram Da Mee.
" Bekas? Maksudmu? " tanya Mi Rah.
" Tutup mulutmu ! " ujar Je Si Ka.
Je Si Ka sudah kehabisan kesabaran. Ia pun menjambak rambutnya Ram Da Mee.
" Tenang saja. Je Si Ka. Aku tidak peduli apa kata orang ini. Aku tetap berpihak sama Wun Da Ree. Lepaskan. Jangan sampai ada masalah. Banyak orang melihat kita disini. " ujar Kris Na.
Je Si Ka pun melepasnya.
" Wanita kotor !! " ujar Ram Da Mee. Namun ia pun kabur dan pergi meninggalkan kami dengan cepat.
Aku pun menangis. Kris Na pun memelukku.
" Hei. Hei. Hei. Sudah. Sudah. Sudah. Mending kalian sekarang pulang. Jangan pelukan disini. Kita cari aman. " ujar Mi Rah.
Je Si Ka masih geram. Tapi ia menahannya. Tanpa bicara, Ia pun meninggalkan kami dan menuju ke parkiran motornya.
__ADS_1
" Hei. Je Si Ka, tunggu. Wun. Aku pulang ya. Dah. " ujar Mi Rah.
Aku hanya menganggukkan kepalanya. Kris Na pun menarik tanganku dan menuju ke parkiran motornya juga.
Orang-orang sekitar kami menjadi saksi pun sudah saling berbisik dan bergosip dari sudut pandangan mereka masing-masing.
Dalam perjalanan pun, aku hanya menangis tiada henti. Kris Na pun membujukku.
" Sayang. Sudah. Aku masih ada untukmu. Sayang. Jangan nangis terus. Nanti dikira aku yang buat sayang nangis lho. " ujar Kris Na.
" Hikss. hikkss.. Tapi kata-katanya itu jahat banget. Sampai didengar anak-anak dari kelas lain juga. Hikss... hiksss.. Nama baikku sudah jadi buruk sekarang. Hikkss.. hikkss.. " ujar diriku yang tiada henti menangis.
" Hm... " Kris Na pun kehabisan kata-kata.
" Hikss ... Hikkkss ... Besok bakalan jadi berita hangat dah di sekolah tentang diriku. Hikss... hikss... " ujar diriku.
" Aku harus bagaimana, Sayang? Maafkan aku yang gak bisa berbuat apa-apa. " ujar Kris Na.
" Ini kesalahanku. Hikss.. Hikss.. Kenapa baru kenal sama sayang sekarang. " ujar diriku.
Aku terus menangis tiada henti.
" Peluk aku sayang. Peluk yang erat. " ujar Kris Na yang masih menyetir motornya.
Aku pun memeluknya sambil menangis.
__ADS_1