
Saat ini Karin sudah tiba di tempat pembangunan hotel yang bekerja sama dengan Leon. Karin sudah setengah jam menunggu kedatangan Leon tapi sampai saat ini Leon belum datang juga.
''Kemana sih tuh singa, udah jam segini belum datang juga. Dia gak tau apa kalau waktu adalah emas!!'' kata Karin sambil marah marah karena Leon belum datang juga.
Dan setelah menunggu lebih setengah jam, akhirnya Leon datang dengan Asistennya, Robby. Leon pun keluar dari mobilnya dengan sangat gagah sehingga membuat semua wanita yang melihat dia menjadi terpesona kecuali Karin.
Karin menatap jengah kearah wanita wanita yang menjerit histeris saat melihat Leon.
'' Dasar wanita wanita bodoh, dia gak tau aja Leon orangnya seperti apa. Kalau mereka tau Leon orangnya suka marah marah pasti gak akan ada wanita yang mau menyukainya.'' kata Karin dengan wajah kesal.
Leon pun berjalan kearah Karin, dia menatap Karin dengan wajah tidak senang. Sebenarnya Leon sudah tau bahwa dia akan ditemani oleh Karin, Leon ingin sekali membatalkannya tapi dia harus profesional dan mengesampingkan urusan pribadinya dengan Karin.
''Selamat pagi Tuan Leon.'' sapa Karin sambil tersenyum kearah Leon.
Leon menatap dingin kearah Karin, dia benar benar sangat muak saat melihat wajah Karin. Apalagi jika mengingat tentang bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Karin waktu itu.
__ADS_1
Leon masih ingat dengan jelas saat Karin melemparnya dengan sepatunya.
''Kalau bukan karena masalah pekerjaan, aku sangat tidak ingin untuk bertemu dengan kamu.'' kata Leon dengan suara dinginnya.
Karin mendengus kesal saat Leon berkata seperti itu, tapi dia tahan karena dia masih mengingat nasib perusahaannya.
''Terima kasih banyak Tuan atas pujiannya.. Mari kita langsung saja melihat sudah sampai mana pembangunannya.'' kata Karin sambil tersenyum dengan senyuman yang di paksakan.
Leon pun berjalan mendahului Karin, Karin menatap punggung Leon yang semakin menjauh.
Karin pun berjalan sambil menghentak hentakan kakinya dengan keras. Dia sebenarnya sangat malas kalau harus berurusan dengan lelaki itu.
Karin pun mulai menjelaskan setiap ruangan pembangunan hotel tersebut. Bahkan Karin juga sangat pintar mendesain beberapa ruangan agar terkesan mewah dengan tema pedesaan.
Robby menatap Karin dengan tatapan tidak percaya, Robby sangat kagum akan kecerdasan Karin yang memberikan beberapa ide untuk pembangunan tersebut.
__ADS_1
''Bagiaman Tuan, apa Tuan setuju dengan pendapat saya??'' tanya Karin pada Leon yang saat ini tengah menatap bangunannya.
''Pemikiran yang bodoh, tapi cukup lumayan. Aku akan mempertimbangkannya.'' kata Leon mengatakan Karin bodoh tapi dia ingin mempertimbangkannya.
Robby cukup terkejut dengan penuturan Tuannya yang mengatakan bahwa pemikiran Karin bodoh. Tapi setelah Leon mengatakan akan mempertimbangkannya, Robby menjadi yakin bahwa Leon juga setuju dengan ide yang diberikan oleh Karin.
''Ternyata Tuan ingin jual mahal dengan tidak langsung menyetujui ide nona Karin, padahal ide ini sangat bagus dan aku yakin bahwa bakal banyak pengunjung yang datang ke hotel ini.'' kata Robby dalam hati sambil tersenyum melihat kearah Leon.
Leon pun berjalan meninggalkan Karin yang saat ini menatapnya dengan tatapan marah karena sudah mengatai bahwa Karin bodoh.
''Dia benar benar ya, ok baiklah. Mungkin saat ini aku masih bisa bersabar, tapi jika dia terus mengatakan hal yang membuat aku marah. Maka jangan salahkan aku jika aku akan menonjok bibir dia agar tidak sembarang bicara.'' Karin mengatakannya dengan nada kesal kepada Leon.
Sedangkan Leon saat ini tersenyum puas saat melihat wajah Karin yang memerah karena menahan amarahnya.
''Kau lihat Robby. Dia sangat lucu sekali, wajahnya sampai memerah seperti tomat karena menahan amarahnya.'' kata Leon bercerita pada Robby saat Naura tidak ada didekatnya.
__ADS_1
Robby pun ikut tersenyum saat melihat Tuanya tersenyum. Karena baru kali ini Tuannya menggoda wanita dengan sikap jahilnya.