Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah
bab 135


__ADS_3

"makasih ya za, mau mampir dulu nggak? " Tanya aurel saat mobil Eza telah sampai di halaman rumahnya.


"Boleh deh, gue mau buang air kecil dulu" kata Eza Aurel pun mengangguk.


"Yaudah ayo ikut masuk aja" ajak aurel lalu keluar dari mobilnya eza pun mengangguk lalu ia ikut keluar.


Setelah masuk dan di persilahkan eza pun segera menuju kamar mandi karena memang ia sudah menahan dari tadi sedangkan aurel mengambilkan minuman botol instan yang selalu tersedia di kulkas nya.


lebih dari lima menit kemudian eza pun sudah keluar dari kamar mandi dan ikut duduk di sofa bersama aurel.


"Nih minum dulu " kata Aurel menawarkan minuman yang telah ia ambil barusan.


"Makasih ya" kata eza aurel mengangguk, eza pun meminum minuman yang aurel siapkan.


"Sepi amat rel??" Tanya eza sambil melihat sekeliling rumah Aurel.


"Iya, biasanya sih para asisten rumah tangga pada keluar sebelum Ashar kalo sekarang mungkin lagi istirahat" jelas Aurel, Eza pun mengangguk seraya menaruh botol minuman yang ia minum.


"Bang athar belum pulang??" tanya Eza, aurel menggeleng mendengar pernyataan eza.


"Belum, kayak nya masih lama di rumah sakit, kata mama sih kak melati nggak mau pulang kalo anak nya juga nggak pulang, malah sekarang di sewain satu lantai sama papa biar nggak campur sama orang" jelas Aurel.


"Lo sendirian dong?" tanya Eza.


"Ya gitu, tapi biasanya mama sama papa pulang kok, tapi agak maleman karena mampir ke rumah sakit dulu"


"Ohhh gitu ya, yaudah ati-ati aja ya kalo sendirian" ujar eza aurel mengangguk


"za... Gue boleh nanya nggak??" tanya Aurel.


" Tanya aja" jawab Eza santai.


"Tadi itu......???" aurel menjeda kalimat nya, ia terlihat ragu, eza kemudian menggenggam tangannya.


"Kenapa rel??" tanya Eza.


"Tadi gue denger semua omongan Lo sama perempuan tadi" ujar aurel, tangan eza yang dari tadi mengusap tangan aurel pun langsung diam.


"Yang di mall??" Tanya eza memastikan, aurel mengangguk.


"Sorry za..." Sesal aurel yang kini menyesal karena telah mengatakannya.


" its okay, ngga masalah, terus?" tanya Eza.


" Tadi gue ikutin elo Karena gue takut Lo kenapa-kenapa karena gue liat lo buru-buru banget, awalnya gue pikir itu pacar Lo, tapi setelah dengerin semua omongan nya ternyata dia .."


"Dia istrinya papa gue, alias ibu tiri gue" jawab eza memotong kalimat aurel.


"Sorry ya, gue denger semuanya" jujur aurel


" Nggak apa-apa kok rel, " jawab eza sambil tersenyum, tangannya masih menggenggam tangan aurel.


"Duhhh lama-lama nyaman nih kalo kayak gini hihihi" batin aurel


" Jadi Lo denger dong kalo ternyata gue anak haram? Alias ... Di luar nikah" tanya eza membuyarkan lamunan aurel


" Iya tadi gue denger kok" jawab aurel jujur, tangan eza tiba-tiba terlepas


"Kira-kira masih ada ngga ya yang mau temenan sama gue kalo tau gue anak haram??" Tanya eza menyenderkan kepalanya ke sofa


" Kok Lo ngomong gitu sih za," tanya Aurel.


" Ya gimana lagi rel? Kan emang gue cuma anak haram"


" Heh ngga ada ya yang namanya anak haram, yang haram itu perbuatan orang tua nya, dan Lo ngga salah apa-apa " jawab aurel eza melirik aurel sebentar lalu tersenyum.


"Kalo boleh jujur.... Gue .. suka sama Lo rel.." ujar eza membuat aurel kaget, jantung yang tadi nya berjalan normal tiba-tiba berdetak kencang tidak normal hingga tak mampu berkata-kata lagi.


" aurel.?.." panggil eza aurel pun membalas tatapan eza.


"Iiii.. iya za kenapa??" Tanya aurel eza pun duduk normal kembali lalu mendekat  menghadap aurel dan menggenggam kembali tangannya.


"Gue suka sama Lo rel, selama ini gue ngga berani bilang nya karena gue banyak banget kekurangan nya gue ngerasa gue ngga pantes buat Lo yang sempurna seluruh nya, ini aja gue juga udah deg-degan banget ngomong nya hehehe" eza tersenyum sendiri sedangkan aurel tak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan ia hanya bisa menatap eza.


"Meskipun Lo bakal tolak gue gue ngga mau kita musuhan, gue mau kita masih temenan kaya biasa nya" tambah eza.


"Kenapa?" tanya Aurel.


"Kenapa apa?" tanya Eza balik.


"Kenapa Lo suka sama gue za??" tanya Aurel.


"Ya ngga tau rel, kata orang jatuh cinta itu ngga butuh alasan tau rel, mungkin karena selama ini Lo yang Deket sama gue, Lo yang selalu temenin gue belakangan ini dan Lo yang selalu ada buat gue, mungkin ya" jelas eza

__ADS_1


" Lo tau ngga kalo selama ini gue deketin Lo karena gue suka sama Lo za" tanya aurel balik, Eza hanya tersenyum.


"Hati kecil gue sih ngerasa gitu rel, tapi gue ngga mau ke ge er an dulu, makanya sekarang gue berani pastiin, kalo Lo terima gue berarti emang hati kecil gue bener, kalo ngga yaudah ngga apa-apa " kata Eza.


" Gue juga suka sama Lo za" jawab aurel sambil menunduk, ia malu sekali jika harus bertatapan langsung dengan eza.


"Jadi Lo terima gue??" Tanya eza, dengan kepala masih menunduk aurel mengangguk. Hati eza langsung berbunga-bunga tapi tidak ia tunjukkan langsung di hadapan aurel.


"Berarti sekarang kita pacaran dong??" Tanya eza terenyum.


"Iya lah, gimana sih tanya-tanya terus... Udah tau gue udah malu benget ini" cemberut aurel. eza tersenyum dalam hati ingin sekali teriak-teriak menselebrasikan keberhasilannya menyatakan cinta untuk pertama kalinya.


"Kok senyum-senyum sih??" Tanya aurel


"Ini tuh namanya seneng rel" aurel pun tersenyum malu-malu.


Kedua nya sama-sama bersandar di sofa saling menatap satu sama lain dengan dalam, lama-lama jarak antara eza dan aurel semakin mendekat.


Jantung aurel sudah dag Dig dug dia sudah berkhayal bahwa eza akan mencium nya, tapi setelah lama bertatapan tangan eza terulur ia lalu mengusap rambut aurel bahkan bisa di bilang mengacak-acak rambut aurel, entah kenapa hati aurel plong karena eza bukannya menciumnya.


"Kita mulai jalanin hubungan ini ya rel, semoga kita bisa jadi saling melengkapi" ujar eza aurel mengangguk, tepat setelah itu terdengar suara mobil memasuki gerbang rumah aurel, eza pun mundur lalu meminum minumannya kembali untuk mengusir groginya.


Tidak lama mama ambar masuk dengan mengucap salam.


"Loh ada eza, udah lama za? Kalian baru pulang??" Tanya ambar karena melihat aurel dan eza masih mengenakan seragam, ambar lalu menghampiri aurel dan eza dan ikut duduk bergabung dengan mereka eza tidak lupa menyalami ambar


"Iya Tan, tadi mampir makan siang dulu, ngga apa-apa kan?" Tanya eza


"Nggak apa-apa za, asal setelah itu langsung anterin pulang, ya kaya yang selalu Tante bilang sama kamu, jagain aurel " jawab mama Ambar.


"Insyaallah Tan, saya pasti jagain" jawab eza.


" Yaudah ya mama tinggal dulu rel, mama mau mandi mau ke rumah sakit habis ini"


"Ngga capek ma, baru pulang ini?" Tanya aurel


"Capek sih, tapi mama kangen banget pengen liat cucu-cucu mama rel," jawab mama Ambar yang sudah berdiri hendak melangkah pergi.


"Sekarang mah mama apa-apa cucu-cucu nya" cemberut Aurel.


"Ihh kamu sih belum tau rasanya, ngga puas banget tau apalagi cuma liat dari balik kaca, tapi untung aja masih bisa liat, " kata mama Ambar.


"Iya-iya ma, aku boleh ikut nggak?" tanya Aurel karena ia tak ingin sendirian di rumah.


"Mau saya anter Tan??" Tawar eza


"Kamu ngga sibuk??" Tanya mama ambar eza menggeleng


"Yaudah boleh, tunggu ya, kamu cepetan mandi rel" perintah mama Ambar, aurel pun mengangguk, aurel dan mama ambar pun langsung bergegas ke kamarnya masing-masing, sedangkan eza menunggu mereka di ruang tamu sebelum nya asisten rumah tangga sudah di minta menyiapkan cemilan untuk menemani eza menunggu.


"...


Setelah mengantarkan ambar dan aurel eza pun langsung pulang karena masih harus ke bengkel.


Pukul 8 malam setelah pekerjaan bengkel nya selesai eza menghubungi papa nya.


" halo kenapa nak?"


"Halo pa, papa lagi dimana?"


"Lagi di rumah ini, nemenin Vanesa main"


"Aku kesana ya pa, ada yang mau aku omongin "


"Iya kesini aja nak, papa juga lagi nggak sibuk"


"Yaudah, aku jalan sekarang"


Setelah menutup telponnya eza segera menaiki motor nya dan segera menuju rumah papa nya. Setengah jam lebih perjalanan akhirnya eza pun sampai di rumah papa nya.


"Pa ..." eza langsung masuk karena dari luar sudah terlihat chandra sedang duduk di sofa di temani Vanessa yang sedang belajar.


" Sini nak masuk,... " chandra melambaikan tangannya, eza pun melangkah memasuki rumah megah papa nya lalu duduk di ruang tamu.


"Wahh ada kakak.." girang Vanessa dan langsung berdiri menghampiri eza untuk menyambut kakaknya dengan mengulurkan tangan kecilnya, eza pun tersenyum dan langsung menerima uluran tangan Vanesa yang langsung menariknya menuju sofa.


" Kak eza, tau ngga kemarin yang kakak bantuin aku kerjain pr itu aku dapet nilai bagus loh kak, kak eza pinter ya, aku jadi makin seneng deh punya kakak kayak kak eza" celoteh vanesa, eza dan pak chandra pun tersenyum.


",Makanya kamu harus belajar yang rajin biar pinter kayak kak eza ya nes???" Ujar pak chandra, dengan polosnya Vanessa mengangguk.


"Iya pi, Vanessa pasti bakalan belajar biar pinter kayak kak eza"


"Yaudah sekarang kamu main di kamar ya? " perintah pak chandra membuat Vanesa cemberut

__ADS_1


"Ihh papi... Vanes kan masih kangen sama kak eza" rajuk Vanesa


"Sayang... Kamu kan harus cepet istirahat, besok sekolah, papi juga mau bicara sama kakak kamu, boleh kan??" Bujuk pak chandra


"Yaudah deh, tapi besok kak eza kesini lagi ya, temenin aku belajar lagi, kalo perlu kak eza tinggal disini aja, aku biar ngga sendirian lagi biar ada temen nya" pinta Vanesa


"Iya nanti papi bujuk ya biar kak eza nya mau " akhirnya dengan sedikit bujukan Vanesa pun mau masuk ke kamar nya meninggalkan chandra dan eza berdua di ruang tamu, sebelum bicara serius chandra meminta para asisten rumah tangga untuk menyediakan minuman dan beberapa cemilan untuk menemani keduanya mengobrol.


"Jaket kamu udah buluk begini za, beli yang baru lah, kan udah papa kasih fasilitas buat kamu, jangan hemat-hemat lah, beli aja apa yang kamu suka" pak chandra memulai obrolan nya dengan obrolan ringan, membuat eza memperhatikan jaketnya sendiri dan memang warna nya sudah agak pudar apalagi banyak noda-noda oli yang membekas karena memang itu jaket eza yang selalu standby di bengkel.


" Iya pa, lain kali aku beli ya," ujar eza chandra pun mengangguk


" jadi gimana za mau ngomongin apa?"


"Aku cuma mau nanya aja sih pa, hubungan papa sama istri papa itu baik-baik aja kan??" Tanya eza membuat chandra mengerutkan keningnya,  tumben sekali putranya bertanya soal ini batin chandra.


"Ngga ada masalah kok za, baik-baik aja" jawab chandra santai


"Pa .. tadi sebenarnya aku liat..."


Tinn.. tin...


Suara klakson mobil dari luar memasuki gerbang menuju garasi menghentikan kalimat eza.


"Itu kayak nya mami baru pulang za, oiya kamu tadi kenapa ?" Tanya chandra, tapi eza tidak enak bicara kalau Olivia sudah pulang dan sedang di rumah. Apalagi tidak lama Olivia datang dan masuk ruang tamu, saat Olivia masuk dan melihat ada eza dengan suaminya sedang mengobrol dia agak kaget, apakah eza mengadukan perselingkuhan nya tadi? Olivia jadi ragu untuk masuk, ia takut chandra sudah mengetahui nya lalu kalau ia masuk akankah chandra menghajarnya,.


"Sini masuk mi, ini ada eza" panggil chandra membuyarkan lamunan Oliv,.


"Kayak nya papi belum tau" batin Oliv, ia pun memberanikan diri untuk masuk.


"Hai za, udah lama?" Tanya Oliv mengusir groginya, tapi jantungnya sudah berdetak tak karuan karena ketakutan.


"Udah lumayan lama, ya kan pa?" Jawab eza dengan menatap tajam pada Olivia.


"Iya mi, sini duduk, ngobrol bareng kita, gimana tadi arisan nya mi? Lancar??" Tanya chandra, Oliv meneguk ludahnya sungguh kini ia di Landa kegelisahan takut rahasianya terbongkar di hadapannya, apalagi kini chandra menanyakan kegiatannya hari ini, padahal memang itu bohongnya, karena seharian ini Oliv hanya bersenang-senang dengan Bastian, tidak ada sama sekali pergi arisan.


"Eee.. ii.. iya pi, lancar kok" jawab Oliv terbata-bata lalu chandra menarik nya duduk di sofa.


" chandra dan eza pun masuk pada obrolan mereka yang entah apa seperti nya tentang bisnis dan rencana kuliah eza Oliv tak terlalu serius mendengarkan karena pikirannya berkecamuk.


"Gimana nak kamu mau kuliah dimana ?"


"Terserah aja sih Pa, mau dimana pun aku bakal terima, kalo aku sih pengennya di Jakarta aja, soalnya takut nenek sendirian."


"Iya ya, tapi kan sebenarnya kamu pinter za, kan kalau kuliah di luar negeri bisa lebih bagus dan banyak peluang baik buat kamu" kata chandra tapi eza menggeleng.


" Ngga kok pa, disini juga banyak yang bagus, aku nggak mau jauh dari nenek pa, dia cuma punya aku disini" akhirnya chandra pun mengangguk


" Oiya tentang permintaan Vanesa tadi gimana? Kamu sesekali lah nginep disini nak, kalau bisa kamu tinggal disini aja" pinta Chandra membuat Olivia membulatkan matanya. Ingin sekali dia protes tapi pasti akan menimbulkan kecurigaan pada chandra kalau dirinya tidak menyukai anak bawaan suaminya.


" Tapi nenek gimana pa?"


" bawa aja kesini, lagian Bu Atika kan juga orang tua papa, ibunya Zahira juga " kata chandra membuat Olivia makin kesal.


"Nanti aku tanyain ya pa"


"Makasih ya nak, papa berharap kamu mau, Vanesa tuh biar ada temen di rumah"


"Iya pa," eza melirik pada ibu tirinya yang sepertinya makin tak suka dengan apa yang di minta chandra, eza melihat Olivia lalu tersenyum miring melihat ketidak sukaan ibu tiri nya.


"Andai aja dulu papa nggak gebukin mama ya, pasti sekarang mama masih sama aku" ujar eza tiba-tiba


"Ee... Maaf ya za, papa waktu itu marah dan ngga bisa kontrol emosi karena liat mama kamu di peluk laki-laki lain, papa nggak terima" ujar chandra karena eza membahas hal yang selalu membuatnya menyesal.


"Cuma karena di peluk laki-laki lain ya papa udah gebukin mama Sampe segitunya, apalagi kalo seandainya benar-benar selingkuh, mungkin mama bisa aja di bunuh hari itu juga" ujar eza yang kata-kata nya itu di tujukan pada Olivia, dan tentu saja hal itu membuat Olivia geram dan makin deg-degan.


"Maaf za, ini emang salah papa, papa yang bodoh"


"Iya semua karena papa yang bodoh, dan untuk kali ini, eza nggak mau papa jadi bodoh lagi, papa harus lebih pinter dari orang sekeliling papa yang licik" tatapan eza beralih pada Olivia yang wajahnya sudah tegang karena sindiran eza.


"Maksud kamu za?" Tanya pak chandra yang tak mengerti dengan ucapan eza.


"Ngga apa-apa, eza pamit ya pa" eza pun bangkit lalu mencium tangan papa nya


"Hati-hati ya" pesan papa nya saat eza melepas salamannya pada chandra. eza mengangguk tapi eza langsung berdiri tanpa bersalaman pada Olivia tak peduli dengan keheranan papanya, eza pun berfikir tak perlu terlalu menghormati Olivia, ya meskipun tak dapat di pungkiri  bagaimanapun juga Olivia juga ibunya tapi ia tidak peduli. Setelah berpamitan eza pun keluar dari rumah papa nya dan melajukan motor kesayangan nya dan pulang ke rumahnya.


"Mami tau nggak maksud eza?" Tanya chandra pada Olivia setelah kepergian eza, Olivia menggeleng.


"Apa mama di Taiwan sana mau celakain eza ya? Tapi kan mama udah tua masa' iya mau ikut campur urusanku lagi sih?"


"Nggak tau Pi, mami ke kamar dulu ya mau istirahat capek " pamit Olivia tak mau meneruskan obrolan dengan chandra lagi karena sama saja ia mengolahragakan jantungnya.


Dalam hati ia mengucapkan sumpah serapah pada anak tirinya itu, "Awas aja anak sialan" batin Olivia sambil berjalan ke kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2