Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah
bab 134


__ADS_3

Betapa kagetnya eza saat melihat Olivia sangat mesra dengan laki-laki yang sedari tadi di samping nya. Dan dilihat dari gestur nya seperti anak muda pacaran.


"za..." aurel memanggil eza sambil menepuk pundak eza karena dari tadi eza sudah di panggil-panggil tapi tidak menjawab, kali ini karena aurel menepuk pundak eza membuat eza kaget dan otomatis langsung menoleh


"Kenapa za?? Dari tadi gue panggilin kaga nyaut-nyaut sih??" Ujar aurel agak kesal


"Ehhh sorry ya rel, nggak kedengeran barusan, lo bisa ngga tunggu sini dulu, gue harus nemuin orang dulu " pamit eza membuat aurel makin bingung.


"Eh tapi gue pulangnya gimana za??" Tanya aurel


" Lo pulang nya bareng gue lah rel, cuma bentar doang kok" eza mengeluarkan dompetnya lalu memberikan kartu hitam pemberian dari papa nya pada aurel, aurel yang di sodorkan kartu tersebut pun bingung tapi ia tetap mengambil nya.


" Pin nya 252525" bisik eza


"Lo belanja aja dulu, bentar doang ya??" tambahnya, Tanpa menunggu jawaban dari aurel eza pun segera pergi dari sana.


" Ini seriusan eza kasihin gue kartu sekalian pin-pin nya ? sepercaya itu dia?" Tanya aurel dalam hati dan bingung, tapi segera ia masukkan ke dalam tas nya dan lalu diam-diam mengikuti eza dari belakang.


eza pun segera berlari menuju tempat dimana ia melihat Olivia dan laki-laki yang ia yakini pasti selingkuhannya.


Saat sampai di depan toko pakaian yang tadi ia lihat eza sudah tidak melihat Olivia lagi, ia pun berkeliling ke toko terdekat yang mungkin saja baru di masuki oleh Olivia tapi tidak ada. Tapi saat baru keluar dari toko sepatu eza melihat Olivia sedang telfon di depan pagar pembatas tapi kini Olivia sendirian. eza pun langsung menghampiri Olivia dan berdiri di hadapan Olivia.


"Loh eza??" Ujar Olivia dengan masih menelfon seseorang,


"Nanti gue telfon lagi ya lin," kata Olivia pada sahabatnya.


".."


"Iya bye bye, sampai ketemu " Olivia mematikan sambungan telepon nya


"Kok kamu disini za??" Tanya Olivia sambil melihat-lihat samping kanan dan kiri dengan wajah sedikit gugup


"Iya kebetulan tadi lagi sama temen, terus saya dari atas lihat and,a sedang di gandeng cowok,"


Deg!


"E... Mana ada sih za, mm .. mami dari tadi kesini sendirian kok" jawab Olivia dengan berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang.


"Masa' ??? Saya dari tadi jelas loh lihat anda gandengan masa' iya mata saya sakit ngga bisa bedain? Kan ngga mungkin" kata eza dengan tegas membuat Olivia tak bisa berkutik, pasalnya ia baru kali ini selingkuh dan berhubungan pacaran, masa' iya langsung ketahuan,


"Sialan si eza ini, dasar pengganggu kayak ibunya aja" batin Olivia kesal.


" Kok diem?? Bener kan yang saya bilang?" tanya Eza lagi.


" Mungkin kamu aja yang salah liat, mami emang sendirian kok dari tadi, jangan asal tuduh gitu ya, dasar anak nggak tau diri, asal kamu tau ya kamu bisa hidup enak sekarang itu gara-gara siapa kalo bukan karena saya izinkan suami saya ngasih fasilitas sama kamu, ini malah nggak tau terimakasih banget tuduh-tuduh saya selingkuh " kesal Olivia.


"Hahaha lucu sekali anda, heh ibu Olivia yang terhormat, ngapain saya harus terima kasih sama anda? Selama saya hidup belasan tahun tanpa papa saya udah saya jalanin, dan fine fine aja tuh? Saya nggak pernah kekurangan makan sama sekali karena saya juga bisa kerja sendiri, terus kalau sekarang saya ketemu lagi sama papa saya terus dia ngasih fasilitas ngapain harus izin anda ya? Kan yang kerja selama ini papa saya??? Yang saya tau kerjaan anda kan di rumah ungkang-ungkang kaki terus liburan ke luar kota dan ke luar negeri itu pake uang siapa kalo bukan uang papa saya?? Lantas dimana letaknya saya harus terimakasih sama anda???!" Bantah eza panjang lebar membuat Olivia makin kesal,.


"Dasar anak kampung, nggak ada sopan santunnya sama sekali ngomong sama orang tua, " maki Olivia


" Saya akan sopan kalau anda juga sopan tapi setelah saya amati ternyata memang anda ini wanita bermuka dua, di depan papa saya jadi orang sok baik dan lembut, ternyata di belakangnya kayak gini ya" eza hanya berdecak sambil menggelengkan kepala.


"Tutup mulut kamu sialan!! Dasar ibu sama anak sama aja, sama-sama nggak tau diri" ujar Olivia membuat eza kaget karena Olivia mengungkit-ungkit ibunya yang sudah meninggal membuat eza seketika marah dan langsung mengangkat tangannya hendak menampar Olivia tapi langsung ia tahan karena Olivia perempuan apalagi di tempat ramai seperti ini pasti akan menimbulkan keributan jadi ia menurunkan tangannya.


"Apa!!!! Mau tampar??? Tampar aja!! Emang bener kok kalian itu sama-sama nggak tau diri, kamu aja itu anak hasil luar nikah kalo kamu tau ya!!! " eza tidak begitu kaget karena memang ia sudah tau, tapi yang membuatnya kesal Olivia mengatakannya di muka umum seperti ini, eza hanya bisa meremas tangannya di bawah.


" Bener kan apa yang saya bilang??? "


"Kalau emeng iya kenapa?? Toh mama saya dinikahi kok sama papa, saya kesini cuma mau peringati anda jangan Sampe anda Macem-macem atau sakitin papa saya, kalau Sampe yang saya liat tadi benar adanya saya nggak akan tinggal diam" ancam eza kemudian iapun pergi. Olivia menyumpah serapah dalam hati lalu masuk ke toko dimana ia meninggalkan Bastian tadi..


Sedangkan aurel yang dari tadi bersembunyi mengikuti eza mendengar semua pembicaraan eza dan wanita yang sudah dewasa itu, aurel menyimpulkan wanita itu adalah ibu tiri Eza atau istri nya pak chandra


Melihat wanita itu masuk ke toko pakaian pakaian branded aurel ikut masuk dengan berhati-hati untung saja istrinya pak chandra ini belum kenal dengannya, jadi aurel langsung pura-pura memilih-milih baju, ternyata wanita itu langsung memeluk laki-laki bule, dan bersama-sama memilih pakaian, aurel langsung mengambil hp nya dan membuka fitur kamera dan mengarahkan ke mereka berdua tanpa berlama-lama aurel langsung memotret dua orang tersebut yang sedang memilih pakaian dengan sangat mesra kadang yang laki-laki bahkan menggesekkan selangkangannya di bokong sang wanita.

__ADS_1


"Maaf kak tidak boleh mengambil gambar disini ya!!" Tegur pegawai toko mengagetkan aurel, ia pun segera mengangguk dan meletakkan hp nya ke bawah, karena mendengar suara tak biasa membuat Oliv dan pacar nya menoleh pada Aurel, tapi karena mereka tidak ada yang kenal mereka pun memalingkan wajah mereka.


"Ee. .. maaf kak, saya lagi cariin titipan baju buat temen saya, ini saya kirimin sama dia takut ngga cocok" jawab aurel gelapan karena memang sedang kaget tiba-tiba di hampiri pegawai toko,.


"Maaf sebelumnya tapi peraturannya sudah seperti ini"


"Yasudah saya nggak jadi beli, saya permisi" tanpa menunggu karyawan tersebut menjawab aurel langsung kabur dari sana meninggalkan toko tersebut. Iapun segera menelepon eza untuk bertanya dimana sekarang eza.


"Halo za, Lo dimana?" Tanya aurel setelah eza menjawab panggilannya


"Gue udah di mobil,  Lo kalo masih mau belanja belanja aja rel, gue tungguin disini" ujar Eza.


"Ngga perlu za, gue kesana sekarang" jawab Aurel.


"Oke gue tunggu sini" aurel pun mematikan ponselnya lalu ia segera menuju parkiran untuk menemui eza.


Dengan sedikit berlari aurel menuju parkiran dan ia segera menemukan mobil eza, setelah menemukan nya aurel masuk nafasnya ngos-ngosan karena memang baru saja berlari.


" Kok Lo kayak abis di kejar anjing aja sih rel? Sampe ngos-ngosan gini?" Tanya eza


"Gue... Heh.. e... " aurel bicara tersenggal-senggal. Tanpa di minta dengan sigap eza menyodorkan air mineral yang ada di mobilnya. aurel pun mengambilnya dan langsung meminum air pemberian eza.


eza tak bertanya lagi selagi aurel minum malah yang aurel lihat eza tampak sedih.


" Makasih ya za!" Ujar aurel membuyarkan lamunan eza.


" Hah, makasih buat apa?" Tanya eza


"Minum nya maksudnya.."


"Oohh kirain apa, yaudah mau pulang sekarang?? " Tanya eza aurel mengangguk tanpa menunggu lama eza pun menancapkan gas mobilnya. Di perjalanan eza sama sekali tidak bicara membuat aurel tidak tega menceritakan tentang wanita yang tadi ia buntuti.


"Ee... za..."


" Itu gue tadi.."


"Eh lu jadi belanja apa aja rel.? Kok gue ngga liat Lo bawa belanjaan sih?" Tanya eza yang baru ingat setelah melihat tangan aurel yang kosong.


" Eh nggak za, gue ngga belanja apa-apa, oiya ini gue balikin" aurel kembali menyerahkan kartu yang tadi eza beri.


"Lah, terus dari tadi Lo kemana? Kenapa masih utuh??"


"Ee.. tadi... gue... gue ke toilet," bohong aurel, sebaiknya eza tidak perlu tau dulu, karena sepertinya eza masih belum mau membahas itu.


"Yaudah kita pulang????" Tanya eza aurel mengangguk, akhirnya Eza pun mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran mall dan pulang.


Kini melati sudah hanya bersama ibunya, bapak nya dan Faiz di kamar nya yang di booking khusus satu lantai oleh papa adrian,, athar sudah berangkat kerja tadi pagi.


Pak burhan dan Faiz rencananya akan pulang nanti sore sedangkan Bu Wati akan pulang entah kapan.


Setelah makan siang di suapi ibunya telfon di kamarnya berbunyi, dan itu pastinya telfon dari pihak rumah sakit.


"Halo" ujar Bu Wati setelah mengangkat telfon nya.


" Permisi ibu, ini ada dua tamu yang hendak menjenguk apa di perbolehkan? Atas nama ibu Sinta dan pak Irwan "


"Sinta dan Irwan?? "


"Iya Bu"


"melati ini Sinta sama Irwan temen kamu di kampung??" Tanya Bu Wati, melati mengendikkan bahunya.


"Mungkin Bu, gausah deh Bu, males banget aku" jawab melati karena mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Ehh jangan-jangan, ibu penasaran... Yaudah sus boleh, langsung tunjukin kamar kita aja" ujar Bu Wati membuat melati bingung,.


" ngapain tanya tadi kalo gitu" batin melati.


"Baik ibu" Bu Wati pun menutup telponnya lalu menghampiri melati


"Kenapa di bolehin sih Bu, kan aku ngga mau " ujar melati yang tak suka


"Loh, kenapa melati ? Jangan kayak gitu ah" sahut pak burhan.


" Iya kamu nih," tambah Bu Wati,


"Ya nggak suka aja Bu, waktu itu mereka cuma manfaatin aku ...."


Tok tok tok belum sempat melati menyelesaikan ceritanya ada ketukan pintu dari luar, pak burhan pun langsung membukakannya dan terlihat Irwan dan Sinta membawa sekeranjang buah dengan dandanan lebih rapi dari pertama kali bertemu melati, malah bisa di bilang lebih bagus dari sebelumnya.


Sinta agak syok awalnya karena yang membukakan pintunya pak burhan di tambah ada Bu Wati di samping melati, tapi Sinta berusaha untuk tetap tenang.


"Ehh pak.." Irwan kemudian menyalami pak burhan di ikuti Sinta, lalu keduanya kemudian melangkah mendekati ranjang melati.


"Selamat ya melati, .." ujar Sinta sambil meletakkan keranjang buah yang di bawanya di atas meja samping ranjang.


"Iya sin, makasih ya" Sinta dan Irwan tak lupa menyalami Bu Wati. Keduanya pun berdiri di samping melati.


"Gimana sekarang udah membaik? Anak kamu gimana?" Tanya Sinta memulai obrolan


"Sehat tapi karena prematur jadi harus di pisahin dulu sin, di masukin inkubator " jawab melati Sinta pun mengangguk


"Bu Wati sama bapak udah lama disini??" Tanya Irwan sekedar basa-basi.


"Baru kemarin wan, oiya duduk dulu silahkan" ujar Bu Wati mempersilahkan kedua teman melati ini duduk Sinta pun duduk di bangku yang tersedia di sebelah ranjang melati sedangkan Irwan duduk di sofa bersama pak burhan.


"Kalian tau darimana? " Tanya melati


"Aku tau dari sosmed suami kamu" jawab Sinta melati mengerutkan alis nya dengan sedikit tatapan judes


"Ehh maksud aku ... Suami kamu kan kemarin upload foto di sosial media terus nge tag kamu melati otomatis masuk ke berandaku kan, dia upload foto tangan dua bayi di rumah sakit, jadi aku langsung ngehh pasti kamu abis lahiran " jelas Sinta melati pun mengangguk tanda mengerti.


"Eh Sinta kok di kampung heboh kamu minggat ya? Ternyata kamu disini ? ibu kamu tau sin?" Tanya Bu Wati yang sudah dari tadi tak tahan dengan apa yang ingin ia tanyakan. Jiwa kepo gosip-gosip selama ini di kampung sudah meronta-ronta. melati, Sinta serta Irwan pun kaget dengan pertanyaan Bu Wati, melati kaget karena berarti waktu itu cerita Sinta itu bohong belaka.


"Minggat???!" Tanya melati pada ibunya.


"Iya, suami kamu terus ibu bapak kamu cariin kamu kemana-mana mereka cari kamu di Surabaya di kira kamu kesana tapi nggak pernah ketemu, eh ternyata kamu disini sin sin, pantesan aja nyari di sana nggak ada" kata Bu Wati lagi, Sinta tak mampu menjawab pertanyaan Bu Wati, benarkah saat tadi Sinta masuk dia sudah sangat takut pertanyaan ini yang akan di tanyakan Bu Wati.


" Ee.. Bu, Sinta ... Sinta nggak betah di kampung bu, dia pengen kerja di Jakarta" bukan Sinta melainkan Irwan kali ini yang menjawab mencari alasan.


"Oo .. gitu? Iya tapi sebaiknya izin sih wan, ibu cuma kasian liat ibu bapak kamu cari kemana-mana masih nggak ketemu, apalagi  jadi omongan tetangga sin" ujar Bu Wati.


"Ii ...  iya Bu, nanti Sinta telpon bapak ibu" jawab Sinta


"Yaudah, " jawab Bu Wati, melati hanya terdiam, ia sudah tidak peduli lagi dengan urusan Irwan dan Sinta, dan sama sekali tak mau ikut campur.


Setelah semua hanya terdiam Irwan pun tidak lama pamit dengan alasan masih ada urusan, Bu Wati dan pak burhan pun mengangguk.


"Eh Bu seriusan Sinta itu minggat tinggalin suaminya??" Tanya melati setelah dua tamu nya itu pergi.


" Iya melati, kamu tau nggak? Denger-denger nih gosip yang beredar Irwan sama Sinta itu selingkuh dari dulu, bahkan setelah Sinta punya suami" jelas Bu Wati.


"Udah melati .. ibu... Nggak usah omongin orang, ngaca sendiri lah ke keluarga kita, biarin itu urusan mereka " ujar pak burhan yang memang tidak suka jika istrinya membicarakan masalah orang lain.


"Ihh bapak nih nggak seru, kan cuma cerita disini aja pak" ujar Bu Wati, sedangkan melati langsung diam seketika, ucapan bapak nya barusan langsung menusuk jantungnya, ia pun langsung sadar kalau dulu ia pun berselingkuh, mungkin menurut bapak nya nggak perlu omongin orang kalau diri sendiri nya belum baik.


"

__ADS_1


__ADS_2