
" gimana ceritanya sih mi kok bisa kak eza yang pengaruhin papi buat pisah sama mami?" Tanya Vanessa yang dari tadi penasaran dengan cerita maminya, kini mereka tengah berdua saja karena Olivia menemani putrinya mencari sepatu sedangkan eza menunggu di luar.
" ya gitu nes, jadi kan kamu tau sendiri mami itu istri ke dua papi kamu, papi kamu dulu udah nikah sama mama nya kakak kamu itu" cerita Oliv Vanesa pun mengangguk dan menunggu oliv melanjutkan ceritanya.
" Kamu inget kan waktu pertama kali eza di bawa papi ke rumah? " Tanya Oliv lagi Vanesa mengangguk lagi.
"Nah waktu itu kan papi kamu juga baru ketemu sama eza Anak kandung nya yang udah lama di tinggalin, mungkin si eza itu mau balas dendam karena dulu nggak di biayain sama papi kamu jadi dia ngerusak kebahagiaan kita" jelas Oliv panjang lebar.
" Tapi mi aku masih nggak ngerti gimana caranya kak eza pisahin mami sama papi?" Tanya Vanessa yang masih bingung.
" Nah itu nes, eza itu fitnah mami katanya mami selingkuh, padahal mami cuma jalan sama temen mami, jahat banget kan nes? Terus si papi ya percaya aja nggak ada percaya sama mami" kata Oliv memasang wajah sesedih mungkin agar putrinya percaya padanya.
" Serius mi??" Tanya Vanesa yang sebenarnya tak percaya jika eza melakukan itu semua tapi melihat mami nya sampai meneteskan air mata membuat Vanessa sedikit percaya.
" Kamu nggak percaya sama mami lagi nes... Asal kamu tau selama ini mami itu kesiksa sendirian nggak ada siapa-siapa lagi, bahkan mami aja tinggalnya di rumah kakek sama nenek kamu, emang sih nenek sama kakek masih bisa ngasih buat makan tapi buat kebutuhan sehari-hari nya mami musti kerja banting tulang, asal kamu tau aja mami sering ke kantor papi kamu cuma buat maksa dia biar ngasih mami ketemu sama kamu, tapi dia selalu nolak dan tetep nggak bolehin kita ketemu " tangis Oliv makin pecah agar putrinya makin percaya pada ceritanya.
"Mami... Aku percaya kok sama mami, aku nggak nyangka banget kalo kak eza lakuin itu semua sama mami, selama ini dia baik ternyata hatinya jahat .. " kata Vanessa, ia pun sudah ikut menangis mendengar cerita mami nya.
" Iya nak, makanya itu mulai sekarang kamu harus nurut sama mami ya, bantuin mami ya biar bisa balikan lagi sama papi" kata Oliv sambil mengusap air mata buaya nya. Tanpa ragu Vanessa mengangguk, setelah mendengar cerita maminya barusan di hatinya mulai tumbuh rasa benci untuk eza, apalagi ia juga sangat menginginkan kedua orang tua nya bersatu kembali.
" Aku bantuin gimana mi? Aku kan masih nggak ngerti caranya " ujar Vanessa karena memang Vanesa masih polos.
" Udah nggak perlu lakuin apa-apa dulu, kamu simpen nomor mami aja ya nanti, kita hubungan lewat telfon ya sayang,," kata Olivia sambil mengusap rambut Vanessa, Vanessa pun mengangguk, setelah itu Vanessa memeluk maminya berusaha menguatkan Olivia, sedangkan Olivia kini mengembangkan senyumnya, kini ia sudah punya jalan ke depan agar bisa kembali menjadi nyonya Chandra, agar ia tak perlu susah-susah lagi mencari uang untuk gaya hidupnya yang hedon.
" Mami tenang aja ya mi, vanes bakal lakuin apapun buat mami sama papi biar bisa balik lagi" ujar Vanesa pada mami nya lagi, Olivia pun mengangguk tersenyum hangat.
"Kamu memang anak kesayangan mami yang paling hebat" kata Olivia sambil mengacungkan jempol nya membuat vanessa makin bahagia.
" Yaudah, yuk mami pilihin sepatu yang cocok buat kamu nes" kata Olivia, Vanesa pun mengangguk kemudian mereka pun segera memilih sepatu dengan lumayan cepat apalagi takut eza marah karena sudah lumayan lama keduanya berada di toko sepatu ini.
Setelah mendapat kan sepatu sesuai style Vanesa, Oliv pun ikut memilih karena lumayan eza yang membayarnya sekalian saja Oliv ikut berbelanja, eza pun terlihat tak masalah saat vanessa bilang kalau ia ingin membelikan mami nya beberapa barang, karena menurut eza Vanessa sedang ingin membahagiakan ibunya, eza pun tak keberatan toh hanya sekali ini.
Pukul 7 malam Vanessa baru sampai di rumah, eza pun segera masuk menuju ke kamarnya karena ingin segera menelefon Aurel kekasih hatinya, sedangkan Vanessa tak langsung masuk karena kebetulan papi nya sedang berada di ruang tamu jadi ia ikut duduk di ruang tamu.
" Gimana? Udah seneng kan ketemu mami ?" Tanya Chandra pada putriyang selalu ia anggap putri kecil nya.
" Seneng dong Pi, asal papi tau aku udah lama banget nungguin waktu ini Pi, aku pengen banget kumpul lagi sama papi sama mami bertiga aja kayak dulu" ujar Vanesa tiba-tiba, dan itu membuat otak Chandra sedikit bingung, apa yang di maksud oleh anak nya ini.
" Ngomong apa sih sayang... Papi sama mami kan udah pisah dan nggak mungkin bakal balik lagi kayak dulu nak .." kata Chandra mencoba memberi pengertian pada putri kesayangannya ini.
" Kenapa nggak bisa Pi? Papi masih sendiri mami juga, kalian bisa kok balikan lagi, demi aku kan bisa" kata Vanessa dengan polos.
" Sa... Ini nih yang papi takutin kalo kamu ketemu lagi sama mami kamu, dia pasti cerita yang nggak-nggak " ujar Chandra yakin.
"Nggak kok Pi, mami nggak bilang apa-apa, sumpah... Beneran kok" kata vanesa gelagapan.
" Papi nggak tau apa yang mami kamu omongin, tapi yang jelas papi sama mami itu udah pisah dan itu karena ada alasan yang nggak perlu kamu tau sebenarnya, tapi papi berharap kamu terima keputusan papi dan ngertiin kalo kita emang udah nggak bisa balik lagi" jelas Chandra, tapi Vanesa sudah mulai meneteskan air mata nya.
" Papi minta buat aku bisa ngertiin papi? Papi lupa apa bertahun-tahun aku udah ngertiin papi, aku udah diem aja saat papi larang aku buat ketemu mami, ibu kandungku sendiri Pi, tapi apa papi udah ngertiin aku? Apa papi pernah nanya keadaan anak papi? Gimana hancurnya hati aku saat aku sendirian, kesepian tanpa kedua orang tua aku, emang papi tinggal sama aku, tapi papi sibuk kerja terus kan? Nggak pernah perhatiin aku..hiks" tangis Vanesa pecah sembari meceritakan uneg-uneg nya yang selama ini ia pendam sendirian selama ini, Chandra pun kaget dengan ucapan Vanessa pasalnya selama ini memang Vanessa tak pernah protes apapun pada nya tapi kini putri nya seakan memberontak. Chandra pun langsung duduk di sebelah Vanessa lalu mengusap-usap punggung Vanessa lembut.
" Nak ... Selama ini papi kerja keras buat kebahagiaan kamu sayang, buat masa depan kamu, kata siapa papi nggak pernah perhatian sama kamu? Selama ini papi selalu ngawasin kamu dari cctv rumah yang langsung nyambung di hp papi, terus papi juga selalu nanyain sama pengasuh kamu apa yang kamu butuhin, apa yang kamu pengenin, papi nggak pernah cuekin kamu nak" jelas Chandra dengan lembut, takut nya jika ia berbicara dengan keras malah membuat Vanessa makin kesal.
" Tapi aku juga butuh waktu papi, aku juga mau kita jalan-jalan atau sekedar main di rumah bareng berdua kayak anak sama ayah yang lain di luar sana Pi... Tapi aku nggak pernah ngerasa kasih sayang papi lagi semenjak papi sama mami pisah, papi udah nggak sayang sama aku.. hiks hiks.. papi lebih sayang ke kak eza kan?" Tambah Vanessa makin kemana-mana.
" Kok kamu malah ngomong gitu sih nak, kalian berdua itu kan anak-anak papi, papi nggak mungkin dong pilih kasih gitu, " tambah Chandra lagi.
" Bohong... Buktinya papi nggak pernah perhatian sama aku malah lebih sering punya waktu sama kak eza dari pada sama aku" kata Vanesa menampilkan kecemburuannya pada kakak tirinya.
" Ya ampun Vanessa... Sayang... Nggak ada yang pilih kasih, papi emang banyak waktu sama kakak, tapi emang karena papi lagi ngajarin kakak kerjaan di kantor, jangan pernah mikir gitu ya nak, kalian berdua anak-anak papi, dan kasih sayang papi buat kalian berdua itu sama nggak ada bedanya " tambah eza.
__ADS_1
" Serius??" Tanya Vanessa lagi, Chandra pun langsung mengangguk meyakinkan putrinya.
" Serius vanessa, udah ya.. jangan mikir gitu lagi, papi janji mulai sekarang bakalan banyakin waktu di rumah sama kamu" kata Chandra.
"Janji Pi?" Tanya vanessa Chandra pun mengangguk.
"sekarang Vanessa tidur ya, udah malem besok kan sekolah" kata Chandra, akhirnya Vanessa pun mengangguk.
"Yaudah, maafin vanessa ya Pi" ujar Vanesa Chandra pun mengangguk setelah memeluk dan mencium kening putri nya vanesa pun masuk kamar nya.
"
Tak terasa kini Aurel sudah waktunya pulang ke Indonesia, ia lulus dengan nilai yang bagus, dan hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk nya, karena ia kini sudah berada di pesawat dan sebentar lagi pesawat nya akan mendarat di tanah kelahirannya.
Aurel sangat bersyukur karena setelah sekian lama tak pulang, kini ia akan kembali bertemu dengan keluarga nya, melepas rindu pada orang-orang tersayang nya.
Pukul 12.00 siang waktu Indonesia barat, pesawat nya mendarat dengan selamat, Aurel pun segera mengambil kopernya dan menuju keluar.
" Mama ... Papa....!!" Panggil Aurel kala melihat keluarganya yang sudah menjemputnya.
" Aurel..." Teriak ambar dan langsung merentangkan tangannya lebar-lebar, Aurel langsung berlari memeluk mama nya, orang nomor 1 yang paling ia rindukan, mereka berpelukan sangat erat hingga tak terasa air mata Aurel menetes karena saking rindunya dengan mama nya, bisa di bayangkan saja selama hampir 4 tahun ia kuliah di luar negeri ia hanya pulang saat tahun pertama nya saja dan itu pun hanya satu kali, hanya papa nya pernah sekali berkunjung ke apartemen nya, itu pun karena sedang ada perjalanan bisnis.
Karena kesal Oma dan aunty nya berpelukan lama refal dan rayyan pun ikut memeluk Aurel dari samping.
" Lama banget sih... Aku kan juga pengen peluk aunty.." kata refal
" Iya kak, iyyan juga pengen peluk" tambah rayyan yang ikut memeluk kaki Aurel.
" Aduh aduh... Ini anak-anak siapa sih gangguin aja?" Cemberut Aurel sambil melepaskan pelukannya pada mama nya, Aurel pun mengusap air mata nya.
" Anak nya mama sama papa dong..," kata refal.
" Ihh .. mana orang nggak .." kata melati karena tak mau Aurel merasa malu.
" Ih. ... Siapa yang nangis sih.. nggak ada.. berisik aja sih kalian berdua.." kesal Aurel karena di ejek menangis oleh rayyan. Aurel pun beralih pada papa nya.
" Papa .... Papa sehat kan?" Tanya Aurel sambil memeluk papa nya, papa adrian pun mengangguk.
" Sehat sayang.... Kamu juga sehat kan?" Tanya papa adrian balik.
" Iya pa... Aurel juga sehat.." jawab Aurel lalu melepaskan pelukannya pada papa nya lalu beralih pada kakak ipar nya.
" Kakak juga sehat kan?? Kak Athar mana?? " Tanya Aurel sambil memeluk melati.
" Kakak kamu lagi gantiin papa meeting, nggak apa-apa kan kakak kamu nggak ikut jemput? Katanya tadi titip salam aja nanti juga ketemu di rumah" ujar melati menyampaikan pesan suaminya.
" Nggak apa-apa dong.. wahhh ini udah usia berapa bulan kak?" Tanya Aurel sambil mengelus-elus perut melati.
" Udah mau waktunya sih ini dek, paling ngga nyampe 2 Minggu perkiraan nya" jelas melati, Aurel pun hanya manggut-manggut.
" Udah yuk kita lanjut ngobrol di rumah" ajak ambar, semua nya pun mengangguk setuju, kemudian mereka pun bergegas masuk mobil dan pulang menuju rumah nya.
Sesampainya di rumah dan memasuki gerbang Aurel terus mengembangkan senyumnya, rumah yang selalu ia rindukan karena selalu ada kehangatan di dalamnya.
" itu mobil siapa pa? Kok kayaknya aku nggak ngenalin ya?" Tanya Aurel saat melihat mewah berwarna merah, karena setau nya papa nya ini jarang sekali dan bisa di bilang tidak pernah membeli mobil berwarna seperti itu, karena papa nya bahkan Athar kakak nya lebih suka mobil berwarna hitam atau putih, putih pun jarang hanya ada dua koleksi di garasi rumah nya dan yang paling keduanya suka yakni berwarna hitam.
" Nggak tau ya rel, ada tamu mungkin" ujar ambar yang berada di kursi depan samping kemudi.
" Iya rel, papa juga nggak ngenalin " tambah papa adrian, setelah itu papa adrian pun memarkirkan mobilnya di sebelah mobil tamu tersebut, setelah mobil berhenti semua penumpang pun turun, si kembar berjalan sambil berlarian heboh,.
__ADS_1
" Nak... Jangan lari-larian gitu ih... Nanti jatuh" ujar melati meneriaki kedua putranya, ia pun tak dapat mengejar kedua anaknya karena susah dengan keadaannya yang hamil.
" Udah biarin aja melati, mereka juga pasti ati-ati kok, jangan ikut lari ya kamu, takut perutnya kenapa-napa " kata mama ambar sambil menggandeng lengan menantu nya.
" Iya sih ma, tapi takut kesandung aja sih ntar jatuh " jawab melati. Mereka pun berjalan beriringan dengan Aurel dan papa adrian berada di belakan melati dan mama ambar.
" eza??!!" Panggil Aurel saat baru di depan pintu dan ia melihat eza sedang duduk di sofa sambil memainkan kuku nya, saat Aurel memanggilnya eza pun segera menoleh, keduanya saling bertatapan eza pun mengembangkan senyumnya, Aurel yang tadinya terkejut dan hanya diam sampai mama, papa, Kakak ipar dan keponakan-keponakan nya sudah masuk semua dan hanya ia yang berdiri mematung di depan pintu, setelah sadar saat melihat eza tersenyum padanya dan hendak berjalan ke arahnya ia pun segera masuk dan berlari menghampiri eza, eza pun dengan wajah bahagia menyerahkan sebuket bunga mawar putih yang sangat cantik, setelah menerima nya tanpa sungkan lagi pada kedua orang tua nya Aurel memeluk eza erat.
Keduanya pun saling berpelukan melepaskan rindu yang sama-sama terpendam beberapa tahun ini.
" Ihh ... Boongin aku kamu ya??... Katanya ada urusan penting nggak bisa temuin aku hari ini? " tanya Aurel dengan wajah cemberut sambil melepaskan pelukannya.
" Hehehe, maaf ya sayang, tadi urusannya aku selesai in cepet tapi nggak bisa ikut jemput ke bandara, nggak apa-apa kan?" Tanya eza Aurel pun mengangguk tak masalah.
eza kemudian beralih pada kedua orang tua Aurel dan langsung menyalaminya satu persatu.
" Apa kabar om, Tante kak melati,? Sehat kan?" Tanya eza karena ia pun sangat jarang bertemu dengan mama ambar dan kakak ipar Aurel, kalau papa adrian eza sesekali bertemu apalagi papa adrian dan papa nya sedang menjalani proyek bersama.
" Alhamdulillah sehat kok za, kamu juga gimana? Keluarga sehat semua kan?" Tanya balik Tante ambar.
" Alhamdulillah baik juga kok Tan" jawab eza.
" Ma .. papa ke ruang kerja dulu ya, ada yang perlu di selesai in" ujar papa adrian ambar pun mengangguk.
" eza ngobrol aja ya sama Aurel, om ada kerjaan sebentar" pamit papa adrian pada eza.
" Siap om" jawab eza kemudian papa adrian pun meninggalkan mereka.
"Yaudah, duduk dulu za, temenin ya rel, mama mau bantu-bantu siapin makan siang kita, eza jangan pulang dulu ya, kita makan siang bareng" ujar mama ambar, dengan senang hati Aurel pun mengangguk lalu mengajak eza duduk di sofa.
" Kakak juga masuk dulu ya rel, za? Nggak bisa berdiri lama-lama soalnya gampang capek" tambah melati setelah Aurel dan eza mengangguk melati pun segera masuk ke kamar nya, sebenarnya ingin sih membantu mama mertuanya tapi pasti nanti baru saja iaa menyentuh piring udah di suruh balik lagi ke kamar, ya sudah lah, mending langsung ke kamar saja meluruskan kakinya.
Sedangkan anak-anak nya sudah langsung main bersama Suster-susternya di arena bermain di salah satu sudut rumahnya.
" kok udah kayak orang luar aja sih yang,.. ini ngapain rambutnya di warna-warnain segala?" Tanya eza pada Aurel karena melihat perubahan di rambut kekasihnya yang biasanya hitam indah kini ada sedikit balutan warna ice brown, memang tipis, tapi sangat terlihat jelas.
" Hehehe, makin cantik apa nggak?" Tanya Aurel sambil mengibaskan rambutnya dengan manja di hadapan kekasihnya.
" Iya-iya, makin cantik sih, tapi beda aja dari biasanya gitu, ehhh tapi kayaknya terakhir kita video call masih warna item ngga sih?" Tanya eza.
" Iya za, ini aku warnain pas sehari sebelum berangkat, hehehe, biar beda aja, biar orang tau kalau aku abis tinggal lama di luar negeri hahaha.." bercanda Aurel.
" Dihhh norak kamu ya,hehehe" ujar eza sambil mencubit pelan hidung Aurel.
" Biarin wleekk" jawab Aurel menjulurkan lidahnya, eza hanya tersenyum menatap Aurel yang tertawa lepas.
" Gimana? Suka nggak bunganya ?" Tanya eza. Aurel pun kemudian melihat buket bunga mawar putih di tangan nya. Lalu menatap eza lagi dan mengangguk.
" Suka banget.. bagus .. wangi lagi" jawab Aurel sambil mencium aroma bunga mawar di tangannya. Kemudian tangan eza mengusap rambut Aurel lembut.
" aku kangen banget rel.." ujar eza, Aurel sontak menatap mata eza, ia pun kemudian tersenyum.
" Sama, aku juga kangen kamu" jawab Aurel lalu mengambil tangan eza yang mengusap kepalanya, dan ia dekatkan pada bibirnya, ia pun kemudian mencium dan menghirup wangi nya tangan eza.
" Ihh.. jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu deh kalo gini" ucap eza asal sambil tersenyum.
" Dihh.. apaaan sih " jawab Aurel menghempaskan tangan eza, eza hanya tertawa melihat Aurel yang cemberut.
" Hehehe.. bercanda sayang .." ujar eza.
__ADS_1
" Aurel ... eza ... Ayo sini makan dulu" panggil mama ambar tiba-tiba yang kini berada di depan ruang keluarga. Aurel dan eza pun sontak menoleh dan langsung mereka angguki, lalu keduanya pun menuju ke meja makan di dekat dapur.