
Karin pun mengambil nafas dalam berkali kali, dia berusaha untuk menenangkan dirinya dari amarah yang dilakukan oleh Leon.
''Kau harus tenang Karin, ingatlah dengan nasib perusahaan kita. Papa membangun perusahaan itu dengan susah payah jadi kau jangan sampai kau membuat perusahaan mu hancur.'' Kata Karin mengambil nafas dalam sambil berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah merasa cukup tenang, Karin pun mengejar Leon yang kini sudah berada di depan dengan Robby.
Karin mengikuti Leon dari belakang, dia bahkan berjalan dengan malas tanpa ada semangatnya sama sekali. Tiba tiba Leon pun berhenti secara mendadak hingga Karin yang tidak konsentrasi dengan jalannya, akhirnya menabrak Leon dari belakang.
''Aawww..'' ringis Karin saat dia menabrak tubuh kekar milik Leon.
''Hey!!. Kenapa kau berhenti secara tiba tiba??'' tanya Karin sambil berteriak dan memegang jidatnya yang terasa sedikit sakit saat menabrak tubuh Leon.
''Kau memanggilku apa??'' tanya Leon berbalik kearah Karin yang saat ini berada dibelakangnya.
Karin pun menciut ketakutan saat melihat wajah marah Leon yang tampak sangat menakutkan.
__ADS_1
''Ah, maksud saya. Kenapa Tuan berhenti, apakah ada sesuatu yang menghalangi anda, Tuan??'' tanya Karin bersuara lembut dan juga tersenyum, tapi senyuman yang dipaksakan.
Leon menatap tajam kearah Karin yang saat ini tersenyum padanya. Leon sama sekali tidak memberikan ekspresi apapun kecuali ekspresi wajah dinginnya.
''Jika kau berani kurang ajar padaku, maka perusahaan mu akan berada dalam masalah.'' Leon mengancam Karin yang saat ini tampak ketakutan.
''Tidak akan Tuan. Saya mana berani dengan anda.'' ucap Karin sambil tertawa pelan.
''Cukup!!. Kenapa kau tertawa, apakah kau pikir aku ini pelawak??'' ucap Leon dengan nada tinggi.
''Mana bisa kau menjadi pelawak sedangkan ekspresi wajah mu itu itu aja. Kau lebih pantas jadi patung manekin di toko toko pakaian dalam. Hahahah.'' Karin tertawa terbahak bahak saat membayangkan bagaimana Leon menjadi model pakaian dalam pria.
''Hahahaha..'' tawa Karin dengan sangat keras.
Leon dan juga Robby pun menatap aneh kearah Karin yang tiba tiba tertawa terbahak bahak tanpa sebab yang jelas.
__ADS_1
''Tuan, sepertinya wanita ini mengalami gangguan mental. Dia tertawa sendirian dan itu sangat menakutkan Tuan.'' ucap Robby sambil berbisik kearah Leon yang saat ini juga menatap kearah Karin.
''Kau benar Robby. Sepertinya dia harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa, dia benar benar sangat bahaya.'' kata Leon sambil terus menatap Karin.
Karin pun tersadar dari tawanya, dan saat dia melihat Leon dan juga Robby. Karin tampak sedikit canggung karena dia tertawa seorang diri.
'' Raisa benar benar memiliki adik yang salah. Raisa adalah wanita karir yang sukses, bahkan di umurnya yang masih muda dia sudah menjadi pemimpin di perusahan Papanya. Sedangkan adiknya, dia mengalami gangguan mental yang sangat menakutkan.'' ucap Leon dengan menatap kasihan pada Karin sambil menggelengkan kepalanya.
Karin yang mendengar bahwa dirinya dianggap gila, menjadi tidak terima.
''Apa kau bilang, aku memiliki gangguan mental??. Hey, Tuan yang memiliki gangguan mental itu kamu bukan saya. Enak aja kamu bilang aku gila, aku masih waras lahir dan juga batin.'' timpal Karin dengan nada sewot pada Leon yang mengatai bahwa dirinya gila.
''Jika kau waras, kenapa tadi kau tertawa seorang diri??. Apakah orang yang tertawa sendiri tanpa sebab itu di bilang waras??. Enggak tau!!'' Leon menatap kearah Karin dengan tatapan mata dinginnya.
''Iya bisa aja dia sedang memikirkan yang lucu, makanya dia tertawa. Benarkan??'' jawab Karin tidak mau kalah dengan Leon.
__ADS_1