
"Vanessa..." Panggil eza memasuki kamar Vanesa, tapi bukannya belajar Vanesa ternyata sedang tidur menelungkup tapi di lihat dari kejauhan tubuh vanesa tampak bergetar, karena khawatir eza pun mendekatinya dan benar saja ternyata dari tadi Vanesa menangis dalam bantal.
"Vanessa .." panggil eza lagi, Vanesa pun menoleh melihat eza sudah menghampiri nya Vanesa segera mengusap air mata nya dan bangkit hingga duduk di ranjang.
"Kamu nangis ?" Tanya eza, dengan polos nya Vanessa mengangguk.
" Kenapa?" eza ikut duduk di samping Vanesa.
"Papi sama mami kenapa sih kak? Kok mereka tadi berantem?" Tanya Vanesa
"Nggak apa-apa kok, itu urusan orang dewasa kamu nggak perlu tau"
" Tapi kak, kenapa mami nggak pernah pulang? Tadi pulang malah tarik aku dan paksa aku ikut dia" tangis Vanesa
" nes, kamu yang sabar ya, ngga perlu mikir yang nggak-nggak, mereka pasti baik-baik aja kok, tugas kamu itu sekarang yang penting belajar terus main.. ya " hibur eza
"Tapi kak...."
"Udah ya .. gausah di pikirin lagi.." potong eza Vanessa terdiam
" Vanesa... Suatu saat kamu juga bakal ngerti apa yang sebenarnya terjadi, kalo liat kamu gini kakak jadi inget diri sendiri dulu, yang di hadapkan dengan keadaan yang tak bisa kita hindari di depan mata tapi mau tak mau harus bisa ... Semoga kamu nggak ngalamin kepahitan yang kakak alami dulu ya" batin eza sambil mengelus rambut Vanesa, eza kemudian mengusap air mata Vanesa.
"Oiya, kamu tau nggak kalo kakak mau tinggal disini?" Tanya eza mengalihkan pembicaraan, seketika air mata Vanesa berhenti mengalir.
"Oh ya?? Serius kak?" Tanya Vanesa eza tersenyum mengangguk
" Wahh aku seneng banget, jadi rumah ini udah nggak sepi lagi dong, ?" Tanya Vanesa antusias
" Iya, terus kakak juga nggak sendirian, kakak bawa nenek "
"Hah, nenek??" Tanya Vanesa eza mengangguk
"Nenek siapa? Kan Oma lagi di Taiwan,?"
"Nenek kakak, kamu mau kenalan?" Vanesa sontak mengangguk.
"Yaudah ayo ikut kakak" eza menarik tangan Vanesa, Vanesa pun ikut melangkah di belakang eza, eza pun melangkah menuju ruang tamu karena nenek nya masih disana.
"Nek.." panggil eza Atika menoleh.
"Nah ini namanya nenek Atika nes, kenalan dulu ya" ujar eza Vanesa mengangguk.
"Halo Nek, namaku Vanesa "
"Halo sayang, wah kamu cantik banget ya.."
"Hehehe, makasih Nek, jadi nenek sama kak eza bakal tinggal disini?" Tanya Vanesa nenek Atika mengangguk. Vanesa langsung kegirangan.
"Yeee .. seneng banget deh aku, pasti rumah ini jadi rame, kalo makan ada yang temenin, ihhh seru pokok nya" girang Vanessa
"Emang biasanya sepi ya nesa?"
" Iya Nek, biasa nya papi jarang temenin makan karena berangkat pagi pulang nya malem, kalo mami nggak tau kemana akhir-akhir ini nggak pernah pulang " jawab vanesa dengan nada sedih, Atika pun langsung mengerti iapun segera mengelus rambut panjang vanesa.
" Mulai sekarang kamu tenang aja ya, kamu nggak bakal kesepian lagi" hibur Atika Vanesa mengangguk dan langsung memeluk nenek Atika
"Makasih yka nek, kak" ujar Vanesa di pelukan Atika, nenek Atika hanya mengangguk, tak terasa pikirannya teringat akan eza kecil dahulu, saat masih berusia 6 tahun sudah di tinggalkan papa dan mama nya.
" Udah malem nih nes, bobo gih, biar besok pagi bisa bangun" ujar eza, Vanesa pun melepaskan pelukannya.
"Yaudah kak, aku bobo dulu ya, " pamit vanesa eza pun mengangguk setelah itu Vanesa pun pergi melangkah menuju kamar nya.
" Inget kamu waktu kecil ya za" ujar nenek Atika melihat kepergian Vanesa, eza mengangguk.
.
.
" Mas aku kok kangen ibu sama bapak ya,. Kapan kita bisa pulang ke kampung?" Tanya melati tiba-tiba saat keduanya sedang berbaring berpelukan tengah malam.
" Kangen ya yang, gimana ya, besok aku tanya papa ya boleh apa nggak izin nggak masuk kantor "
" Iya mas, makasih ya" ujar melati athar mengangguk.
__ADS_1
Pagi hari saat keluarga nya sarapan kecuali aurel karena sudah berangkat sekolah duluan, athar membicarakan melatitnya pada papa nya jika melati dan dirinya akan berangkat menuju kota melati.
" Hah, terus gimana sama si kembar ? Mereka nggak bakal masuk angin kan? Papa ikut ya buat jagain si kembar takut mereka masuk angin di jalan" heboh adrian karena takut cucu-cucu nya kenapa-napa.
"Insyaallah nggak apa-apa sih pa, kita bawa baby sitter nya kok, nanti mereka yang bantuin kita" tolak melati halus karena takut mengganggu pekerjaan papa adrian.
" Terus kalian naik apa ? Masa' naik mobil dari sini?" Tanya mama ambar
" Nggak ma, kayak nya bakal naik pesawat biar anak-anak ngga terlalu capek" jawab athar
" Terus kalian naik pesawat kelas apa? "
" Kaya nya first class ma, biar kita enak bawa nya anak-anak juga bisa tidur nyenyak" jawab athar
"Nggak nggak, nggak boleh, naik jet pribadi ya, biar kita perjalanan nya enak nggak ribet," ujar papa adrian membuat athar dan melati kaget
"Jet pribadi pa? Nggak perlu pa, pasti sewa nya mahal" tolak melati
"Udah nggak apa-apa melati, lagian ini papa juga punya sendiri ngapain sewa" santai athar membuat melati makin melongo.
" Jadi mama sama papa ikut?" Tanya athar keduanya kompak mengangguk.
" Kita ikut anter aja athar yang penting kalian nggak kenapa-napa Sampe sana sekalian silaturahmi sama orang tua melati, terus kalo bisa kalian jangan lama-lama ya disana nya soalnya sebulan lagi papa udah rencanain liburan keluarga kita ke US, sekalian liat-liat kampus nya aurel, kan aurel juga udah mau kuliah disana "
"Iya pa, kita nggak bakalan lama, ya kan sayang?" Tanya athar pada melati, melati mengangguk
"Iya pa ma, kita ngga nyampe sebulan kok" jawab melati. Akhirnya setelah persetujuan semuanya mereka pun memutuskan untuk berangkat besok mumpung belum acara wisuda aurel.
.
.
Besok paginya mereka pun sudah bersiap-siap, melati dan athar tidak membawa banyak barang tapi barang mereka terlihat banyak karena barang-barang keperluan rayyan dan refal.
"Sayang, kok kayak nya barang yang kita bawa banyak banget sih?" Tanya athar saat barang-barang mereka hendak di masukkan ke mobil
"Nggak tau mas, padahal kayak nya aku udah cuma bawa yang penting-penting aja deh nggak aku bawa semua loh, diapres juga aku cuma bawa beberapa" jelas melati
"Udah ngga apa-apa emang gitu melati, dulu mama juga gitu, bayi satu aja barang nya seabrek, apalagi ini dua ya kan" ujar mama ambar athar dan melati pun mengangguk setelah semuanya siap, mang Kirun pun melajukan mobilnya menuju bandara tempat pesawat mereka akan lepas landas ke Surabaya terlebih dahulu.
" Gimana kabarnya buk? Baik kan? " Tanya melati saat memeluk ibunya, Bu Wati mengangguk setelah itu beralih pada bapak nya.
"Sehat-sehat kan pak?" Tanya melati mencium tangan bapak nya pak burhan pun mengangguk, setelah semuanya bersalaman satu keluarga itupun berbincang santai tidak lama Bu Wati mengajak semuanya makan,
Kini pak burhan sudah mempunyai meja makan sendiri, yang sebelumnya mereka harus menggelar tikar di lantai, melati sangat bersyukur karena berkat modal usaha dari athar hidup keluarga nya bisa berubah lebih baik.
Setelah makan siang bersama papa adrian dan mama ambar pamit karena memang mereka hanya memastikan mereka selamat sampai tujuan.
"Duhh pasti bakalan kangen berat ini sama cucu-cucu ku, " ujar mama ambar menciumi kedua cucunya dalam gendongan Bu Wati dan melati.
"athar Pokok nya kalo papa sama mama video call harus di angkat ya, nggak boleh nggak pokok nya" tambah adrian
"Iya pa, tenang aja" jawab athar malas, karena sudah berkali-kali papa nya mengingatkan hal itu.
"Yaudah yuk ma, itu supir nya udah nunggu lama" ajak papa adrian ambar pun mengangguk
"Pamit dulu ya pak burhan, Bu Wati" ujar papa adrian, setelah berpamitan pada semua papa adrian dan mama ambar pun pergi untuk kembali ke Jakarta.
..
Sore hari setelah memandikan dua bayi nya di bantu dua baby sitter dan Bu Wati tiba-tiba rumah melati di datangi beberapa ibu-ibu tetangganya dengan masing-masing membawa kantong kresek yang berisi keperluan bayi seperti sabun bedak dan lain-lain ada juga yang membawa baju dan handuk, biasa nya ini di lakukan di tempat melati jika ada tetangga atau saudara yang baru memiliki bayi. Terlihat Bu ana mama arif ikut juga karena memang sudah biasa nya tradisi begini, tapi dia datang dengan raut kesal dan tidak suka,.
"Kalo ngga di paksa orang-orang ogah banget aku kesini" batin bu ana.
"Anak-anak kamu ganteng banget melati, sama kayak ayah nya ya ibu-ibu " kedua anak melati di gendong bergantian karena ibu-ibu disana gemas sekali melihat ketampanan baby refal dan rayyan.
"Hehe, makasih Bu" jawab melati
"Duh gemes deh sama pipi nya" ujar salah satu ibu muda
athar memandangi dari ruang keluarga dengan perasaan was-was dan tidak suka, bukan apa-apa, ia takut ibu-ibu itu belum cuci tangan atau bagaimana main gendong dan cium-cium kedua bayi nya tapi mau bagaimana lagi, ia tidak enak jika bilang di depan banyak orang begini jadi ia pun hanya melihat dari pintu dalam pembatas gorden yang di buka lebar.
" Wah melati ini stroller nya kok beda, kalo kembar kan biasanya apa-apa nya sama" tanya Ningsih salah satu dari ibu-ibu yang datang.
__ADS_1
"Eh nggak tau Bu, itu mama mertua saya yang beliin, kata nya sih ini yang edisi terbaru" jawab melati
" Eh.. ini kan sama kayak punya anak nya artis itu kan melati, tau ngga sih ibu-ibu, ini harganya ratusan juta loh, wah ini kayak punya Resti kejora nih, ini juga persis kayak punya nya Gita slavana, emang beneran sultan ini mah" jawab Diana, teman SMA melati dulu yang sudah punya anak.
"Serius melati,? " Tanya ibu-ibu tersebut heboh.
"Eh ... Saya nggak tau kalo itu Bu" jawab melati kurang nyaman.
" Halah palingan juga yang kw kw kan banyak sekarang" gumam Bu ana keras.
" Heh Bu ana, kalo melati sih kita-kita nggak percaya barangnya kw, kalo gelang dan perhiasan bu ana yang lain itu saya percaya kalo cuma imitasi, secara yang punya perusahaan besar masa' iya sih punya barang kw " jawab Siti sewot sebagai bentuk pembelaan nya , adik pak burhan yang dulu nya tidak suka dengan keluarga kakak nya karena miskin setelah melati menikah dengan athar Siti jadi dekat apa-apa ke kakak nya.
Ibu-ibu yang lain pun berbisik-bisik mendengar perseteruan antara siti dan Bu ana membuat melati jadi tidak enak sendiri.
"Iya iya, kalo emas asli pun ngeredit di Bu Marni, eh keceplosan" ujar Bu Mina pemilik warung sebelah rumah nenek arif, semua yang disana pun tertawa, dari dalam athar makin tak suka dengan situasi ini, bukannya apa-apa, athar takut anak-anak nya terganggu dengan ada nya keramaian ibu-ibu ini, sedangkan Bu ana wajahnya sudah merah padam, kebetulan rayyan ada di sampingnya sedang di gendong orang di sebelah nya diam-diam tangan nya sedikit mengelus dan ternyata sedikit mencubit nya hingga rayyan menangis tiba-tiba,
" Loh kenapa nangis sayang,? Laper ya?? Apa ngantuk? Cup cup cup" Tanya ibu-ibu yang menggendong rayyan dan sontak berdiri karena rayyan menangis tiba-tiba.
athar yang melihat dengan mata kepala nya sendiri jika barusan Bu ana menyentuh paha anak nya langsung melotot, ia sangat murka dan langsung melangkah menghampiri rayyan yang sedang di gendong ibu-ibu yang athar tak kenal itu, athar langsung mengambil rayyan ke dalam gendongan nya.
" Eh nak athar, maaf ya... Mungkin anak nya laper " ujar ibu tersebut tidak enak karena rayyan menangis dalam gendongannya.
" Kenapa sayang? Ngga ada yang cubit kamu kan nak?" Tanya athar pada bayi nya.
Rayyan masih menangis melati pun menghampiri athar dan ikut menenangkan rayyan.
" Nggak kok athar ibu nggak cubit rayyan, anak ganteng gini mana tega di cubit" tambah ibu-ibu tadi takut di salahkan.
"Iya kok Bu, saya percaya, tadi sih soalnya ada yang pegang paha rayyan terus habis itu dia langsung nangis " ujar athar
"Oh ya siapa mas?" Tanya melati penasaran
"Ada pokok nya, udah ya ibu-ibu, anak-anak saya mau istirahat boleh kan?" Ujar athar memberikan pengertian
" Tuh kan, belagu banget ibu-ibu, kita di usir ini " ujar Bu ana memanas-manasi ibu-ibu yang lain
"Heh Bu ana, saya bukan nya ngusir ini anda lihat sendiri kan kalo anak saya udah nangis, tadi saya tau kok kalo ibu yang buat anak saya nangis" ujar athar yang sudah kesal
" Heh jangan sembarangan nuduh ya kamu,? Maksud kamu saya ngapain anak kamu?" Marah Bu ana menutupi kelakuannya yang barusan mencubit rayyan.
" Tapi emang bener kan? Nih liat, paha nya aja habis bekas kemerahan gini kan? Ibu apain anak saya?!!" Marah athar karena melihat Bu ana tak merasa bersalah.
" Wah parah banget sih" bisik-bisik para ibu-ibu yang sudah pada berdiri karena suasana sudah mulai tidak enak.
" Saya nggak tau ya, udah ah saya pulang aja dasar orang kota sombong banget masa' orang di tuduh-tuduh gitu" omel Bu ana sambil melangkah keluar dari rumah melati.
" Mbak Wati, ini refal nya" ujar Bu Mina memberikan refal pada Bu Wati.
" Kita pamit ya melati, mbak Wati, nak athar,.. maaf kalo kedatangan kita menganggu kalian" pamit Bu Mina mewakili ibu-ibu yang lain.
" Nggak apa-apa kok bu, malah saya terima kasih sudah di tengokin gini, maaf ya kalo suguhannya ngga ada apa-apa " ujar melati
" Enggak kok melati, ini aja udah banyak, yaudah kita pamit ya mari mbak wati" ujar Bu Mina di ikuti yang lain.
Setelah kepergian para tetangga melati pun melihat keadaan paha rayyan yang sisa tanda merah nya mulai memudar rayyan pun sudah tenang.
" Ngapain sih itu ibu-ibu yang, masa' harus gerombolan gitu datengnya " ujar athar melayangkan protesnya. Mendengar protesan athar melati jadi tidak enak pada ibu nya yang masih disana menggendong refal
" Mas.. namanya juga tradisi di sini gitu, ngga usah marah ya" ujar melati perlahan.
" Ya tapi kamu tau sendiri kan ini anak kita Sampe di cubit sama Bu ana itu, kalo nggak ibu-ibu udah aku tinju itu orang, kesel banget aku, kita aja orang tuanya ngga bakalan nyubit ini orang lain tiba-tiba seenaknya sendiri" oceh athar masih kurang puas marahnya.
" Ya mau gimana lagi mas, aku juga ngga terima tapi masa' kita mau bales "
" Oke kalau mau aku bales, aku bakal bikin perhitungan sama tu orang" ujar athar membuat melati dan Bu Wati kaget
" Eh nak... Ngga usah Sampe segitunya ya, udah maafin aja.. " cegah Bu Wati khawatir
" Iya mas, udah ah ngga usah mikir yang enggak-enggak, yuk bantuin aku nenenin rayyan kasian udah haus kaya nya" ujar melati akhirnya athar pun berhenti mengomel dan membantu melati menuju kamar mereka yang sekarang sudah lebih bagus dan lebih lebar dari sebelumnya.
Setelah dua Minggu melati dan athar di rumah orang tua melati mereka pun pulang dan langsung di bawa liburan oleh papa adrian sekeluarga ke Amerika, karena aurel juga sudah melaksanakan wisuda nya, dan dia mendapatkan nilai bagus jadi membuatnya lebih mudah masuk universitas yang sudah papa adrian daftar kan..
.
__ADS_1
.