Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah
bab 144


__ADS_3

Pukul 3 sore eza sudah mandi dan sedang berada di rumah, karena ia sudah berjanji pada adik nya untuk menemaninya belajar.


eza pun keluar dari kamar nya untuk mencari keberadaan Vanessa, ia pun menghampiri kamar Vanessa setelah diketuk-ketuk tidak ada jawaban eza pun membukanya dan ternyata di kamar Vanessa tidak ada orang sama sekali.


"Ke mana tuh anak?" Tanya eza pada dirinya sendiri.


" Nesss... Vanessa...!!" Panggil eza siapa tau Vanessa masih di kamar mandi nya, setelah di panggil-panggil tidak ada jawaban eza pun keluar dan mencari ke sekitar rumah,.


Di ruang tamu pun vanessa tidak ada jadi eza pun menanyakan keberadaan Vanesa pada salah satu asisten rumah tangga nya yaitu Bu romlah yang kebetulan lewat setelah Ia turun tangga.


" Eh bi, Lihat Vanessa nggak? Saya cari-cari di kamarnya kok nggak ada" tanya eza.


"Tadi sih makan siangnya minta di anter ke tempat nenek Atika den, mungkin masih disana den" jawab Bi Romlah.


" Terus sampai sekarang belum ke sini lagi?" Tanya eza lagi.


" Belum den, apa mau bibi cek ke sana sekarang??" Tawar bi romlah.


" Nggak perlu Bi biar aku aja ke sana makasih ya bi" ujar eza sambil berjalan melangkah menjauh.


"Ehh iya den eza sama-sama" ujar Bi Romlah melihat kepergian tuan mudanya.


eza pun berjalan menuju paviliun samping rumahnya yang memang menjadi tempat tinggal neneknya selama ini,.


Setelah masuk rumah ternyata benar Vanessa berada di dalam sana dan sedang bermain bersama nenek Atika.


" Ness.... " Panggil eza Vanessa pun menoleh.


"Apa?!!" Sahutnya dengan nada judes, eza pun menghampiri nenek dan adiknya.


" Kakak cari kamu di rumah nggak ada, ternyata disini" ujar eza sambil duduk di sofa di tempat nenek dan Vanessa duduk, Vanesa masih meneruskan permainan nya tidak menjawab eza.


"Assalamualaikum Nek.." ujar eza lalu mencium tangan nenek nya.


"Waalaikumsalam nak, tumben sore-sore udah di rumah aja?" Tanya nenek Atika pada eza.


" Iya Nek, ini udah ada janji sama Vanesa mau bantu in vanes ngerjain pr nya " jawab eza singkat.


"Tuh nes... Kakak kamu udah pulang sana gih kalo mau ngerjain tugas"  ujar nenek Atika pada Vanessa yang masih dengan wajah di tekuk.


" Nggak mau Nek, males.. udah selesai juga tugas nya, aku juga masih mau main sama nenek aja " kata vanesa menolak dengan wajah tak bersahabat.


" Kok kamu nggak jawab pertanyaan kakak sih nes? " Tanya eza heran, tapi Vanessa masih terdiam sambil tangannya masih memegang mainan.


" Jawab nes... Kakak nggak ngomong sama tembok, kamu kok malah diem aja sih??" Tanya eza lagi tak sabar. Bukannya menjawab Vanessa malah berdiri.


" Tau... Pikir aja sendiri!!!!" Ujar Vanessa seraya melangkahkan kaki nya menuju luar dan sepertinya masuk kembali ke rumah utama dan membuat eza heran.


" Dih kenapa sih tu anak ??" Gumam eza, nenek Atika pun langsun menepuk lengan cucunya itu.


"Kamu itu kenapa emangnya kemarin kok di minta in tolong Vanessa malah nggak mau? " Tanya nenek Atika karena tadi Vanessa telah menceritakan mengapa ia marah pada eza.


"Ya aku capek Nek, aku udah bilang kok mau bantuin hari ini, tugas nya juga di kumpulin nya besok, emang kenapa nek? Vanessa cerita sama nenek?" Tanya eza, nenek Atika pun mengangguk.


" Katanya sih dia itu sebelnya itu kamu nggak mau tolongin dia terus alesan kamu capek nggak ada waktu tapi giliran buat pacar kamu, kamu kamu ada waktu" ujar nenek Atika menceritakan curhatan Vanessa tadi.


" Lah emang nya kenapa nek? Masa' gitu aja marah sih? Lagian juga aku nggak cuekin dia, ihhh sumpah aneh banget itu anak lama-lama" ujar eza yang masih tak mengerti akan tingkah Vanessa.


" Huussh... Jangan ngomong gitu ah, nggak enak kalo di denger Vanesa, udah sana samperin minta maaf aja" saran nenek Atika.


" Nggak deh Nek, males aku kalo ada orang manja gitu, bakal jadi apa itu anak kalo gitu terus tingkahnya" tolak eza


" za udah lah,  jangan ngomong gitu, inget dia itu adik kamu juga, kasian za dia itu kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua nya, saat dia tau kalo dia punya kakak inget kan dulu dia seneng banget dan emang udah manja banget sama kamu, wajarlah za udah nak samperin aja" perintah nenek Atika dengan sedikit memaksa.


" Ckkk ... Yaudah Nek aku susulin vanes dulu" ujar eza sambil berdiri dan melangkah meninggalkan paviliun menuju kamar Vanessa. Sampai kamar Vanessa sudah tertutup kembali.


"Nes.. ayo bukain pintunya ..." Panggil eza sambil terus mengetuk, masih tak ada jawaban dari dalam.


"Nessss... Bukain nggak?? Kalo nggak di bukain oke deh, terserah ....kakak nggak bakal negor kamu Sampe kapanpun " ujar eza dan ternyata ampuh juga karena tidak lama Vanessa membukakan pintu kamar nya lalu masuk kembali ke kasurnya dan meneruskan menggambarnya. eza pun masuk dan duduk di meja belajar adik nya.


"Kamu kenapa sih? Marah sama kakak?" Tanya eza,.


"Nggak.. biasa aja" jawab Vanessa singkat.

__ADS_1


" yaudah kalo kakak salah kakak minta maaf, kakak beneran semalem capek dek, kamu juga harus ngerti dong" ujar eza vanessa masih terdiam tak menyahut.


" Jawab nes kakak ngomong sama kamu ini" ujar eza dengan sedikit membentak, namun hal itu justru membuat Vanessa meneteskan air mata.


"Emang udah nggak ada yang sayang sama aku, semua orang udah tinggalin aku, aku emang nggak pantes buat di sayang" ujar Vanessa tiba-tiba sambil menangis membuat eza bingung.


" Loh kok kamu ngomong gitu sih? Kakak nggak ada ya bilang kalo kakak nggak sayang ke kamu, kita semua sayang sama kamu, ada papa, nenek, kakak juga, kenapa kamu bisa bilang gitu,?" Tanya eza dengan menghampiri Vanessa dan mengusap punggungnya.


" Bohong !!! Buktinya kakak barusan bentak aku hiks...." Tangis Vanesa


"Dek... Kakak nggak bentak kamu, kakak cuma mau kamu jawab pertanyaan kakak, tapi kamu diem aja kakak juga tadi ngomong nya nggak keras-keras banget, tapi kalo menurut kamu kakak salah kakak minta maaf aja, maaf ya dek" ujar eza tak mau Vanessa makin menangis.


" Papa juga udah nggak sayang sama aku, papa lebih sering habisin waktunya buat kerja daripada nemenin aku, terus kenapa papa juga nggak bolehin aku ketemu mama sih? Kenapa ?? Apa mama yang nggak mau ketemu aku? Apa mama yang udah lupa sama aku???" Tanya Vanessa dengan makin menangis.


"Hey Vanessa cantikk.... Dengerin kakak ya... Nggak ada yang nggak sayang sama kamu sayang .. kita semua tuh sayang sama kamu, kalau papa emang sibuk kerja itu buat kita.. biar hidup kita terjamin dek, saking sayang nya papa sama kita dia berjuang keras biar kita nggak kelaparan, kamu sama kakak bisa hidup sampe sekarang itu juga karena papa, kita bisa sekolah di tempat bagus, naik mobil bagus, bisa makan enak, semuanya karena papa, papa bela-belain Sampe tiap hari pulang malem dan apa kamu pernah denger papa ngeluh capek??? Nggak kan?? Papa berjuang mati-matian buat kita , dan kita sebagai anak nya juga harus bisa ngerti ya dek dan harus selalu doa in papa biar sehat selalu,. Dan untuk mama kamu, papa emang ngelarang mama kamu buat ketemu kamu karena papa takut kamu di bawa pergi sama mama kamu, papa nggak mau pisah jauh-jauh dari kamu dek, biar kalo sama papa, papa bisa selalu liat kamu tumbuh berkembang dan makannya terjaga " jelas eza panjang lebar berharap Vanessa bisa mengerti keadaan mereka.


" Tapi aku mau ketemu mama kak, aku juga kangen sama mama, pengen peluk mama " ujar Vanessa sudah sedikit mulai tenang.


"Kangen ya?... Yaudah nanti kakak bantu bilang sama papa ya biar bisa temuin kamu sama mama kamu, sekarang nggak usah nangis lagi ya dek" ujar eza,.


"Janji ya??" Tanya Vanessa menunjukkan jari kelingking nya, eza pun mengangguk dan ikut mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking eza.


" Janji..." Jawab eza, akhirnya Vanessa pun mengusap air matanya kemudian memeluk kakak nya.


" Makasih ya kak" ujar Vanessa di sela pelukannya.


"Sama-sama dek," jawab eza.


..


" pa kasih lah Vanesa ketemu mama nya " ujar eza pada Chandra suatu hari saat keduanya sedang bersantai di teras, Chandra yang sedang minum kopinya pun agak kaget dengan permintaan eza, setelah menaruh cangkir kopinya Chandra pun mulai berbicara.


" Buat apa za, nggak deh, papa takut Vanessa di bawa sama Oliv" tolak Chandra


" pa.. jangan egois gitu dong, papa juga musti pikirin perasaan Vanessa, dia juga pengen ketemu sama ibu kandungnya "


" Bukannya egois za, papa itu nggak mau Vanessa di bawa, apalagi papa udah tau semua tingkah nya oliv, dan asal kamu tau aja, habis di tinggal pacarnya itu dia jadi makin nggak bener za, bukannya mau jelek-jelekin atau gimana, pokoknya hidupnya nggak baik buat tumbuh kembang nya Vanessa, kamu ngerti kan" kata Chandra.


" Kalo Vanesa nya nggak minta ya udah si za, ga usah di pikirin" kata Chandra yang masih kekeuh tak mau mempertemukan vanessa dengan olivia.


" Ini eza ngomong karena Vanessa yang minta pa" kata eza, Chandra pun berfikir sebentar.


"Yaudah nanti papa pikirin lagi ya" kata Chandra, eza pun mengangguk.


.


.


Tok tok tok ..


Pintu apartemen aurel terdengar ada yang mengetuk, sebelum membukanya aurel pun berfikir sebentar siapa yang datang berkunjung karena seingatnya ia tidak ada janji dengan temannya, tapi karena takut penting aurel pun membuka pintu apartemen nya.


"Tian??" Ujar aurel bingung karena Tian kini sudah berada di depan pintu apartemen nya.


"Hai" ujar aurel melambaikan tangannya dengan tersenyum.


"Ada apa? " Tanya aurel.


"Nggak apa-apa sih, cuma dari rumah temen deket sini terus inget kamu jadi mampir, boleh kan?" Alasan Tian padahal ia sama sekali tidak pergi ke rumah temannya,.


" Ohh" jawab aurel singkat.


" Masa' nggak di tawarin masuk dulu nih?" Tanya tian.


"Ohh iya lupa, ayo masuk dulu" ajak aurel membuka pintu nya lebar-lebar. Tian pun dengan semangat masuk ke apartemen aurel.


" Mau minum apa?" Tanya aurel sambil mempersilahkan Tian duduk di sofa.


" Apa aja rel, air putih aja juga boleh" jawab Tian. Kemudian aurel pun mengambil satu gelas air mineral dan satu botol minuman rasa bersoda dan keduanya ia letakkan di hadapan Tian, aurel pun ikut duduk di sofa.


"Emang nya nggak ada tempat lain apa kok mampirnya kesini? Terus ini juga nggak jauh dari rumahnya Julia " Tanya aurel yang memang tidak ingin lebih dekat dengan Tian, karena eza pun sudah mewanti-wanti nya untuk jaga diri di sini.


"Memang nya kenapa rel?? Aku kan emang kebetulan lewat" jawab Tian masih ngotot.

__ADS_1


" Hmm yaudah" ujar aurel malas.


" Oiya kalo boleh tau kamu di Indonesia tinggalnya dimana?" Tanya tian.


" Jakarta " jawab aurel singkat, Tian mengangguk-anggukkan kepalanya.


" aku pernah sih beberapa kali ke Jakarta" cerita Tian.


"Ngapain?"


"Dulu sih di ajak mantan pacarku tinggal disana beberapa bulan, " tambah tian, aurel hanya mengangguk merespon obrolan yang menurut nya sangat membosankan.


"Aku ganggu kamu ya?" Tanya tian aurel pun segera menggeleng takut Tian tersinggung dengan sikapnya.


"Kirain ganggu, Oiya, kamu lagi sibuk apa sekarang?" Tanya tian.


" Ya gini-gini aja sih, kuliah, sama lagi usaha nyelesain skripsi secepatnya, soalnya aku pengen banget cepet lulus dan segera pulang, kangen banget sama keluarga ku" jelas aurel.


" Oh ... Kurang berapa bulan emang?" Tanya tian.


" Sekitar 3 bulanan lagi, doain ya semoga skripsi ku di terima dan lulus " ujar aurel Tian pun mengangguk tersenyum.


Mereka pun kemudian mengobrol banyak hal tentang hobi masing-masing, lalu tempat yang paling mereka suka di Indonesia, dan ternyata Tian ini tau banyak tentang Indonesia, ya meskipun ia tinggalnya di Bali tapi Tian sering ke tempat-tempat wisata lain seperti Lombok, labuan bajo, raja Ampat dan lain-lain.


Mengobrol dengan Tian aurel yang tadi nya malas kedatangan Tian kini jadi bersemangat karena rindunya pada tanah kelahirannya Indonesia pun merasa terobati.


.


.


Akhirnya kini Vanesa sudah di perbolehkan bertemu dengan Olivia, Vanesa pun sangat bahagia karena sudah beberapa tahun ia tidak bertemu sama sekali dengan mama nya,, apalagi Chandra memperbolehkan nya bertemu di salah satu mall, ya meskipun harus di temani eza serta dua bodyguard khusus untuk nya yang sedikit membuat nya kurang nyaman tapi demi bertemu dengan mamanya lagi Vanessa pun tak terlalu mempermasalahkan hal itu.


" Di mall ini kan kak?" Tanya Vanesa di mobil saat mobil mereka memasuki depan area gedung mall besar yang menjulang tinggi, eza tersenyum mengangguk senang melihat kebahagiaan terpancar di mata adik nya ini.


Setelah mobil mereka terparkir Vanessa dan eza pun memasuki mall di belakang mereka ada dua bodyguard tapi saat di keramaian eza meminta dia bodyguard nya untuk mengawasi Vanessa dari jauh dengan memakai baju yang tidak terlalu mencolok agar lebih santai.


Olivia pun sangat senang bisa bertemu dengan putrinya karena bagaimanapun juga ia pun sangat merindukan Vanessa anak kandung nya buah cinta nya dengan Chandra.


Dengan sangat antusias Olivia sampai menunggu eza dan Vanessa di pintu masuk saat melihat Vanessa datang dengan eza Olivia langsung menyambut Vanessa dengan memeluknya, Vanessa pun demikian memeluk mami nya dengan erat melepas kerinduan dalam hatinya selama bertahun-tahun ini,.


" Mami ... Vanes kangen...." Tangis Vanessa pecah dalam pelukan Olivia. Oliv pun melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata Vanessa dengan lembut.


"Jangan nangis sayang.. Sekarang kan kamu udah ketemu mami... Udah ya jangan nangis lagi, pokoknya sekarang puas-puasin dulu ketemu mami " ujar Olivia Vanesa pun mengangguk.


"Tan, ... Apa kabar ? Baik kan?" Tanya eza. Olivia pun hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan eza. Olivia pun kembali fokus pada Vanessa.


"Udah makan sayang??" Tanya Oliv, Vanesa menggeleng,.


" Vanesa belum makan mi.." jawab Vanesa


" Kita makan dulu Tan, emang sengaja nggak makan di rumah" ujar eza, Olivia pun mengangguk lalu mereka pun sama-sama menuju restoran atas pilihan Vanesa.


Setelah memesan makanan eza pamit pergi ke toilet sebentar.


" Sayang... Kamu ikut mami dong, mami sendirian, tiap malem mami sedih banget karena inget terus sama kamu" ujar Olivia dengan wajah di buat se sedih mungkin hingga membuat Vanessa iba.


"Nggak bisa mi, mami kan tau sendiri papi gimana orangnya, ini mau ketemu mami aja aku musti bilang kak eza dulu biar kak eza bisa bujuk papi buat bolehin kita ketemu ".


" Hmmm.. kamu kok keliatannya udah nggak sayang mami ya, lebih sayang sama si eza itu" ujar Oliv dengan wajah ia buat kesal.


" Eh enggak lah Mi, vanes juga sayang sama mami .." kata Vanesa.


" Asal kamu tau aja nes mami sama papi pisah gara-gara eza kakak kamu itu" ujar Oliv memfitnah.


" Kok kak eza sih mi, kenapa ??"


" Ya dia itu sebenarnya jahat, nggak suka mami, papi sama kamu itu bahagia, ya jadi dia pengaruhi papi kamu biar ceraikan mami nes" cerita Oliv membuat Vanessa kaget.


"Masa' sih mi??" Tanya Vanesa tak percaya.


" Belum dateng pesenan nya Tan? Nes?" Tanya eza yang baru datang, Oliv yang hendak melanjutkan obrolan nya pun langsung diam begitupun Vanesa karena yang mereka bicarakan datang jadi mereka diam tak melanjutkan obrolan mereka lagi., Vanessa pun kemudian menggeleng menjawab pertanyaan kakaknya.


Tidak lama pesanan mereka pun datang kemudian mereka makan tanpa berbicara hingga selesai.

__ADS_1


__ADS_2