
"udah yuk mas, kita pulang" ajak melati karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Bentar lagi dong sayang, mas masih capek"
"Yaudah aku mandi dulu ya, " athar mengangguk, melati pun segera melangkahkan kaki nya ke kamar mandi, tidak sampai lima belas menit melati pun sudah keluar dengan memakai handuk tapi yang ia lihat athar malah tertidur.
" Mas .. ayo dong... Aku takut refal sama rayyan rewel kasian mama, mas.... Bangun" melati menggoyangkan tubuh athar agar segera terbangun, mata athar perlahan terbuka. Iapun melangkahkan kaki nya ke kamar mandi sedangkan melati mengganti pakaian nya dan membereskan seluruh pakaiannya.
Setelah siap semua melati dan athar keluar, setelah selesai dengan pembayaran dan sebagainya athar segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sampai rumah terlihat anak-anak mereka menangis dalam gendongan mama ambar dan papa adrian, mereka di temani dua baby sitter mereka yang ternyata tidak di minta pulang oleh mama ambar mungkin agar dapat membantunya menyiapkan asi mereka.
melati langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan nya setelah selesai ia menghampiri mama ambar yang dan mengambil rayyan dari gendongan mama nya begitu pun athar.
" Maaf ya ma, kelamaan, rewel ya ma?" Tanya melati
" Ngga apa-apa kok sayang, rewelnya cuma barusan aja, " jelas mama ambar.
"Makasih ya ma pa, udah jagain" ujar athar berterima kasih pada kedua orang tua nya.
Setelah itu para baby sitter pun di suruh pulang karena sudah ada melati, sebenarnya athar sudah menawarkan baby sitter yang bisa tinggal di rumah agar melati kalau malam tidak kerepotan tapi melati menolak karena ia masih bisa menghandle nya, apalagi rayyan dan refal kalau malam tidak rewel, tapi memang sesekali rewel jika salah satu menangis yang satu lagi pasti ikut menangis dan untung saja athar tidak tinggal diam dia selalu membantu melati jika kerepotan mengurus bayinya.
setelah kedatangan melati dan athar bayi mereka pun anteng dan tidak rewel lagi, mereka pun di bawa ke kamar untuk di tidur kan.
.
.
.
Sore hari dengan santai Olivia memasuki apartemen yang di tempati oleh Bastian dengan membawa dua paper bag di tangannya, setelah agak lama sekitar jam 9 malam ia keluar bersama Bastian dan menggunakan mobil nya, Olivia dan Bastian menuju club malam terkenal dengan memakai pakaian serba terbuka.
Tanpa keduanya sadari anak buah chandra sudah mengintai olivia dan Bastian, di dalam keduanya sudah mabuk bersama teman-teman Olivia yang pastinya dengan pasangan berondong selingkuhannya masing-masing, Olivia bahkan mentraktir seluruh minuman mereka malam ini hingga mencapai ratusan juta hanya satu malam.
Sampai pukul dua dini hari dengan langkah gontai karena pikirannya masih dalam keadaan tidak sadar Olivia dan bastian melangkah menuju parkiran mobil mereka hendak menuju pulang ke apartemen,. Tanpa berfikir jernih Bastian nekad menyetir meskipun dalam keadaan mabuk karena memang juga sudah biasa ia lakukan, anak buah chandra masih terus mengikuti pasangan selingkuh ini, karena besok pagi pengintaian ini akan mereka laporkan pada bos nya.
Tapi saat di tengah jalan mobil Olivia yang berjalan kencang tiba-tiba menabrak pohon di persimpangan saat menghindari sebuah jalan berlubang. kedua anak buah chandra sangat kaget dan segera menghampiri mobil Olivia dan ada beberapa pengendara lain tapi tidak banyak karena memang masih pagi-pagi buta begini.
"Bu .. Bu Oliv ...?!!!" Panggil anak buah chandra karena dahi Oliv berdarah dengan keadaan pingsan begitupun dengan Bastian yang juga pingsan di kursi kemudi dahi nya juga mengeluarkan darah bahkan lebih banyak.
"Ayo cepet bawa ke rumah sakit" ajak salah satu anak buah chandra, yang satu nya pun mengangguk,.
Dengan meminta bantuan pengendara lain yang ikut melihat dengan cepat Olivia dan Bastian pun di bawa ke rumah sakit. Satu anak buah chandra mencoba menghubungi chandra tapi tidak di angkat sama sekali sedangkan yang satunya fokus menyetir.
"Gimana? Belum di angkat??" Tanya yang menyetir, yang di tanya pun hanya menggeleng.
"Coba telfon tuan muda eza, siapa tau lagi tidur di rumah utama" pinta nya, satunya pun mengangguk lalu menghubungi nomor eza tapi ternyata juga tidak di angkat.
"Udah deh biarin aja, lagian emang tengah malem gini ya orang-orang lagi tidur, lagian siapa juga yang mau ngurusin orang selingkuh gini," ujar anak buah chandra karena sudah lelah karena menghubungi berkali-kali tidak ada yang mengangkat.
Sampai di rumah sakit Olivia dan Bastian langsung di bawa ke UGD untuk di lakukan perawatan.
Pagi hari chandra sangat kaget melihat pesan dari anak buahnya yang mengatakan Olivia kecelakaan, semalam hp nya ada di kamar nya karena semalam vanessa menangis katanya ingin tidur bersama mami nya tapi karena Olivia belum pulang jadi chandra lah yang berusaha menenangkannya sampai ketiduran juga di sana, segera chandra hubungi kembali nomor anak buahnya, bahkan anak buahnya menjelaskan kronologi kejadiannya, awalnya chandra tidak percaya Olivia mengkhianati nya tapi setelah anak buah nya mengirimkan bukti-bukti lengkap nya bahkan mengirim cctv di apartemen yang di tinggali selingkuhan istri nya, yang sebenarnya apartemen tersebut pemberiannya dulu karena Oliv melahirkan Vanessa.
chandra sangat marah dengan pengkhianatan yang di lakukan Olivia tapi setelah di pikir-pikir mungkinkah ini juga salahnya yang tidak pernah bisa melupakan mantan istri nya.
Setelah bersiap chandra segera menuju rumah sakit dan menuju ruang rawat olivia yang memang di satukan dengan laki-laki selingkuhan nya atas permintaan olivia.
" Selamat pagi" chandra dengan santainya masuk melihat Olivia sedang menyuapi Bastian, sepertinya Olivia tidak terlalu buruk keadaannya. olivia kaget dengan kedatangan chandra, ia tidak tau jika chandra tau ia sedang di rawat karena setau nya tidak ada yang memberitahunya ia pun sudah berpesan pada pihak rumah sakit untuk tidak menghubungi keluarga nya.
"Pi... " Olivia yang kaget langsung berdiri dari duduk nya lalu menghampiri chandra.
"Udah baikan kamu??" Tanya chandra Olivia mengangguk.
"Papi tau darimana?"
"Dari anak buah ku yang ikutin kamu dari kemarin" jawab chandra membuat Olivia makin kaget
"Hah.. maksud papi?? Kamu mata-mata in aku??"
"Iya,. Karena aku liat kamu makin kesini makin berubah, nggak selembut dulu lagi, jadi ngga ada salahnya dong?"
"Jadi papi tau semua??" Pertanyaan bodoh Olivia dengan santainya chandra mengangguk.
"Bahkan cctv apartemen kamu semuanya aku udah liat, "
"Pi... Aku bisa jelasin.."
"Nggak Oliv, semuanya udah jelas, aku nggak butuh penjelasan lagi, aku akan segera mengajukan perceraian kita, agar kamu bisa segera bersatu dengan pria pilihan kamu itu"
"Nggak Pi, aku nggak mau cerai, jangan gini Pi, kasian Vanesa "
"Nggak Liv, aku nggak akan jadi penghalang untuk kebahagiaan kamu, aku tau selama ini kamu menderita sama aku, mungkin ini yang terbaik, dan kamu nggak perlu khawatirin Vanesa, aku akan bicara baik-baik sama dia, aku akan berusaha biar dia tidak membenci kamu atau aku meskipun kita tidak bersama, aku permisi dulu". Tanpa persetujuan Olivia chandra pun melangkah keluar dari ruang rawat tersebut meninggalkan Olivia yang masih menangis dan Bastian entah apa yang di pikirannya karena ekspresi nya sangat sulit di tebak.
..
__ADS_1
Olivia berjalan ke ranjang Bastian dengan raut wajah melamun masih memikirkan bagaimana nasibnya kedepan, bukankah selama ini hidupnya sangat bergantung pada chandra? Bahkan keluarga nya sekalipun selama ini dapat jatah bulanan dari chandra, kalau ia bercerai bukankah semua nya hilang dari hidupnya? Kemewahan ? Fasilitas? Uang?.
"Gimana ini bas...?? Aku mau di ceraikan ??" Tangis Olivia pada Bastian.
"Ya gimana Oliv? Aku juga nggak tau suami kamu kok bisa tau" jawab Bastian mencoba bangkit dari duduk nya hendak menenangkan Olivia.
Jadi Bastian pun mencoba memeluk tubuh Olivia
"Bas kamu mau kan nikahin aku? Kita tinggal di Bali?" Tanya Olivia, Bastian mengangguk.
"Iya sayang, tapi kalo bisa kamu harus bawa anak kamu, biar chandra masih tetep ngasih uang buat bulanan kamu" usul Bastian
"Hah, kalo chandra nggak mau lepasin Vanesa gimana?" Olivia melepas pelukannya, menatap Bastian dengan serius.
"Ya gimana caranya aja Liv, kalau perlu ke pengadilan kita ke pengadilan"
"Oke, nanti kita rencanain semuanya sayang" setuju Olivia
"sekarang tungguin aku sembuh dulu ya sayang.." jawab Bastian
"Makasih ya honey, i love you so much" Olivia mengecup bibir Bastian singkat lalu membantu Bastian tiduran lagi.
"Siapa juga yang mau nikahin Lo, udah tua juga, kalo bukan karena selama ini gue bisa foya-foya ogah gue sama Lo, di Bali bahkan lebih banyak cewek-cewek lebih cantik lebih muda daripada Lo, oke kita liat aja kalo suami tua Bangka Lo itu masih mau ngasih duit banyak bakal gue pikirin, kalau nggak ya gue kabur aja beres" batin Bastian jengkel, tapi di bibirnya terlukis senyum semanis mungkin untuk membodohi Olivia.
.
setelah pulang ujian eza mengajak aurel menuju kantor papa nya, karena setelah menerima kabar dari anak buah papa nya eza Sangat mengkhawatirkan kondisi papanya.
"za kita mau kemana??" Tanya aurel karena jalan yang mereka lewati bukan jalan pulang ke rumah aurel.
"Ke kantor papa ku dulu rel, nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa kok, eh tapi kalo boleh tau mau ngapain za??"
"Papa udah tau semua kalo istri nya selingkuh, dan semalem Olivia sama selingkuhannya kecelakaan, nggak seberapa besar sih, tapi ya masuk rumah sakit" jelas eza membuat aurel lumayan kaget
"Hah, terus-terus gimana papa kamu?"
"Nggak tau makanya aku mau temuin sekarang, "
"Yaudah, oiya udah pernah aku ceritain belum sih??" Tanya aurel
"Apa?"
"He em terus .."
"Aku foto dia pas peluk-pelukan di toko eh malah di tegur sama mbak-mbak penjaga nya di kira foto-foto barangnya "
"Hah, serius? Ngapain kamu Sampe segitunya, terus kok baru ngomong?"
"Lah waktu mau ngomong di mobil kamu kan malah nembak aku, jadi aku udah lupa segalanya, inget nya cuma kamu aja" ujar aurel membuat eza tertawa.
"Hahaha, kamu nih ada-ada aja rel"
"Ya gimana dong, seharusnya sih emang aku udah kasih tau kamu waktu itu kalo aku punya buktinya, maaf ya aku lupa"
"Udah nggak usah di pikirin, lagian kan ini sekarang udah kebuka juga busuk nya mama tiri ku itu"
"Iya za" setelah melewati perjalanan sekitar setengah jam lebih mereka pun sampai di sebuah perusahaan yang menurut aurel sangat besar, bahkan mungkin lebih besar dari perusahaan papa nya.
eza menggandeng aurel masuk kantor dan langsung mendatangi resepsionis menanyakan ruangan papa nya.
"Maaf sebelumnya sudah ada janji dek?" Tanya resepsionis tersebut.
"Belum mbak, boleh tolong di hubungi nggak, bilang aja eza mau ketemu"
"Oke, tunggu sebentar" resepsionis itu pun langsung menghubungi sekertaris pak chandra.
Tidak lama telpon nya di tutup seketika melihat eza dengan sedikit tersenyum.
" Silahkan ke lantai dua puluh tuan muda, sudah di tunggu di ruangannya oleh pak chandra" ujar resepsionis tersebut dengan sopan setelah mengetahui bahwa eza adalah putra pak chandra.
" Oke mbak, terima kasih" ujar eza seraya meninggalkan meja resepsionis menuju lift.
"Kamu baru pertama kali kesini za?" Tanya aurel dalam lift eza mengangguk.
"Iya, bahkan aku tau ini kantor papa aku aja karena cari di google" jawab eza membuat aurel tertawa.
"Kok bisa? Kamu nggak pernah tanya emang?" eza menggeleng.
"Kalo udah ketemu papa dia nggak pernah cerita masalah nya atau kerjaannya, yang dia tanya aku terus, ya gimana kabarku lagi pengen apa, ya gitu terus deh" jelas eza membuat aurel manggut-manggut.
Pintu lift terbuka, di lantai 20 ini hanya ada satu pintu ruangan dan di depannya ada meja dengan duduk seorang perempuan yang eza yakini merupakan sekertaris papa nya, ia sudah menunggu di depan meja untuk menyambut eza
__ADS_1
"Tuan muda eza?" Tanya sekertaris tersebut, eza mengangguk.
"Mari silahkan " sekertaris tersebut membawa eza ke satu ruangan tersebut, serta sudah membukakan pintunya.
eza dan aurel pun masuk sedangkan pak chandra sedang berkutat dengan laptop nya, mendengar pintu di tutup pak chandra pun berdiri menyambut eza dan aurel menyuruhnya duduk di sofa.
"Ayo duduk nak, aurel ayo duduk jangan sungkan, baru pulang sekolah ya? " eza mengangguk setelah mencium tangan chandra eza dan aurel pun duduk di sofa.
"Pa.. gimana keadaan papa" tanya eza
"Gimana apa nya za,, papa sehat kok ini"
" Ya maksud aku setelah papa tau kalo istri papa selingkuh" tanya eza to the point.
" Ohh.. masalah itu, kamu tenang aja udah papa beresin kok, tadi pagi papa juga udah dateng ke rumah sakit ketemu Oliv bahkan sama laki-laki selingkuhannya itu"
" Hah, terus nggak papa apa-apain kan? "
"Nggak za ... Papa cuma bilang mau layangkan gugatan cerai aja ke pengadilan"
"Syukurlah aku takut papa malah kena masalah kalo Sampe mukulin istri papa itu, nanti dia malah laporin papa dugaan kdrt"
"Nggak lah za, lagian kalo dulu papa memang khilaf dan salah udah pukulin mama kamu, dulu karena papa emosi, capek-capek pulang kerja mana perjalanan nya kamu tau sendiri jauh ke rumah di desa "
"Iya pa, eza ngerti, jadi Sekarang papa mau cerai in istri papa?"
" Iya,, mungkin Olivia lebih bahagia kalau kita pisah za, papa nggak mau jadi penghalang buat kebahagiaan dia, yang penting sekarang buat papa adalah kamu sama Vanesa, papa akan berusaha buat kalian bahagia"
"Makasih ya pa" ujar eza chandra mengangguk"
"Kamu tinggal di rumah ya za? Ajak nenek Atika juga, di rumah banyak kok asisten rumah tangga yang bisa bantu urusin nenek kamu, kasian Vanessa juga za dia pasti butuh temen" pinta chandra karena ia yakin setelah ini Vanessa akan sangat sedih dan kesepian
"Aku pikirin dulu ya pa, sama tanya nenek dulu" ujar eza chandra pun mengangguk.
..
Di tengah obrolan mereka sekertaris chandra mengetuk pintu setelah di persilahkan masuk ia pun melangkah masuk dengan membawa nampan berupa minuman ada air mineral botol kaca serta minuman manis tidak lupa kue yang baru di beli nya barusan lewat ob kantor.
"Silahkan tuan muda, nona , mari pak saya permisi" pamit sekertaris tersebut, pak chandra mengangguk.
"Ayo silahkan, maaf ya aurel cuma seadanya" ujar chandra
"Iya om nggak apa-apa, ini juga udah cukup, terimakasih " jawab aurel
"Oiya kabar adrian gimana ? Baik kan? Udah lama deh kayaknya saya nggak pernah ketemu " tanya chandra
"Alhamdulillah om, baik malah Sekarang lagi bahagia banget "
"Oiya? Kenapa?"
"Kakak ipar saya kan habis melahirkan, papa jadi nggak pernah pulang terlambat dari kantor karena nggak tahan pengen gendong cucu-cucu nya" jawab aurel sambil tersenyum
" Cucu-cucu nya? Anak nya athar kan? Kan kayaknya belum nikah?"
"Udah kok om, tapi emang belum resepsi sih, papa kayak seneng banget dapet cucu kembar jadi sekarang nggak pernah lembur, sore gitu langsung pulang "
"Wahhh.. seneng banget ya emang udah punya cucu, apalagi langsung dua hehe" ujar pak chandra
"Hehe, iya om"
"Papa juga pengen cucu deh za " kata pak chandra tiba-tiba, seketika eza tak bisa menelan brownies yang baru saja ia makan.
"Hah... Apaan sih pa? "
" Iya gimana dong za, kalian kan udah pacaran, cepet nikah ya biar papa bisa cepet gendong cucu" kata pak chandra membuat aurel malu-malu.
" Kita kan mau kuliah dulu, ih papa nih, di kira cucu tinggal beli di pasar apa" cemberut eza
"Hehehe, papa cuma bercanda kok, yaudah-yaudah, terserah kalian aja deh, oiya rel, kapan-kapan ajak boleh nggak sih saya sama eza main ke rumah kamu, kenal lebih deket gitu?, "
"Boleh dong om, papa mama juga pasti seneng banget "
"Ngapain sih pa,?" Tanya eza karena kurang nyaman dengan permintaan papa nya
"Ya biar lebih Deket dong za sama calon besan" jawab chandra,
"Yaudah nanti kita rencanain ya rel"
"Oke om" jawab aurel mereka pun kembali ngobrol ngalor ngidul sampai tak terasa hingga sore hari, eza dan aurel pun pamit pulang.
.
.
__ADS_1