Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah
bab 139


__ADS_3

Melati baru saja selesai memandikan dua bayi nya di bantu baby sitter, setelah memakaikan pakaian pada rayyan dan refal melati menyusui rayyan sedangkan Refal di beri ASI lewat dot bayi oleh baby sitter nya.


"Assalamualaikum" ucap athar yang baru pulang dari kantor, ia naik ke lantai dua dan melihat melati dan dia bayi nya sedang di ruang keluarga lantai dua.


"Waalaikumsalam mas" jawab melati, athar segera menghampiri melati yang masih duduk menyusui rayyan.


" Wahh adek sama kakak lagi minum? Udah mandi ya? Wangi banget sih kalian??" athar yang gemas sekali dengan kedua putranya karena makin hari makin sehat dengan berat badan makin naik dan tentunya makin gembul, athar segera ingin mencium pipi rayyan tapi langsung di cegah oleh melati.


" Mas... Kamu baru pulang loh ... Bersih-bersih dulu gih apalagi kamu pasti habis ngerokok kan?" Pinta melati


" Ngga kok sayang, aku ngerokok cuma sekali tadi habis makan siang, boleh ya cium bentar"


" Ihh.. ngga boleh ya, cepetan gih, mandi dulu, nanti kalo udah boleh deh tuh ciumin semuanya"


" Yaudah deh" dengan wajah cemberut athar terpaksa melangkah masuk ke kamar dan segera mandi dan ganti baju.


Setelah mandi kilat ternyata melati sudah ada di kamarnya dan dua bayi nya sudah tertidur pulas.


"Yah... Kok udah pada bobo aja sih yang??" Tanya athar baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di pinggangnya dengan wajah kecewa.


" Ya gimana mas, namanya juga anak bayi, bentar lagi juga bangun, kamu istirahat bentar ya, sambil jagain takut nangis, aku mau mandi bentar"


"Ehh tunggu-tunggu.." athar mencegah melati yang sudah hendak pergi


" Mumpung anak-anak lagi pada bobo nih, sebentar ya sayang.." pinta athar tersenyum menggoda dan sambil memeluk melati.


"Tapi aku belum mandi mas, pasti bau keringet" tolak melati karena tidak percaya diri jika dirinya merasa bau karena belum mandi, mendengar penolakan melati bukannya menyerah athar malah menciumi leher melati.


" Nggak kok sayang, masih wangi gini, apalagi habis gendong baby jadi bau minyak telon" athar menciumi leher melati dan naik ke atas ke bibir melati, ia pun mengecup bibir melati, melati pun menyambut nya meskipun awalnya menolak tapi setelah di per*wan* kembali di hotel kemarin oleh athar melati ketagihan lagi.


"Ayo mas, langsung mulai aja takut keburu nangis anak-anak" ujar melati athar mengangguk, segera ia membuka daster melati dan segera menidurkan istrinya di ranjang, athar menarik segitiga melati ke bawah hingga telanjang dan tinggal bra melati yang masih tersisa.


athar langsung mengarahkan juniornya pada lubang kenikmatan melati dengan menggesek-gesekkan terlebih dahulu, setelah cukup basah dengan cairan melati athar langsung memasukkan junior nya sedikit susah tapi tidak lama junior nya bia masuk semua.


" Mas ..." Des*h melati athar menggoyangkan dengan cepat dan terkadang perlahan.


"ganti posisi yang" pinta athar melati pun memposisikan dirinya sesuai dengan permintaan athar, dengan cepat athar memasukkan kembali dan menggoyangkan pinggulnya dengan irama senyaman mungkin hingga membuat melati menikmati nya. Semakin lama athar mulai merasa sudah akan mencapai pelepasan nya melati pun demikian sudah minta di percepat.


"Oooeekk ooeekk" terdengar suara tangisan bayi, yang ternyata suara tangisan dari baby refal, melati sontak hendak bangkit tapi langsung di tahan oleh athar seraya menggeleng.


"Dikit lagi yang" ujar athar


"Tapi mas..." Belum sempat melati melanjutkan kalimatnya athar menggoyangkan pinggulnya dengan tempo makin cepat hingga membuat melati merem melek, tidak lama erangan panjang keluar dari mulut kedua nya, setelah itu melati langsung mendorong tubuh athar ia pun langsung bangkit mengenakan dasternya sembarangan lalu menghampiri refal yang menangis, melati segera menggendong bayi nya sedikit mengayunkan tubuhnya agar Refal berhenti menangis, dan benar saja tidak perlu waktu lama refal sudah tertidur kembali.

__ADS_1


melati merasakan cairan hangat mengalir di pahanya seketika ia teringat sesuatu.


"Mas kamu keluarin di dalem??" Tanya melati pada athar yang masih terbaring di ranjang dengan mata terpejam.


Mendengar ucapan melati athar langsung kaget dan terbangun.


"Astaga, aku lupa sayang, maaf ya?" melati pun menghampiri athar setelah meletakkan refal di box bayi nya kembali.


"Kamu gimana sih mas? Kalo hamil lagi gimana ? Ihh" kesal melati dengan wajah cemberut duduk di samping athar.


"Ya maaf sayang, mas kan lupa, nanti pasang KB ya, nggak bakal hamil juga kalo cuma sekali mah" ujar athar menenangkan melati.


"Yaudah, aku mandi dulu" melati bangkit hendak menuju kamar mandi


" Bareng ya" athar ikut bangkit memeluk melati


"Nggak, udah cukup ya, jagain itu anak-anak nya takut ada yang nangis nanti gantian mandi nya" ujar melati melepas pelukan athar


"Yaudah sayang, makasih ya buat yang barusan " ujar athar mencium pipi melati dari samping, melati mengangguk laluĀ iapun berjalan menuju kamar mandi.


..


Setelah kepergian eza chandra berencana untuk lembur hari ini, ia ingin melupakan masalah di rumah nya sejenak dengan fokus bekerja, tapi di tengah ia menggarap laporan tiba-tiba ponselnya berdering, tanda telepon masuk dan ternyata dari satpam di rumah nya,


"Halo kenapa ru?" Tanya chandra pada pak Heru satpam di rumah Nya.


"Jangan di buka ru, tunggu saya langsung pulang sekarang"


"Baik tuan" jawab Heru di sana, chandra segera menutup telfonnya dan buru-buru chandra mematikan laptop nya dan segera melangkah keluar buru-buru untuk pulang, bahkan beberapa karyawan menyapanya tapi tidak ia pedulikan.


"Sialan si Olivia, mau selingkuh selingkuh saja sana nggak perlu bawa-bawa Vanesa" kesal chandra sambil memukul stir nya.


Butuh waktu satu jam akhirnya chandra sampai di depan gerbang rumah nya, ia pun segera keluar dari mobilnya terlihat disana Olivia dan satpam nya sedang bercekcok, Olivia sampai teriak-teriak meminta untuk di buka kan gerbangnya.


Melihat tuannya datang Heru segera membuka gerbang sedikit Olivia terdiam melihat chandra yang masuk dan kini sudah berhadapan dengan nya, sebenarnya dia sangat takut tapi mau bagaimana lagi tidak ada jalan lain kecuali menghadapi chandra sekarang ini.


"Mau bawa Vanesa Kemana kamu? " Tanya chandra


"Aku mau bawa Vanesa pergi dari sini, dia kan anakku, suruh tuh satpam sialan itu buka in gerbangnya" ujar Olivia


" Liv, untuk Vanesa biar tanggung jawab ku, kamu kan tau sendiri kamu masih sibuk pacaran, saya nggak mau Vanesa ikut kamu malah ngga ke urus"


" Ngga ke urus gimana sih? Bukan nya dari dulu kan yang urus Vanessa itu aku? Emang ya, kamu tuh selama ini ngga pernah hargai perjuangan aku"

__ADS_1


"Kurang hargain kamu gimana sih Liv? Aku tau selama ini kamu yang urus, tapi kayak nya lebih banyakan baby sitter sama mbok Sri, kamu aja ngga mau kasih asi karena takut tubuh kamu kendor kan? Jadi kurang gimana aku? Untuk sekarang plis aku mohon Vanessa biar aku yang urus, kamu jagain itu pacar kamu di rumah sakit" jelas chandra, tiba-tiba Vanesa keluar dari mobil berlari memeluk pak chandra sambil menangis.


"Papiiiii..... Aku nggak mau ikut mami, mami paksa aku buat ikut dia.... Aku nggak mau piiiii" Tangis Vanesa pecah


"Vanessa !!!! Kamu ini apa-apa an sih, kamu nggak perlu kayak gitu, kesannya mami mau culik kamu tau gak!" Kesal Olivia karena merasa Vanesa benar-benar berlebihan


"Emang mami maksa aku kan, aku lagi makan mami tarik-tarik tadi"


"Oliv, udah ya, kamu denger sendiri kan kalo Vanesa nggak mau kalo ikut kamu, sekarang lebih baik ikutin pilihannya, jangan Sampe Vanesa yang jadi korban Vanesa ini masih kecil dan nggak tau apa-apa " ujar chandra Olivia mendengus kesal


" Oke, untuk kali ini aku ngalah, aku akan dateng lagi nanti buat jemput Vanesa" Olivia pun kembali ke mobilnya dan membunyikan klakson keras.


"Bukain her" perintah chandra Heru pun mengangguk dan membuka kan gerbang, Olivia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar yang bertahun-tahun ini ia tinggali, ada sedikit penyesalan dalam diri Olivia, tapi mengingat Bastian kembali membuat Olivia menepis rasa menyesal itu, ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit, karena Bastian masih disana.


" Malam hari eza dan Bu Atika turun dari mobil di halaman pak chandra, pak chandra tadi sudah menceritakan pada putra nya kalau Vanesa di paksa untuk ikut mama nya dan pastinya sekarang banyak pertanyaan mengganjal di hati nya dan pasti nya kini Vanesa sedang bersedih.


"Bu, .. mari masuk,.. ayo za ajak nenek masuk " pinta chandra eza pun mengangguk ia pun menggandeng neneknya masuk ke rumah megah papa nya bu Atika hanya melongo melihat ternyata menantunya dulu itu se kaya itu bukan kaleng-kaleng.


"Ternyata kamu emang kaya beneran ya Ben, saya kira dulu waktu Zahira bilang kamu orang kaya itu cuma membual hanya ingin membagus-baguskan diri di depan keluarga aja" ujar Bu Atika membuat eza dan chandra tertawa


" Hehehe, ya segini aja sih Bu, ngga kaya-raya banget, kalo kata Ira dulu yang maha kaya itu cuma Allah" ujar chandra meladeni candaan Bu Atika


"Hehe, emang kamu udah pindah agama lagi ngga sih setelah akad dulu itu?" Tanya Bu Atika


"Nggak Bu, Sampe sekarang saya masih Islam, saya lebih nyaman di agama ini sih"


"Kirain papa udah pindah agama lagi " tambah eza chandra menggeleng,


" Awalnya sih dulu ogah-ogahan mendalami agama Islam za tapi saat papa lagi di titik terendah papa waktu di rumah di Taiwan papa inget mama kamu terus jadi papa coba praktekkan apa yang selama ini mama kamu ajarin sama papa tentang sholat dan sebagainya dan berangsur-angsur papa lebih baik dan lumayan bisa menjernihkan pikiran yang tadinya buntu nggak tau harus gimana lagi dalam hidup tapi lama-kelamaan papa sadar kalo hidup harus terus berjalan dan apa yang terjadi dalam diri kita itu sudah ketetapan" jelas chandra panjang lebar


" Tapi kok aku ngga pernah liat papa solat?" Tanya eza lancang, chandra tersenyum mengingat kembali saat kecil eza yang kalau bertanya harus sampai akar-akar nya.


" Masa' papa sholat mau di tengah jalan sih za biar di liat orang"


"Hehehe, ya kali pa, oiya Vanesa mana?" Tanya eza karena tidak melihat Vanesa


"Lagi di kamarnya, gih kamu samperin, katanya sih tadi belajar" pinta chandra eza mengangguk iapun segera melangkah menuju kamar Vanesa,.


"Bu eza sudah bilang kan kalau saya ajak kalian tinggal disini?" Tanya chandra Bu Atika mengangguk.


"Mau ya Bu, saya mau lebih dekat dengan putra saya,"


"Iya ben, tapi kalo disini aku makin inget sama Ira, kalau di pikir-pikir kasian banget ya nasibnya, seharusnya kalian bahagia sekarang bisa tinggal di rumah besar melihat eza bertumbuh dewasa " kata bu Atika dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya Bu, saya pun sangat menyesalkan hal itu, bahkan Sampe sekarang saya ngga bisa maafin diri saya sendiri " tambah chandra, Bu Atika mengangguk mengusap air mata nya.


"Yasudah Bu, saya minta art bersihkan kamar kalian dulu ya, silahkan sambil di makan cemilan yang ada di meja ini" pinta chandra Sera berdiri, Bu Atika mengangguk chandra pun meninggalkan Bu Atika.


__ADS_2