
" Sayang.. sebenernya kata dokter Melani kamu bisa Pulih beberapa hari ke depan dan di perbolehkan pulang" ujar Athar saat keduanya berpelukan di ranjang rumah sakit, mama ambar sudah pulang karena ada urusan penting di butik nya.
"Terus ?" Tanya melati mendongak menatap suaminya.
"Tapi anak-anak kita musti tinggal beberapa hari lagi di sini, tunggu berat badannya naik dulu" jawab Athar, melati yang di beri tahu seperti itu matanya langsung berkaca-kaca.
"Mas ... Aku nggak mau..." Ujar melati pelan, ia tidak mau jauh dari anak-anak nya.Athar sudah menduga akan jawaban melati yang pastinya tidak mau pulang sedangkan anak-anak mereka masih di rumah sakit dan pastinya akan berada jauh dari pantauan mereka.
"Terus gimana dong yang, masa' kita musti ikut disini juga?" tanya Athar yang sedari tadi bingung dan jujur saja Athar sangat tidak betah berada di rumah sakit lama-lama, bukannya ia tidak mau menjaga melati tapi berkegiatan dan tidur di rumah sakit benar-benar sangat melelahkan bagi nya.
" mas ...Aku mau disini biar deket sama anak-anak ku, biar setiap saat aku bisa liat mereka" jawab melati yang sudah menangis.
"Tapi kan aku juga harus ke kantor yang, masa' iya aku harus ikut disini juga, aku juga musti kerja buat kalian juga" ujar Athar yang yakin kalau mereka masih disini akan makin repot kesana kemari. melati semakin menangis ia juga kasihan pada Athar tapi melati tidak mau jauh dari kedua anaknya.
"Assalamualaikum" tiba-tiba bapak burhan, Bu Wati dan faiz keluarga melati masuk ke ruang rawat melati dengan berbondong-bondong membawa banyak bawaan dari kampung, melati sontak menoleh, Athar pun menjawab salam mereka lalu ia turun dari ranjang melati menyambut ibu dan bapak mertua nya.
Bu Wati langsung menghampiri putri nya dan memeluk nya.
"Gimana nduk, sehat kamu??? Kok malah nangis? Ada yang sakit atau apa?" Tanya Bu Wati melihat keadaan putrinya, pak Burhan juga menghampiri melati, melati langsung mencium tangan pak burhan.
" Gimana Athar kata dokternya? melati baik-baik aja kan le??" Tanya Bu Wati karena melati tidak menjawab pertanyaan nya.
"Baik kok Bu, pemulihannya juga baik kata dokternya " jawab Athar
"Alhamdulillah kalo gitu, anak-anak kalian gimana?" Kini giliran pak burhan yang bertanya.
"Alhamdulillah sehat kok pak, cuma tinggal berat badannya aja yang kurang, jadi musti beberapa hari di inkubator Sampe berat badannya stabil"
"Alhamdulillah " jawab pak burhan dan Bu Wati serentak.
"Mari pak, Bu, Faiz sini duduk, pasti kalian masih capek di perjalanan " Athar mempersilahkan kedua mertuanya untuk duduk di sofa. pak burhan menggandeng Faiz menuju sofa lalu duduk disana, Athar langsung sigap mengambilkan air mineral yang sudah tersedia di kulkas tiga botol untuk kedua mertuanya menghilangkan dahaga. Bu Wati tidak duduk di sofa ia duduk di sebelah putrinya.
__ADS_1
"Gimana pak perjalanannya? Ada kendala nggak tadi?" Tanya Athar basa basi pada pak burhan.
"Nggak sih nak, malah tadi pas nunggu naik ke pesawat enak banget kita di kasih makan enak terus nunggunya di ruangan bagus ada AC nya lagi, jadi nggak kepanasan, apalagi di pesawat, kita bisa tiduran, hehe makasih ya nak, pasti ini kamu kasih tempat duduk yang mahal buat kita " jawab pak burhan menunjukkan kepuasannya.
"Alhamdulillah kalo kalian semua nyaman perjalanannya, sama-sama pak," ujar Athar.
"Ibu sehat?" Tanya melati memulai obrolan dengan ibunya melepas rindu.
"Sehat semua Alhamdulillah"
"Anak-anak kamu gimana keadaannya? Sehat-sehat semua kan?" Tanya Bu Wati
"Sehat bu, tapi ya itu berat badannya masih kurang "
" Yaudah sabar aja, cuma beberapa hari kok, yang penting semuanya sehat dan kamu jangan stress biar ASI-nya lancar"
" Iya Bu, oiya masa' aku kalo udah mendingan disuruh pulang sama dokter nya, tapi anak-anak ku di tinggal disini?" melati mengadu pada ibunya.
"Lah terus kenapa?" Tanya Bu Wati.
plakk
" Ihhh, Kok melati di pukul sih Bu" cemberut melati
" Biarin, lebay banget kamu kayak di sinetron-sinetron aja, di pikir rumah sakit ini punya nenek moyang kamu? Nginep disini kan ngalah-ngalahin hotel biayanya, udah ah, nggak apa-apa, apalagi ini kayaknya kamarnya kamar yang mahal, bukti nya nggak kumpul sama pasien-pasien lainnya, udah deh, jangan tambahin beban suami kamu, kamu mau suami kamu bangkrut gara-gara nurutin kemauan kamu itu?!"
"Ihh ibuk nih, nggak ngerti perasaanku tau" jawab melati cemberut.
"Heh ibuk ngerti ya perasaan kamu, kan dulu kamu lahirnya juga prematur, ya ibu ngerti lah"
"Oh iya ya, ya tapi kan .."
__ADS_1
"Tapi kan apalagi??" Bu Wati memotong pembicaraan putrinya.
" kalau kamu tau nih ya dulu, lima belas hari kamu di rumah sakit, sedangkan ibu di rumah cuma bapak aja yang nengokin kamu tiap hari, itu pun cuma ngasih asi, buktinya kamu masih hidup ini Sampe sekarang sehat wal Afiat " jelas Bu Wati membuat melati yang tadi nya sedih jadi cemberut.
" ibu ihhh.."
"Udah kamu nggak usah manja, apalagi ikut mertua, kamu nggak takut di semprot sama mertua kamu"
"Mertua ku baik kok"
"Iya tau mereka baik, tapi kalo semua-muanya mau nurutin keinginan kamu ya lama-lama Gedeg juga nduk"
"Yaudah-yaudah, aku pasrah aja " jawab melati akhirnya,
"Nah gitu dong, nggak usah menye-menye jadi orang"
"Ngadu ke ibu bukannya di belain malah di semprot" batin melati lumayan kesal dengan kebawelan ibu nya tapi ini lah yang membuatnya rindu.
"Oiya Bu, bapak usahanya gimana? Lancar nggak?"
"Alhamdulillah nak, sekarang orang-orang desa ada beberapa yang panggil juragan, tapi bapak selalu nolak ibu juga gitu,, nggak pernah mau di panggil juragan, hehehe, berkat modal dari suami kamu itu sekarang ekonomi keluarga kita lebih baik nak, ibu sama bapak juga udah bisa menuhin kebutuhan Faiz"
" Alhamdulillah kalo gitu buk, semoga berkah semuanya ya Bu" ujar melati ibu Wati mengangguk.
"Kamu kalau udah punya anak sering-sering pulang ya, pasti ibu bakalan makin cepet kangen sama cucu-cucu ibu" pinta Bu Wati
"Insyaallah Bu, nunggu bayinya boleh di bawa perjalanan ya " Bu Wati mengangguk.
Mereka pun ngobrol ngalor ngidul sampai mau magrib melati mandi di bantu Athar, Bu Wati dan pak Burhan pun mandi di kamar mandi luar sekalian menunggu waktu Maghrib untuk sholat.
Setelah sholat pak Burhan dan Bu Wati masuk kembali ke ruang rawat melati, ternyata di sana sudah ada ambar, Adrian dan aurel, mereka pun menyambut hangat ibu bapak melati dan sama sekali tidak menjaga jarak meskipun orang tua melati dari kampung.
__ADS_1
mereka pun membahas tentang nama yang akan di berikan pada cucu-cucu mereka dan sudah sepakat jika mereka setuju dengan nama yang di usulkan mama ambar, dan kebetulan pak Burhan pandai hitung-hitungan tentang weton yang biasanya sebelum memberikan nama anak akan di hitung dulu dari kalender Jawa, papa Adrian dan mama ambar yang tidak mengerti dengan weton-weton pun hanya mengangguk hooh ho oh saja kala pak Burhan menjelaskan angka-angka dan entah nama-nama apa yang di sebutkan pak Burhan ada yang legi, Kliwon atau apalah itu.
Dan setelah di hitung namanya ternyata cocok dan semuanya sepakat memakai nama tersebut. melihat keakraban mereka melati merasa sangat bersyukur bisa dapat mertua sebaik papa Adrian dan mama ambar.