
Eza menunjukkan ponselnya yang sedang menayangkan sebuah rekaman cctv Fiola dan Nabila berseliweran membawa ember yang sama dengan ember yang tergeletak di tempat aurel disiram air got kemarin dan terlihat keduanya berjalan cepat-cepat di cctv lorong sebelum toilet, eza menekan Video bawahnya lagi yang menayangkan fiola dan Nabila mengambil air di selokan di samping sekolah dan tepat di belakang kamar mandi tempat mereka eksekusi, karena memang disitu ada pintu menuju samping sekolah.
"Apa ini belum bisa jadi bukti kalo kalian berdua yang udah ngerjain aurel kemarin?" Tanya eza, aurel sudah menangis tidak menyangka jika yang berbuat seperti itu padanya kemarin Nabila dan fiola, orang yang dua tahun terakhir berteman dekat dengannya.
"Kalian tega banget sih, gue salah apa sama kalian? Padahal selama ini gue selalu berusaha ada buat kalian, kalian minta bantuan gue selalu usaha bantuin, tapi ini balesannya?" Tangis aurel karena selama ini memang ia beteman dengan tulus.
" Apa sih Lo rel? Lebay banget, ini kan nggak ada ngebuktiin sama sekali kalo kita yang lakuin?" Ujar fiola masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Gila ya, Lo bener-bener nggak tau diri fio, beneran egois dan cuma mikirin diri sendiri aja " ujar eza sambil mendekati aurel lalu perlahan tangan nya mengusap air mata aurel.
"Wah parah banget kalian berdua " ujar salah satu teman sekelasnya.
"Iya padahal selama ini aurel selalu bantuin tugas-tugas kalian, ihh najis deh temenan sama orang kayak gitu" tambah satunya.
Wajah Nabila pucat pasi apalagi kini video itu di tonton oleh seluruh anak-anak di kelas nya, dia malu sekali, tapi tidak dengan fiola, fiola berusaha untuk mengelak lagi,.
" Tapi kan nggak ada bukti kalo kita yang nyiram, jangan asal fitnah deh Lo" sarkas fiola tak terima.
"Selamat pagi, .. ehhh .. ini ada apa sih kumpul-kumpul gini" tanya Bu Sherly yang baru datang, semua murid-murid langsung bergegas kembali ke bangku nya masing-masing, eza pun membawa aurel ke bangkunya.
" eza kok disini?? " Tanya Bu Sherly lagi.
"Ehh iya Bu, maaf, saya lagi ini negur fiola sama Nabila, mereka udah ngerjain pacar saya kemarin dan keterlaluan banget, saya nggak terima" jawab eza tegas membuat aurel dag Dig dug serr, seketika kekesalan di hatinya pada fiola dan Nabila sirna sudah tergantikan oleh sang pangeran yang bilang pada semua orang bahwa dirinya ini kekasihnya.
"Ya Tuhan.. kebaikan apa yang di lakukan oleh ku pada zaman dahulu " batin aurel hatinya penuh dengan bunga-bunga karena perlakuan eza.
"Ehh siapa pacar kamu? aurel ??" Tanya Bu Sherly lagi karena melihat eza di samping aurel, eza mengangguk.
"Iya Bu, fiola sama Nabila udah nyiram air got kemarin pas pulang sekolah, dan saya juga punya bukti-bukti nya, saya mau mereka di hukum Bu, dan kalo bisa di panggil orang tua nya biar nggak di ulangin lagi, " ujar eza makin membuat aurel meleyot karena eza mati-matian membelanya. Sedangkan fiola santai saja toh Bu Sherly selama ini lumayan dekat dengan nya dan juga keluarga nya karena mama fiola sering memberikan hadiah-hadiah atau sekedar oleh-oleh jika dari luar negeri untuk guru-guru terutama yang perempuan agar tidak ada yang berani pada fiola saat di sekolah jadi kadang banyak dari mereka yang cari muka agar terlihat baik di hadapannya, dan fiola yakin kali ini pasti Bu Sherly tidak akan menuruti permintaan eza, tapi Nabila sudah takut, dia tidak berani untuk sekedar menatap Bu Sherly eza atau bahkan aurel sekalipun.
"Gitu ya za, yaudah kalo gitu kamu ke pak Cipto kasih bukti-bukti nya ke beliau, biar pak cipto yang menangani anak-anak nakal kayak gini, kamu tenang aja ibu akan menjamin masalah ini sampai tuntas sampai mereka mendapatkan hukuman, dan aurel kamu juga jangan khawatir, saya akan menghubungi guru-guru yang lainnya untuk membantu menyelesaikan masalah ini sampai mereka berdua mendapatkan hukuman yang setimpal" jawab Bu Sherly yang membuat fiola kaget, sedangkan eza tersenyum.
"Bagus Bu, kalau begitu saya permisi ke kelas dulu, saya titip aurel jangan Sampe di apa-apain lagi sama dua orang ini " ujar eza sambil melangkah keluar.
"Iya eza, kamu tenang aja, aurel pasti bakal aman" jawab Bu Sherly.
Sedangkan Nabila matanya sudah berkaca-kaca, ia menyesal telah mengerjai aurel tapi bagaimanapun juga dia hanya menurut pada fiola dan tidak dapat membantah keinginan fiola.
Bu Sherly pun mulai bicara dan memberikan nasehat agar tidak ada kejadian seperti ini, setelah menasehati panjang lebar Bu Sherly lalu memulai pelajaran nya.
"Apaan sih Lo nangis segala," bisik fiola kesal pada Nabila
"Gue takut fi, Lo tau sendiri kan pak Cipto orang nya gimana, orang tua kita pasti bakal di panggil, dan di ceramahi habis-habisan" jawab Nabila.
"Iya sih, tapi ya gimana ya, gue juga nggak tau lagi nih, kita udah ketahuan"
" Iya gue malu banget, ini seisi kelas tau semua kita pasti bakalan nggak ada yang suka in" kata Nabila
" Udah Lo santai aja dulu lagian kan masih ada gue sebagai temen Lo, buat urusan itu apa kata nanti aja,, lagian gue kesel banget sama si Bu Sherly dasar nggak tau diri, bisa-bisanya nggak belain gue" kesal fiola. Akhirnya mereka pun mengikuti pelajaran sampai selesai, tapi saat hendak istirahat Bu Sherly meminta mereka berdua menghadap pak Cipto, dengan jantung berdebar keduanya lalu menuju ruangan pak Cipto selaku guru BK yang di takuti murid-murid yang lain, selain bila menasehati panjang lebar biasanya pak Cipto itu akan menghukum murid yang bersalah dengan membersihkan seluruh sekolah, bahkan toilet dan wc sekalipun dengan di tunggui di hadapannya, membuat siswa-siswi pun tidak ada yang bisa berbohong, karena itu lah tidak ada yang berani jika sampai berurusan dan di panggil oleh pak Cipto.
__ADS_1
Fiola dan Nabila memasuki ruangan pak Cipto dan ternyata kedua orang tua mereka sudah ada di dalam bahkan papa mama fiola yang baru tadi pagi pulang dari luar negeri.
"Pa.. papa sama mama udah disini aja" tanya fiola menghampiri kedua orang tua nya.
" Iya tadi disuruh buru-buru kesini karena kamu katanya udah buat masalah" jawab mama fiola.
"Sudah fiola Nabila kalian duduk" pinta pak Cipto, Nabila dan fiola pun ikut duduk, dan mulai lah pak Cipto menceramahi mereka termasuk orang tua Nabila dan fiola bahkan sampai tiga puluh menit lebih pak Cipto masih menasehati yang intinya tidak di perbolehkan tindakan seperti itu dan itu termasuk bullying, dan mereka di hukum dengan membersihkan halaman serta membersihkan selokan yang kemarin keduanya mengambil air got untuk di siramkan pada aurel, mendengar hukuman untuk putrinya tersebut membuat mama fiola murka, dari dulu anak nya yang selalu dimanja kini haruskah di susahkan dengan hukuman ini.
"Maaf pak saya keberatan, saya nggak mau anak saya bersihin selokan itu" protes mama fiola.
"Maaf Bu, tidak membersihkan bagaimana kok, hanya mengambil daun-daun yang berjatuhan disana kok agar tidak menyumbat saluran air"
"Tetep aja pak saya nggak terima, mending saya bayar aja siapa kek yang suruh bersihin" tambah papa fiola.
" Iya pak saya nggak tega anak saya bersihin selokan " tambah papa Nabila juga
"Maaf ibu bapak , ini perintah dari eza langsung, agar Nabila dan fiola jera tidak mengulangi perbuatannya lagi" kata pak Cipto.
"eza ? Pak dia kan cuma orang lain dan yang di kerjain anak saya kan aurel temannya sendiri, pasti itu cuma bercanda dan nggak mungkin Sampe segitunya." Kata mama fiola.
"Iya pak, mana sih yang namanya eza itu, panggil aja kesini biar saya yang ngomong" kata papa fiola.
"Baik biar saya hubungi Bu Sherly agar memanggil dia kesini" pak Cipto pun menghubungi Bu Sherly agar bisa memanggil kan eza lewat speaker sekolah, tidak membutuhkan waktu lama eza pun menghampiri ruangan pak Cipto yang ada di sebelah ruang guru.
"Permisi pak" eza mengetuk pintu lalu pak Cipto menyuruhnya masuk eza pun masuk dan di sofa ia sudah melihat papa dan mama fiola serta Nabila.
"Jadi gimana pak?" Tanya eza melangkah mendekati pak Cipto dan yang lainnya.
"Heh jadi kamu yang namanya eza, kamu pikir kamu siapa mau hukum-hukum anak orang seenak nya, ini anak saya dari kecil Sampe sekarang nggak pernah loh saya biarin pegang sapu, ini kamu seenaknya malah nyuruh bersihin selokan" marah mama fiola.
"Iya, fiola ini anak kesayangan saya dan saya nggak mau anak saya Sampe kenapa-napa " tambah papa fiola, sedangkan mama dan papa Nabila hanya menonton menunggu keputusan eza
"Bapak pikir pacar saya juga nggak di perlakukan seenaknya sama anak bapak itu?? Sekarang saya tanya pak bapak mau nggak anak kesayangan bapak itu di siram se ember air got yang pastinya bau dan menjijikkan, bapak sama ibu nggak mikir perasaan aurel?"
"Ya mungkin fiola lagi bercanda kamu jangan gede-gede in masalah enteng begini lah" jawab papa fiola yang ingin masalah ini cepat selesai tanpa menghukum putrinya.
" Ya nggak bisa gitu dong pak, bapak pikir saya juga terima pacar saya di gituin? "
"Oh kamu nggak terima? Sini saya Tantang sekalian, mau apa kamu,?" Papa fiola maju hendak menghadapi eza.
Pak Chandra papa eza ada di ruangan guru dari tadi, pak Chandra baru pulang dari tugas di luar negeri dan hendak menemui eza karena rindu pada putra nya sekalian memberikannya oleh-oleh, jadi barusan ia menyusul eza ke sekolah sambil ngobrol-ngobrol dengan pak Hendro orang yang ia tunjuk untuk menggantikan posisi pak Joko, tapi karena melihat Bu Sherly memanggil eza karena di panggil ke ruangan pak Cipto pak Chandra pun penasaran ada masalah apa dengan putranya.
"Permisi.,... "Pak Chandra tiba-tiba masuk menghentikan langkah papa fiola.
"Pak Chandra? Mari pak silahkan masuk" pak Cipto mempersilahkan pak Chandra masuk, Chandra pun langsung masuk apalagi melihat eza yang sedang berseteru dengan salah satu wali murid.
"Ada apa ya? Kenapa bapak marah-marah sama anak saya?" Tanya Chandra yang sudah berdiri di sebelah eza.
"Pak Chandra??? Chandra Setiawan??" Kaget papa fiola mengingat wajah Chandra di foto yang sering berseliweran di berita media sosial, koran, majalah, dan media-media lainnya, bahkan perusahaan nya sering mengajukan kerja sama tapi tidak pernah bisa karena memang Chandra sangat selektif memilih partner dan tidak sembarangan orang bisa, yang jelas harus punya koneksi dan tentunya sangat menguntungkan untuk nya.
__ADS_1
"Iya ... Saya Chandra Chandra Setiawan! Dan ini putra saya eza, ada masalah apa anda dengan putra saya?" Tanya pak Chandra dengan nada nyolot membuat papa fiola agak takut.
" Eeee.. Saya cuma ngasih tau anak bapak, biar dia nggak seenaknya ngatur-ngatur hukuman buat murid lain" ujar papa fiola yang bernama Helmi itu, dia sedikit menurunkan volume suara nya dan tidak ingin ada masalah apa-apa dengan pak Chandra
"ngatur-ngatur gimana maksudnya?" Tanya Chandra
"Masalah aurel kemarin za??" Tanya pak Chandra eza mengangguk
"Masa' dia nyuruh pak Cipto kasih hukuman ke anak saya, bersihin selokan loh pak, bapak bayangin aja anak saya kan nggak mungkin bersihin selokan" kata pak Helmi
"Kenapa nggak mungkin? Saya pemilik sekolah ini dan otomatis anak saya juga" Tanya pak Chandra
"Ee... Saya nggak mau anak saya lakukan itu pak "
"Yasudah bapak ajarin saja anak bapak di rumah nya sendiri biar dia nggak gangguin temen yang lain" jawab pak Chandra membuat orang-orang disana kaget
" Maksud bapak usir anak saya dari sekolah ini??" Tanya pak Helmi yang sudah tersulut emosi
" Bukankah anak bapak mengerjai temannya dengan sangat keterlaluan?, kalau dia dan kalian selaku kedua orang tua nya egois seperti ini mending tidak usah di sekolah kan disini, sekolah aja sendiri di rumah kan nggak akan ada peraturan dan itu pasti nya terserah kalian " jawab pak Chandra enteng
"Nggak mungkin pak, anak saya bulan depan udah ujian kelulusan masa' ia mau pindah?" Tanya mama fiola
"Yasudah kalau begitu kerjakan hukuman yang sudah di jatuhkan, toh cuma bersihin selokan doang, itu nggak ada apa-apa nya sama aurel yang mereka siram sama airnya" tegas Chandra, mama papa fiola terdiam saling pandang.
"Atau nggak ... Gimana kalau disiram air selokan juga sama seperti apa yang mereka lakukan pada aurel " tambah eza
"Nggak!!!" Teriak Nabila dan fiola.
"Jangan dong eza, saya makin nggak mau kalo itu" mama fiola pun menambahkan
"Yasudah tinggal di lakukan hukuman nya" kali ini pak Cipto menambahkan
"Papa....." Rengek fiola, tapi papa nya hanya diam.
"Kalau begitu kita permisi dulu " pamit pak Chandra lalu menarik eza keluar dari sana.
Semuanya pun keluar dari sana setelah berpamitan pada pak cipto
"Yaudah fio papa sama mama pulang dulu, lakuin aja tuh hukuman kamu lagian ini salah kamu juga papa juga udah kenyang tadi di ulti sama guru kamu" kata papa fiola sambil melangkah pergi
"Sayang maafin mama, nanti kita bales itu aurel temen kamu itu" bisik mama nya lalu ikut melangkah pergi juga.
"Nabila... Papa sama mama pulang dulu ya dan sekali lagi mama mohon kamu jangan lakuin ini lagi, kamu itu harus fokus belajar, jangan nakal lagi kayak gini, terus kerjain hukuman kamu, bertanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin sebagai pelajaran kedepannya " pamit mama Nabila.
"Iya ma, pa, maafin Nabila ya, bila janji nggak akan kayak gini lagi dan bikin malu kalian " kata Nabila, mama papanya pun mengangguk lalu mereka pun juga pulang.
Mereka pun terpaksa melakukan hukuman menyapu halaman dan membersihkan selokan bahkan di awasi langsung oleh pak Cipto membuat mereka tidak bisa berbohong, meskipun sesekali fiola dan Nabila sambil mual-mual pak Cipto tidak memperdulikan nya dan di suruh terus melanjutkan pekerjaannya.
.
__ADS_1
.