Cinta Zainab

Cinta Zainab
Kesan Pertama


__ADS_3

Pukul 06.30 pagi, matahari mulai merangkak naik. bayangannya terlihat dari pepohonan yang meliuk-liuk diterpa angin. Dedaunan terseret, membawa hawa dingin yang menusuk.


Di jalanan juga sudah sangat ramai, hilir mudik kendaraan baik motor dan mobil yang mengantar anak-anak ke sekolah. Maklum, ini hari senin. Hari tersibuk daripada hari-hari lainnya. Anak-anak akan melaksanakan upacara, dan apabila terlambat maka hukumanlah sebagai gantinya.


Deru motor matic Zainab mulai memasuki gerbang sekolah.


"Assalamualaikum, selamat pagi Bu Zainab". Sapa Pak Karim. Beliau adalah Satpam sekaligus penjaga sekolah itu.


"Walaikumsalam". Jawab Zainab sambil tersenyum.


"Biar saya bantu Bu motornya ke tempat parkiran". Pintanya.


"Iya pak, terimakasih". sambil berlalu ke kantor Guru.


Zainab sudah hampir 3 tahun mengabdi sebagia Guru di sekolah XXX. Karena memang itu cita-citanya sejak kecil. Meskipun sempat ditentang oleh Ayahnya, namun dengan berbagai cara pada akhirnya sang Ayah menuruti permintaan putrinya itu.


Bel pertanda upacara berbunyi. Anak-anak mulai berkumpul di lapangan, tak jarang dari mereka ada yang datang terlambat, berlarian agar bisa mengikuti upacara.


***


Jam istirahat.


Zainab menuju ruang kepala sekolah, karena ada hal penting yang harus disampaikan.


Dia berpapasan dengan Pak Karim.


"Ehh ada Bu Solbatik" katanya seraya melepaskan senyum.


Zainab yang disapa malah celingukan, bingung siapa pikirnya yang ditanya.


"Maaf Pak Karim nyapa siapa ya?" mengerutkan dahi. sambil melihat ke samping kanan, kiri dan belakang.


Aduh sedikit merinding, jangan-jangan Pak Karim bisa melihat makhluk tak kasat mata. pikirnya.


"Manggil Bu Zainab, memang siapa lagi yang ada disini selain kita berdua". Beliau terkekeh melihat ekspresi Zainab.


"Oohh. Saya pikir siapa Pak. Tapi kan nama saya Zainab bukan Sol Solbatik Pak?" tanyanya penasaran.


"Solbatik itu singkatan dari Soleha, Baik dan Cantik. begitu Bu Zainab." masih dengan kekehannya.


"Oohhh gitu. Ternyata Pak Karim gaul juga bisa membuat singkatan semacam itu." ikut tertawa meskipun sambil menutup mulutnya.


Saat mereka tengah tertawa, ternyata Kepala sekolah mendengarnya dan keluar dari ruanganny. Diikuti oleh seorang lelaki yang katanya sih melamar sebagai Guru baru di sekolah itu. Karena sudah 3 minggu belum ada pengganti atas pensiunnya Guru yang lama.


"Wah seru sekali sepertinya Bu Zainab dan Pak Karim. sampai terdengar ke ruangan saya." kata Kepala Sekolah sambil tersenyum


"Maaf Pak Agus kalau ternyata kami menggangu." Zainab merasa tidak enak hati.


"Tidak, tidak. saya hanya bergurau. mengetahui jika Zainab menunjukan sikap canggung.


"Bu Zainab perkenalkan ini Pak Yusuf. Beliau yang akan menggantikan Bu Siti sebagai Guru Bahasa Inggris." menepuk bahu Yusuf.

__ADS_1


Zainab pun menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memberi salam dan tersenyum.


Demikian Yusuf membalas salamnya sambil menganggukan kepalanya.


"Maaf Pak Agus, ada yang saya ingin bicarakan dengan Bapak." kata Zainab memecah suasana.


"Ohh mari masuk ke ruangan saya." Ajaknya yang diikuti oleh Zainab dari belakang.


***


"Mari Pak Yusuf, saya akan mengajak Bapak untuk berkeliling sekolah ini. biar nanti kalo tersesat, ga kesasar." ajak Pak Karim seraya bercanda.


"Baik Pak." Mari. disertai tawa karena kerecehan Pak Karim.


Meski sudah memasuki usia senja, beliau masih terlihat sehat dan bugar. memiliki tingkat humor yang lumayan.


Mereka berjalan beriringan. Selayaknya Bapak dan anak. Pak Karim mulai menjelaskan dari satu ruang ke ruangan lainnya. Dari lantai satu dan dua. Sekolah itu cukup luas, seperti sekolah pada umumnya.


"Pak Karim sudah berapa lama bekerja disini?" tanyanya seraya terus berjalan ke lorong lorong kelas berikutnya.


Pak Karim menghentikan langkahnya, seolah tercekat bayangan masa lalunya yang kelam kembali datang dihadapannya.


"Sudah 15 tahun saya bekerja di sini, sekolah ini sudah saya anggap rumah sendiri. Setelah kepergian istri dan kedua anak saya. Kami terlibat kecelakaan saat itu, hati ini hancur harus kehilangan orang-orang yang saya cintai. Hidup saya terpuruk dan berantakan seperti gelandangan. Setelah sadar dan mengetahui bahwa hanya saya yang selamat akibat kecelakaan beberapa tahun lalu." Air mukanya berubah sedih dan kristal hangat mulai mengalir dari kedua pelupuk matanya. Itu derita kelam semasa hidupnya.


"Maaf Pak. Saya tidak bermaksud...." belum selesai Yusuf melanjutkan kalimatnya.


"Tidak apa-apa Pak Yusuf. sekarang saya bahagia karena semenjak bekerja disini, saya bisa memperbaiki kehidupan saya sebelumnya. melihat anak-anak yang bersekolah disini, sesekali mengobrol dan bercanda dengan mereka. itu sudah membuat hati saya terobati." Sambungnya seraya menyeka air mata.


"Aaminn." timpal Yusuf mengaminkan doa Pak Karim.


Ternyata dibalik sosok humoris yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu, memiliki kenangan yang memilukan. Dibalik senyumnya pernah terburai air mata. Dibalik hancur hati dan hidupnya, pasti lah ada campur tangan Allah. Kita sebagai hambanya hanya butuh sabar dan sholat dalam menghadapi masalah dalam hidup ini.


Merekapun melanjutkan langkahnya.


***


Jam istirahat sudah usai, anak-anak mulai kembali belajar di dalam kelas.


Ketika melewati kelas Zainab, Yusuf dan Pak Karim berhenti kerena menurut Pak Karim tempat disini adalah objek dimana pemandangan dari segala penjuru terlihat. Hingga tanpa mereka sadari sudah mengganggu kenyaman belajar anak-anak di dalam kelas.


"Eehh Sinta lihat deh tuh, ada cowok ganteng banget." celetuk Maya seraya menoyorkan kepala Sinta agar melihat apa yang dimaksud.


"Isshhh kamu apa apaan sih May." mencoba mengelak tapi Maya malah menangkupkan kedua tangan dipipi Sinta dan menolehkan ke objek itu berada.


"Masya Allah May. Nikmat Tuhan Kamu yang manakah yang kamu dustakan. Sinta mengutip sebuah ayat sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tanpa disadari Sinta setengah berteriak, sehingga menggangu anak-anak yang lain untuk ikut melihat apa yang Maya dan Sinta ributkan.


Sedangkan Zainab masih belum menyadari apa yang terjadi di dalam kelasnya, bahwa ada kegaduhan. karena sedang fokus dengan laptonya.


Namun semakin lama semakin tak terkendali, anak-anak mulai mendekat ke jendela, mengetuk ngetuknya agar Yusuf melihat ke arah mereka.


Zainab yang mulai merasa ada keributanpun mengalihkan pandangannya. Diapun terkejut menyaksikan anak didiknya terutama perempuan tidak duduk ditempat, malah pindah berdiri di dekat jendela.

__ADS_1


Ada apa. pikirnya dalam hati.


Zainab pun segera keluar kelas untuk mengetahui siapa yang anak- anak lihat dari balik jendela. Rupanya Yusuf dan Pak Karim yang sedang berbincang. Zainab pun segera mengahmpiri mereka.


"Maaf Pak Karim, dan Pak Yusuf. apa yang kalian lakukan di sini? saya sedang ada kelas dan tiba-tiba semua anak di dalam kelas membuat gaduh, jadi kegiatan belajar menjadi terganggu." Zainab melancarkan kalimatnya dengan tegas dan memandang mereka bergantian dengan tatapan tajam.


"Kami tidak bermaksud menggangu Bu Zainab. Saya hanya sedang mengajak Pak Yusuf berkeliling melihat gedung sekolah kita ini." Jawab Pak Karim menjelaskan agar tidak terjadi kesalahfahaman.


"Tapi kelas saya jadi terganggu Pak Karim." tegas Zainab lagi.


Tiba-tiba semua anak keluar kelas menghampiri Bu Gurunya yang sedang berdebat. Selain itu ditambah lagi mereka penasaran siapa sosok lelaki yang bersama Pak Karim.


"Aduh, Bu Zainab jangan marahin Abang Mas ganteng ini dong Bu." kata Maya berseloroh mensejajarkan tubuhnya di samping Zainab.


"Iya Bu Zai, nti kalo ibu galak -galak kayak gitu. mana ada laki-laki yang mau jadi suami ibu. Sanbung Sinta seraya diikuti anak anak yang lain tertawa.


Ya, semua mentertawakan Zainab.


Wajah Zainab berubah memerah, dia mengakui bahwa memang dinilai sebagai Guru dengan embel embel galak. Sudah bukan rahasia lagi di sekolah itu, jika itu sudah diketahui oleh para Guru dan siswa.


Akan tetapi bukan Zainab, jika tidak ada alasan lain dibalik itu semua. Zainab juga sosok Guru yang pantas untuk menjadi panutan, terutama untuk siswa perempuan. Secara tidak langsung, Dia mencontohkan bagaiman seharusnya menjadi seorang perempuan muslimah yang baik dan benar menurut ajaran islam. Bersikap galak hanya semata- mata agar semua orang tahu bahwa Dia adalah perempuan yang kuat dan tegar, bukan sebaliknya ganjen.


Lain halnya dengan Yusuf, yang terkejut atas ucapan seorang anak SMA yang mungkin juga ada benarnya. Dia ikut tersenyum, sebenarnya ingin tertawa sanpai terbahak bahak, tapi Dia menjaga image dong. secara sebagai Guru baru masa kelakuannya seperti itu.


Pak Karim lain lagi, baginya hal itu sudah sering Ia dengar dari mulut anak-anak di sekolah itu. Dia sudah mengetahui bagaimana karakter Zainab sebagai Guru. Namun selepas mengajar, Zainab akan menjadi pribadi yang berbeda, seorang yang enak diajak bicara dan siapapun pasti akan nyaman saat berada didekatnya.


"Maaf Bu Zainab jikalau saya dan Pak Karim membuat anda kurang nyaman berada di sini. kami akan melanjutkan berkeliling sekolah." Akhirnya Yusuf membuka suara sengan permintaan maafnya. Dia tahu Zainab terganggu.


"Baiklah, saya maafkan kesalahan anda. Jadi silahkan pergi." Ucap Zainab mengusirnya secara halus.


"Pak Guru ganteng, boleh salaman gak?" Maya dengan senyum centilnya mengulurkan tangan.


"Maya. panggil Zainab penuh ketegasan.


"Ayo semua masuk ke dalam kelas, kita lanjutkan belajar." perintah Zainab.


"Ahh Ibu, cuma salaman aja gak boleh." Keluh Maya sambil memanyunkan bibirnya dan dengan rasa kecewa dan kesal.


"Maya, kamu pasti tahu bahwa... " kalimatnya dipotong oleh Sinta.


"Bahwa kita itu gak boleh salaman sama laki laki, karna bukan mahrom." sambil menirukan gaya bicara Zainab, yang selanjutnya diiringi gelak tawa semua anak-anak.


"Sudah cukup anak-anak, sebaiknya kalian masuk ke dalam kelas dan lanjutkan belajar." perintah Yusuf dengan sikapnya yang berwibawa.


"Kalo Bapak yang minta, baru kami mau masuk." kata Maya sambil melirik Zainab.


"Ayo Sinta." menarik lengan Sinta menuju ruang kelas.


Zainab hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah anak didiknya itu. Dia tahu bahwa Maya memang suka membangkang jika diperintah olehnya. Tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah jika diberi.


Akhirnya semua anak anak kembali masuk ke dalam kelas, dan melanjutkan belajar dengan sisa waktu beberapa menit lagi sebelum bel pulang berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2