
Zainab membenamkan dirinya di tempat tidur. Dia masih dalam keadaan terisak. Seluruh perasaan yang dia miliki, kini tidak berperasaan lagi. Dia tidak menyangka bahwa Ayahnya akan melakukan hal sekasar itu terhadap Yusuf. Bukan cinta yang salah, tapi mungkin saja manusia tidak bisa menepatkan diri dan melihat siapa yang dicintainya, Akan tetapi apakah hati akan memahami hal itu? Tentu saja tidak jawabannya.
Untuk melepaskan Yusuf dirasa tidaklah mungkin. Sebab hati ini terlanjur tinggal di sana. Bukankah Allah sang Maha membolak-balikan hati manusia? Pasti Allah akan mampu mengendalikannya. Karena hatilah yang paling banyak berperan. Perlu bekerja lebih keras untuk menyelesaikan semuanya.
Ada dua pilihan untuk dirinya dan Yusuf. Pertama, tetap mempertahankan statement, mereka harus bersama berjuang baik dalam usaha dan do'a. Kedua, mereka harus menyudahi permasalahan ini, menerima bahwa mereka tidaklah berjodoh. Namun, apakah mereka mampu memilih? Baik pilihan pertama ataupun yang kedua, sama beratnya.
"Zai?" Risa yang datang masuk ke kamar Zainab dengan tergopoh-gopoh. "Apa yang sudah terjadi?." Tanyanya penuh keheranan.
Zainab membalikan tubuhnya dan segera bangun memeluk Risa. Dia tidak menjawab pertanyaan kakak iparnya itu, justru tangisnya kembali pecah dan semakin deras. Di kepala Risa muncul banyak tanya, mengenai apa yang telah terjadi, tadi. Fikri pun masih mengorek informasi pada Mbok Cici.
"Zai? Tenangkan dirimu! Apa yang sudah terjadi? Tanya Risa lagi.
Fikripun masuk dan dia mengampiri Zainab dan istrinya yang masih berpelukan. "Zainab." Panggilnya pelan. Pelukan itu terlepas, dia menghapus air matanya. Jilbab yang ia kenakan juga basah, entah sudah berapa banyak air mata yang sudah dia keluarkan. Kedua matanya terlihat sembab. "Mas Fikri akan mencoba bicara dengan Ayah, nanti." Seolah Fikri sudah mengerti atas apa yang terjadi.
"Duduklah.! Ajak Risa. "Dan jangan menangis lagi. Maaf, kami pulang terlambat. Jadi, tidak bisa menemani mu tadi." Ucap Risa penuh sesal.
Zainab masih terdiam. Lidahnya terasa kelu. Dia merasa tidak membutuhkan apapun lagi. Sakit hatinya menutupi akal sehatnya. Entah dimana Zainab yang tegar, tegas dan terkesan galak itu? Apa hanya karena cinta, kemudian dia menjadi berantakan seperti itu? Mungkin bukan karena tidak mendapat restu sang Ayah, melainkan mendengar dan meyaksikan dengan mata kepala dan telinganya sendiri, melihat sosok Ayahnya yang sangat kasar dan merendahkan derajat orang yang dicintainya, yang membuatnya nyaris gila.
"Zai, tolong jangan diam saja. Kami bingung harus melakukan apa? Bicaralah!" Risa yang sudah tidak tahan melihat Zainab, akhirnya kesal juga. Meskipun dia sendiri mengerti bahwa mungkin saja jiwa Zainab tengah merasakan kepedihan.
Air mata Zainab kembali berlinang. "Aku pun bingung dengan diriku sendiri." Katanya masih sesenggukan.
"Mas Fikri akan membantu mu. Percayalah, asalkan kau jangan seperti ini!." Fikri ikut larut dalam kesedihan adiknya.
"Mbak Risa juga akan selalu disampingmu. Mendukungmu."
Zainab merasakan ada asupan energi dari orang-orang terdekatnya. Mbok Cici yang menjadi saksi pun terlihat menangis di ambang pintu. Kedua tangannya memegang nampan berisi makanan. Karena Zainab belum makan sejak tadi. Risa yang mengetahuinya, kemudian menyuruhnya untuk masuk.
__ADS_1
"Ini makanannya, Non. Sejak tadi Non belum Makan." Tutur Mbok Cici dengan nada cemas.
"Terimakasih, Mbok. Tapi, Zai tidak memiliki nafsu untuk makan."
"Makanlah Zai. Walaupun hanya sedikit. Bagaimana kau akan menghadapi hari esok, jika kai saja tidak peduli dengan dirimu sendiri." Fikri mengehela napas. "Bukankah kau menginginkan cinta itu untuk di perjuangkan, itu semua butuh tenaga untuk melakukannya." Imbuhnya.
Risa merasa takjub atas kebijaksanaan suaminya itu. Hmm, cintanya terasa bertambah lagi untuknya. "Benar apa yang dikatakan Mas Fikri, hidup juga butuh makan bukan hanya harapan." Ujarnya seraya tersenyum.
Kali ini Zainab ikut tersenyum. Kata-kata Risa begitu menggelitik. Akal sehatnya juga telah kembali. Dia dapat berpikir jernih. Tidak mungkin dia harus berada dalam keterpurukan yang gelap. Justru, akan membuatnya terbakar secara perlahan, ibarat lilin. Dia harus bangun sebelum benar-benar jatuh dalam jurang keputus asaan.
"Baiklah, Zainab akan memakannya nanti. Zai, sholat ashar dulu."
"Ingat, pasrahkan semua kepada Allah. Mengadulah hanya kepada-Nya. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadamu." Fikri memegang bahu Zainab, menyalurkan semangat untuknya.
"Kami tinggal dulu." Risa berpamitan. Dan semuanya pun ikut meninggalkan kamar Zainab.
***
"Mungkin kami memang tidak berjodoh." Yusuf menyimpulkan cepat. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Antum katakan jika kemarin hasil dari istikharah, semuanya baik. Tapi, mengapa berbanding terbalik?." Ustadz Harun mencoba berpikir keras. "Apa mungkin ini adalah salah satu bentuk ujian cinta untuk kalian berdua." Ujarnya.
"Ane tidak ingin menggantungkan harapan lagi, Ust. Ane tidak mau terjatuh lagi di tempat yang sama." Yusuf berucap penuh keputus asaan.
"Jadi, antum menyerah?." Tanya Ustadz Harun karena Yusuf berbicara bahwa dirinya sudah tidak memiliki harapan apapun.
"Ane bingung. Apakah harus tetap bertahan atau memilih pergi." Yusuf mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Bu Tina keluar dengan senampan berisi teh hangat dan makanan ringan. Dirinya juga belum mengetahui kabar dari putranya setelah melakukan pertemuan dengan Ayah Zainab. Bu Tina pun duduk, ikut menyimak obrlan antara Yusuf dan Ustadz Harun.
Yusuf mengedarkan pandangan kepada Ibunya. Tidak bisa diartikan tatapan matanya, sebab setelah menerima hinaan itu. Dirinya begitu sakit hati.
"Maafkan Yusuf, Bu. Tidak bisa membawa Zainab kemari sebagai menantu Ibu." Yusuf menggenggam tangan Ibunya. Keduanya berpandangan.
Tenggorkan Bu Tina tercekat. Dirinya terkejut atas apa yang di sampaikan anaknya itu. Rasa ridak percaya mulai membumbung tinggi dihadapannya. "Sebenarnya Ibu sedih mendengar kabar ini, mungkin dia bukan jodoh yang Allah pilihkan untuk mu." Tuturnya.
Tidak mungkin Yusuf menceritakan penghinaan yang telah dia terima. Dan sampai dia harus diseret keluar, Ibu mana yang tak sedih jika mengertahui anak kesayangannya diperlakukan seperti itu. Selama sembilan bulan sepuluh hari mengandungnya dengan susah payah, melahirkannya, dan menyusuinya, di belainya dengan kasih sayang, harus dihina serendah itu oleh orang lain.
"Yusuf, bagaimana jika Zainab bertahan?." Perkataan Ustadz Harun membuat keduanya menoleh.
"Apa maksudnya?." Bu Tina merasa bingung dan penasaran.
Ustadz Harun menceritakan bahwa Ayah Zainab tidak memberikan restu untuk keduanya. Sebab, status sosial mereka yang berbeda. Tanpa mengimbuhkan bahwa Yusuf telah mengalami penghinaan. Semula Yusuf takut saat Ustadz Harun mencerikan kronologisnya, namun akhirnya dia dapat bernagas lega.
"Mungkin kami yang salah, tidak boleh berharap lebih kepada Nak Zainab. Kami harusnya sadar diri, dan tahu kami ini siapa." Bu Tina menanggapi.
"Saya benar-benar berharap kepada mu, Suf. Entah mengapa hati saya begitu yakin terhadap mu. Meskipun saya bukan Ayahnya Zainab, tapi saya melihat kamulah yang pantas bersanding dengannya." Ustadz Harun menaruh besar harapan itu kepada Yusuf.
Yusuf menghelas nafas panjang. Bukannya dia tidak ingin, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah dia harus siap menerima hinaan untuk yang ketiga kalinya. Mungkin saja akan lebih parah dari apa yang baru dia dapatkan. Permata indah itu sungguh mahal untuk di genggam.
"Saya akan beristikharah lagi, Ust. Untuk meyakinkan diri saya. Dan menentukan langkah apa yang akan saya ambil dikemudian hari. Saya juga tidak ingin melakukan hal yang sia-sia nantinya." Yusuf ingin kembali lagi mencari jawaban.
"Hmm, baiklah." Ustadz Harun meraih gelas miliknya.
*Sungguh, aku telah menjelaskan kepada otakku untuk usah memikirkannya lagi, namun hatiku tetap tidak mau mengerti. Aku menjelaskan kepada otakku untuk tidak lagi menaruh harapan kepada gadis itu, namun aku tidak tahu caranya untuk membuat hatiku mengerti. Aku menjelaskan kepada otakku agar lebih baik pergi darinya, masih banyak cinta-cinta yang lain. Tetapi hatiku masih juga tidak mau mengerti. Aku menjelaskan kepada otakku untuk menghilangkan saja perasaan ku, lagi dan lagi justru hatiku menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1
Kemudian aku bertanya kepada hatiku. Hei hati, macam kau ini? Dia berkata menjawab pertanyaanku. Akulah yang sesungguhnya yang harus kau ikuti. Karena aku adalah qalbu. Mintalah petunjuk kepada Tuhanmu dengan berdoa, niscaya kau akan mengerti mengapa aku begini.
***Bersambung****