
"Kamu kenapa sih Zainab?" Tanya Risa. Risa adalah saudara ipar Zainab. Istri dari Kakak Zainab.
"Apa hari ini ada masalah lagi di sekolah"
"Cemberut gitu"
"Entar cepet tua loh". Masih dengan penuh tanya.
"Mba Risa nih, sama aja kayak anak-anak. Sehari aku udah dikatain yang gak lakulah, cepet tualah."
"Oohhh, jadi manyun ny cuma gara -gara itu. Bukannya itu udah biasa ya Zai? Seraya menuangkan teh dari teko ke cangkir milik Zainab.
"Iya sih, tapi hari ini bukan hanya masalah anak-anak saja melainkan ada guru baru yang nyebelin, sok cool, meski kalo dilihat lihat sedikit tampan." mendadak tersenyum tapi langsung manyun lagi.
"Eehh abis senyum ko manyun lagi sih?". Selidik Risa melihat keanehan ekspresi adik iparnya itu.
"Gak apa-apa mba." yang pasti dia itu nyebelin buangetttt".
"Maksudnya ganteng-ganteng nyebelin." menyenggol bahu Zainab menggodanya.
Zainab tidak menanggapi. Dia segera meneguk teh hangat di hadapannya. Tidak ingin lagi membahas persoalan Yusuf yang membuat kesal dirinya. Untung saja tertutupi oleh wajahnya yang tampan.
Astaghfirullah. Pekiknya dalam hati.
"Mas Fikri belum pulang Mbak?" Tanya Zainab mengalihkan pembicaraan.
"Ada pertemuan katanya, dengan klien baru yang ingin menjalin kerjasama, mungkin malam ini akan pulang sedikit larut."
Zainab membulatkan bibirnya membentuk huruf O tanpa suara.
***
Sofia : Zai, siapa sih Guru baru tadi? cakep ga? siapa namanya?. Pesan singkat dari Sofia.
Zainab : Tanya sama Pak Agus!!!
Sofia : Iya Allah, Zai. pelit info banget sih kamu. gitu ya curang sama sahabat sendiri. teganya dikau, sungguh teganya, teganya, teganya. Mengikuti kutipan lirik sebuah lagu.
Zainab : Besok kenalan sendiri deh, aku juga tadi gak sengaja papasan waktu mau ke ruangan Pak Agus. Salah sendiri tadi gak masuk." Tukas Zainab malas.
Sofia : "It's Ok."
Zainab tidak menyangka bahwa kabar mengenai Guru baru itu cepat menyebar. Entah, Dia merasa magnet apa yang terdapat dimiliki oleh laki-laki itu. Herannya lagi, Sofia sahabatnya yang juga seorang Guru, yang mengajar disekolah yang sama ikut tertarik penasaran.
"Zainab, ada telpon dari Ayah?" Panggilan Risa membuyarkan lamunannya.
"Iya Mbak sebentar." Berlari turun dan merebut telpon dari tangan Risa.
"Assalamualaikum, hallo Ayah. Ayah kapan pulang?".
"Walaikumsalam, insya Allah lusa Ayah pulang Nak." Suara diseberang sana yang merindukan putri bungsunya.
"Ayah baik-baik sajakan. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup." Pesannya.
"Iya Sayang. Kau itu ya selalu cerewet seperti Ibu mu. Sini Ayah akan mencubit hidungmu."
Ayah dan Anak itupun tertawa bersama. Mujayasa, Ayah Zainab. Seorang pengusaha bakery terbesar di kota XX. Namun jika mereka berjauhan, saling merindukan. Dan jika mereka berdekatan, mereka selalu berdebat.
Setelah selesai bertukar suara. Zainab berniat ingin kembali ke kamarnya. Tetapi Risa mendahului dengan menarik lengannya.
"Zainab, ayo kita makan dulu." Ajak Risa.
"Bukannya tadi kita sudah makan ya Mbak?
"Tapi Mbak lapar lagi." Sambil memegangi perutnya.
"Mbak saja yang makan, biar aku temani." Tawarnya.
"Baiklah." Risa setuju.
***
Sementara di kediaman Yusuf.
__ADS_1
"Bagaimana interview hari ini Suf."
"Ahamdulillah, lancar Bu."
"Syukurlah kalau begitu, Ibu senang mendengarnya."
"Semenjak kepergian Bapak, kamu harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi Ibu, Rere dan diri kamu sendiri." Mulainya membuka kenangan lalu.
"Ibu, itu sudah kewajiban Yusuf. Dan Yusuf bahagia melakukan itu semua. Semua ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Ibu berikan dan lakukan untuk Yusuf." Yusuf duduk membungkuk dihadapan Ibunya, meraih tangan diciuminya.
"Terimakasih ya Nak." mengecup kening Yusuf dan melepaskan senyum.
"Tapi, kamu sampai lupa bahwa kamu juga harus mencari pasangan hidup. Apa tidak ada satupun wanita yang menarik hatimu?."
"Prioritas dalam hidup Yusuf saat ini adalah Ibu dan juga Rere. Tabungan kita sudah mulai menipis sepeninggal Bapak. Rere juga masih butuh biaya untuk melanjutkan sekolah, belum lagi Rere nanti pasti ingin kuliah. Setidaknya, Yusuf bisa menabung untuk Rere masuk kuliah nanti. Yusuf tidak mau jika harus menikah terburu-buru."
"Tapikah usia kamu sudah mau memasuki kepala tiga, Nak."
"Jodoh tidak akan kemana, Bu." Sangkalnya.
"Atau Ibu kenalkan saja kamu dengan anaknya temen Ibu." Usulnya penuh harap.
"Sudahlah Bu. Yusuf belum memikirkan hal itu dulu. Dan jangan memaksa Yusuf lagi."
"Iya sudah. Ibu gak akan memaksa kamu lagi." seraya bangun menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam.
***
Ya Allah...
Aku tidak berhak atas hidupku
Aku butuh air kesejukan dari karunia Mu
Peliknya perseteruan hati
Ternyata belum ingin berlari
Malah semakin mendekati
Aku tidak berdaya
Aku ingin membebaskan diri
Sampai aku menemukan sebuah jiwa yang membuat diriku tidak sendiri lagi
Pukul 22.30, Zainab belum terjaga. Entah pikirannya menerawang kemana. Masih di depan laptopnya, mencurahkan isi hati berbentuk puisi. Iya, itu memang kebiasaannya.
"Huh." desahnya.
"Bisa stress aku." keluhnya
"Persiapan anak-anak lomba LKS, sebentar lagi. Tapi kenapa aku jadi tidak fokus begini. Malah sibuk memikirkan hal lain yang tidak seharusnya aku pikirkan." Zainab memukul kepalanya sendiri.
Tok, tok, tok
Ceklek. Pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam kamar Zainab. Dan Zainab tahu siapa orang itu.
"Belum tidur?." Tanyanya seraya mengelus kepala Zainab.
"Mas Fikri, sudah pulang." mendongakan kepalanya ke atas.
"Iya. Mas melihat lampu kamar kamu masih menyala. ternyata kamu belum tidur."
"Oh iya Mas, tadi Mbak Risa muntah-muntah."
Fikri yang mendengar hal itu terperajat. Spontan langsung berlari tanpa aba-aba menuju kamarnya untuk mengetahui keadaan istrinya.
Zainab yang kebingungan melihat sikap kakaknya hanya bisa mengeryitkan dahi. Kemudian menaikan bahunya.
***
"Sayang bangun."
__ADS_1
"Aku sudah pulang."
"Kata Zainab, kamu muntah lagi ya?." mengelus kepala istrinya dan dipenuhi rasa khawatir.
Risa mulai menggeliat, perlahan membuka matanya. Melihat ke arah sura yang membangun dan menyentuhnya dengan penuh kelembutan.
"Mas Fikri." Senyumnya mengembang dan mendudukan dirinya bersandar di ranjang.
"Apa tadi kamu muntah-muntah lagi?." Tanyanya ulang.
"Iya, tapi aku sekarang udah gak apa-apa kok Sayang."
"Besok kita harus ke dokter. Aku gak mau terjadi apa apa sama kamu." Sorot matanya menyiratkan kekhawatiran berlebih dan Risa bisa melihat itu.
"Apa tidak terlalu berlebihan kalo harus sampe periksa ke dokter. Aku kan cuma muntah-muntah biasa, mungkin cuma masuk angin Mas. Tadi aku juga sudah minum obat."
"Tapi kamu sudah dua kali muntah-muntah dalam sehari." memegang tangan Risa erat.
"Aku tahu kamu khawatir Mas. Tapi insya Allah aku gak apa-apa." Senyumnya meyakinkan sang Suami agar rasa khawatirnya berguguran.
Senyum Fikri mengembang. Hatinya mulai membaik terhadap keadaan istrinya. Atau memang dia yang terlalu berlebihan dalam menjaga istrinya, bukankah itu sudah seharusnya dilakukan terhadap pasangan.
Saat Fikri hendak mencium kening istrinya, tiba-tiba Risa..
"Mas mau ngapain?." Seraya menjauhkan dirinya.
"Iya masa mau cium istri sendiri gak boleh." Katanya heran dengan sikap istrinya yang berubah sesaat.
"Lebih baik Mas cepet mandi gih, bau tuh badannya." Menutup hidungnya.
"Ohh Ok." Fikri pun bergegas masuk ke dalam mandi.
Tumben, biasanya mau aku belum mandipun dia mau aku cium, tapi kenapa kali ini tidak. Atau badanku memang benar-benar bau. Gumamnya dalam hati.
Coba aku cium ketiakku. Arghhh benar ya, ternyata bau dan lengket. Aku sendiri begidik karena baunya. Pantas saja Risa mengeluh tadi. Masih bergumam sendiri.
Tidak berselang lama Fikri keluar dari kamar mandi, berselimut handuk putih sebatas pinggang yang memperlihatkan dada putih bersihnya.
"Mas, ini pakaiannya udah aku siapin."
"Terimakasih istriku."
"Mas, kayaknya aku mencium bau-bau mencurigakan terhadap Zainab."
"Tadi aku yang dibilang bau, sekarang Zainab juga. Apa ada masalah sama penciuman kamu. Sepertinya memang besok kita harus pergi ke dokter."
Risa malah tergelak mendengar perkataan suaminya itu.
"Bukanlah Mas. Kau ini ada-ada saja."
"Tadi tuh Zainab cerita, Kalo ada Guru baru di sekolahnya."
"Terus apa hubungannya sama bau-bau?
"Aku belum selesai bicara, jangan dipotong dulu Mas."
"Sepertinya ada ketertarikan dalam diri Zainab sama laki-laki itu. Selama aku menikah dengan Mas dan tinggal di sini, Zainab sangat dekat denganku bahkan dia juga tidak segan untuk mencurahkan isi hati nya."
"Do'akan saja. Kalo jodoh pasti bertemu."
"Ayo lekas tidur, sudah larut malam." Ajaknya.
"Tapi aku masih mau ngobrol Mas." Rengek Risa.
"Besok saja kita lanjutkan. Ini sudah malam Sayang." Menarik pinggang Risa membawa ke dalam pelukannya.
Risa pun tidak berkomentar. Dia tahu suaminya pasti lelah sudah bekerja sampai malam. Tidak seharusnya merengek seperti tadi. Tapi entah ada dorongan apa di dalam dirinya, sehingga dia tanpa sadar sudah bersikap di luar kebiasaannya.
Akhirnya Risa pun ikut memejamkan matanya.
***
Hai para readers, ini novel karya pertama aku. Maaf jika ada kalimat yang typo. Maklum saya baru pemula.
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung saya.
Terimakasih.