
Pak Karim mengajak Zainab untuk lebih mendekat ke area lapangan. Dimana para guru dan juga murid menjadi pendukung di antara 2 kubu yang tengah bertanding. Babak 1 sudah usai, dan unggul tim sang kapten. Rupanya Yusuf and the team musti bekerja lebih keras, demi mengalahkan sang kapten terbaik di sekolah.
Dada Yusuf terlihat naik turun, napasnya ngos-ngosan. Dia mengambil air mineral, kemudian menegaknya. Dan amat sangat terlihat keren saat dia menyiramkan sisa air ke seluruh wajahnya. Mengundang reaksi yang di dominasi kaum hawa merasa ingin memilikinya sepenuhnya.
Yusuf melepas seragam olahraganya, dada kekar dan putih terlihat samar di balik kaos putih tipis miliknya. Zainab tidak luput dari pemandangan itu, dia justru menjadi malu sendiri. Tidak seharusnya hal itu diperlihatkan, meskipun memang bukan sebagian dari aurat laki-laki.
Yusuf memandang ke sembarang arah, seperti belum menemukan sosok yang dia cari. Namun ketika melihat Zainab, lampu merah menyala meminta matanya untuk berhenti. Senyumnya mengembang.
"Pak Yusuf, pasti anda sangat letih sekali. Lihat saja keringat bercucuran di dahi dan wajahmu." Dita menghampiri Yusuf di tepi lapangan, dia membawa handuk kecil dan tangannya hampir mengusap keringat diwajah Yusuf, namun Yusuf sudah terlebih dahulu memgambil handuk kecil itu dari tangannya.
"Terimaksih, Bu Dita. Saya bisa melakukannya sendiri." Yuusf mengelap keringat di dahi, wajah dan lehernya, kemudian memberikam handuk kecil itu kembali kepada Dita. Yusuf meninggalkannya tanpa menghiraukan perubahan raut wajah Dita yang terperangah.
"Shit. Usaha ku gagal lagi untuk mendekatinya." Gumamnya pelan dengan hati bercokol.
Dari kejauhan Zainab memperhatikan keduanya. Ada perasaan takut dan cemburu yang datang memburu. Namun, semua itu hilang dalam sekejap saat Yusuf memilih mengelap keringatnya sendiri dan menghindari Dita. Kejadian itu semakin sempurna saat Yusuf meninggalkan Dita tanpa pamit. Zainab menyunggingkan bibirnya. Dia semakin yakin bahwa Yusuf adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Besok mereka akan bertemu, dan Zainab tidak sabar menunggu hari berganti. Kepastian dari Yusuf akan didapatkan olehnya.
"Kau disini?." Sofia memasang wajah sol imutnya.
Zainab menghela napas panjang. "Kenapa memangnya? Apa hanya kau yang boleh? Sedangkan kau tidak boleh?." Sederet pertanyaan terlontar.
"Uhhh rupanya ada yang lagi ngambek nih. Maaf tadi aku cuekin kamu. Maklum ada Dimas. Katanya berbisik saat menyebut nama Dimas.
"Disana juga ada eey..ee..." Zainab hanpir saja keceplosan menyebut nama Yusuf. Dia terlihat seperti orang kebingungan.
"Ada siapa? Ihh.. sekarang kamu main rahasia-rahasiaan. Ingat jangan ada rahasia di antara kita." Bibir Sofia mengerucut sempurna.
"Disana juga ada sang kapten." Nada bicara Zainab meyakinkan Sofia jika dia tidak sedang berbohong. "Kau tahu, aku begitu kagum kepadanya. Dia piawai sekali, aku jadi ingin belajar bola basket dengannya." Zainab memperkuat alasannya.
Sofia manggut-manggut. "Iya kamu benar, sebenarnya aku juga kagum dengannya. Tapi sayang belum pantas menjadi suamiku."
Plak. Suara tangan Zainab mendarat dimulut Sofia yang berbicara ngawur.
"Awwh." Ringisan kecil keluar dari mulut Sofia. "Kenapa kau memukul mulutku? Nanti kalau monyong bangaimana karena bengkak." Sofia yang berlebihan dalama berbicara.
__ADS_1
"Jika berbicara jangan ngawur, mana mungkin kau akan menikah dengan anak SMA?."
"Iya mungkin saja, jika Allah menakdirkannya." Dengan percaya dirinya Sofia berkata seperti itu. "Khadijah saja menikah dengan Nabi Muhammad yang usianya lebih muda darinya, bukan? Bahkan ada anak daur muda menikahi nenek-nenek. Sofia terkekeh.
Zainab terdiam, membenarkan perkataan Sofia. Pernikahan beda usia yang sangat jauh memang terjadi kepada siapa saja. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satupun manusia yang bisa menghalanginya. Itulah takdir. Bahwa kelahiran, maut, jodoh dan rezeki adalah rahasia Allah.
"Sudahlah, Zai. Kita nikmati hari sabtu ini dengan ceria. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu." Bujuk Sofia yang melihat Zainab terdiam.
Zainab menghela napas dengan kasar. "Terserah kau saja, aku sejak tadi sedang tidak mengajak mu berdebat." Zainab sudah kehilangan nafsu untuk menonton acara itu lebih lanjut. Dia lebih memilih pergi.
Sofia terheran. Apa salah dari ucapannya tadi? Dasar perempuan aneh. Kan aneh lagi.
***
Pertandingan menuju babak akhir. Skor yang didapatkan diantara 2 team, ternyata seri. Masing-masing team harus mengupayakan usaha lebih keras lagi, untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Meskipun mereka sudah berpeluh keringat, namun semarak yang diberikan dari penonton, seperti men-charge kembali stamina yang semula loyo.
Memang tidak ada hadiah yang diperebutkan atau dijanjikan oleh kepala sekolah. Akan tetapi nama sang kapten basket akan menjadi tolak ukur bagi dia yang terus mendapatkan poin.
Sial bagi Dita kali kedua, entah mimpi buruk apa dia semalam. Pertama, usahanya untuk mendapatkan perhatian Yusuf, gagal. Kedua, kepalanya terkena bola basket yang meluncur keluar lapangan dan mengenainya. Membuat tubuhnya oleng, yang kemudian di sanggah oleh anak-anak. Kepalanya terasa pusing memutar, dia pun pura-pura pingsan. Dita menjadi pusat kerumunan.
"Bangun Bu, Bu Dita." Panggilan dari Bu Saras pun nihil, Dita tetap tidak mau membuka matanya.
"Ayo Bu, Bangun. Bangun. Bangun." Beberapa anak juga berusaha mengoyangkan tubuhnya.
"Pak Yusuf, apakah anda terlalu keras tadi? Sampai Bu Dita pingsan, begitu." Tanya Pak Agus.
"Mungkin saja Pak." Yusuf mengeluh sisa peluh di dahinya.
"Tapi kan Pak Yusuf tidak sengaja, Pak." Bu Saras menyela.
"Pak Yusuf harua bertanggung jawab." Bu Rastri menimpali. "Iya, ayo. Bawa Bu Dita ke UKS!!
Dita yang mendengar perkataan itu, rupanya otaknya selalu bisa bekerja dengan baik, meski dalam keadaan sesulit apapun yang sedang menimpanya. Dia memanfaatkan keadaan, agar Yusuf membopong dan membawanya ke UKS. Sebab Yusuflah yang membuat bola itu mencium kepalanya. Semoga cara ini berhasil, dia penuh harap. Ditambah lagi dengan pendapat Bu Rastri, seolah mendukung tanpa harus dia memintanya.
__ADS_1
Namun sayang, harapan itu tidak berbuah manis. Dita di bopong oleh beberapa anak perempuan menuju ruang UKS. Hatinya merasa miris meratapi nasib cintanya.
Maaf Bu Rastri, saya dan Bu Dita bukan mahrom. Jadi saya tidak bisa melakukan itu." Tolak Yusuf. "Lebih baik anak-anak perempuan saja yang membawanya ke UKS." Usulnya.
"Baiklah, ayo cepat. Kasihan Bu Dita." Pak Agus memerintahkan beberapa anak untuk segera membopong Dita.
Apakah ini yang namanya kasih bertepuk sebelah tangan? Tapi, sepertinya bukanlah Dita, jika dia menyerah dengan semudah itu.
Tubuh Dita diletakkan di atas kasur UKS. Seorang murid bernama Dea mendekatkan minyak kayu putih ke dekat hidungnya, berharap setelah mencium aromanya. Dita akan sadarkan diri. Namun pada kenyataannya sejak tadi dia justru hanya berpura-pura.
"Ayo dong, Bu Dita sadar!! Pinta seorang anak bernama Sera.
"Coba pijit saja ibu jari kaki nya. Kata orang bisa cepat sadar." Saran yang lain.
Dita yang merasa kegelian, akhirnya mengakhiri drama pingsannya. Matanya mengerjap seolah memang dia baru tersadar, agar anak-anak semua percaya. Tubuh Dita bergerak pelan, membuat semua terlihat senang akan kesadaran Dita.
"Alhamdulillah, Bu Dita sudah kembali sadar."
"Iya. Ayo Bu minun dulu!!! Perintah Sera.
Dita menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia meraih gelar yang disodorkan kepadanya. Kepalanya memang masih terasa sedikit pusing.
"Bagaimana keadaan Ibu? Tanya Sera.
Dita memegangi kepalanya. "Masih sedikit pusing, tapi Ibu gak apa-apa kok." Jawab Dita seraya tersenyum tipis. Dia beranjak turun dari atas ranjang dibantu oleh anak yang lain.
"Ibu yakin sudah kuat untuk berjalan? Tanyanya dengan nada sedikit khawatir.
Dita menganggukan kepalanya. "Iya." "Akukan cuma pura-pura pingsan saja. Kalian khawatir sekali. Maafkan aku sudah mengerjai kalian, namun asalkan kalian juga tahu, harapan ku pun beterbangan entah kemana." Bisiknya dalam hati.
***
Mohon maaf lahir dan batin.😗
__ADS_1
Maafkan diriku menjelang lebaran perkerjaan membuatku harus libur mengetik. semoga kalian masih mau melanjutkan membaca.