Cinta Zainab

Cinta Zainab
Sekolah


__ADS_3

Pagi itu beberapa mobil angkutan kota berhenti di pinggir jalan. Menurunkan anak-anak berseragam putih abu-abu di depan gerbang sekolah. Mereka terlihat begitu semangat dan siap menyambut hari ini. Anak kelas XII akan segera menempuh ujian akhir. Para dewan guru juga akan mengadakan rapat untuk membahas persiapan ujian.


"Gak ngangka, bentar lagi kita ujian akhir. Aku bingung, mau kuliah di mana." Kata Maya.


"Eh tunggu. Yakin banget emang kalau kamu lulus?." Sinta berkelakar.


"Iyalah. Maya gitu lho. Masa gak lulus." Maya seakan menyombongkan dirinya.


"Anak orang kaya mah bebas, mau ngomong apapun." Tutur Gitra ikut menimpali dan mendapat satu toyoran di kepala dari Maya.


"Sialan kamu, Git."


"Bu galak tapi cantik, datang. Ayo masuk kelas!!! Seru Gitra, membuat semua anak yang lain berlarian masuk ke dalam kelas.


Zainab masuk ke dalam ruang kelas. Anak-anak sudah duduk rapi di tempatnya masing-masing. Hari ini dia tidak akan memberikan materi, namun hanya memberi motivasi. Sebagai bentuk support agar anak-anak tetap semangat untuk menghadapi ujian akhir yang sebentar lagi akan tiba.


Terkadang ujian juga menjadi momok bagi murid, bukan karena perkara soal yang sulit dikerjakan, melainkan ketakutan jika mereka tidak memperoleh kelulusan. Nilai tidak menjadi poin penting, meskipun memang memiliki peran tersendiri. Namun, mendapatkan nilai sesuai dengan standar kelulusan, itu sudah membuat mereka gembira.


"Sebentar lagi, kalian akan menempuh ujian akhir. Ujian yang akan menentukan kelulusan bagi kalian. Ibu harap kalian tidak perlu gugup ataupun merasa cemas. Ibu yakin kalian bisa melaksakannnya dengan baik." Tutur Zainab.


"Iya Bu." Jawab mereka serempak.


"Hari ini kalian free. Sebab para dewan guru akan mengadakan rapat di sekolah lain. Guna mempersiapkan ujian. Jadi, kalian bisa belajar di rumah. Dan besok masuk kembali seperti biasa."


Riuh memenuhi ruang kelas. Anak-anak menyambut belajar di rumah dengan senang, meski pada kenyataannya mereka justru menghabiskan waktu dengan bermain game, nonton film favorite, atau nongkrong di warung sampai tengah hari.


Zainab pun menutup salam. Kemudian berlalu meninggalkan kelas.


***


Zainab kembali ke ruangan guru. Ketika melewati meja Yusuf, dia tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Dimas.


"Ayo ke kantin saja! Perut mu akan bertambah sakit. Bukankah kita harus mengikuti rapat, nanti." Ajak Dimas.


Yusuf tetap bersikeras untuk menolak ajakan itu. "Tidak usah, sebentar lagi akan membaik. Ini sudah biasa terjadi." Elaknya.

__ADS_1


Zainab berjalan lurus ke mejanya, dia meraih dan membuka tasnya. Mengambil bekal yang tidak jadi dia makan tadi. Zainab berniat memberikannya kepada Yusuf. Hatinya tidak tega melihat calon suaminya melewatkan sarapan pagi. Entah apa yang menjadi kesibukannya, secara tidak langsung Zainab akan memperhatikannya setiap hari jika dia sudah menjadi istri Yusuf. Zainab mengulum senyum.


"Maaf Pak Yusuf, ini bekal sarapan saya. Saya belum memakannya sama sekali, sebab tadi pagi saya ikut sarapan di rumah Sofia." Zainab meletakkan wadah bekalnya di meja kerja Yusuf. "Emm mungkin nasi gorengnya sudah dingin. Jika Bapak mau, silahkan boleh untuk memakannya."


Dimas berdehem. "Ehm, cuma buat Pak Yusuf saja nih Bu. Buat saya mana?." Dimas meledek Yusuf yang berada di sebelahnya.


Yusuf menyikut perut Dimas, hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Sebenarnya sikutan itu pelan, Dimas hanya berpura-pura kesakitan. Hanya ingin meraih simpati dari Zainab. "Awhh sakit." Raut wajah Dimas tampak terlihat lucu. Zainab tidak bisa menahan senyumnya yang kecil.


"Terima kasih, Bu Zai. Saya akan memakannya nanti. Maaf, jika sudah merepotkan." Ucap Yusuf. Dirinya tidak mungkin bisa menolak pemberian perempuan yang menjadi pilihan hatinya itu. Mana mungkin dia menyia-nyiakan perhatian Zainab, meskipun hanya berupa nasi goreng untuknya.


Jantung Zainab kian berdebar tidak mampu untuk mengendalikan diri. Cukup terpaksa menguatkan diri untuk berhadapan langsung dengan Yusuf. Meskipun perasaannya telah berbalas, bukan berarti dia bisa bersikap biasa saja. "I-iya sama-sama." Jawabnya terbata. Zainab pun berlalu kembali ke meja kerjanya.


Entah Dimas sadari atau tidak, dua anak manusia itu tengah di landa hati berkecamuk yang sangat hebat.


"Makanlah dulu, aku akan menunggu mu di sini." Perintah Dimas seperti Ayah kepada anaknya.


Yusuf pun menurut dan segera membuka wadah bekal. Tersembul bau nasi goreng bertemankan telur dadar serta irisan beberapa potong mentimun dan tomat. Begitu menggugah selera. Dimas menelan ludah karena ikut tergoda, namum tidak mungkin dia meminta Yusuf untuk berbagi. Dimas lebih memlilih memainkan ponselnya.


Yusuf memakannya dengan lahap hingga habia tak tersisa. Zainab yang melihatnya dari kejauhan hanya dapat tersenyum. Nasi goreng membawa berkah.


"Apa kau mau, Pak Dimas?" Tawar Yusuf dengan sisa satu sendok makanan di tangannya.


"Jika aku mengajakmu makan sejak tadi, mungkin perutku tidak akan kenyang. Ini hanya sekedar mencicipi saja." Yusuf pun terkekeh.


"Kau habiskan saja, aku tidak mau jika hanya satu sendok. Mana kenyang." Dimas menarik salah satu bibirnya ke atas.


Yusuf masih dengan kekehannya. Kemudian menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya. Dia meneguk habis air minumnya.


"Nanti, aku akan meminta Bu Zainab membawakan bekal nasi goreng untukku besok." Dimas mulai berkelakar. Sontak air dalam mulut Yusuf yang belum habis ia telan menyembur keluar. Membasahi pakaian Dimas dan dia pun terkejut.


"Astaghfirullah, Pak Yusuf. Apa yang kau lakukan." Sofia yang masuk ke ruangan, ikut terkejut melihat apa yang tengah terjadi.


Dimas beranjak berdiri membersihkan pakaiannya dengan tissu. "Tidak apa-apa Bu Sofia. Pak Yusuf melakukannya dengan tidak sengaja." Dimas mencoba menenangkan Sofia, ketika melihat raut wajahnya khawatir.


"Maaf. Saya benar-benar tidak sengaja tadi." Ucap Yusuf.

__ADS_1


"Pakaian anda basah. Jika tidak di ganti, nanti akan masuk angin."


"Tapi saya tidak membawa pakaian ganti." Dimas masih sibuk mengelap pakaiannya yang kini agak basah. Entah sudah berapa lembar tissu yang sudah ia gunakan. "Biar saya pakai kaos saja, mungkin perlu menjemurnya sebentar, dan nanti saya akan memakainya kembali." Dimas menemukan solusi. Dia mulai melepaskan anak kancingny satu persatu, tersisa kaos putih tipis yang membalut tubuhnya yang atletis. Membuat Sofia terpesona.


"Biar saya bantu untuk menjemurnya." Pinta Sofia.


"Ahh tidak, biar saya saja. Saya harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah saya lakukan." Yusuf ingin mengambil alih.


"Tidak perlu. Biar saya saja Pak Yusuf." Sofia sedikit meninggikan suaranya.


Perebutan dalam penjemuran pakaian pun terjadi antara Sofia dan Yusuf. Dimas dengan raut muka bingung melihat tingkah laku mereka berdua, layaknya seperti anak kecil.


Akhirnya Dimas memberi keputusan, agar pertengkaran mereka selesai. "Stop! Biar saya sendiri yang menjemurnya di luar. Kalian berdua tidak perlu memberi bantuan." Dimas melangkahkah kaki keluar.


Sofia dan Yusuf saling melempar pandangan. Sofia yang merasa masih kesal, karena tidak bisa menarik perhatian Dimas. Padahal itu merupakan usahanya agar Dimas membuka hati untuknya. Sebab keputusan akhir belum terjawab diantara mereka. Lain halnya dengan Yusuf, dia hanya menaikan kedua bahunya. Baginya itu bukanlah hal yang begitu penting.


****


"Sebel, sebel, sebel." Sofia melampiaskan kekesalannya kepada Zainab. Zainab yang tidak tahu menahu sebab musabab Sofia seperti itu merasa bingung. Sofia menarik kursi dan mendudukinya. Dia duduk bertopang dagu.


"Kamu kenapa sih?." Tanya Zainab


Sofia kemudian menjelaskan kronologi atas apa yang terjadi antara dirinya dengan Yusuf dan Dimas. Zainab manggut-manggut, mahfum.


"Sudahlah itu hanya hal kecil." Tutur Zainab.


"Yusuf sangat menyebalkan." Sofia memonyongkan bibirnya.


"Oh ya." Kata Zainab cepat.


"Maaf, tapi hari ini dia sudah membuatku kesal." Keluh Sofia.


"Kalian ini seperti anak kecil saja, lucu." Zainab mengulum senyum. "Sudah jangan di tekuk lagi wajah mu. Gantilah dengan wajah yang cantik. Sebentar lagi kita akan berangkat untuk menghadiri rapat. Aku tidak mau melihat mu masih dengan mood yang buruk seperti itu." Imbuhnya lagi.


"Iya." Kata Sofia dengan nada malas.

__ADS_1


Bak melepaskan topengnya, wajah Sofia kini berganti kembali ceria seperti sedia kala. Rasa kesalnya di simpannya. Mana mungkin dia akan bertemu dengan banyak orang, membawa wajah kusut. Sofia memperbaiki jilbabnya dan memberi polesan sedikit bedak agar nampak segar.


***Bersambung***


__ADS_2