
Buku-buku tersusun rapi di meja kerja Zainab. Ia mulai membuka ulang materi pelajaran lalu dan mengulas materi yang akan disampaikan nanti.
Sofia yang tiba-tiba datang, membuatnya sedikit terkejut.
"Zai, semakin lama sepertinya penyakitku akan semakin parah." Tutur Sofia memegangi dadanya.
"Sudah pergi ke Dokter, belum?."
"Belum."
"Kenapa? Nanti kalau kamu mati gimana?."
Sofia membelalakan kedua matanya mendengar perkataan sahabatnya itu "Astaghfirullah, kamu malah doa'in aku mati?"
"Iya, Maaf. Memangnya kamu sakit apa, sampai semenderita itu." Zainab penasaran.
"Aku jatuh cinta, Zai. Aku butuh melabuhkan perasaanku, jiwaku, hatiku, kepada Dia." Ungkapnya.
"Dia siapa?"
"Pak Dimas." Bisiknya pelan agar tidak ada yang mendengar.
Zainab mengerutkan dahinya, masih mencoba mencerna kalimat Sofia dengan baik. Apakah Ia tidak salah dengar. Bukankah selama ini Sofia selalu gencar mendekati Yusuf, sampai membuat Dita merasa tersaingi olehnya. Atau Ia pernah menyatakan cintanya kepada Yusuf, kemudian Yusuf menolaknya. Dan kini Ia beralih memilih Dimas.
"Siapa, Pak Dimas?." Zainab mengulangi jawaban Sofia.
"Ishhh, kecilkan suaramu. Nanti ada yang dengar." Sofia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Bukannya selama ini kamu selalu mendekati Pak Yusuf? Kenapa kemudian kamu nyatakan ingin memiliki hubungan dengan Pak Dimas?."
"Aku tahu kamu paati akan bertanya seperti itu. Tapi sekarang aku tidak bisa menjawabnya, di sini perasaanku menunggu." Menunjuk dada lagi yang mengisyaratkan hatinya.
"Aku ingin kau membantuku. Aku sangat ingin menikah, lelah menghadapi dunia ini sendirian."
"Insya Allah."
"Oh iya, semalam sambungan teleponmu terputus. Ada apa?" Sofia mengalihkan topik pembicaraan.
"Ehh, tidak ada apa-apa. Hanya iseng saja." Jawab Zainab asal.
"Ohh..."
Bagaimana mungkin aku akan mengungkapkan kegundahanku semalam, saat Ayah memintaku untuk juga segera menikah. Bahkan kau juga memiliki permasalahan yang sama. Kau sendiri pun tidak bisa menyelesaikannya. Keluh Zainab dalam hati.
***
__ADS_1
Sudah hampir dua minggu Yusuf menekuni profesinya sebagai Guru. Anak-anak pun semakin akrab dengannya. Pribadi Yusuf yang supel, ramah dan murah senyum membuat anak-anak menyukainya.
Terlebih lagi sosoknya yang memiliki aura teduh, wajah yang tampan membuat sebagian anak-anak perempuan seakan memiliki idola baru di sekolahnya, nyaris mengalahkan oppa-oppa korea. Katanya.
Tubuhnya yang tinggi semampai yang seringkali ikut bermain bola basket bersama anak-anak. Lumayan jago. Tak sedikit kedapatan Ibu-Ibu Guru turut serta menjadikannya bintang lapangan.
"Pak Yusuf, baru datang juga." Sapa Dita yang sedikit terengah-engah.
"Bu Dita habis lari marathon? Nafasnya terdengar ngos-ngosan."
Dita hanya menjawab dengan tersenyum. Mana mungkin Ia memberitahu, bahwa tadi Ia berlari hanya untuk mengejarnya. Harga diri dipertaruhkan.
Ketika memasuki ruangan guru, mata Zainab dan Yusuf beradu. Zainab merasakan ada desiran hangat disana, seketika semua itu menjadi dingin saat melihat keberadaan Dita di samping Yusuf. Yusuf yang semula akan mengurai senyum, terhenti ketika wajah Zainab menjadi berbeda.
Dita yang terlihat bahagia bisa semakin mendekatkan langkahnya kepada Yusuf, ini merupakan permulaan yang baik menurutnya. Ia harus menyusun rencana agar Yusuf jatuh dan takhluk kepadanya.
Dengan teramat jelas Dita dapat menggambarkan bagaimana raut muka Sofia tadi. Jika membayangkannya saja, Ia ingin tertawa dan mengejeknya. Padahal Dita salah besar, jika mengetahui kenyataannya yang diinginkan Sofia bukanlah Yusuf melainkan Dimas. Ia pasti akan berhenti tertawa dan sebaliknya berusaha menahan urat malu. Sayangnya Dita tidak mengetahui rahasia hati Zainab yang sebenarnya juga terpaut kepada Yusuf.
"Saya ke meja kerja saya dulu ya, Pak." Kata Dita sedikit mengeraskan suara agar Zainab dan Sofia mendengarnya.
Sofia berdecih melihatnya. Tangannya geram seakan ingin meremas dan menguncir mulut perempuan itu. Sedangkan Zainab hanya diam tapi tidak dengan hatinya.
"Iya Bu, silahkan." Jawab Yusuf pelan.
***
Yusuf menekuri lantai, mengapa perubahan wajah Zainab begitu aneh menurutnya. Seperti ada maksud yang ingin Ia nyatakan, akan tetapi tidak mampu untuk mengungkapkannya. Teka-teki diri Zainab semakin mengusik hati Yusuf. Ia ingin menelaah bunga itu lebih jauh. Akal sehat menolaknya, namun hatinya bersikukuh.
Pandangan Yusuf teralihkan kepada keributan yang terjadi di dalam kelas. Semua yang dipikirkannya lenyap.
"Anak-anak harap tenang? Apa kalian sudah selesai mengerjakan tugasnya?."
"Pak Yusuf, Danish mengejek orang tua saya. Saya sakit hati, Pak." Keluh seorang siswi yang tertunduk. Mungkin saja air bola-bola kaca sudah mulai pecah di sana.
Yusuf yang melihat kejadian itu, beranjak berdiri menghampiri tempat duduk mereka.
Dia melihat ada raut wajah kekhawatiran di wajah anak laki-laki itu.
Kemudian Dia berkata "Setelah jam pelajaran usai, kalian berdua ikut Bapak ke kantor." Perintahnya tegas.
"Iya, Pak." Jawab mereka berdua.
"Dan kamu, jangan menangis lagi." Pinta Yusuf seraya mengusap bahu anak perempuan berusaha untuk menenangkannya. Hening.
Yusuf kembali ke meja nya. Melihat jam dinding yang menunjukan bahwa mata pelajarannya akan berakhir dalam waktu 15 menit lagi. Anak-anak masih terdengar berbisik-bisik karena perkara tadi. Yusuf tidak ingin membahas soal ini. Baginya pendekatan bagi mereka berdua, untuk menyelesaikan masalah di ruangannya itu jauh lebih penting. Privasi kehidupan orangtua mereka juga akan terjaga.
__ADS_1
15 menit telah berlalu, bel juga sudah berbunyi. Yusuf memberi kode kepada 2 anak tadi terlibat saling ejek, agar ikut ke ruangannya.
Keduanya dipersilahkan untuk duduk dikursi yang menghadap ke arah Yusuf, yang di batasi oleh sebuah meja.
"Apa alasan kalian bertengkar, sampai membawa masalah orang tua?" Yusuf mulai mengintrogasi keduanya.
"Dia Pak yang lebih dulu mengejek orang tua saya." Kata Retno. Anak perempuan itu menoleh kepada anak laki-laki bernama Danish.
"Emang gitu kan kenyataannya. Kenapa aku mesti disalahin sih, emang benar orang..." Kalimat itu terpotong.
"Cukup. Bapak meminta kalian untuk menjelaskan. Bukan malah melanjutkan pertengkaran di sini." Tuturnya tegas.
Kedua pelajar itu menciut melihat sorot mata Yusuf. Mereka menunduk. Antara cemas dan takut.
Retno mengangkat wajahnya.
"Tadi aku mau ngajarin Danish, Pak. Waktu Bapak memberi tugas. Lalu Dia menolaknya karena takut kalau aku akan memberikan jawaban yang salah. Kemudian mengaitkan dengan orang tua saya, jika mereka adalah penipu." Terangnya menjelaskan.
"Danish, apa alasan kamu?." Yusuf ingin mendengar jawaban anak itu.
"Papa saya pernah bekerja sama dengan Ayah Retno, kemudian Papa saya bangkrut karena uang ratusan juta yang telah di investasikan dibawa kabur oleh Ayahnya. Sejak itu saya benci jika melihat Retno." Danish penuh amarah dalam kata-katanya.
Yusuf memgerti apa yang tengah di rasakan oleh anak itu. Pasti kehidupannya sulit karena pernah diambang kehancuran.
"Orang tua kalian memang pernah mengalami masalah. Akan tetapi islam juga tidak menganjurkan kita seperti itu, membawa nama orang tua di dalam pertengkaran. Bapak mengerti bagaimana perasaan kalian."
"Kebencian itu akan menyakiti diri kalian sendiri. Dan kita tidak boleh memasuki surga-Nya Allah jika ada rasa benci, walaupun hanya sedikit."
"Saling memaafkanlah kalian. Manusia memang tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan dan dosa. Belajarlah mulai mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap masalah, ujian atau cobaan. Kalian masih terlalu dini untuk mengerti masalah orang tua kalian." Panjang lebar Yusuf memberi nasihat untuk mereka berdua.
"Danish, kau harus tahu bahwa Retno juga tidak mengerti akan hal itu. Itu masalah antara Ayah dan Papa mu. Retno dan juga kamu pasti tidak pernah menyangka, mengira, atau menginginkan masalah itu. Jadi, kamu tidak boleh memperlakukannya seperti tadi."
"Tapi, Pak." Danish terhenti, Ia enggan melanjutkan kalimatnya. Percuma saja Ia membela diri. Ia masih belum bisa menerima jika berada diposisi yang salah.
Retno mengulurkan tangannya "Aku minta maaf, Danish. Karena Ayahku, Papamu jadi bangkrut."
Danish mendecih. Hatinya masih terasa panas. Wajahnya memerah. Hatinya masih belum luluh meskipun Retno sudah meminta maaf terlebih dahulu.
Yusuf memperhatikan Danish yang masih belum juga membalas uluran tangan Retno.
Dengan nafas yang berat. Akhirnya Danish menerima maaf Retno, meski masih terasa berat dihatinya. Meski sebenarnya Danish lah yang salah akan pertengkaran yang terjadi tadi di dalam kelas. Dia malu mengakui atau memang belum mengerti karena masih diliputi keegoisannya.
Yusuf tersenyum melihat mereka berdua berdamai. Meski masih terlihat di wajah Danish tergaris ketidak ikhlasan. Semoga dihatinya benar-benar tulus. Semoga perlahan mereka mengerti.
Diam-diam ada yang memperhatikan Yusuf. Di balik kepura-puraan nya yang tengah membaca sebuah buku. Didalam hatinya penuh rona-rona merah yang mungkin kini tercetak jelas diwajahnya. Zainab.
__ADS_1