
Pagi ini angin bertiup sangat kencang, menggiring awan-awan kemanapun arah membawanya pergi. Langit biru cerah, sang surya masih sembunyi dalam peraduannya.
Zainab sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Dengan penuh harapan dan semangat, bertatap muka dengan anak didiknya. Meskipun sudah mahfum jika karakter seorang anak itu berbeda-beda. Tapi itu tidak menyurutkan tekad seorang Zainab. Baginya mendidik bukan hanya dengan teori semata, tapi juga bagaimana pembentukan karakter anak itu agar menjadi lebih baik.
Terkadang dia menyelipkan intermezo disaat pembelajarannya dalam kelas, semata-mata agar anak-anak tidak jenuh dan bosan. Berbagai kisah cerita dia angkat, dari mulai yang islami, humor, penuh tantangan, tips-tips pergaulan yang benar untuk para remaja. Dari situlah mereka bisa mengambil contoh dan pelajaran. Dia ingin mereka menjadi generasi penerus yang tidak hanya cerdas tapi juga memiliki akhlak yang mulia.
***
Diruang Kantor Guru
"Selamat pagi Bu Zainab." Tiba-tiba seorang perempuan datang setengah berlari dan memeluk Zainab.
"Walaikumsalam." Jawabnya.
"Aku kan tadi tidak salam, kenapa kamu jawab Walaikumsalam." dahinya berkerut.
"Iya sudahlah terserah kau saja Zai, yang pasti setelah dua hari tidak jumpa dengan kau, aku sangat merindukanmu." Dengan nada mendayu-dayu.
Sofia memang suka mendramatisir segala hal.
Dia sahabat Zainab. Semenjak bekerja sebagai Guru di sekolah itu, hubungan mereka menjadi persahabatan. Meskipun mereka dua pribadi yang berbeda, tapi kecocokan selalu datang di saat mereka bersama. Sebenarnya Sofia adalah orang yang humoris, supel mudah bergaul dengan siapapun. Dan satu lagi, gemar mengekspresikan kata-kata dengan kalimat yang puitis. Berbeda dengannya yang sedikit intovert.
"Apa kau mau ikut sarapan denganku, atau mau terus berpuisi seperti itu?," Tanyanya
seraya mengambil wadah bekal dari dalam tas.
"Wow, bau harum masakan ini membuat perutku meronta-ronta."
Zainab menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah sahabatnya itu. Memang kepergiannya selama dua hari membuat hari-harinya di sekolah menjadi sepi. Tapi jika sedang bersama, telinga Zainab terasa panas harus mendengarkan celoteh aneh Sofia. Kemudian dia berfikir, mungkin itu adalah salah satu dari salah banyak kelebihannya.
"Bisa gak sih Sof, bicaranya itu seperti orang normal."
"Iya Allah Zai, jadi kamu anggap aku ini sinting atau gila begitu?." Bibirnya monyong ke depan melebihi hidungnya, jika dilihat dari samping.
"Bukan gitu, maksud aku kayak aku bicara gitu lho. Sensitif banget kayak lagi PMS."
Sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aduh Zai, ini adalah karakter bawaan dari semenjak aku lahir. Aku juga heran, mungkin dulu sewaktu Ibu sedang mengandung, beliau mengidam baca puisi."
__ADS_1
"Udah ini ayo dimakan."
"Ini siapa yang memasak? Lezat dan nikmat."
"Mbak Risa sama Mbok Cici yang masak."
Disaat mereka tengah menikmati sarapan paginya, Yusuf masuk ke dalam ruangan itu. Kedua mata Sofia terbelalak melihat siapa yang datang. Tanpa dia sadari sendok ditangannya jatuh setelah keluar dari mulutnya. Mulutnya menganga, otomatis makanan yang sudah dia suap berceceran di atas rok miliknya. Zainab yang melihat kejadian di hadapannya terkejut.
"Astaghfirullah. Sofia, apa yang kamu lakukan. Lihat tuh makanan kamu tumpah dari mulut kemana-mana." Menarik dan mengambil tisu beberapa helai, kemudian disodorkan kepada sahabatnya itu.
Sofia yang tersadar atas apa yang terjadi padanya, kemudia merubah pandangannya kepada dirinya sendiri. Antara setengah malu dan jijik, dia membersihkan diri dengan tisu yang sudah ia raih dari tangan Zainab.
"Kau ini memalukan sekali, hanya karena melihat laki-laki."
"Seperti anak TK saja, makan acak-acakan begitu." tambahnya kesal.
"Maaf Zai. Itu tadi ada Manusia atau Malaikat tak bersayap. Maha benar ciptaan Mu ya Allah." Setengah berbisik dan meraih botol minum milik Zainab.
"Sudah ya aku mau berkenalan dulu dengannya." Berjalan cepat meninggalkan Zainab di mejanya.
Zainab tidak menghiraukan kepergian Sofia. Dia justru sibuk membereskan sisa-sisa makanan yang tercecer di bawah meja.
***
Yusuf sedang menata beberapa buku dan beberapa berkas di mejanya, menyiapkan materi pembelajaran hari ini, meneruskan materi pembelajaran terakhir.
Dia terlihat penuh semangat. Meskipun ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang Guru. Akan tetapi kemampuannya dalam berbahasa Inggris sangat mumpuni.
Dulu sebelum usaha Orangtuanya tutup. Yusuf yang bertugas untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan tangan berbahan dasar rotan kepada turis asing. Entah, mengapa dia beralih profesi menjadi seorang guru. Karena mungkin baginya, ini adalah jalan yang paling mudah. Dia tidak pernah mencoba untuk melamar ke kantor-kantor besar.
Apakah dia masih trauma atas kehilangan sang Bapak akibat kebakaran, yang menyebabkan usahanya tutup.
Dengan kepercayaan diri, Dia sangat yakin bisa menyampaikan materi pembelajaran kepada anak-anak dengan baik.
Semoga ini adalah langkah awal yang baik baginya. Guna meneruskan kehidupan, mencari rupiah untuk Ibu dan adik semata wayangnya.
"Ehm, ehm selamat pagi Pak Yusuf." Sapa Sofia yang datang menghampiri Yusuf. Dan tepat berdiri di hadapannya.
Yusuf sedikit terkejut "Oh iya, selamat pagi juga."
__ADS_1
"Maaf dengan Ibu siapa ya."
"Saya Sofia Latjuba, ehh maksud saya Sofia Larasati. Saya adik sepupunya karena neneknya itu adalah kakak dari nenek saya."
"Ohhh Iya." Yusuf menampakkan wajah kebingungan.
"Selamat bergabung di sekolah ini Pak. Semoga Bapak bisa mengajsr anak-anak dengan baik dan penuh sukacita."
"Bu Sofia, apakah anda bisa bersikap lebih sopan kepada Pak Yusuf?." Tiba-tiba suara itu nyaring dengan penuh rasa tidak suka.
Sofia menoleh kebelakang "Rupanya ada Bu Dita juga di sini, ingin berkenalan juga dengan Pak Yusuf.
Dita adalah seorang yang angkuh. Parasnya memang cantik, tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, dan tergolong salah satu guru yang cerdas di sekolah itu.
Dita tidak menyukai Sofia, karena menurutnya Sofia terlalu berlebihan dalam bersikap dan kata-katanya cenderung dibuat-buat. Dita juga menganggap Zainab adalah saingannya, bahkan semenjak Zainab bekerja di sekolah itu, hanya Zainab lah guru satu-satunya yang bisa merebut predikat sebagai guru prestasi yang pernah disandang oleh Dita sebelumnya.
"Maafkan sikap Bu Sofia ya Pak Yusuf. Dia memang agak aneh" Berjalan mensejajarkan tubuhnya dengan Sofia.
"Memangnya aku bersalah kepada Pak Yusuf?."
"Padahal aku hanya mengajaknya untuk berkenalan dan bergabung saja di sekolah ini. Dan mengapa aku dikatai aneh?." Rentetan pertanyaan di lontarkan oleh Sofia dengan nada pedas.
"Memang tidak ada yang salah dengan kata-kata anda, tapi sikap anda yang genit dan bisanya menggoda para guru laki-laki di sekolah ini. Dan sekarang itu anda lakukan juga kepada Pak Yusuf." Balas Dita masih dengan suara datar namun rasanya mampu menikam ulu hati Sofia.
"Oohh atau lain kali, saya akan mengusulkan kepada Kepala Sekolah agar menambahkan predikat Guru Ganjen, yang sangat pantas disandang oleh Bu Sofia." Imbuhnya lagi dengan bibir seringai merendahkan.
"Tutup mulut anda Bu Dita. Jangan sembarang jika menilai oranglain."
Melihat perdebatan dua perempuan dihadapannya semakin memanas, Yusuf segera melerai. Takut jika terus dibiarkan akan tidak terkendali. Apalagi itu disebabkan hanya perihal sepele menurutnya.
"Sudah cukup Bu Sofia, Bu Dita." memandang mereka bergantian.
"Saya kira ini bukanlah masalah besar yang harus diperdebatkan seperti itu. Dan sebentar lagi jam kegiatan belajar mengajar akan berlangsung. Sekiranya jika kalian berdua bisa saling memaafkan kesalahan satu sama lain." Ucap Yusuf tanpa memberi pembelaan kepada salah satu dari mereka.
Kedua perempuan itu hanya diam seribu bahasa, saling berpandangan satu sama lain. Mereka mengakui pada diri mereka sendiri bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, dan itu tidak patut terjadi.
Diruang itu, hanya ada Zainab yang melihat kejadian mereka. Guru-guru yang lain hanya masuk kemudian keluar lagi, sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi.
Zainab yang menyaksikan sahabatnya Sofia, tidak berupaya untuk membela. Karena dia ingin melihat apakah Yusuf akan membela Dita atau Sofia? Ternyata dia tidak berpihak atas keduanya.
__ADS_1