Cinta Zainab

Cinta Zainab
Kegundahan


__ADS_3

Ternyata hingga malam hari, hujan belum rela meninggalkan buminya, air langit itu masih menumpahkan kerinduan yang tak terhitung jumlahnya untuk memberi kehidupan pada sang bumi. Matahari seolah mengalah, awan-awan menyatukan diri mereka agar membuatnya tidak beranjak terlebih dahulu dari peraduannya. Membiarkan hujan membasahi bumi sampai Tuhan memintanya untuk berhenti.


"Non Zainab diminta turun sama Tuan." Kata Mbok Cici.


"Iya Mbok, sebentar lagi aku ke sana." Tuturnya sembari mengenakan kerudung yang Ia ambil dari lemari.


Ayah, Fikri dan Risa sudah duduk di ruang kelurga. Zainab sudah bisa menduga, pasti akan ada yang akan Ayahnya sampaikan jika diminta untuk berkumpul. Akan tetapi Ia tidak mengetahui pembahasan apa yang akan di bicarakan malam ini.


Ayah yang melihat kedatangannya tersenyum hangat. Zainab mendudukan dirinya di sofa tunggal, tepat di depan Risa.


"Zainab, bagaimana pekerjaan Mu, masih betah mengabdi menjadi seorang Guru?." Mujayasa membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah, sampai saat ini Zainab masih betah, Yah."


"Apakah kamu masih tidak mau belajar untuk mengelola perusahaan Ayah, seperti Mas Fikri?"


"Zainab minta maaf Yah, Zainab masih tidak tertarik dengan penawaran Ayah. Bukankah kita sudah membahas hal ini sebelumnya, lantas kenapa harus di buka kembali. Ayah sendiri kan yang menyetujui permintaan Zai, jika Zainab boleh menjadi seorang Guru." Zainab mulai tidak merasa nyaman.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang gantian ayah yang mengajukan permintaan kepada mu. Memberi sedikit jeda "Usai mu sudah dua puluh lima tahun, sudah pantas jika kamu mengakhiri masa kesendirian. Dan permintaan Ayah adalah menjodohkan mu dengan anak sahabat karib Ayah. Dia anaknya baik, pantas jika disandingkan denganmu. Namanya Yoga. Kemarin sewaktu Ayah pergi ke luar kota, Ayah bertemu dengan mereka." Ujarnya panjang lebar.


Zainab terkejut mendengar permintaan Ayahnya itu. Begitu juga dengan Fikri dan Risa, mereka menatap satu sama lain. Zainab tidak tahu harus menyusun kata apa yang tepat untuk menolaknya. Ia mencoba berpikir keras tetapi tidak didapatinya.


"Ayah tahu kamu belum menentukan pilihan atas pasangan hidup mu. Jadi Ayah memiliki niat untuk mengenalkan Yoga kepadamu. Percayalah dengan pilihan Ayah, kamu tidak akan kecewa." Tambahnya lagi membuat Zainab semakin bingung. Isi kepalanya terasa kosong.


"Zainab sudah besar Yah, biarlah dia mencari pasangan sendiri." Fikri memberi usul, Ia tahu bahwa adiknya itu tidak akan setuju dengan permintaan Ayahnya itu.


"Apakah tidak ada permintaan yang lain, selain menerima perjodohan itu Yah." Zainab sudah bisa menguasai dirinya.


"Tidak ada." Jawab Mujayasa singkat.

__ADS_1


"Zainab ingin membuat kesepakatan terlebih dahulu dengan Ayah. Tolong izinkan Zainab untuk mencari calon suami sendiri. Jika paling lambat selama satu bulan Zainab belum mendapatkannya, Zainab akan menerima perjodohan itu." Tawarnya. Dan entah darimana kalimat itu Ia dapatkan.


Risa dan Fikri pun masih dipenuhi raut kebingungan atas kesepakatan yang diajukan adiknya itu.


"Baiklah, Ayah setuju." Tanpa berpikir panjang.


"Kabar baik dan buruknya akan Ayah tunggu. Harapan Ayah adalah agar ada yang bisa membantu Fikri di dalam perusahaan." Imbuhnya lagi.


"Iya, Yah." Kepalanya manggut-manggut.


"Ayah pamit istirahat dulu." Mulai beranjak dari tempat duduk.


Setelah Ayahnya menghilang dari pandangan, Fikri mulai mencecar adiknya. Mengapa dia bisa mengajukan kesepakatan seperti itu. Dia tahu karakter Zainab, mana mungkin akan dengan mudah mendapatkan seorang suami. Melihat teman laki-laki datang ke rumahnya saja, Ia lari terbirit-birit.


"Persoalan calon suami, nanti Mas bantu cari kan. Yang sesuai dengan karakter kamu."


"Tidak usah repot-repot, biar Zainab saja yang mencari sendiri." Tolaknya seraya menyuapkan buah ke dalam mulutnya dengan lahap yang tersedia di meja.


"Zainab tahu, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi Insya Allah, Zai pasti akan mendapatkan seorang suami yang seperti Zai inginkan." Zainab memejamkan kedua matanya, seolah-olah melayang membayangkan lukisan kehidupannya bersama sang suami di masa depan. Padahal dirinya tahu entah bagaimana caranya untuk menemukan belahan jiwanya itu.


"Kapanpun kamu butuh bantuan, Mas pasti akan bantu. Kamu tahu sulit untuk tidak mengabulkan permintaan Ayah. Bersyukur, Ayah memberimu kesempatan dengan menyetujui kesepaktan yang kamu buat. Tapi kamu juga sudah harus bersiap untuk menerima konsekuensinya."


"Jangan lupa sholat istikharah, lebih memudahkan kamu untuk dekat dengan siapa orang itu yang akan menjadi suamimu kelak." Risa memberi saran.


"Terimakasih Mas, Mbak. Zainab pasti akan mengabari perkembangan tentang masalah ini."


Fikri dan Risa juga pamit hendak beristirahat di kamarnya. Tinggallah Zainab di ruangan itu sendiri, Ia berusaha memutar otaknya. Kemudian Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Sofia.


***

__ADS_1


Yusuf belum mampu memejamkan kedua matanya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 01.30. Ia membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang mmbuatnya gelisah hingga tak terjaga.


Ia pun beranjak bangun, duduk di tepi ranjangnya, mengusap kepalanya ke belakang. Mendongakan kepalanya ke langit-langit kamar yang berwarna putih, ada wajah Zainab terpantul di sana, dengan senyum mengembang seperti Ia dapati tempoh hari.


Dirinya kemudian berdiri, mengambil laptopnya guna mengecek e-mail yang masuk. Saat dia mengecek e-mail, ada satu diantaranya yang membuatnya tertarik. Ia membuka e-mail tersebut.


Ustadz Harun : Assalamualaikum akhi, bagaimana kabar antum beserta orangtua? Sudah lama tidak berkunjung, saya kemarin mendapat kabar jika antum sudah pindah. Apakah benar demikian?


Ustadz Harun adalah salah satu ustadz di kampusnya dulu di kota XX. Seperti sebuah petunjuk, bahwa dia memang akan peegi menemuinya untuk meminta wejangan soal jodoh hidupnya. Mereka dahulu begitu akrab, beberapa kajian selalu diikutinya. Semenjak Ia pindah, mereka sempat hilang kontak.


Yusuf pun segera membalas e-mail Ustadz Harun.


Yusuf : Walaikumsalam, Alhamdulillah kabar saya dan orangtua sehat. Afwan Ust, sebelum pindah saya sempat pergi ke rumah Ustadz, tapi ternyata sedang tidak di rumah. Insya Allah, pekan depan saya akan berkunjung sendiri ke sana. Sekalian ingin meminta pencerahan tentang jodoh untuk diri saya.


E-mail terkirim.


Yusuf menutup laptopnya, dan meletakkan di tempatnya semula. Ia menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu untuk menunaikan sholat malam. Meminta petunjuk kepada Allah agar dimudahkan dalam pencarian belahan jiwanya. Serta mengadukan apakah bayangan Zainab yang berkelebat datang mengganggunya itu, hanya sekedar keinginan nafsu semata atau memang dari hatinya.


Dirinya juga membutuhkan sandaran. Bukan tidak ingin melepaskan hasratnya kepada seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Meskipun bukan kepada Zainab dia akan bersanding, asalkan hatinya telah beradu kepada pilihan Allah, Ia akan tetap menerima dengan penuh syukur.


Akan tetapi semakin Ia mencoba menghapus Zainab dalam pikirannya, bayangan wajahnya semakin terus terlintas jelas. Seakan-akan datang sengaja untuk menggodanya. Ia tidak ingin bersalah menerjemahkan perasaaan itu, dirinya takut jika telah berzina dengan hatinya sendiri.


Yusuf memang lelaki normal, tidak mungkin bisa lari dengan rasa yang terus mengusiknya itu. Berlarian hingga lelah mengejar nama yang tidak pernah Ia akan tahu sebelumnya, untuk menghapus bayangan Zainab.


Tapi, apakah ada? Apakah memang bukan Zainab, perempuan yang diinginkan Yusuf itu?


Lama Yusuf memenjatkan doa nya di atas sajadah. Baginya berdua dengan Tuhannya, merupakan hal terindah dari apapun di dunia ini. Rasa tidak ingin kembali kepada kenyataan adalah hal terberat antara penolakan dan mimpi baginya.


Suara jangkrik menemani malam Yusuf, hujan telah reda. Aroma basah masih bisa tercium masuk dari celah-celah ventilasi udara kamarnya. Perlahan kantuk mulai menyerangnya. Segera Ia merebahkan tubuhnya kembali, untuk bisa terpejam beberapa jam lagi untuk menemui esok pagi.

__ADS_1


****


__ADS_2