
Adzan shubuh sayup-sayup terdengar. Membangunkan siapa saja umat muslim yang terlelap, untuk segera menunaikan sholat shubuh. Zainab pun terbangun, mengerjapkan kedua matanya yang masih terasa lengket, meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal. Zainab turun dari tempat tidurnya, dia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Zainab sudah merasa lebih baik daripada semalam. Hanya sesekali saja buang air. Mungkin saja itu karena dia terlalu banyak makan makanan pedas. Sehingga hari ini, dia dapat kembali mengajar ke sekolah.
Usai sholat shubuh, Zainab keluar kamarnya. Seperti biasa, dia ke dapur untuk membantu Mbok Cici menyiapkan sarapan pagi. Zainab sudab bersiap dengan seragam batik warna cokelat muda, bermotif mega mendung. Jilbab dan rok dengan warna senada, semakin mempercantik penampilannya.
"Selamat pagi, Mbok Cici." Sapanya yang melihat Mbok Cici yang tengah mengaduk sup ayam.
"Selamat pagi juga Non. Wah hari ini Non terlihat cantik sekali." Seraya mengamati majikannya itu dari atas sampai bawah.
Zainab tersipu di puji sepagi ini. "Memangnya biasanya Zai tidak cantik ya, Mbok?." Dia kemudian menekuk wajahnya, pura-pura merajuk.
Mbok Cici yang melihat Zainab merajuk, segera menperbaiki ucapannya. "Ehh, maksud saya Non Zainab memang sudah terlahir cantik, di poles sedemikian rupa pun akan tetap cantik, hanya saja hari ini terlihat berbeda dari biasanya."
"Berarti kalo Zai di poles kayak badut, akan tetap cantik nih?."
"Kan nanti jadinya, Badut cantik Non." Mbok Cici tergelak dengan perkataannya sendiri.
Kali ini Zainab benar-benar merajuk. Mana ada badut cantik, apapun alasannya badut itu tetaplah jelek, namun mungkin ada juga yang lucu. Karena memang untuk menghibur. "Iiihh Mbok Cici, keterlaluan deh kalo meledek." Zainab melipat tangannya di bawah dada.
Mbok Cici menyudahi tawanya, merajuknya Zainab semakin bertambah. Pikirnya. "Baiklah, maafkan Mbok Cici. Nanti wajah Non yang cantik ini bisa berpindah kepada Mbok." Mbok Cici berkelakar kembali.
"Kalau begitu Mbok Cici Operasi plastik saja." Zainab menemukan celah untuk berganti meledek.
"Mana ada uang, Non. Kan operasi plastik harganya selangit." Mbok Cici bersikap seolah memikirkan sesuatu.
"Nanti Zainab yang akan bayar. Asalkan Mbok mau merubah wajah Mbok jadi..." Kata-kata Zainab teepotong.
"Mbok mau jadi artis saja, Non." Pilihnya. "Artis yang lagi terkenal sekarang itu lho, namanya siapa ya? Haduh Mbok tidak ingat. Kalau tidak salah namanya Lun lun gitu."
"Ohh, Luna Maya?." Tebak Zainab.
"Nah, iya benar itu. Luna Maya."
Percakapan pagi itu semakin melantur tak tentu arah. Zainab dan Mbok Cici belum berhenti saling berkelakar. Sampai Risa mendengar percakapan mereka saat dia menuruni tangga.
"Hemm, sudah jam berapa ini Zai? Memang masih mau tetap di sini mengobrol?" Risa yang muncul menyela diantara mereka.
Zainab menyeringai dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Iya Mbak Risa ku yang cantik." Zainab mencolek pipi Risa.
Risa mengusap pipinya, seolah menghilangkan jejak tangan Zainab dengan ekspresi jijik. "Duh ngapain sih main colek-colek segala. Risih tahu."
"Jangan gitu, Mbak. Nanti anaknya mirip aku lho. Plek ketiplek." Zainab tertawa senang.
__ADS_1
"Amit-amit. Risa mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit. "Jangan sampe deh, nanti anakku tertular jomblo abadi lagi."
"Iya Allah Mbak, itu gelar apaan sih. Zainab protes. "Siapa juga yang jomblo abadi. Dalam kurun waktu sebulan ini, aku pasti akan membawa calon suami ke rumah ini, yang akan aku perkenalkan kepada Ayah." Zainab bangga diri.
"Masa?." Risa merasa tidak mempercayainya.
"Di amin kan gitu lho, Mbak. Tega banget sama adik ipar sendiri. Malah terkesan gak percaya." Zainab menjadi kehilangan semangat.
"Iya, iya. Mbak do'akan semoga cepat dapat jodoh." Nada Risa terdengar sumbang.
"Gak ikhlas banget sih." Zainab protes lagi.
"Di do'ain salah, gak di do'ain apa lagi. Nih anak kalau bukan adik suamiku, pasti sudah tak jitak kepalanya." Risa merasa kesal.
"Ok ok. Zainab mengakhiri perdebatan pagi itu di dapur dan meminta Mbok Cici untuk menyiapkan bekal miliknya. Zainab jarang sekali sarapan di rumah. Dia lebih suka sarapan di sekolah bersama Sofia.
***
Setelah memarkirkan motornya, Zainab nelihat kerumunan di tengah lapangan. Entah ada apa gerangan di sana. Zainab merasa penasaran, dia pun menghampiri ke arah kerumunan itu. Anak-anak terdengar heboh sambil melompat-lompat. Semakin mendekat, teriakan histeris menyebutkan nama yang Zainab tidak asing di telinganya.
Rupanya Sofia juga berada di sana. Pak Agus, Yusuf, Dimas beserta para guru yang lain. Zainab mendekati Sofia, mungkin saja dia dapat mengorek informasi.
"Heboh sekali, memangnya ada apa di sini?" Zainab menyenggol lengan Sofia.
"Aku tadi terlalu asik mengobrol dengan Mbak Risa dan Mbok Cici di dapur, hingga lupa jika waktu sudah siang." Terangnya menjelaskan alasan.
"Hmm." Kata Sofia singkat.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi?." Zainab masih berusaha mencari tahu.
"Pertanyaan yang mana, sih? Sofia ikut bersorak sorai ke arah tengah lapangan di mana ada Yusuf, Dimas.
"Iiishhh." Merasa tidak di pedulikan oleh Sofia. Zainab berniat melangkah pergi, perutnya yang berbunyi meminta jatah sarapan pagi.
"Mau kemana, Bu? Pertanyaan Pak Agus menghentikan langkah kaki Zainab.
Zainab menoleh ke arah Pak Agus. "Saya mau ke ruang guru, Pak." Jawabnya sedikit tersenyum.
"Di sini saja, sebentar lagi ada pertandingan bola basket. Coba Ibu lihat di tengah lapangan itu ada Pak Yusuf dan Pak Dimas. Mereka berdua turun lapangan untuk tanding dengan kapten basket di sekolah ini." Telunjuk Pak Agus mengarah ke lapangan, dia begitu semangat.
"Iya Pak. Tapi saya mau sarapan dulu." Jawabnya. "Mari, Pak." Pamitnya yang mendapatkan anggukan kepala dari sang Kepala Sekolah.
Zainab sama sekali tidak tertarik dengan pertandingan bola basket. Meskipun ada Yusuf di sana. Dia bukan Sofia, yang turut serta menjadi supporter. Mungkin saja karena ada keberadaa Dimas di sana. Tetapi Zainab masih penasaran akan pertemuan mereka semalam.
__ADS_1
Setibanya di ruang guru, Zainab segera menuju mejanya dan membuka bekal makanannya. Dia sudah membayangkan sup ayam buatan Mbok Cici, yang membuatnya menelan saliva berulang kali.
***
Setelah menghabiskan sarapannya dan mengemasi di tempat semula. Zainab lebih memilih menonton seorang diri dari kejauhan, diam-diam dia mencari-cari sosok Yusuf di tengah lapangan. Entah berapa nilai yang sudah di dapatkan dalam team nya. Sorak sorai terdengar riuh menyebut nama Yusuf, Dimas dan Aldi sang kapten basket sekolah.
Dan Zainab melihat dengan tidak begitu jelas, Yusuf men-drible bila dan membawanya masuk ke dalan ring. Sontak riuh di sisi lapangan semakin nyaring. Zainab pun ikut bertepuk tangan dan senyumnya mengembang, meskipun dari kejauhan. Dia mengakui bahwa Yusuf piawai dalam olahraga itu. Namun tanpa dia sadari Pak Karim memperhatikan gelagatnya sejak tadi. Dia seolah mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Ehm." Pak Karim berdehem.
Zainab terperajat dan melihat Pak Karim ternyata sudah berada di sampingnya. Zainab terlihat kikuk, dia takut jika Pak Karim mengetahui apa yang di lakukannya sejak tadi di tempat itu. "Oohh Pak Karim. Sedang apa Bapak di sini? Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang salah untuk di ucapkan.
"Ibu sendiri sedang apa di sini?." Bukannya di jawab, Pak Karim justru balik bertanya.
"Sa-saya sedang melihat pertandingan basket, Pak." Jawab Zainab sedikit terbata.
"Kalu begitu sama, saya juga sedang melihat mereka. Karena di sini kalau saya senyum-senyum sendiri tidak ada yang tahu." Pak Karim memulai berkelakar.
Zainab yang merasa dirinya ketahuan, tertawa menyeringai. Dirinya merasa malu. Zainab bingung memikirkan kata apa untuk menghalau rasa malunya itu. "Memang Bapak suka senyum sendiri?." Zainab mencoba menyerang Pak Karim.
"Iya, apa lagi kalau saya sedang jatuh hati terhadap seseorang. Saya suka senyum-senyum sendiri, kayak orang gila. Tapi itu dulu waktu kepincut sama istri saya."
Perkataan Pak Karim seolah menyindir Zainab. Iya, dia memang sedang jatuh hati kepada Yusuf. Akan tetapi terlalu sulit untuk mengakui kepada orang lain, selain orang terdekatnya sendiri. Mengakuinya di hadapan Pak Karim adalah hal yamg mustahil dilakukan olehnya. Zainab tidak mempedulikan itu, meskipun nanti pada akhirnya jika dia dan Yusuf bersatu. Maka semua orang akan mengetahuinya. Tanpa harus ada yang ditutupi.
"Benarkah, Pak. Pasti Bapak sangat bahagia sekali, akhirnya bisa hidup bersama dengan istri Bapak." Zainab merasa tertarik dengan kisah cinta Pak Karim.
"Tentu saja saya teramat bahagia. Menikah dengan pujaan hati. Dia adalah seorang bunga desa yang banyak di perebutkan oleh banyak lelaki kala itu. Dan saya beruntung bisa mendapatkannya." Ceritanya mengenang masa lalu.
"Pasti istri Bapak cantik sekali. Namun apa yang membuat pada akhirnya dia memutuskan untuk memilih dan menikah dengan Bapak?." Zainab semakin merasa penasaran dengan kelanjutan kisah Pak Karim.
"Dia datang menemui saya. Dia tahu jika saya menyukainya. Dia meminta saya untuk segera menikahinya dan saya menanyakan apa alasannya. Anda tahu, Bu Zai. Alasannya begitu sangat membekas sampai saat ini di hati saya." Pak Karim memberi jeda, menghembuskan napasnya panjang sebelum melanjutkan kisahnya. Kata istri saya waktu itu "Jika saya menikah maka saya tidak ingin menikah dengan sembarangan lelaki. Di luar sana banyak yang menginginkan saya tetapi tidak ada satupun yang membuat saya tertarik, apalagi jatuh hati. Dari mereka banyak yang tampan, kaya harta, berkedudukan tinggi, namun mereka tidak ada yang seperti dirimu. Kamu berbeda, kamu mampu membuat saya jatuh hati dengan akhlak mu. Meskipun saya bukan gadis yang taat dalam beragama, saya berharap kamu akan bisa membimbing saya ke jalan yang benar."
"Masya Allah, saya terharu mendengar kisah cinta bapak. Sangat menginspirasi sekali."
Pak Karim tersenyum. "Maka dari itu, Bu Zai segera menikah." Ledeknya.
"Do'akan saja, Pak." Pintanya.
"Pak Yusuf juga masih jomblo, apa Bu Zai tidak tertarik kepadanya? Siapa tahu jodoh, kan
Zainab tersentak dengan todongan kalimat itu.
****
__ADS_1