Cinta Zainab

Cinta Zainab
Zainab Dan Yusuf


__ADS_3

Zainab masih bingung mencari pakaian apa yang akan ia kenakan. Sejak pukul 06.00 hingga 07.00 pagi dia masih belum juga bersiap. Sudah 1 jam dia berada di dalam kamarnya. Satu persatu pakaian dress hingga potongan atas bawah, dia tempelkan ditubuhnya sambil melihatnya di cermin. Dia masih belum puas jika belum mencoba seluruh pakaiannya yang ada di almari.


Zainab merasa frustasi. Sungguh hari ini terlihat serba salah dan tidak cocok dimatanya. Hari ini dia ingin terlihat cantik di hadapan Yusuf. Munafik memang. Perempuan mana yang tidak ingin tampil semenarik mungkin, meskipun memang tidak begitu berlebihan.


Akhirnya Zainab menjatuhkan pilihan kepada dress warna peach dengan jilbab bermotif garis vertikal yang memiliki warna senada. Polesan natural pun semakin memancarkan kecantikan di wajahnya. Zainab tersenyum memandangi dirinya sendiri di cermin. Dia meyakinkan hati dan siap untuk bertemu dengan Yusuf hari ini. Apapun keputusannya, dia harus melapangkan hati.


Tok. Tok. Suara pintu diketuk.


Ceklek.


Risa muncul dari balik pintu. Hidungnya mengendus bau wangi yang bertebaran. "Aduh, sepagi ini kau akan berangkat? Tanyanya.


"Lebih awal lebih baikkan Mbak? Zai tidak mau kena macet. Ini kan hari libur." Jawab Zainab sambil memeriksa jilbabnya sekali lagi.


"Mau ku do'akan diterima atau ditolak?." Tawar Risa.


"Kenapa sih, semenjak Mbak Risa tuh hamil. Jadi nyebelin banget." Zainab memberenggut.


"Masa sih?


"Iya. Sekarang Mbak Risa selain nyebelin, juga judes. Iihh apa orang hamil itu bisa merubah seseorang ya?"


"Mbak gak tahu. Perasaan Mbak biasa aja." Risa menyandarkan dirinya di tepi ranjang. "Eh tapi Mas Fikri juga mengatakan yang sama, kalo sekarang Mbak suka ngomel terus."


"Nah benarkah. Pengakuan ku dan Mas Fikri sama soal Mbak Risa."


"Bawaan bayi kali, Zai."


"Emang bisa gitu bawaan bayi?" Zainab mengerutkan dahinya. "Kalau Mbak Risa makin suka ngomel, itu artinya jenis kelaminnya perempuan deh." Seru Zainab merasa sumringah.


Risa mencebikkan bibirnya. "Ogah kalau mirip kamu." Pandangan Risa beralih ke jam dinding yang tergantung. "Sudah jam 07.30. Nanti kamu kesiangan lho Zai."


Zainab sedang menyiapkan tasnya. "Iya Mbak."


Zainab dan Risa turun ke ruang makan. Disana sudah ada Mujayasa dan Fikri tengah menunggu untuk menyantap sarapan pagi. Mujayasa heran mengapa sepagi ini putrinya begitu cantik. Dia sudah menduga bahwa Zainab akan pergi ke rumah pamannya.


***


Yusuf memgancingkan kemejanya. Hari ini meskipun dia mengenakan kemeja lengan pendek, namun cool dan casual tetap melekat. Ibu dan juga adiknya Rere juga tengah bersiap. Mereka akan menjalani hari ini dengan berbagai recana perjalanan. Sesuai mandat jadual yang sudah diturunkan dari Nyonya besar tuan rumah ini. Kecuali satu, pertemuan dengan gadis yang akan dikenalkan dengan Yusuf. Itu adalah salah satu poin paling penting.


Entah mengapa hati Yusuf bimbang. Berulang kali dia memantapkan diri untuk tetap pergi. Zainab menari-nari di benaknya. Tidak mungkin dia harus membatalkan kepergian ini, sebab akam mengecewakan Ibu dan juga adiknya. Yusuf tidak ingin membuat mereka bersedih. Terlebih lagi ibunya yang sudah menanti hari ini, dia sangat bahagia. Tidak tega Yusuf memudarkannya.


Dengan berat, Yusuf melangkah kaki keluar kamar menemui ibu dan Rere. Rupanya mereka sudah menunggu di beranda.


"Mas Yusuf lama sekali, Rere sudah tidak sabar nih." Rengeknya.

__ADS_1


Yusuf mengunci pintu. "Iya sebentar."


"Suf, apa kau yakin akan pergi?" Ibu sepertinya tahu apa yang sedang melanda pikiran anaknya itu.


Yusuf sadar bahwa ibunya pandai menebak. "Tentu saja kita akan pergi, Bu. Bukankah haru ini hari yang paling ditunggu. Kapan lagi kita bisa berlibur bersama." Yusuf mencoba menyembunyikan kebimbangannya. Agar sang ibu tidak lagi merasa curiga terhadap dirinya.


Mereka semua sudah menaiki mobil. Meskipun mobil itu sudah terbilang tua, namun masih mampu menempuh perjalanan jarak jauh. Laju mobil membelah jalanan berlarian bersama mobil lain. Kondisi jalan belum mengalami kepadatan. Lengang.


"Hari ini kita akan mengunjungi rumah kita yang dulu kan, Bu." Yusuf membuka obrolan.


"Iya. Semoga orang yang membeli rumah itu, masih sama."


Rute perjalanan mereka cukup jauh. 3 jam jika lalulintas lancar dan bisa molor menjadi 4 jam jika terjadi kemacetan.


"Bu, kenapa kita tidak ke makam Bapak terlebih dulu?" Rere ikut membuka suara yang sejak tadi berkutat dengan ponselnya.


"Kita mengikuti arah ke mana yang lebih dulu sampai. Nanti akan menyita banyak waktu jika tidak di sesuaikan dengan jadwal. Sebenarnya, Ibu ingin ke makam Bapak dulu. Tapi karena perjalanan kita hanya hari ini, jadi ibu ingin memanfaatkan waktu dengan baik." Jelas Bu Tina panjang lebar yang membuat Rere manggut-manggut.


Sudah 2 jam mereka menempuh perjalanan, rupanya Rere tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya. Dia terjaga dengan nyenyak. Sementara Bu Tina dan Yusuf masih asik mengobrol tentang masa lalu mereka tinggak di rumah lama. Sesekali mereka tertawa bersama mengingat salah satu kejadian lucu Yusuf dimasa kecilnya.


"Yusuf juga tidak tahu, Bu. Kenapa sampai saat ini masih takut dengan ikan belut. Geli sekali melihatnya." Tubuh Yusuf merasa bergidik jika mengingat sekilah ikan belut itu menggeliat-geliat seperti ular.


"Mungkin kamu phobia, Suf. Ibu juga heran, kamu bisa sampai demam waktu itu."


"Aku takut sekali, Bu. Bagiamna tidak Tono memasukan ikan belit ke dalam baju ku." Yusuf tersenyum kecil mengingat teman kecilnya yang konyol itu. Tiba-tiba dia merasa rindu, mungkin saja Tono sudah menikah dan memiliki anak. Pasti hidupnya sngat bahagia sekarang.


"Tentu saja, Nyonya besar." Ucapan Yusuf itu membuat ibu memukulnya dengan keras, sehingga Yusuf meringis kesakitan.


***


Zainab mengemudikan mobilnya sendiri, dia menolak sopir yang akan mengantarkannya pergi. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun termasuk dengan sopir yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pertemuannya itu. Namun saja, dia lebih nyaman sendiri.


Zainab mampir ke toko pusat oleh-oleh. Dia hampir membeli semua jenis jajanan yang disediakan disitu. Hatinya bertambah girang sebab sepupunya Faisha juga telah menyelesaikan studinya. Meskipun Faisha adalah rival dalam merebut kasih sayang Raina, yang padahal sudah jelas-jelas adalah ibu kandung dari Faisha.


30 menit kemudian, Zainab sampai di kediaman pamannya. Dia sudah melihat mobil Yusuf terparkir disana. Rupanya dia datang lebih dulu. Zainab berjalan masuk dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Ucapnya seraya menyapu seluruh nyawa yang ada di ruangan itu.


"Walaikumsalam." Jawab mereka serentak dan menoleh siapa yang datang.


"Zainab, rupanya kau sudah datang." Sapa Raina yang menyambutnya dengan penuh kehangatan.


"Iya Bi." Zainab melangkah masuk.


"Kau datang sendiri?." Ustdaz Harun mengulurkan tangan kanannya bersalaman.

__ADS_1


"Iya, Zai sendiri." Sembari menyalami semua orang yang ada disitu.


"Duduklah, kau pasti sangat lelah." Perintah Raina. Zainab pun menurut.


Yusuf yang sejak tadi terkejut melihat kedatangan Zainab, membuat hatinya bertanya-tanya. Namun dia tidak bisa memastikan kedatangan Zainab kemari. Mungkin saja semua ini hanya kebetulan. Dimana dia harus menyembunyikan rasa gelisahnya tadi sebelum berangkat. Bayangan Zainab berkelebat, dan sekarang perempuan itu nyata ada di hadapannya. Bagaimana dia akan menerima gadis yang akan dikenalkan dengannya dan akan menerimanya sebagai istri. Keberadaan Zainab justru membuat keyakinanya runtuh seketika. Jantungnya mulai berdegub cepat.


Sementara Bu Tina dan Rere mengaku kagum dengan sosok Zainab. Mereka sudah mengira bahwa dialah yang akan di kenalkan kepada Yusuf.


"Minumlah, Nak!." Bu Tina menyodorkan gelas miliknya yang belum tersentuh sama sekali.


Zainab memandang ke arah Bu Tina dengan tersenyum. "Terimakasih Bu. Nanti saya kan mengambilnya sendiri di dapur." Tolaknya secara halus.


"Terimalah. Tidak baik menolak pemberian orang tua, apa lagi dia adalah seorang ibu." Perkataan Yusuf menyentuh ulu hati Zainab. Benar memang tapi sedikit sakit.


Tanpa menjawab Zainab meraih gelas itu dan meminumnya hingga tak tersisa. Bu Tina tersenyum senang. Predikat istri sholeha yang taat terhadap suaminya sudah melekat di diri Zainab. Tinggal menunggu peresmian saja secara hukum dan agama.


"Zainab pamit ke kamar mandi dulu, Bi." Katanya seraya beranjak dari tempat duduk yang mendapat anggukan kepala dari sang Bibi.


Obrolan mereka berlanjut hingga jam makan siang usai. Canggung antara Yusuf dan Zainab tercipta di diri mereka masing-masing. Meskipum obrolan serius mengenai siapa gadis itu belum terjadi. Faisha yang sejak tadi mencuri pandang terhadap Yusuf. Agaknya dia tertarik.


"Zai, siapa laki-laki itu?." Tanyanya saat mereka tengah mengobrol di kamar Faisha.


"Emm dia, Yusuf. Memangnya kenapa?."


"Sepertinya aku menyukainya, love at first sight. Bagaimana dia menurutmu?." Faisha meminta pendapat.


Zainab yang mendengar jika Faisha menyukai Yusuf, bak tersambar petir di siang bolong. Apakah paman dan bibi sebelumnya tidak mengatakan bahwa hari ini dia akan bertemu dengan laki-laki yang menjadi suaminya nanti. Jantung Zainab yang semula berdebar berganti seperti tertembak peluru nyasar.


"Maksudmu?." Zainab pura-pura tidak mengerti.


Faisha mendesah. "Aku ingin meminta kepada Abi untuk mengenalkan aku kepadanya. Aku ingin dia menjadi suami ku." Faisha melontarkan kalimatnya tanpa basa-basi.


Mungkin saja sekarang tubuh Zainab sudah terbakar. Dia harus segera menjelaskan semuanya agar Faisha tidak salah paham dan berharap lebih kepada Yusuf.


"Sebenarnya ada sesuatu hal yang harus kau tahu, bahwa maksud kedatangan ku hari ini bukan hanya untuk bertemu dengan mu. Akan tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu."


"Apa?." Faisha mendekatkan tubuhnya kepada Zainab agar dia dapat mendengar penjelasan lebih seksama.


"Aku dan dia akan menjalani proses ta'aruf."


Faisha membuang napas kasar. Hatinya merasa terinjak. "Oh ya?." Dengan nada tidak senang. "Itu artinya aku sudah menyukai orang yang salah. Maaf."


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin hatimu terluka lebih dalam jika kau terlambat mengetahuinya." Zainab menarik bibirnya membentuk senyum simpul.


Faisha benar-benar merasa iri. Dia begitu ingin merebut Yusuf dari Zainab, toh ini mereka juga belum menikah. Jadi siapapun bisa mendapatkan Yusuf dengan mudah. Sejak kecil hingga saat mereka sudah tumbuh dewasa, Faisha masih menyimpan rasa tidak suka terhadap Zainab. Bukan hanya sekedar rival saja, tetapi apapun yang dimiliki Zainab, dia harus mendapatkannya.

__ADS_1


bersambung***


__ADS_2