Cinta Zainab

Cinta Zainab
Pertemuan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Yusuf berangkat dengan membawa harapan. Lagi dan lagi Zainab berkelebat di benaknya tiada henti. Yusuf mencoba menepisnya, namun selalu gagal. Yusuf mencoba fokus dengan kemudinya.


Astaghfirullah. Gumamnya pelan.


Zainab menjadi racun bagi dirinya. Saat Dia mencoba untuk lari, bayangan Zainab seakan mengejarnya. Apakah Yusuf tidak menginginkannya? Mengapa Dia justru memilih perantara lain dengan mencari jodoh lewat ustadz Harun? Mengapa tidak mengikuti apa kata hatinya saja, datang ke rumah Zainab dan mengatakan kepada Ayahnya, jika ingin mempersunting putrinya itu? Mengapa Yusuf mempersulit dirinya sendiri? Entahlah.


Setibanya di kediaman Ustadz Harun, Yusuf disambut ramah oleh tuan rumah. Mereka saling berbagai cerita melepas kerinduan, setelah sekian lama tidak berjumpa.


Ustadz Harun sudah menganggap Yusuf seperti adiknya sendiri, dulu sewaktu Dia selalu mengajak kemanapun Yusuf pergi jika ada kajian yang di isi olehnya. Sudah barang tentu, Ustadz Harun merasa kehilangan setelah kepergian Yusuf tanpa jejak, bahkan nomornya pun tidak dapat dihubungi.


Setelah lama berbincang akhirnya Yusuf menyatakan niatnya kepada Ustadz Harun. "Begini Ustadz, Ane butuh bantuan. Tolong carikan Ane jodoh, dan Ibu juga sudah mendesak menginginkan seorang menantu." Tuturnya sedikit tegang.


Ustadz Harun menyunggingkan bibirnya. "Memang antum tidak bisa mencarinya sendiri." Candanya.


"Kan kalo mau cari istri sholeha, harus pada tempatnya."


"Maksud Antum, mau minta istri Ane?" Ustadz Harun sedikit tercengang. Meskipun sebenarnya dirinya tidak menanggapi dengan serius.


"Astaghfirullah, bukan begitu. Masa iya Ane mau nikung Ustadz sendiri." Yusuf buru-buru menjelaskan agar Ustadz Harun tidak salah paham. "Maksud Ane, ustadz tolong carikan perempuan lain yang tepat untuk dijadikan istri Ane."


Ustadz Harun tersenyum dan kepalanya manggut-manggut mahfum.


Istri Ustadz Harun keluar membawa nampan berisi minuman dan kue, yang kemudian Ia letakkan di atas meja. Tidak lama setelah itu terdengar suara salam dari balik pintu.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Ketiganya menjawab.


Yusuf sangat terkejut melihat siapa sosok yang berdiri tidak jauh dari hadapannya itu. Antara percaya atau tidak, Zainab tengah berada di tempat yang sama. Apakah ini yang dinamakan takdir? Atau mungkin hanya kebetulan belaka. Yusuf mencoba menolaknya.


Zainab terlalu tinggi untuk di gapai. Yusuf merasa dirinya tidaklah pantas untuk bersanding dengan Zainab. Bukan karena tidak ingin, tapi beberapa informasi yang pernah Dia dengar langsung dari beberapa rekan guru, bahwa sebenarnya Zainab adalah dari kalangan orang berada. Ayahnya seorang pengusaha. Mungkin jika usaha orang tuanya dulu tidak mengalami kebakaran, pasti Dia sudah meminta gadis itu untuk dinikahinya. Sudahlah, jangan menyalahkan nasib. Masih banyak gadis lain yang setara dengannya. Pikirnya menghibur diri.


Begitu halnya dengan Zainab, wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, melihat keberadaan Yusuf yang tengah duduk di sofa. Benarkah ini sebuah takdir? Zainab masih mencerna jika ini adalah rencana Allah.


"Zainab, rupanya sudah datang. Mari silahkan masuk." Raina, istri Ustadz Harun menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. "Naik apa dari rumah kemari?."


"Naik taksi, Bi." Zainab melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Umi, Zainabnya diajak duduk dulu. Masa mau mengobrol sambil berdiri." Ustadz Harun menyela diantara keduanya.


"Ayo duduk dulu, maafkan Bibi mu yang terlanjur bahagia karena kamu akan kemari."


Zainab dan Raina pun duduk di sofa yang sama. Dingin rasa jemari Zainab, dia bingug harus bagaimana.


"Biasanya telpon Paman jika mau berkunjung kemari?." Ustadz Harun mengambil minumannya di meja.


"Sebenarnya shubuh tadi, Zainab telpon Umi jika hendak kemari. Tapi Umi lupa memberitahu Abi." Raina mengusap punggung keponakannya itu. Sudah hampir 3 bulan mereka tidak bertemu.


"Bagaimana kabar Ayah mu, Mas Fikri dan Mabak Risa?" Tanya Ustadz Harun.


"Alhamdulillah semua dalam keadaan baik, dan Mbak Risa juga sedang mengandung."


"Benarkah?" Wajah Raina antara kaget dan bahagia mendengar kabar itu dan ketika melihat Zainab menganggukan kepalanya, Raina semakin bersyukur.


0


"Alhamdulillah." Ucap kedua pasamgan suami istri itu.


Yusuf yang sejak tadi hanya mendengar dan menyimak obrolan mereka. Dia pun ikut tersenyum melihat ekspresi mereka berubah bahagia.


"Zainab sudah mengenalnya, Yusuf mengajar di sekolah yang sama dengan Zainab." Katanya memberi tahu seraya menatap Yusuf, namun dia segera mengalihkannya takut jika jantungnya kehilangan detakannya.


"Oh, jadi kalian sudah saling mengenal. Jadi Paman tidak perlu lagi memperkenalkannya lagi kepada mu."


"Zai, bisa bantu Bibi menyiapkan makan siang di dapur?."


"Iya Bi, Zainab rindu dengan masakan Bibi." Zainab beranjak dari tempat duduknya dengan penuh antusias.


***


Di Dapur


"Kapan Bibi berkunjung ke rumah lagi?." Zainab mengambil piring di rak, meletakkannya di meja makan.


"Entahlah, Paman mu belum memiliki waktu luang. Belum lagi jika ada kajian, Bibi juga terkadang jenuh jika di rumah sendirian." Raina menyendok sayur dari wajan ke dalam mangkuk.

__ADS_1


"Faisha kapan kembali, Bi?."


"Bibi juga tidak bisa memastikan, karena Faisha sedang melaksanakan tugas akhir. Sudah pasti dia sangat sibuk. Meskipun Bibi sangat merindukannya."


"Bi, sebenarnya ada yang ingin Zai bicarakan." Zainab menarik kursi dan mendudukinya.


"Bicaralah!." Raina pun ikut duduk dan siap mendengarkan keponakannya itu dengan seksama.


"Ayah meminta Zai untuk segera menikah." Raut wajah Zainab pun berubah suram.


"Apa kamu belum siap?." Raina mencoba menebak apa yang dipikirkan Zainab.


"Tidak, Bi. Melainkan Ayah akan menjodohkan Zai dengan anak sahabatnya. Itu yang membuat Zai tidak menyetujuinya. Dan akhirnya Zai menawarkan kesepakatan dengan Ayah, Zai ingin mencari calon suami sendiri, namun jika dalan waktu 1 bulan Zai belum menemukannya, terpaksa.Zai harus menerima perjodohan itu." Wajahnya semakin lesu jika membahas permasalahn itu. Zainab memjamkan matanya seolah merasakan beban yang teramat berat. Berharap jika Bibi dan Pamannya bisa membantunya.


Raina memegang tangan Zainab. "Nanti Bibi akan membicarakan hal ini dengan Paman mu, Insya Allah ada jalan keluar. Jangan khawatir. Allah memberikan masalah berserta dengan solusinya." Raina mencoba menenangkan Zainab. Dia tahu Zainab tidak bisa menolak permintaan Ayahnya itu. Sebab Mujayasa adalah orang yang sangat tegas.


Zainab pun sedikit merasa lega. Hanya di tempat inilah dia bisa mencurahkan segala kegundahan hatinya. Raina yang selalu bisa menenangkan saat dia merasa tidak ada lagi yang bisa membuatnya nyaman. Senyum tipis terlepas dari bibirnya.


"Tolong kamu panggilkan Paman dan Yusuf dulu ya. Bibi mau ke kamar mandi, kebelet nih." Raina mengekspresikan bahwa dia sudaj tidak dapat menahan laju sesuatu di tubuhnya. Dia pun setengah berlari menuju kamar mandi.


Dengan rasa yang campur aduk, akhirnya Zainab beranjak menemui Paman dan Yusuf di beranda.


***


Di Ruang Tamu


"Zainab itu keponakan ane, Ayahnya adalah kakak kandung ane. Dia sering berkunjung kemari. Dia dekat dengan istri ane." Cerita Ustadz Harun.


"Dan sebuah kabar baik jika kalian sudah saling mengenal." Sambungnya lagi.


"Iya Ust, saya juga tidak menyangka bahwa akan bertemu dengannya di sini. Apa Zainab seumuran dengan Faisha?."


"Iya, mereka seumuran. Hanya saja Faisha lebih tua beberapa bulan darinya. Kedekatan antara Zainab dengan istri ane, itu yang membuat Faisha merasa cemburu. Padahal istri ane hanya berbagi kasih sayang, sebab Zainab tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, karena kehabisan darah." Ustadz Harun membuka lembaran lama sebagian kecil kisah hidup Zainab.


Kasihan sekali nasibnya. Aku tidak menyangka dia seorang piatu. Namun dia selalu ceria, meskipun terkadang galak dan sedikit aneh. Bisik Yusuf dalam hati dan tanpa dia sadari bibirnya mengembang. Tiba-tiba suara Zainab segera menghilangkan senyuman itu.


"Paman, makan siang sudah siap. Jadi, Bibi meminta Paman dan juga Yusuf untuk segera makan." Zainab tidak sanggup jika harus memandang Yusuf, jadi dia segera membalikkan tubuhnya dan kembali ke dapur.

__ADS_1


Yusuf terbuat heran olehnya. Apakah manusia ini memiliki kepribadian lebih dari satu. Jika di sekolah, dia terkesan galak. Tapi juga ramah. Perempuan memang aneh.


***


__ADS_2