Cinta Zainab

Cinta Zainab
Terpaksa Pulang Bersama Yusuf


__ADS_3

Usai makan siang dan sholat dhuhur bersama, Ustadz Harun dan Yusuf menuju ruang tengah. Yusuf belum bisa melupakan bagaimana sikap Zainab yang salah tingkah, ketika di hadapannya tadi di meja makan. Yusuf geli jika mengingatnya. Bagaimana tidak air dalam mangkuk yang dijadikan sebagai kobokan, justru dia minum. Sontak semua yang ada di situ tertawa karena melihat Zainab. Dia memang lucu, dan terkadang tidak bisa di tebak.


"Nanti akan ane bantu carikan. Antum berdoa saja, semoga dimudahkan. Kandidat banyak, namun belum tentu memenuhi kriteria yang antum inginkan."


"Iya Ustadz. Ane harap dari kalangan sederhana saja."


"Baiklah. Akan ane usahakan." Ustadz Harun menepuk-nepuk bahu Yusuf. Mungkin saja jika usaha orangtuanya tidak tutup. Pasti dia tidak akan mematok hal demikian. Terkadang persamaan derajat atau status sosial memang sering menjadi masalah.


Meskipun memang ada di antara sebagian dari mereka tetap bisa menerima dan menjalani hidup bersama, tanpa memandang status sosial pasangan hidupnya. Katanya, cinta bisa mengalahkan segalanya. Namun, tanpa harta juga tidak mungkin bisa menghidupi. Cinta yang berlandaskan karena Allah, insya allah akan langgeng sampai maut memisahkan.


Bukan hanya jodoh di dunia, tetapi jodoh sampai surga. Tidak ada manusia yang sempurna, namun cinta yang sempurna yang akan membuat segala hal menjadi indah.


Kisah cinta Rasulullah, cukup menjadi teladan bagi mereka yang berumah tangga. Meskipun kenyataannya setiap rumah tangga memiliki cerita yang berbeda. Menjalani dalam merajut kasih bersama, adalah suatu ibadah yang menghasilkan pahala.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 14.30. Langit yang semula terang benderang berubah menjadi gelap. Berselimut kan mendung. Zainab resah karena dirinya harus segera kembali pulang. Ayahnya tidak mengijinkan untuk menginap, walaupun hanya satu malam saja. Entah mengapa sekarang Ayahnya seprotektif itu, padahal Zainab bukanlah anak kecil lagi.


Zainab berjalan ke jendela, menyibakan gorden warna hijau keemasan. Kedua matanya memandangi langit yang masih dipenuhi awan kelabu. Dia juga tidak bisa leluasa karena ada Yusuf di sini. Meskipun hatinya merasa berbunga.


"Mengapa tidak menginap saja di sini? Nanti Paman akan telpon Ayahmu." Raina mengerti keresahan Zainab.


"Ayah tidak suka di bantah, Bi. Apapun alasannya." Raut wajahnya seperti mendung di langit, yang mulai menitikan ribuan titik air ke bumi.


Raisa menghembuskan napasnya pelan. "Tapi beliau sangat menyayangi mu, Bibi ingat sewaktu kamu sakit dulu. Ketika Ayahmu sedang di luar kota dan mendapat kabar bahwa kamu sakit, Ayahmu rela meninggalkan pekerjaannya di sana demi kamu." Kenangnya.


"Tapi Zainab sudah dewasa, Ayah juga sudah meminta Zai untuk segera menikah. Tapi mengapa masih bersikap seolah-olah Zai ini masih anak kecil."


"Orang tua memang selalu menganggap anaknya seperti itu. Meskipun mereka telah menikah, itulah wujud dari kasih sayang. Ayahmu tidak ingin kamu merasa berbeda dalam mendapatkan kasih sayang, meskipun dibesarkan tanpa seorang Ibu."


"Baik kamu ataupun Fikri, kalian berdua adalah tanggung jawab besar bagi beliau. Baginya kebahagiaan dan masa depan kalian adalah hal penting. Maka dari itu Ayahmu selalu bekerja keras dalam menjalankan usahanya, tanpa memikirkan dirinya sendiri untuk menikah lagi." Panjang lebar memberi pengertian.


Memang benar apa yang dikatakan Bibi ya itu. Seakan menghujam ulu hati Zainab. Ngilu. Rintik-rintik yang semula, kini berubah deras mengguyur. Menambah kegelisahan Zainab.


"Umi, Yusuf akan pamit. Dia akan pulang, sebelum hujan semakin bertambah deras." Ustadz Harun mendatangi istrinya itu.


"Zainab juga mau pulang, Paman. Tapi...."


"Tapi tidak mungkin kami membiarkan kamu pulang baik taksi sendirian. Kami khawatir jika nanti terjadi apa-apa dengan kamu." Raina memasang muka tidak rela.


"Benar apa yang dikatakan Bibi mu, Zai. Lebih baik kamu menginap, besok pagi kamu bisa kembali ke rumah." Ustadz Harun memihak istrinya.


"Ayah memintaku untuk pulang. Sudah beberapa kali Ayah menghubungi ku tadi." Zainab mulai cemas.


Yusuf datang menghampiri mereka, hendak berpamitan. Namun terjadi perdebatan di sana antara keponakan dan Paman dengan Bibinya.

__ADS_1


"Maaf Ustadz, Amah, saya pamit pulang. Saya tidak ingin membuat Ibu di rumah merasa khawatir."


"Oh iya maaf, karena sudah membuat mu menunggu lama tadi." Ustadz Harun merasa bersalah.


"Tidak apa Ustadz, saya mahfum.


Tidak tega melihat sang keponakan semakin di rundung kecemasan, Ustadz Harun membuat keputusan yang konyol. Tidak ada pilihan lain baginya, asalkan Zainab bisa kembali pulang dengan selamat.


"Begini saja, bagaimana jika kamu pulang bersama Yusuf?."


Keputusan itu membuat wajah Zainab kaku, betapa terkejutnya dia. Mungkinkah?


"Ini memang keputusan yang konyol, namun tidak ada pilihan lain. Paman yakin kamu akan baik-baik saja sampai tiba di rumah. Setidaknya kamu akan aman bersama Yusuf." Imbunya lagi.


Benarkah aku akan aman sampai di rumah? Mengapa Paman begitu sangat yakin, jika nanti terjadi apa-apa dengan keponakan mu ini, bagaimana? Pasti Ayah akan sangat murka. Kami berdua bukan mahrom, tidak diperbolehkan juga dalam agama. Omel Zainab dalam hatinya.


"Benar, Umi setuju dengan keputusan Abi. Ini memang terdengar sedikit membingungkan, tapi Insya Allah." Raina menyetujui keputusan suaminya itu.


Sedangkan Yusuf jantungnya berdebar-debar. Mana mungkin semua itu akan terjadi, mereka akan pulang bersama dalam satu mobil. Apakah nanti setibanya di rumah, dia akan bisa terjaga? Namun dia tidak mungkin menolak permintaan Ustadz Harun.


"Paman yakin kalian tahu batasan-batasan bagi yang bukan mahrom. Jika terjadi sesuatu dengan kalian berdua, Paman akan bertanggung jawab. Namun jika kalian melakulan kesalahan yang karena itu atas kehendak kalian sendiri, ingat bahwa Paman juga akan mendapatkan dosanya." Pesannya.


"Bagaimana, Suf? Kamu bersedia pulang bersama Zainab." Tanya Ustadz Harun.


Sesaat Yusuf merasa tenggorokannya tercekat. Dia bingung akan menjawab apa, sebenarnya dia juga melihat kecemasan di wajah perempuan aneh itu. Jadi merasa iba dan tidak tega. Akhirnya Yusuf terpaksa mengiyakan. "Baik Ustadz." Singkatnya.


"Segeralah berkemas, agar tidak terlalu malam kau sampai di rumah." Perintah pamannya itu. Zainab pun mengangguk pelan.


Hujan deras masih betah menyalurkan rasa rindunya kepada bumi. Mesin mobil sudah menyala, Yusuf menunggu Zainab yang masih berpamitan dengan Paman dan Bibinya. Tidam lama kemudian, Zainapun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka.


"Kalian hati-hati selama di perjalanan. Dan jika sudah tiba di rumah, jangan lupa memberi kabar." Raina memberi pesan yang mendapat anggukan dari keduanya.


Mobil melaju pelan keluar dari halaman rumah Ustadz Harun, membaur bersama kendaraan lain di tengah hujan. Udara dingin mulai membungkam keduanya, tapi hati mereka terasa panas. Ada api yang membara di sana.


***


"Yusuf minta dicarikan calon istri, Mi." Ustadz Harun membuka pembicaraan setelah mobil Yusuf menghilang.


Raina mengerutkan dahinya. "Zainab juga minta dicarikan calon suami, kok bisa samaan Bi. Apa mereka sebelumnya membuat janji untuk bertemu di sini?." Tebaknya penasaran.


"Yusuf tidak tahu menahu, jika Zainab adalah keponakan kita. Meskipun mereka mengajar di tempat yang sama."


"Zainab tadi bercerita jika dia akan dijodohkan oleh Mas Mujayasa, namun Zainab menolaknya dan ingin mencari calon suami sendiri."


"Mas Mujayasa belum juga berubah, masih suka sekehendaknya sendiri." Ustadz Harun merasa kesal jika mengingat watak kakaknya itu.

__ADS_1


"Sudahlah Bi, tidak ada salahnya jika kita bantu Zainab. Kasihan dia, Umi lihat dia begitu tertekan akan masalah ini." Raina berusaha menenangkan suaminya.


"Bagaimana jika Yusuf dan Zainab kita jodohkan saja Bi? Mereka terlihat cocok. Siapa tahu mereka berdua memang berjodoh." Raina tersenyum sendiri memikirkan idenya itu.


"Umi ini bicara apa. Jangan ngawur. Mana mungkin Mas Mujayasa mau menerima Yusuf sebagai menantunya. Status sosial akan menjadi jurang diantara mereka."


"Tidak ada salahnya kita mencobanya terlebih dahulu, Allah akan memutuskan semuanya." Raina begitu bersemangat.


"Apa yang membuat Umi merasa yakin?." Ustadz Harun merasa penasaran mengala istrinya begitu bersemangat.


"Umi hanya ingin melihat mereka bahagia. Maka dari itu, Umi yakin jika ide ini akan membuahkan hasil yang tidak akan mengecewakan. Raina membayangkan Yusuf dan Zainab duduk berdua di pelaminan, ini memang khayalan tingkat aneh.


"Tapi, Yusuf tadi berpesan jika dia ingin mencari calon istri yang setara dengan status sosialnya." Ustadz Harun meragu.


"Kita coba saja dulu, Bi. Nanti jika mereka tidak mersa cocok, barulah kita mencari kandidat yang lain." Raina sedikit memaksa akan idenya itu.


Semula Ustadz Harun merasa ragu, namun perkataan istrinya itu ada benarnya juga. Tidak salah jika mencobanya dahulu. Mu fkin saja mereka berjodoh.


"Baiklah, nanti Abi akan meminta mereka berdua untuk membiacarkan hal ini lebih lanjut. Di luar sudah sangat dingin, selertinya membahas mereka harus diakhiri, sekaranh saatnya membahas kita berdua." Mata Ustadz Harun berkerling genit terhadap istrinya itu.


Raina yang mengerti kode suaminya merasa geli. "Apaan sih Bi." Raina merasa malu, pipinya pun bersemu merah.


Keduanya segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Takut jika ada tetangga dengar, begitu kata Ustadz Harun. Dia memang ahli dalam menggoda dan membuat lelucon di hadapan istrinya itu. Iya, hanya kepada Raina.


Awas saja jika berani dengan yang lain, Raina tidak segan-segan mengangkat kakinya ke atas dan mengikatnya di atas ventilasi udara pintu. Itu ancaman tempoh hari yang selaku Ia acungkan kepada suaminya.


***


Epilog


"Suf, jika di sekolah Zainab ini bagaimana?" Raina sengaja ingin mencari tahu.


Zainab yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepada Yusuf, membuatnya nyaris kehilangan nafsu makan. Dia menghentikan aktifitas kunyahan di dalam mulutnya.


"Dia itu terkenal galak." Yusuf.spontan menjawab seraya mengalihkan pandangannya kepada subjek yang dimaksud.


Tenggorokan Zainab terasa bermasalah, dia tidak bisa menelan makaannya. Jawaban Yusuf menahannya. Itu memang benar adanya. Dan dia pun tersedak dan terbatuk-batuk.


Bukan karena mendengar Zainab adalah sosok guru yang mendapat sebutan galak ataupun melihatnya yang sedang tersedak, namum yang membuat Yusuf, Raina dan Ustadz Harun tertawa adalah melihat Zainab salah meminum air. Dia tidak meminum air di gelasnya akan tetapi air dalam mangkuk yang digunakan sebagai kobokan.


Bertambah rasa malunya Zainab. Tega-tega nya dia dipermalukan seperti itu. Awas saja kau Yusuf, aku akan membuat perhitungan denganmu. Hmm dendam kah itu?


***


Kira-kira Ustadz Harun tipe suami takut istri bukan ya?....

__ADS_1


Kira-kira selama perjalanan Yusuf dan Zainab ngapain ya?....


Maafkan jika ada kalimat yang typo. Maksih untuk kalian yang sudah baca. jangan lupa like coment and favorite, biar aku tambah cemungut nulis nyahhhh..


__ADS_2