
Zainab membuang arah pandangannya ke luar. Dia masih mencoba menenangkan degub jantungnya, seakan ingin meloloskan diri darinya. Berlari lepas. Dia meremas jari jemarinya, mengendalikan hatinya.
Beberapa saat tidak ada percakapan di antara Yusuf dan Zainab. Mereka masih membungkam, atau kalimat sekedar berbasa-basi. Yusuf masih terus beristighfar. Takut jikalau setan terus berusaha menggodanya. Mungkin dirinya mampu menahan pandangannya, tapi yang namanya hati selalu saja memberitahu kebenaran tentang perasaannya. Munafikkah Dia?
Mereka juga manusia, sama seperti yang lainnya. Mempunyai fitrah untuk tertarik dan menuai rasa cinta. Namun mereka tahu bagaimana melabuhkan cinta. Bukan dengan cara yang salah.
Dering ponsel Yusuf berbunyi, memecah kesunyian diantara mereka berdua. Yusuf mengambil ponsel di saku baju miliknya. "Hallo, Assalamualaikum Bu." Yusuf masih mencoba fokus dengan kemudinya.
"Kamu jam berapa akan kembali, Suf?." Suara diseberang sana terdengar begitu sangat khawatir.
"Yusuf sedang dalam perjalanan, Bu." Katanya memberi tahu.
"Iya sudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut, di luar masih hujan deras. Assalamualaikum." Tutupnya.
"Iya Bu. Walaikumsalam." Panggilan itu diakhiri.
Hati Zainab tiba-tiba merasa rindu, selama hidupnya dia tidak pernah tahu rasanya memiliki sosok seorang ibu. Mendengar Yusuf yang dikhawatirkan oleh ibunya, membuatnya merasa iri. Selama ini hanya Ayah yang mengisi hari-harinya, kasih sayang Ayah memang tidak pernah kurang dia dapatkan. Bahkan over protective.
"Pasti kamu merasa bahagia , masih memiliki seorang ibu. Jujur aku iri denganmu." Zainab membuka suara. Ehh tunggu, kok panggilannya dari anda jadi kamu? Ada apakah gerangan?
"Alhamdulillah, tapi aku juga sudah kehilangan sesosok Bapak." Yusuf berbicara tanpa mengubah pandangannya. Dia tetap melihat ke depan, fokus mengemudi. Melirik Zainab sama dengan siap menerima anak panah yang selalu tepat sasaran mengenai jantungnya.
"Kamu beruntung." Zainab menoleh sekilas kepada Yusuf. Wajah putih bersih dengan janggut yang tercukur rapi, membuatnya semakin tampan. Zainab tersenyum, namun sayangnya Yusuf selalu memergoki jika Zainab saat memerhatikan dirinya.
"Tuh kan sudah 2 kali, Bu Zai ketahuan memerhatikan saya." Yusuf menemukan kedua bola mata itu penuh dengan rona malu.
Zainab menggigit bagian bawah bibirnya. Dia memarahi dirinya sendiri. Mengapa seceroboh itu, kan memalukam sekali. Rasanya ingin sekali dia melepas wajahnya, dan menyimpannya di dalam tas. Agar tidak terlihat lagi.
Yusuf mengetahui jika Zainab merasa malu akan hal itu. Kemudian dia mencoba mengalihkanya. "Kita sama-sama beruntung masih memiliki orang tua, meskipun salah satu dari mereka sudah lebih dulu kembali kepada Allah. Baik Ibu ataupun Ayah, mereka pasti menyayangi anak-anaknya. Meskipun memang cara mereka dalam memberikan kasih sayang itu berbeda."
__ADS_1
"Kamu benar. Ayah ku over protective, semata-mata beliau tidak ingin aku merasa tidak bahagia. Tapi tetap saja, aku rindu ibuku." Sorot mata Zainab berubah sendu.
"Besok kalau sudah menikah, kan ada Ibu mertua. Anggap saja sebagai Ibu mu."
Zainab mengerutkan dahinya. "Iya, semoga saja. Lalu senyumnya mengembang.
"Kenapa kamu belum menikah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Zainab. Sebenarnya dia juga penasaran, karena sudah terlanjur mengobrol sejak tadi. Mungkin tidak ada salahnya jika dirinya bertanya akan hal itu. Mungkin saja ada peluang besar untuknya, penuh harap.
"Allah belum mempertemukan jodoh saya. Bu Zai sendiri bagaimana? " Yusuf juga ingin meruntuhkan keingintahuannya.
"Panggil saja Zainab, kita kan tidak sedang berada di sekolah." Pintanya. "Saya juga sedang menunggu siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya. Ayah sudah meminta saya untuk segera menikah, tapi cukup sulit untuk menemukan siapa orang itu." Keluhnya.
Yusuf diam-diam tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Namun dia lagi-lagi harus mengubur dalam keinginan untuk memiliki Zainab. Pastilah lelaki beruntung yang mendapatkannya.
"Saya doakan semoga saja Bu...., ehhh maksudnya anda segera dipertemukan dengan jodohnya." Yusuf masih kaku mengubah nama panggilannya.
"Aminnn." Zainab mengaminkan. Aku berharap semoga kamulah yang akan menjadi imam ku kelak. Iya Allah kabulkanlah do'a ku ini. Pinyanya dalam hati. "Semoga begitu juga dengan kamu."
Iya Allah jika dia memang jodohku, maka dekatlan lah. Aku ingin menjadikan dia sebagai istri, aku ingin mengarungi kehidupan bersama dirinya. Akan tetapi, mungkinkah itu? Aku yang tidak memiliki apa-apa, sedang dia adalah bulan yang ingin ku raih. Di dalam do'anya ada harapan dan keputus asaan.
***
Hujan masih tersisa dengan rintik-rintiknya. Udara dingin semakin menusuk kulit, Zainab yang sudah mengenalan jaket tebal, rupanya belum mampu menghalau hawa dingin. Sesakli dia mengosok-gosok kedua telapak tangannya, agar memperoleh kehangatan.
Sesuai arah petunjuk yang diberikan oleh Zainab, akhinya mobil Yusuf berhenti di depan gerbang, pintu gerang itu terbuka. Rumah besar bercat warna hijau muda, sudah terlihat di depan mata. Yusuf semakin menciut melihat tempat tinggal Zainab bak istana, namun dirinya tidak pernah bersikap riya, atau menyombongkan miliknya.
Pintu rumah terbuka, seperti tahu siapa yang datang. Keluarlah laki-laki paruh baya, bersama istrinya.
Zainab turun dari mobil, diikuti oleh Yusuf. "Assalamualaikum, Mbok Cici. Pak Imran." Zainab mencium punggung keduanya.
__ADS_1
"Walaikumsalam. Ini siapa, Non?." Tanya Mbok Cici.
Yusuf menelungkup kedua tangannya, memberi salam. Dia hendak menjawab, namun Zainab mendahuluinya.
"Ini Yusuf, kami mengajar di sekolah yang sama. Belum selesai Zainab menperkenalkan Yusuf, Mujayasa muncul menghampiri mereka.
"Ayah! Zainab memeluknya layaknya seperti anka kecil. Hal itu selalu membuat Mujayasa tersenyum, baginya Zainab adalah sama seperti putri kecilnya dulu. Manja dan cerewet.
Mujayasa memandang Yusuf dengan raut wajah sedikit tidak suka. "Siapa dia, Nak?"
"Dia Yusuf, Yah. Dia yang mengantarkan Zainab pulang. Itupun karena ketidaksengajaan, Paman yang memintanya sebab saat Zainab hendak pulang menggunakan taksi, tapi karena hujan deras, Paman dan Bibi merasa khawatir, takut jika terjadi hal tidak diinginkan." Zainab menerangkan agar Ayahnya tidak salah paham.
"Dia tidak menyentuh ataupun melukaimu? Bukankah dia juga laki-laki? Mungkin saja mempunyai niat tidak baik terhadap mu. Lantas apa bedanya dengan naik taksi, yang sama-sama dengan orang lain." Mujayasa meletakkan kedua tanggannya ke bahu Zainab.
"Ayah, Yusuf orang baik. Tidak mungkin dia akan melakukan hal serendah itu. Dia sudah mengantar Zainab kembali ke rumah dengan selamat, tidak seharusnya ayah berbicara seperti itu." Zainab melindungi Yusuf.
"Zainab, Ayah hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Nak."
Drama antara Ayah dan Anak, menjadi tontonan bagi Yusuf dan yang lain. Mungkin jika bagi Mbok Cici dan Pak Imran, itu biasa sering terjadi. Pertengkaran, perdebatan diantara mereka.
Mujayasa kembali menatap Yusuf.dan berjalan menghampirinya. Pandangannya menyusuri penampilan Yusuf. "Anak muda, jangan pernah berharap untuk mendapatkan Zainab, seorang putri Mujayasa. Carilah wanita yang sama miskinnya seperti mu, dan lihatlah mobil butut mu itu. Tidak pantas membawa putriku. Dia tidak pernah hidup kekurangan. Gajimu tidak akan sanggup untuk memberikannya kebahagiaan" Seringai Mujayasa penuh ejekan. "Saya harap kamu tahu diri. Dan satu hal yang hqrus kamu ketahui, bahwa Zainab akan segera dijodohkan dengan anak rekan bisnis saya, dan kami memiliki status sosial yang sama. Zainab tidak akan pernah merasakan susahnya hidup." Mujayasa berbicara dengan nada sepelan mungkin agar Zainab dan yang lain tidak dapat mendengarkannya.
Perkataan Mujayasa sangat menusuk ke relung hatinya. Dia semakin merasa tidak pantas untuk meraih sang bulan itu. Do'anya tadi seperti hal sia-sia. Dia memang sudah tahu siapa dirinya. Tidak perlu mendapat hinaan. Andai saja usaha Bapaknya masih berdiri hingga kini, maka dengan mudah dia bisa menunjukan dengan siapa dia berbicara.
Yusuf merasa dirinya harus pulang. Dia tidak ingin melukai hatinya dengan hinaan yang kan dia dapatka lebih banyak lagi. "Maaf Pak, saya pamit." Yusuf minta diri. Dia sejenak menatap Zainab Matanya menyiratkan kata permohonan maaf. Yusuf menganggukan kepalanya dan mengucap salam.
"Tunggu anak muda! Mujayasa menghentikan langkah Yusuf yang menuruni anak tangga. Yusuf menoleh. "Saya lupa untuk mengucapkan terimakasih, karena sudah mengantar putri saya dengan selamat." Kata manisnya seolah menyembunyikan hinaan yang sudah dia beri kepada Yusuf.
"Iya Pak." Senyumnya mengembang menutupi pedih hatinya.
__ADS_1
Yusuf segera memasuki mobil, menyalakannya dan kemudian keluar dari rumah megah itu. Dengan membawa hancur hatinya. Dia baru saja berjuang dengan do'a, namun sudah begini hasil yang dia dapatkan. Terlihatkah jika dia memang menginginkan Zainab, sehingga Mujayasa bisa mengetahui isi hatinya.
Mobilnya melaju bersama dengan kendaraan lain. Yusuf mengusap wajahnya yang lelah. Iya Robb, tidak pantaskah aku baginya? Apakah aku yang tidak tahu diri sudah menginginkankannya? Haruskah aku berhenti memintanya kepada-Mu? Jika ya, maka hapuskanlah kegundahan ini. Sungguh aku tidak sanggup. Jika tidak, berilah aku petunjuk bagaimana cara untuk memperjuangkannya.