
Yusuf mempersilahkan kedua anak itu pergi. Ia tahu bahwa sejak tadi Zainab memperhatikannya diam-diam dibalik bukunya. Yusuf tersenyum meliriknya, namun Zainab tidak menyadarinya bahwa Ia juga sekarang sedang diperhatikan.
"Maaf Bu Zai, bukunya terbalik." Kata Yusuf yang entah kapan Ia ada disitu. Membuat Zainab tidak bisa mengendalikan dirinya karena terkejut.
Zainab memperhatikan bacaannya. Dan ternyata Yusuf benar. Dengan raut muka menahan malu, Ia membalikkan posisi buku ke arah yang semestinya huruf-huruf itu dapat di eja. Ia meletakkan buku itu di meja, berusaha untuk kuat menatap mata teduh di depannya. Sebenarnya Ia bingung mencari kata-kata yang tepat sebagai alasan.
"Pak Yusuf." Senyumnya mengembang, dan melelehkan lilin yang sejak tadi berdiri dihadapannya.
"Ibu mendengarkan percakapan saya dengan kedua anak tadi? Atau justru memperhatikan saya?." Yusuf melipat kedua tangan di dadanya.
"Ehm... " Zainab memainkan tangannya di meja.
"Jika pun tidak mana mungkin buku ini bisa terbalik." Yusuf meraih buku yang tadi di pegang Zainab.
"Kenapa Pak Yusuf percaya diri sekali, jika saya memperhatikan Bapak. Soal buku yang terbalik itu, saya hanya ingin mencoba dengan cara lain saja, agak ekstrim memang membaca dengan buku terbalik." Mencoba mentertawakan kekonyolan dirinya sendiri.
Padahal Zainab hanya berkilah. Mana mungkin dirinya mengakui tengah memperhatikan Yusuf. Sulit sekali bagi seorang perempuan untuk mengakuinya. Entah masuk akal atau tidak apa yang sudah dikatakannya, memang terdengar sedikit aneh.
Yusuf yang mendengar jawaban itu, tidak bisa menahan tawanya. Ia tahu Zainab sedang melindungi dirinya sendiri. Dasar wanita. Aneh.
"Ohh, ternyata Bu Zai hebat juga ya. Saya juga akan mencobanya nanti. Membaca buku dengan cara terbalik." Ujarnya.
"I-iya silahkan. Pasti membuat anda penasaran." Zainab dengan terbata menambahkan agar semakin seru dan Yusuf mempercayai alasannya.
Mereka berdua dalam keheningan. Meskipun diruangan itu guru-guru yang lain sedang berbincang antara satu sama lain. Netra mereka bertemu, ada ombak berdebur di pantai hati. Tidak ingin berlama-lama ditempat itu, yang semakin merobohkan perasaan Yusuf ingin mengetahui apa sebenarnya rahasia yang disimpan oleh Zainab dihatinya. Hanya saja tidak semudah itu untuk mengungkapkannya.
"Eh, ada Pak Yusuf. Kalian sedang ngobrol membahas hal apa, boleh dong aku ikut bergabung di sini." Sofia datang berseloroh.
Beruntung bagi Zainab, Sofia datang diwaktu yang tepat ketika degub jantungnya terasa semakin kencang. Takut jika Yusuf bisa mendengarnya.
"Jika diperhatikan, kalian cocok juga ya." Sofia melirik dan menyenggol lengan Zainab.
Zainab melototkan mata ke arah Sofia, rasanya ingin mengucir mulut sahabatnya itu.
Karena tidak ada jawaban dari keduanya. Sofia berkata lagi "Tuh kan, kalian saja kompak tidak menjawab pertanyaan ku." Sofia memang sengaja membuat dada Zainab mendidih. Sejak kapan dia mulai kehilangan kewarasannya.
Sedangkan Yusuf masih terlihat biasa saja. Ia menganggap itu hanya gurauan belaka, jikalaupun benar Ia dan Zainab cocok, apakah bisa bersatu. Sesungguhnya Ia masih menunggu atas jawaban do'a nya.
"Bu Sofia, saya kembali ke meja dulu." Pamit Yusuf.
Setelah Yusuf pergi dan Zainab merasa Ia tidak dapat mendengar percakapannya dengan Sofia.
"Apa ada yang korsleting di kepalamu itu?." Zainab berkacak pinggang menghadap Sofia penuh emosi.
__ADS_1
Sofia justru terkekah melihat sikap lucu sahabatnya itu. "Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, kalian memang cocok." Sofia menarik kursi kemudian mendudukinya.
"Kau tahu kata-katamu itu membuat ku malu." Zainab masih emosi.
"Aku doa'kan kalian berjodoh. Dua insan yang...
"Cukup Sof, aku tidak mau kau mengatakan hal itu lagi. Memangnya siapa yang mau dengan Dia."
"Kalau kamu tidak suka, tidak perlu sewot. Justru itu menandakan keadaan hati yang sebenarnya." Sofia belum berhenti menggodanya.
"Maksudmu?" Zainab tidak mengerti.
"Pak Yusuf saja tidak sesewot dirimu. Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku tadi. Jadi, maksudnya mungkin saja ada sesuatu di hati kamu."
Zainab merasakan seperti ada benda tak terlihat menikam jantungnya. Ia menelan salivanya, Ia meraih botol minum di meja dan meminumnya hingga tak tersisa. Berpikir dituduh menaruh hati yang sebenarnya mungkin saja itu sama seperti habis berlari sprint 100 meter. Bertanya apakah yang diucapkan Sofia itu benar. Bila pun salah, tidak seharusnya sikapnya seperti itu tadi. Memalukan.
"Sof, cinta itu rasanya seperti apa?" Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Zainab. Dia tidak pernah menjalin cinta dengan laki-laki manapun. Hidup Zainab bak telur emas bagi Ayahnya. Tidak mudah bagi siapapun untuk memilikinya.
Pertanyaan itu Sontak membuat Sofia tercengang. Apa mungkin sekarang ketidakwarasannya berpindah kepada Zainab. Atau kah mungkin sifatnya menular.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal rasanya cinta." Sofia malah berbalik tanya.
"Aku hanya ingin tahu saja. Kau tahu jika aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, kan."
Cinta.
Cinta itu ibarat virus yang tidak bisa hapus.
Dan menghapusnya hanya dengan cara menikah
Cinta itu rasa bahagia yang sulit teridentifikasi
Kadang seseorang dianggap gila atau bisa menjadi gila, karenanya
Dan rasa dari sebuah cinta...
Jika jauh, ingin jumpa
Jika dekat, malu-malu tak menentu
Jika rindu, hati meringis dan menangis
Puisi Sofia terdengar sangatlah aneh. Zainab sesekali mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Itu sajak puisi atau apa? Jangan-jangan dia hanya mengarang tidak jelas. Ngalor ngidul mboh parane, begitu orang jawa bilang. Atau selama ini dia memang seorang amatiran, tidak mahir dalam merangkai kata-kata indah? Atau selama ini dia hanya menjiplak atas karya orang lain? Tidak henti-hentinya Zainab membuat pertanyaan untuk dirinya sendiri, Ia menopangkan dagu di kedua tangannya, masih berusaha dengan seksama mendengarkan Sofia.
Cinta itu butuh waktu
Baik untuk tumbuh, jatuh cinta ataupun bersemi kembali
Mimpi hanya berlangsung satu malam, sedangkan cinta bertahan satu untuk selamanya
Kalimat pamungkas seorang pencinta berakhir dengan penuh senyuman. Beharap Zainab akan menyukai dan menyanjungnya.
Zainab ikut melepaskan senyum, Ia menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab.
"Bagaimana, puisi ku bagus kan?." Tanya Sofia sambil memainkan alisnya keatas berulang kali.
"I-iya lumayan bagus."
"Ko cuma lumayan sih, Zai?."
"Daripada lumanyun, masih mending lumayan kan Sof."
"Baiklah, terserah kau saja. Tadi sewaktu aku sedang berpuisi, aku melihat Pak Dimas. Seolah-olah itu juga ungkapan perasaanku kepadanya. Jantungku hampir saja lolos, seperti ingin berlari mengejarnya. oohh.."
"Hush dosa tuh. Sudah zina mata, zina hati pula." Ujar Zainab.
"Ya Allah Zai, ketat banget hukum hidup ini. Dikit-dikit dosa, dikit-dikit zina." Sofia menepuk jidatnya sendiri.
"Allah itu tahu yang terbaik untuk umatnya, islam itu mudah dan memudahkan. Kamu saja yang mempersulit diri."
"Banyak bersyukur, berdzikir. Jangan kebanyakan mengkhayal." Lanjutnya.
"Ya Allah punya sahabat satu baik banget, aku kalau salah pasti langsung diceramahin. Maafin Sofia, Ya Allah." Sofia menirukan salah satu ciri khas jaguar artis cilik.
Zainab tertawa pelan mendengar kalimat lucu itu. Ia juga tidak ingin sahabatnya salah arah dalam menentukan hidup. Ia teringat, dulu kali pertama waktu bertemu dengan Sofia, itu merupakan masa kelam bagi Sofia.
"Kau ini menyebalkan sejak dulu, Zai. Meskipun begitu aku sangat beruntung telah dipertemukan denganmu." Tangan Sofia meraih pundak Zainab, merangkulnya.
"Kita dipertemukan oleh Allah, dan suatu saat jika kita berpisah juga demikian karena Allah."
"Sudah, sudah. Mau newek nih."
"Kau tentu masih ingat. Tempoh hari aku pernah mengatakn jika kita harus menjadi sahabat sampai surga.
Jika esok kamu masuk ke surga terlebih dahulu, tetapi tidak ada aku di sana. Maka carilah aku. Dan ketika kamu mengetahui bahwa aku di neraka, mohonkanlah kepada Allah agar kau bisa membawaku untuk ikut ke surga." Zainab menggenggam tangan Sofia erat.
__ADS_1
"Iya, aku akan selalu ingat." Sofia mengiyakan.