
Matahari sudah condong ke barat. Waktu sudah menunjukan pukul 14.30. Pertemuan itu harus segera menemukan titik terang. Ustadz Harun, Yusuf beserta Ibu dan adiknya sudah kembali duduk di ruang tamu. Zainab sudah tidak sabar dengan keputusan yang akan dia dengar dari Yusuf. Dia menunggu di ruang tengah ditemani oleh Raina.
Sedangkan Yusuf yang masih merasa bingung, sejak tadi dia menanti kedatangan gadis yang akan bertwmu dengannya, tidak juga muncul. Banyak pertanyaan muncul di otaknya. Namun dia tidak berani menyimpulkan. Hatinya masih mencoba terus meluruskan spekulasinya.
"Yusuf, sesuai dengan kabar yang Ane berikan tempoh hari. Bahwa hari ini Ane akan beritahu siapa gadis itu." Ustadz Harun mengarah ke inti pembahasan.
"Siapa dia, Ustadz? Apakah hari ini dia tidak jadi datang?" Tanya Yusuf penuh dengan rasa penasaran.
Ustadz Harun mahfum dan sudah menebak jika Yusuf akan bertanya demikian. "Sepertinya Antum sudah tidak sabar ya?." Ledeknya.
Yusuf tersenyum, termasuk ibunya juga ikut tersenyum. "Sebenarnya saya yang tidak sabar untuk memiliki menantu, Ustadz." Bu Tina menimpali.
"Baiklah, Ane akan memberitahu siapa gadis itu. Ustadz Harun menghela napas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Ane lihat kalian juga cocok. Insya Allah, ini adalah jalan bagi kalian untuk membina rumah tangga." Terangnya.
Dada Yusuf mulai terasa sesak. Apakah gadis itu adalah Zainab? "Siapa dia, Ustadz?." Yusuf mencoba meyakinkan dirinya.
"Siapa lagi, tentu saja Zainab." Ustadz Harun melepas senyum merasakan bahagia di hatinya.
"Ke-kenapa Zainab?." Yusuf tidak menyangka.
"Apa Antum menolaknya?."
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja Ane terkejut mendengarnya." Aku Yusuf.
"Lalu? Apa jawabanmu?." Ustadz Harun terus menanyakan jawaban Yusuf.
Agak lama Yuusf berpikir. Jangan ditanya hatinya. Dia sangat bahagia. Namun perkataan Ayah Zainab kala itu terngiang kembali. "Saya merasa kurang pantas untuknya, Ust."
Ustadz Harun mengerutkan dahinya. Wajahnya yang semula berbinar kini berganti muram. "Kenapa kau beranggapan seperti itu? Apa karena Zainab itu adalah keponakan ku?"
"Bukan itu yang menjadi masalahnya."
"Lalu?" Tanyanya Ustadz Harun cepat.
"Kami hidup dengan status sosial yang berbeda. Ane hanya takut jika orang tua Zainab mempermasalahkan hal itu, nanti." Alasan Yusuf memang benar. Ini adalah ketakutannya terbesar untuk mendapatkan Zainab.
Ustadz Harun tersenyum. "Itu tidak akan terjadi. Nanti Ane akan bantu bicara dengan Ayah Zainab. Asal kau tahu tidak mudah bagi Ane untuk menjodohkan Zainab kepada sembarang orang. Harusnya Antum merasa beruntung. Dan Ane sangat percaya jika Antum pasti akan membuatnya bahagia dunia akhirat." Ustadz Yusuf menepuk bahu Yusuf.
Yusuf merasa dirinya yang mendapat dukungan dari Ustadz Harun, membuat hatinya kini mantap untuk mau menerima perjodohan itu. Bu Tina memeluk Yusuf, melampiaskan rasa bahagianya.
Begitupun Zainab. Setelah mendengar keputusan Yusuf di ruang tengah, dia menghambur kedalam pelukan bibinya itu. "Alhamdulillah, Bi." Zainab menitikan air mata haru.
__ADS_1
"Selamat ya, Sayang. Akhirnya sebentar lagi kau akan segera menikah." Ucap sang Bibi yang turut merasakan kebahagiaan.
"Terimakasih, Bi. Zainab akan memberitahu Ayah soal kabar baik ini." Zainab melepaskan pelukannya.
"Jangan, Zai. Biar Paman mu sendiri yang bicara kepada Ayahmu. Paman akan meyakinkan jika Yusuf pantas untuk menjadi suamimu."
Zainab menganggukan kepalanya. Hatinya masih dipenuhi bunga-bunga. Dia akan tidur dengan mimpi indah malam ini. Risa dan Fikri pasti akan bahagia mendengar kabar ini, karena perjodohannya dengan anak rekan bisnis Ayahnya secara otomatis akan dibatalkan.
***
"Ibu merasa sangat beruntung, akan segera memiliki menantu seperti dirimu, Nak." Bu Tina membelai kepala Zainab dengan penuh kasih.
Zainab yang merasakan kehangatan itu, dirinya juga secara tidak langsung akan mempunyai ibu mertua yang sangat menyayanginya. Benar apa yang Yusuf katakan dulu, dia akan mendapatkan ibu mertua yang akan menggantikan ibunya yang telah tiada. Meskipun mungkin di luar sana, cenderung ada ketidakcocokan diantara keduanya. Semoga saja nasib Zainab beruntung.
Zainab melepaskan senyum dibibirnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Namun Raina seolah mengerti jika keponakannya itu merasa canggung. "Insya Allah, Zainab akan menjadi istri sholeha untuk Yusuf. Saya sangat tahu bagaimana dirinya, terkadang dia lebih mementingkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri. Yusuf pasti akan bahagia bersamanya." Raina juga ikut membelai kepala Zainab.
Zainab merasa malu. "Ahh, Bibi jangan terlalu berlebihan. Zai hanya ingin membuat orang lain bahagia." Katanya.
"Tapi kamu jangan sampai melupakan kebahagiaanmu sendiri." Bu Tina berganti menggenggam tangan Zainab.
Zainab yang duduk diapit diantara Bu Tina dan Raina, merasakan kasih sayang yang begitu besar dari keduanya. Tidak pernah sebelumnya dia mendapatkan itu semuanya. Kini, Bu Tina akan menjadi salah satu bagian dari hidupnya.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang sejak tadi memandangi ke arah mereka. Lebih tepatnya kepada Zainab. Bibirnya tiada henti untuk terus mengembang sempurna. Jantungnya terus meronta ingin melepaskan diri. Dia sudah tidak sabar untuk dapat memiliki seluruh hidup Zainab sepenuhnya. Meskipun dia sudah mendapatkan hati Zainab, namun semua itu belum membuatnya merasa puas sebelum benar-benar sah di hadapan penghulu.
"Apa yang Antum pikirkan, Suf?." Tanya Ustadz Harun yang membuat lamunan Yusuf buyar.
"Tidak ada, Ust. Ane masih merasa tidak percaya dengan semua ini." Jawabnya berdalih.
Ustadz Harun terkekeh. Baginya itu lucu. "Antum ini, apa perlu Ane memukul mu?."
"Jangan!!!" Yusuf setengah berteriak yang membuat Ustadz Harun malah tertawa terpingkal-pingkal.
Namun kali ini dia berbiacara serius. "Kau harus memantaskan diri untuk Zainab. Maksud Ane, bukan dalam hal urusan materi melainkan Antum harus membuktikan jika benar-benar bisa membuat Zainab bahagia. Sebab sepeninggal Ibunya, Ayah Zainab sedari dulu tidak pernah menginginkan anak-anaknya hidup dalam kesusahan, dia selalu berusaha membuat mereka tersenyum." Tuturnya panjang lebar.
Yusuf sedikit banyak tahu akan hal itu. Akan tetapi, benarkah yang dikatakan Ustadz Harun bahwa Ayah Zainab tidak mementingkan hidup bergelimang harta? Dirinya masih dalam keraguan. Dia akan sholat istikhoroh untuk memastikan segalanya.
"Insya Allah Ane akan berusaha Ustadz. Jika dalam urusan materi memang kehidupan Ane selepas usaha Bapak tutup, mengalami kemerosotan drastis. Namun kini kondisi ekinomi kami, alhamdulillah sudah jauh lebih baik."
"Alhamdulillah, Ane akan selalu berdo'a semoga Allah memudahkan."
"Aamiin."
__ADS_1
Petang mulai melepaskan matahari yang akan kembali ke peraduannya. Birunya awan masih terlihat indah, seperti mendukung kebahagiaan diantara mereka.
Yusuf beserta Ibu dan adiknya berpamitan terlebih dahulu. Sedangkan Zainab akan tinggal sebentar lagi di sana. Sejenak sebelum mereka berpisah di beranda, Yusuf dan Zainab berpandangan. Sebenarnya tidak sengaja mata mereka bertemu, entah mengapa selalu saja ada desiran aneh menghantam hati mereka berdua. Masih terlalu dini untuk mengartikan apakah itu adalah cinta.
Ustadz Harun memergoki saat netra mereka beradu. "Ehmm" Dia berdehem yang kemudian membuat keduanya menjadi salah tingkah. "Sudah cukup, nanti kalau sudah menikah bisa dipandang setiap hari, bahkan sampai bosan."
Raina mengerutkan dahi mendengar suaminya berbicara seperti itu. "Oh jadi Abi bosan sama Umi, karena setiap hari bertemu." Melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut.
Ustadz Harun merasakan ada sinyal perang dingin akan di mulai diantara diri dan istrinya. "Bukan begitu Mi, apa tadi Abi salah bicara ya." Matanya mengedipkan ke arah Zainab, meminta pertolongan pertama terhadap istrinya itu.
Zainab yang mahfum akan kode Pamannya itu. "Mana mungkin Paman bosan dengan Bibi. Buktinya sampai sekarang masih setia di samping Bibi. Iya kan, Paman?."
Pertengkaran kecil diantara mereka membuat tersenyum siapa pun yang menyaksikannya. Raina merajuk seperti anak kecil terlihat begitu lucu.
"Sudah ya Sayang, malu dilihat yang lain." Ustadz Harun berusaha merayu.
Bu Tina ikut angkat bicara. Dirinya tahu benar jika Raina tidak benar-benar merajuk. "Inilah salah satu contoh kisah dalam rumah tangga, terkadang terjadi pertengkaran, perdebatan, kesalah pahaman. Menyatukan isi dari dua kepala yang berbeda itu memang tidaklah mudah. Namun, jika di dalamnya ada cinta, kasih sayang, itu semua yang membuat rumah tangga menjadi langgeng. Romantisme kehidupan antar pasangan juga harus di jaga. Agar keharmonisan tetap tercipta." Nasihat Bu Tina membuat semuanya termenung, termasuk
Ustadz Harun dan istrinya merasa terenyuh. Mereka perlu banyak belajar lagi dalam menjalani rumah tangga, baik menjadi sebagai seorang suami, istri, dan orang tua yang baik untuk anak-anaknya.
"Kami masih butuh banyak belajar, menjalani bahtera rumah tangga memang tidaklah mudah. Namun dia tidak akan pernah terganti kan." Katanya sambil menyenggol lengan Raina.
Raina tersipu. Pipinya merah merona. Dia pun memukul dada suaminya pelan. "Abi." Panggilnya dengan nada manja.
"Sudah nanti diteruskannya di kamar saja." Katanya dengan suara berbisik, agar tidak ada yang dapat mendengar.
Drama keduanya telah berakhir. Sebagai Ustadz, dirinya sedikit merasakan malu terhadap Yusuf karena harus melihat kejadian tadi. Tetapi apa boleh buat, karena kesalahannya dalam berbicara justru mengundang reaksi pertengkaran kecil.
Dan tinggalah kini Zainab, dia masih belum beranjak pulang. Hatinya masih belum mamou membendung rasa bahagia yang menyelimuti.
"Zai, Insya Allah pekan 2 atau 3 hari lagi. Paman akan berkunjung ke rumah mu. Untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara kau dan Yusuf."
"Iya Paman. Nanti akan Zai sampaikan kepada Ayah."
"Bibi ingin sekali ikut, tapi tidak mungkin akan meninggalkan Faisha sendirian di rumah." Raina duduk di samping Zainab.
"Tidak apa-apa, Bi. Lain waktu saja." Kata Zainab.
Selepas sholat ashar, Zainab pun minta diri untuk pulang. Diapun segera melajukan mobilnya. Bianglala terlukis begitu cantik, warna jingga yang menghiasi langit senja. Kendaraan sedikit padat, namun tidak menimbulkan kemacetan. Cukup dengan kecepatan sedang, Zainab mengemudikan mobilnya.
Dia pulang dengan membawa harapan besar. Sebentar lagi hidupnya tidak sendiri lagi. Yusuf, laki-laki yang diinginkannya kini akan segera menikahinya. Tidak sabar dirinya untuk tiba di rumah, dia ingin mengabarkan ini kepada Fikri dan juga Risa.
__ADS_1
Bersambung****