
Ujian sekolah sudah usai. Anak-anak kelas XII sudah memasuki masa kebebasannya. Tidak lagi ada pelajaran yang mereka harus ikuti. Tinggal menunggu hasil kelulusan dari pemerintah pusat. Demikian pula anak-anak kelas X dan XI, mereka juga sudah selesai melaksanakan ujian semester kenaikan kelas.
Agar mereka tetap menjalin kebersamaan antara siswa satu dengan yang lain. Pihak OSIS mengadakan kegiatan class meeting. Para siswa bisa mengikuti kegiatan yang diselenggarakan itu. Kegiatan yang terdiri dari beberapa jenis lomba, di antaranya lomba voley ball, futsal, bola kasti, puisi, speech, dan satu lomba yang sangat unik yaitu menangkap ikan belut. Tentu saja ada hadiah menarik untuk mereka yang mendapat juara 1, 2 dan 3. Mungkin bagi sebagian dari mereka, berpartisipasi demi meramaikan class meeting itu jauh lebih penting dari hadiah yang ditawarkan.
Pihak OSIS sebagai pihak penyelenggara, tentu saja meminta bantuan dari para guru bertindak sebagai juri dalam beberapa lomba. Selain Siswa tentu saja guru ikut andil dalam kegiatan class meeting itu. Para guru juga boleh turut serta dalam perlombaan, yakni menangkap ikan belut. Ini merupakan lomba yang ditujukan bagi siapa yang berminat.
Setidaknya dengan adanya kegiatan ini yang akan berlangsung dari hari senin hingga sabtu, dapat mengalihkan pikiran dan hati Zainab dari kesedihan dan kepedihan hidupnya. Dia tidak menolak saat diminta untuk menjadi juri di satu perlombaan, puisi. Dia juga sangat menyukai itu.
Perlombaan mulai berlangsung antar kelas. Anak-anak sangat antusias untuk mengikutinya, bagaimana mereka berkeja sama dalam team maupun mereka yang bertanding secara mandiri.
"Zai, aku ingin turut serta dalam perlombaan menagkap ikan belut." Sofia menyatakan keinginannya.
"Hmm silahkan. Toh, siapapun boleh ikut."
"Tapi aku ingin kau juga ikut." Sofia membujuk.
"Ahh, aku melihatnya saja sudah geli. Aku tidak berminat. Kau saja dan jangan mengajakku lagi." Katanya dengan penekanan.
Sofia mengerucut bibirnya sempurna. Semangatnya menurun karena Zainab tidak mau mengikuti ajakannya itu.
"Aku menjadi penonton saja, dan aku akan mendukungmu." Katanya lagi.
"Ahh, tidak seru." Ujarnya. "Tapi ada Dimas, dia juga ikut dalam lomba itu." Wajahnya kembali sumringah.
"Oh iya?." Zainab menampilkan wajah ketidak keterkejutannya. "Omong-omong, bagaimana kelanjutan hubungan kalian?." Tanya Zainab mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah Zai. Rumit seperti hubungan mu dengan Yusuf. Tapi aku akan segera memintanya untuk melakukan pertemuan kembali. Memperjelas semuanya, apakah memang kami akan melanjutkannya atau berakhir. Kau tahu kan, wanita itu butuh kepastian bukan hanya harapan."
"Semoga kalian melanjutkan hubungan itu hingga ke mahligai pernikahan."
"Aaminn. Teimakasih." Ucap Sofia.
Zainab tidak ingin Sofia mengalami nasib cinta yang sama dengan dirinya. Cukup dia sajalah yang harus merasakan pedihnya cinta tak direstui. Zainab juga masih menunggu luka hatinya mengering.
***
Tiba waktunya perlombaan yang sangat dinanti. Yaitu lomba menangkap ikan belut, dimana para peserta harus memindahkan ikan belut yang berada di bak berukuran besar ke dalam ember berukuran sedang yang diberi jarak sejauh 7 meter.
__ADS_1
Semua para siswa berkumpul di lapangan, ingin menyaksikan lomba yang baru diadakan dalam class meeting tahun ini. Pak Agus selaku kepala sekolah ikut turun dalam perlombaan itu. Secara tidak langsung mengajak para siswa untuk berpartisipasi.
Ada lima buah ember yang telah disediakan. Masing-masing peserta harus mengumpulkan 10 ikan belut yang harus masuk ke dalam ember. Durasi waktu yang diberikan yaitu 10 menit. Tentu saja ini sangat seru.
Lima peserta sudah mulai bersiap di garis start. Perlombaan ini mempunyai sistem pemain campuran, baik siswa maupun guru boleh bermain bersama secara langsung.
"Pak Yusuf, ayo ikut!." Ajak Dimas.
"Tidak, anda saja." Tolaknya. Alasan penolakannya adalah karena Yusuf memiliki phobia terhadap jenis ikan air tawar itu. Dia tidak mungkin mengatakannya sebab agak malu dan mungkin saja terdengar aneh.
"Sayang untuk dilewatkan, Pak. Ini pasti seru." Ujar Dimas sedikit heboh.
"Saya jadi penonton saja, atau nanti saya minta kepada panitia untuk jadi jurinya."
"Hmm, kapan lagi kita bisa turut partisipasi. Ini termasuk perlombaan baru di class meeting tahun ini. Dan guru boleh untuk mengikutinya." Dimas memperjelas.
Yusuf mengangguk pelan. Jika saja dia tidak memiliki riwayat phobia itu, pastilah dia akan berpartisipasi. Tapi, kemudian dia berpikir kejadian semasa kecilnya itu, mungkin saja kini sudah tidak akan berpengaruh lagi kepada dirinya. Sebab mungkin saja dengan seiring bertambah dewasa seseorang, maka phobia itu akan menghilang dengan sendirinya. Akan tetapi mungkinkah?
Yusuf masih terus berpikir ulang. Dia hanya menerka-nerka. Dia juga tidak mencoba untuk mencari tahu, bertanya kepada Google misalnya. Jika memang dia malu untuk bertanya langsung kepada siapapun yang ada disitu.
Kali ini ada Sofia yang akan berlomba dengan Dita dan tiga siswi yaitu Maya, Sinta dan Bista. Mereka bersiap-siap mengambil kuda-kuda untuk berlari menuju bak besar di depannya. Saat peluit berbunyi, mereka serempak berlari berebut ikan belut yang tengah berenang di sana. Entah bagaimana sulitnya menangkap makhlus licin satu itu. Pastilah sangat sulit, hanya mereka yang pandai dan mengetahui trik agar berhasil menangkapknya.
Penonton juga terus menyuarakan dukungannya disisi lapangan. Sorak sorai dan tawa memenuhi lapangan. Ada yang sudah berhasil menangkapnya, namun akhirnya harus terlepas kembali. Semakin membuat seru acara itu. Zainab juga bisa tertawa lepas menyaksikannya. Dia tidak sadar bahwa Yusuf memperhatikan dirinya. Makhluk indah bernama Zainab itu, mana mungkin dia bisa melupakannya.
"Ayo Bu Sofia coba terus tangkap ikannya." Kata salah seorang siswa yang meneriakinya.
"Maya, Sinta, Bista. Aku yakin kamu bisa." Kata salah seorang siswa yang lain.
Dita yang mendengar tidak ada satupun yang memberi semangat kepadanya, merasa kecewa. Dia tidak lagi serius menangkap ikan-ikan belut itu. Justru dia memukul-mukul air di bak besar itu, yang mengakibatkan cipratan air dimana-mana dan membasahi hampir seluruh pakaiannya. Sontak membuat yang lain menghentikan kegiatan menangkap ikannya.
"Bu Dita ini kenapa sih?." Maya yang kesal melihat tingkah gurunya itu, karena dia sudah berhasil menangkap satu ekor ikan, malah terlepas lagi karena kedua matanya terkena cipratan air.
"Aku capek." Katanya singkat.
"Kalau capek, Bu Dita mundur saja. Kan kami jadi terganggu." Timpal Sinta.
Merasa ada perdebatan, sang juri pun meniupkan peluitnya tanda permainam telah berakhir. Kemudia menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa ini?." Tanya Alfaro, sang ketua OSIS selaku juri.
"Ini kak, Bu Dita." Adu Maya.
"Kenapa Bu Dita?." Alfaro mengalihkan pandangan kepada Dita.
"Tidak apa-apa. Aku hanya capek saja menangkap ikan-ikan itu." Jawabnya santai tanpa memikirkan kekesalan yang lain.
"Kalau kamu gak mau capek, mendingan gak usah ikut. Cara kamu gak supportif." Sofia ikut menanggapi.
"Karena waktu permainan sudah habis dan peserta yang ikut bermain juga banyak. Lebih baik, Bu Dita da Bu Sofia serta kawan-kawan yang lain silahkan ke sisi lapangan." Pinta Alfaro dengan sopan.
Permainan dilanjutkan kembali setelah kejadian kecil itu. Kali ini Dimas, Pak Agus, Riko, Teguh dan ... peserta kurang satu lagi.
"Ayo siapa yang bersedia untuk mengisi satu lagi di sini?." Alfaro menujukan tempat kosong disebelahnya.
Setelah beberapa detik belum juga ada yang menawarkan diri.
"Pak Yusuf, ayo ikut!." Ajak Dimas.
Seluruh mata tertuju kepada Yusuf. Termasuk juga Zainab. Yusuf kebingungan, tenggorokannya tercekat. Dia sulit untuk mengucapkan kata tidak ataupun mungkin iya, sebagai jawabannya.
"Iya Pak. Tinggal tersisa satu tempat lagi dan ini permainan terakhir." Alfaro pun ikut membujuknya.
"Benar Pak. Bukankah tidak setiap tahun kita sebagai seorang guru bisa turut berpartisipasi dalam permaianan ini." Pak Agus meyakinkan.
Yusuf menyapu pandangan ke suluruh manusia yang tengah berdiri menatapnya, menanti jawaban apakah dia menyanggupinya atau tidak. Saat matanya beradu dengan Zainab, dia berhenti. Seperti meminta jawaban apa yan harus dia berikan. Mengingat phobia yang pernah dia alami itu dan tidak ada satupun orang yang mengetahui selain Ibu dan adiknya saja.
Zainab menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Menerbangkan ketakutan Yusuf kepada makhluk air tawar yang licin bernama belut itu.
"Baik, saya ikut dalam permainan ini." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Yusuf berada di garis start bersama dengan lain. Caranya kurang lebih sama seperti sebelumnya. Hanya memindahkan ikan belut dari bak ke ember. Yusuf merasakan jantungnya memompa darah semakin kencang saat mendekati bak berisi ikan-ikan belut itu berkumpul. Napasnya memburu, namun dia harus tetap mencobanya dan membuktikan apakah phobia itu sudah benar-benar hilang atau masih akan terjadi dengannya.
Dimas sudah berhasil lebih dulu menangkap ikan licin itu dan memindahkannya ke dalam ember. Diikuti oleh yang lain, yang juga sudah berhasil. Namun tidak dengan Yusuf, kedua tangannya masih berada di dalam bak besar. Dia merasa geli ketika melihatnya. Ketika Pak Agus berhasil menangkap ikan itu dua sekaligus, dan ikan itu dipamerkan didepan wajah Yusuf, dia merasa tubuhnya tiba-tiba melemas, napasnya semakin memburu, keringat dingin mulai bercucuran. Kemudian dia tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi kepadanya.
***Bersambung***
__ADS_1