
Setelah bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak diminta untuk segera mengumpulkan tugas yang Yusuf berikan. Ini merupakan kegiatan yang menyenangkan baginya sekarang, menjadi seorang guru. Meskipun terhitung baru sehari, Ia sudah merasakan kenyamanan di sekolah itu.
Setelah semua anak mengumpulkan tugas, dilanjutkan dengan berdoa dan kemudian mereka diperbolehkan pulang masing-masing. Yusuf melihat, terkadang ulah mereka memang lucu, ada yang kejar-kejaran, bercanda sambil menoyorkan kepala temannya, numpang naik motor pulang sama teman, berlari lebih dulu sampai ke parkiran, atau menunggu angkot di depan sekolah. Mengingatkan masa-masa Ia sekolah dahulu, dan adiknya Rere pasti sedang merasakan hal yang sama seperti mereka. Sengaja memang Yusuf memilih untuk mengajar di sekolah yang berbeda, tidak di tempat Rere bersekolah.
Tidak salah jika masa SMA adalah masa yang paling indah. Hidup mereka belum terbebani dengan kenyataan yang sesungguhnya. Akan tetapi ada juga sebagian dari mereka belajar dengan giat, tergolong anak-anak yang cerdas dengan IQ tinggi. Bagi mereka mempersiapkan bekal untuk meneruskan ke perguruan tinggi favorit, itu lebih penting daripada mengikuti pergaulan tidak jelas seperti yang lain. Sebab masa kini yang bisa menentukan masa depan. Obsesi mereka sangat tinggi untuk meraih cita-cita.
Ketika Yusuf melewati kelas Zainab, ternyata pada waktu yang sama Zainab juga muncul dari balik pintu. Zainab terkejut melihat Yusuf ada di hadapannya. Ia bingung harus menyapa atau diam saja. Pandangan mereka bertemu, membuat Zainab jadi salah tingkah, tanpa Ia sadari buku yang ada ditangannya terjatuh ke lantai. Gugup. Karena tidak pernah sebelumnya Ia secanggung itu jika bertatapan dengan laki-laki.
Yusuf pun dengan sigap membungkukkan tubuhnya untuk mengambil buku yang jatuh. Sedangkan Zainab malah diam mematung, matanya sampai tak berkedip. Hatinya seperti tersengat aliran listrik.
"Maaf, ini Bu Zai." Yusuf menyodorkan buku miliknya.
Tanpa menjawab atau sekedar berterimakasih, Zainab langsung meraih buku itu dan berjalan dengan cepat. Pikirannya membuncah tidak seperti biasanya. Dirinya pun bingung memecahkan teka-teki perasaannya sendiri.
Sedang Yusuf, raut kebingungan juga menyelimuti dirinya melihat sikap Zainab yang aneh. Ia memang tidak sepeka seorang perempuan, yang cepat menyadari arti perasaanya.
***
"Ada apa dengam dirimu, wahai Zainab?" Gumamnya seorang memandang dirinya dibalik cermin toilet.
"Mengapa kau tak bisa menguasai dirimu, dan sikapmu yang mungkin saja akan dikatakan aneh olehya." sambungnya lagi seraya memejamkam mata.
Tiba-tiba pintu dari salah satu toilet terbuka. Zainab tidak menyadari sedari tadi ada orang di dalamnya, bahkan mungkin saja sudah mendengar apa yang Ia katakan.
Ceklek.
Zainab membuka matanya, dan melihat siapa yang keluar dari balik cermin.
"Ohh, Bu Zainab." Sapa Dita.
"Dilihat dari mimik wajah Bu Zai, seperti kusut begitu. Ada masalah, mungkin saja mau berbagi cerita dengan saya?." Tawarnya mendekati Zainab.
"Mungkin saya hanya lelah saja, Bu Dita." Menyunggingkan senyum.
"Tadi saya dengar Bu Zai berbicara sendiri, sepertinya itu berurusan dengan seseorang dan menyangkut persoalan hati."
"Boleh saya tahu siapa orang itu, mungkin saja saya bisa membantu."
Benarkan, dia mendengar apa perkataanku tadi. Tumben sekali dia bersikap manis seperti ini kepadaku, hmm semoga saja tidak ada maksud terselubung dibalik itu semua. Pikir Zainab dalam hati.
"Terimakasih atas bantuannya Bu, tapi saya masih bisa mengatasi permasalahan itu sendiri."
"Ada Allah yang senantisa akan membantu." Masih dengan senyumnya.
Sombong sekali kata-katamu itu. Dasar sok alim. Siapa juga yang mau memberikanmu bantuan, aku hanya iseng saja. Tidak akan pernah sudi. Gumam Dita dalam hati seraya bibirnya membentuk seringai mengejek.
"Baiklah kalau begitu, semoga permasalahan anda segera selesai."
__ADS_1
"Iya Bu, saya permisi dulu." Pamit Zainab.
Namun belum sempat keluar, Dita menahannya.
"Maaf Bu Zai, saya ingin memberikan peringatan, dan tolong sampaikan kepada Bu Sofia, agar jangan terlalu dekat-dekat dengan Pak Yusuf. Karena saya tidak suka."
Zainab membalikkan tubuhnya "Apa alasan anda tidak menyukainya? Saya kira itu wajar, karena hanya ingin berteman."
"Tapi Bu Sofia itu sudah kelewat batas, dia itu ganjen, genit, menel, tidak tahu menempatkan diri jika sedang berdekatan dengan Pak Yusuf."
"Cukup Bu Dita, jangan pernah menghinanya lagi. Apakah anda pikir bahwa anda juga sudah bisa menempatkan diri untuk tidak merendahkan oranglain." Telak Zainab yang membungkam Dita.
"Jika anda menyukai Pak Yusuf, berusahalah sendiri tanpa harus menjatuhkan oranglain. Bukankah itu persaingan yang sehat? Bukankah kita sudah dewasa, cukup untuk bisa membedakan mana cara yang baik dan buruk?"
Dita menelan ludahnya sendiri, menelan juga jawaban yang akan Ia ungkapkan. Ternyata Zainab membuatnya tidak berkutik.
Zainab pun berlalu meninggalkan Dita, yang mungkin saja sedang berpikir keras, mencerna kalimatnya tadi.
Sungguh geram hati Zainab dan mendapati kenyataan bahwa Sofia, sahabatnya sendiri dan juga Dita menyukai Yusuf. Hatinya merasakan segaris pilu menyanyat.
***
Mobil Yusuf memasuki pekarangan rumahnya. Rumahnya memang tidak terlalu besar, sederhana, nyaman, sejuk banyak pepohonan, sehingga oksigen mampu dengan baik terhirup disana. Rumah yang Ia tempati saat ini, memang tidak sebesar dulu. Ia menjualnya karena Ibu nya selalu saja mendapati tengah menangisi sang Bapak, terkenang akan masa-masa saat bersama dahulu. Itu membuatnya tidak tega dan mengajaknya untuk pindah.
Seorang wanita paruh baya keluar dan diiringi senyuman yang hangat menyambutnya.
"Walaikumsalam." Seraya mengambil alih tas yang di tenteng Yusuf, namun Ia menolaknya.
"Tidak usah Bu. Biar Yusuf saja." tolaknya dengan lembut.
"Tapi jika kamu sudah menikah, istri kamu harus melakukannya." Mengisi air kedalam gelas dan memberikannya kepada Yusuf.
"Cari istri yang sholeha, bisa melayani suami, patuh dan taat sama suami, bukam cuma cantiknya saja yang dicari."
Yusuf mengeryitkan dahi "Yusuf baru pulang, Ibu sudah curhat soal menantu."
"Harusnya kamu tahulah itu berarti kode, kalau Ibu sudah kepengen punya menantu, sudah pengen gendong cucu. Lihat tuh tetangga sebelah, bulan depan anaknya mau menikah. Kan ibu kepikiran, kamu yang usianya sudah matang, belum juga punya pendamping hidup. Dijodohkan tidak mau. Nyari sendiri, gak dapat-dapat." Celotehnya panjang lebar.
"Iya Bu, sabar. Yusuf juga lagi cari ko. Cuma masalahnya Yusuf milih yang karakternya gak secerewet Ibu. Nanti Yusuf baru pulang kerja diomelin, dicurhatin karena tetangga punya ini dan itu." Sambil tertawa.
Ibu Tina reflek memukul lengan Yusuf, yang mengatainya cerewet. Meskipun Ia tahu bahwa itu hanya sekedar gurauan. Itu biasa terjadi saat mereka sedang mengobrol bersama.
"Biar Ibu ini cerewet, tapi Bapakmu cinta. Sampai punya kamu dan Rere."
"Iya Bu, do'akan saja supaya Yusuf bisa segera mengenalkan seorang perempuan yang akan menjadi menantu Ibu.
"Insya Allah minggu depan, Yusuf akan pergi kesalah satu ustadz yang dulu Yusuf pernah mengikuti kajiannya sewaktu masa kuliah. Minta dicarikan jodoh yang sholeha, sesuai permintaan Ibu ku tersayang ini."
__ADS_1
Bu Tina tersenyum, wajahnya berubah cerah, mendengar ada harapan yang sangat Ia tunggu dari anak lelakinya tersebut.
Setelah meneguk habis air minumnya, Yusuf pamit untuk membersihkan dirinya.
***
Makan malam sudah tersedia di meja. Zainab, Fikri dan Risa tengah bersiap untuk menyantapnya.
"Zai, sebentar lagi kamu akan mempunyai keponakan lucu." Kata Fikri membuka obrolan.
Zainab membelalakan kedua matanya. Antara terkejut dan bahagia mendengar kabar itu.
Bagaiman tidak, karena sudah tiga tahun penantian pernikahan antara Fikri dan Risa untuk mendapatkan seorang buah hati, akhirnya dikabulkan oleh Allah.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan punya keponakan. Pasti nanti lucu dan cantik kayak aku." Zainab memasang wajah imut.
Fikri yang mendengarnya, langsung beradegan seolah-olah akan memuntahkan sesuatu. Dan itu membuat Risa tertawa melihatnya.
"Mas Fikri, jahat banget sih sama aku." Zainab memanyunkan bibirnya.
"Itukan anak aku, iya jelas nurun Abinya dong. Ganteng, pinter, iya kan Sayang." melirik Risa disebelahnya.
"Ketahuan aja belum apa jenis kelaminnya, baru juga lima minggu. Yang pasti, mau laki-laki atau perempuan yang terpenting dia lahir dengan sehat, sempurna fisiknya dan selamat."
"Mbak Risa benar tuh, Mas. Dengerin biar gak salah lagi kalau bicara."
"Ahhh, sama saja kamu." Sangkalnya.
"Sudah, ayo cepat habiskan makanannya." Perintah Risa.
"Besok kalau Ayah sudah kembali dari luar kota, pasti sangat senang mendengar kabar ini. Karena sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu." Kata Risa sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Fikri dan Risa saling berpandangan. Kemudian menggenggam tangan Risa dan menciumnya. Mereka lupa bahwa masih ada Zainab disitu dan menyaksikannya. Sungguh membuatnya iri. Zainab menoleh ke kursi sebelahnya yang kosong. Miris sekali.
"Iya Allah, mereka lupa kalau aku sering baper ketika melihat ada adegan romantis di depanku." Nada Zainab dibuat seolah sedih.
"Makanya cepat cari pasangan sana, emang gak bosen sendiri mulu. Masa kamu kalah sama si Pusina, dia itu selalu bawa main pasangannya ke rumah. Gonta-ganti tiap minggu. Sampai Mas saja gak hafal-hafal siapa namanya." Sambil terkekeh.
"Iya Allah, masa iya nasibku disamain sama si Empus. Si Kucing ternyata playboy juga ya. Pasti nurun yang punya." Sindirnya pada Fikri.
"Itukan dulu, sekarangkan hanya ada Risa Salsabila seorang dihatiku. Selamanya." Tatapnya dengan penuh aroma cinta dan kasihsayang.
"Ooh so sweet. Terimakasih Sayang." Ucapnya penuh bunga dihatinya.
"Emang ya, kalian berdua itu selalu kompak kalau lagi jahatin perasaan ku."
Fikri dan Risa puas mentertawakan sang adik, dilanda perasaannya yang kesal akibat ulah mereka berdua.
__ADS_1