Cinta Zainab

Cinta Zainab
Perasaan Zainab


__ADS_3

Suara adzan magrib sudah berkumandang, saling bersahutan. Yusuf menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia hendak menunaikan sholat di masjid. Dia melewati segerombolan wanita, dan sempat terdengar mereka saling berbisik.


"Iya Allah, tampan sekali dia." Kata salah seorang dari mereka.


"Kayaknya aku gak pernah lihat dia sebelumnya. Apa mungkin warga baru kali ya." Kata dari mereka yang lain.


"Hush istighfar, kalian ini gak bisa lihat laki-laki bagusan dikit." Teguran muncul mengingatkan dari wanita yang memiliki paras tidak terlalu cantik, namun manis jika dipandang. Namanya Almira.


"Iya ustadzah." Mereka tergelak bersama.


Mereka masuk ke dalam masjid, mengenakan peralatan sholat masing-masing. Tidak ada obrolan ataupun candaan lagi diantara mereka. Sang Muadzin mulai mengumandangkan iqomah. Mereka bersiap merapihkan shaff, karena sholat akan segera di mulai.


Namun ketika sholat akan di mulai, orang yang biasa menjadi imam tidak kunjung maju ke depan. Semua jama'ah celingukan, mungkin saja sang imam sedang mengambil wudhu, namun ketika ditunggu beberapa saat, tidak juga muncul. Perdebatan terjadi diantara mereka, tidak ada yang ingin menjadi imam sholat. Di shaff bagian wanita juga nampak penasaran mengapa sholat belum juga dilaksanakan. Yusuf yang menyaksikan perdebatan itu, akhirnya memutuskan mengajukan dirinya sebagai imam.


Usai sholat dan semua jama'ah membubarkan diri. Yusuf kembali ke mobilnya, hendak meneruskan perjalanan pulang. Namun lagi didapatinya segerombolan wanita yang sempat dia lihat tadi. Rupanya mereka sedang membicarakan Yusuf. Samar terdengar olehnya.


"Masya Allah, suara bacaa'an nya bagus banget. Aku jadi semakin jatuh hati kepadanya, namun sayang aku tidak tahu siapa dirinya."


"Sudah tampan, sholeh pula. Kurang apa lagi coba. Kriteria suami idaman." Timpal yang lain.


"Kalian ini...." Almira belum sempat meneruskan perkataannya, tetapi sudah terpotong.


"Please Almira, untuk kali ini biarlah kami mengagumi dia. Toh, besok belum tentu dia akan kembali sholat di sini."


"Tundukan pandangan, zina mata tuh." Almira mengenakan sepasang sandalnya.


"Almira, sepertinya kalian cocok deh. Kalian tuh sama-sama ngerti soal agama."


"Lalu kalian gak ngerti soal agama?."

__ADS_1


"Iya bukan begitu. Jangan-jangan kalian jodoh, dipertemukan sama Allah di sini." Goda temannya. Wajah Almira bersemu merah, hatinya juga penasaran terhadap Yusuf yang belum dia kenal. Namun apa mungkin, itu hanya gurauan belaka yang dilontarkan oleh temannya.


"Sudah, sudah. Nanti kalau dia dengar bagaimana." Almira ingin segera menyudahi percakapan mengenai Yusuf.


"Tapi saya sudah terlanjur mendengar percakapan kalian." Yusuf sengaja berjalan di belakang mereka. Apa dia berniat menguping?


Langkah Almira dan kedua temannya terhenti. Betapa terkejutnya mereka, mengetahui keberadaan Yusuf tanpa mereka sadari sejak tadi. "Maaf, kami tidak bermaksud...." Almira tidak bisa meneruskan kata-katanya. Lidahnya kaku bercampur malu.


"Karena sudah ketahuan, apa boleh kami berkenalan denganmu?." Pinta teman Almira yang biasa disapa Gina. Urat malunya memang sudah lama putus. Dia jago dalam mendekati laki-laki lebih dulu. Almira menarik lengannya karena Gina justru ingin berkenalan, bukannya meminta maaf.


"Saya Yusuf, saya sengaja mampir untuk sholat di sini."


Gina ber"O" tanpa suara. Dia melepaskan lengannya dari Almira. "Saya Gina, ini Efrin dan ini Almira." Katanya sembari menunjuk satu persatu. Efrin dan Almira menganggukan kepala sopan dan mendapat balasan anggukan pula dari Yusuf.


"Kalau Mas nya mau mencari jodoh, ini teman saya masih jomblo." Katanya menawarkan Almira. Almira terkejut dan membelalakan kedua bola matanya kepada Gina. Memangnya dia barang, tega sekali.


Yusuf tersenyum melihat ekspresi wajah Almira. Mengingatkannya pada Zainab. Zainab lagi. Namun dia memilih untuk menghiraukannya. Tidak ingin menanggapi kekonyolan Gina.


"Walaikumsalam." Jawab mereka serempak.


Yusuf berjalan meninggalkan mereka yang masih tercengang. Wanita itu memang aneh. Pikirnya.


Nafas Almira bergerak naik turun, menahan emosinya. Begitu selepas Yusuf pergi, mulutnya tidak berhenti mengomel 90km/jam. Gina dan Efrin segera menutup kedua telinganya. Panas, tidak kuat mendengar ceramah dari Ustadzah.


***


Zainab segera membersihkan dirinya dan menunaikan sholat magrib. Risa yang sudah sejak tadi menunggunya, duduk di tepi ranjang dengan berpangku satu bantal. Dia begitu sangat penasaran dengan Yusuf, rasanya ingin memberondong Zainab dengan banyak pertanyaan.


"Mbak Risa?." Zainab melepas mukenanya dan melipatnya.

__ADS_1


Risa menaik turunkan kedua alisnya. "Tadi pulang di antar sama siapa?." Sebenarnya pertanyaan itu tidak dipertanyakan lagi, toh semua orang rumah sudab mengetahui dengan siapa tadi Zainab kembali. Namun tidak afdol rasanya jika Risa tidak menanyakan langaung kepada adik iparnya itu.


"Sama Yusuf." Zainab beranjak dan mendudukan dirinya juga di tepi ranjang, mengahadap Risa. Seolah dia siap menerima berbagai pertanyaan dari Risa. Tapi ini bukan kuis berhadiah.


"Ohh, jadi itu tadi yang namanya Yusuf. Tampan juga dia." Risa mulai melancarkan aksinya untuk menggoda Zainab. Dan Zainab hanya berani mengakui itu di dalam hatinya. "Apa kamu menyukai Yusuf?." Ini adalah pertanyaan yang paling menohok bagi Zainab.


"Mbak Risa jangan ngaco deh." Semburat malu dan mendebarkan selalu dekar dengan dieinya jika bersinggungan dengan nama Yusuf. Namun bukan Risa jika tidak bisa menebak perasaan Zainab. Mungkin karena mereka adalah sesama perempuan, jadi lebih sedikit peka.


"Tuh kan jadi salah tingkah." Risa mencolekk pipi Zainab yang terlihat memerah. "Berarti kamu tinggal mengatakannta kepada Ayah, jika kamu sudah menemukan orang yang tepat untuk dijadikan sebagai suami."


"Tapi Mbak, Zainab sudah terlanjur meminta tolong kepada Bibi untuk mencarikan calon suami." Bibirnya mengerucut. Ada kecewa tersirat di kedua bola matanya.


"Dibatalkan saja, dan sampaikan jika kamu menginginkan Yusuf. Justru Paman dan Bibi akan merasa bahagia." Usul Risa penuh senyum. Dia begitu bersemangat.


Sejenak Zainab berpikir apa yang diucapkan oleh kakak iparnya itu. Di sisi lain dia memang menginginkan Yusuf untuk menjadi suaminya, namun di sisi lain dia tahu bahwa Yusuf bukanlah dari kalangan orang berada. Ini yang kemudian mengganjal pikirannya. Apakah Ayah akan semudah itu untuk menerimanya. Tapi ini menyangkut kebahagiaan anaknya, semoga saja Ayah mengabulkannya.


"Mbak, tapi Yusuf bukanlah orang berada. Aku takut jika Ayah akan menolaknya." Zainab terlihat putus asa.


Risa pun menyurutkan senyumnya melihat Zainab merasa kehilangan sesuatu yang tak terlihat. "Mbak Risa dan Mas Fikri nanti akan ikut menyakinkan Ayah, agar mau menerima Yusuf." Risa menepuk bahu Zainab menyalurkan kembali rasa semangat.


"Sungguh?." Zainab mencoba meyakinkan dirinya dan mendapat anggukan dari Risa.


"Terimakasih ya Mbak. Nanti Zainab akan menyampaikannya kepada Paman dan Bibi." Seraya menghambur kedalam pelukan Risa.


"Eits jangan erat-erat, dedek bayinya nanti gak bisa bernafas." Sontak Zainab segera melepaskan pelukannya itu. "Aduh maaf ya keponakan ku, Bibi mu ini terlalu bahagia." Zainab mengelus perut Risa. Tingkah Zainab membuat Risa tertawa.


Baginya Zainab sudah seperti adik kandungny sendiri. Tidak ada rasa segan ataupun malu di antara mereka. Apapun akan Zainab utarakan menyangkut rahasia perasaanya. Namun hanya satu rahasia ini yang tidak diketahui oleh Sofia, tentang perasaan Zainab terhadap Yusuf.


****

__ADS_1


Part ini gak banyak. Tapi tetep kudu mikir😆😆.


Jangan lupa like, comen, paporit dan vote. itu kan menyalurkan energi ku untuk semakin semangat ngetik ceritanya.


__ADS_2