
"Zai, tolong ajak dia ke kamarmu dan obati lukanya." Perintah sang Ayah.
"Baik Ayah." Zainab mengajak Sofia menuju kamarnya.
Ia prihatin melihat kondisi perempuan itu, sungguh mengenaskan. Setelah mendengar penjelasan Ayah, mengapa membawa pulang seorang wanifa muda yang penuh dengan luka. Dan juga kisah Sofia yang menyedihkan, sampai alasan mengapa Ia bisa masuk ke dalam cengkraman Tuan Toni.
"Aduh." Sofia mengaduh saat Zainab membersihkan lukanya.
Zainab tersenyum. "Besok pasti kamu akan merasa lebih baik."
"Terimakasih Mbak." Ucapnya.
"Panggil saja saya Zainab, sepertinya kita seumuran."
"Iya, baiklah.
"Sudah larut malam, sebaiknya kamu segera istirahat. Dan jangan takut, kami semua akan melindungi mu." Zainab berusaha menenangkan. Ia masih bisa melihat ketakutan ada di wajahnya.
Mungkin ini adalah salah satu do'a Ibu nya. Ia dipertemukan dengan orang-orang baik. Air mata Sofia mengalir, teringat akan kesalahan kepada Ibunya. Ia ingin memeluknya dan meminta maaf.
***
Sudah beberapa hari Sofia berada di rumah itu. Senyumnya sudah kembali mengembang dan ketakutan di wajahnya pun terlihat memudar secara perlahan. Sofia menyampaikan keinginannya untuk kembali pulang. Ia sangat merindukan Ibu dan kedua adiknya. Sudah 1 pekan lebih, Ia belum pernah lagi mengubungi Ibunya setelah kejadian malam itu.
Ayah Zainab menyetujuinya. Dengan syarat bahwa Sofia harus mau jika Ayah dan Zainab ikut mengantarnya pulang, dengan alasan jaminan keselamatannya.
Akhirnya Sofia menerima tawaran itu, meskipun dengan berat hati. Karena sudah terlalu banyak merepotkan. Mereka selalu memperlakukannya dengan baik.
Setibanya di rumah, Sofia sudah tidak sabar untuk segera menemui Ibunya. Pintu rumah itu sudah dalam keadaan terbuka, sang Ibu tengah duduk di beranda. Seperti firasat akan ada seseorang yang datang.
Tanpa aba-aba lagi, Sofia langsung membuka pintu mobil dan berlari keluar menghambur memeluk Ibunya. Ia menumpahkah air mata yang membuat Ibunya kebingungan dan timbul banyak pertanyaan. Sofia terisak tiada henti, seolah ingin membayar segera kesalahnnya.
Ayah Mujayasa dan Zainab pun ikut menemui mereka. Ibu Desi melepaskan pelukannya, Ia terkejut melihat kedatangannya. Mujayasa menjelaskan kronologi yang menimpa Sofia, dan bagaimana Dia bisa selamat. Sofia hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepalanya jika di tanya.
"Bagaimana jika kalian pindah saja, kehidupan kalian akan lebih aman daripada harus bertahan di sini. Saya khawatir Toni akan mengerahkan orang suruhannya untuk mencarimu. Bahkan ancaman juga bukan hanya untuk dirimu saja, melainkan juga Ibu dan kedua adikmu." Saran Mujayasa.
Sofia dan Ibunya saling melempar pandang.
__ADS_1
"Saya tahu, ini sangat berat bagi kalian. Meninggalkan rumah ini, terlalu banyam kenangan yang terjadi di sini. Tetapi keselamatan kalian jauh lebih berharga." Imbuhnya lagi meyakinkan.
"Kami tidak memiliki biaya untuk meneruskan hidup di kota lain, Pak. Rumah ini harta satu-satunya yang kami miliki." Keluh Ibu Desi.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya. Saya akan beri tempat tinggal untuk kalian. Dan, tolong jangan menolaknya. Anggaplah ini sebagai hadiah dari kami, karena saya melihat semenjak datang kehadiran Sofia di rumah kami, Zainab terlihat begitu bahagia."
Sofia pun merasakan hal yang sama. Ia begitu nyaman dan bahagia bisa mengenal Zainab. Dia perempuan yang baik, sholeha, banyak sesuatu yang Ia ajarkan kepadanya.
Sofia memandang Zainab. Zainab pun menganggukan kepalanya pertanda bahwa Ia harus menyetujui permintaan Ayahnya itu.
"Ibu." Sofia mulai membuka suara. "Sofia kira apa yang dikatakan Om Mujayasa benar. Kita harus pindah demi keselamatan hidup kita. Sofia takut jika mereka akan kemari dan mengajak Sofia secara paksa untuk kembali kepada Tuan Toni." Bujuknya.
Sejenak Ibu Desi berpikir. Ia belum bisa memutuskan hal ini, baginya ini adalah pilihan yang sulit. Tetapi apa yang dikatakan putrinya itu memang benar adanya.
"Baiklah, Nak. Demi keselamatan hidup kita, Ibu setuju untuk pindah."
Sofia memeluk Ibunya lagi. " Terimakasih Bu."
Mereka berdua berkemas. Sambil menunggu Tita dan Nesya pulang dari sekolah. Tetangga yang ingin tahu pun keluar atau mengintip dari dalam rumah, mencoba mencari tahu.
Ribuan rasa terimakasih diucapkan oleh Ibu Desi kepada Mujayasa. Balas budi seperti apa yang harus diberikannya kepada keluarga baik yang sudah menolongnya itu. Kini hidup Sofia sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Zainab mengajak Sofia untuk menjadi seorang Guru di sekolah tempatnya mengajar. Mereka setiap hari selalu bersama, canda tawa, suka duka pernah mereka alami berdua. Sampai mereka mengikat janji untuk menjalin sebuab persahabatan. Persahabatan sampai surga.
***
"Zai, apa kau tidak merasa kegerahan memakai jilbab ini setiap hari." Sofia memegangi jilbab Zainab.
"Sudah kewajiban bagi seorang perempuan untuk menutup auratnya, bahkan Allah sendiri yang memerintahkannya, ada di dalam Al- Qur'an surah Al-Ahzab ayat 59. Yang artinya :
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha penyayang."
Sofia manggut-manggut mendengar penjelasan Zainab.
"Apa kau mau mencoba memakainya.?." Tawar Zainab.
"Ehmm boleh." Sofia dengan senang hati menerimanya.
__ADS_1
Sofia duduk di depan meja rias. Zainab mulai mengambil 1 jilbab segiempat warna maroon. Ia mendandani Sofia, agak kikuk memang karena tidak terbiasa. Hasilnya pun tidak mengecewakan.
"Sofia, kau cantik sekali." Puji Zainab.
Sofia yang memandangi dirinya di balik cermin pun tersenyum. Dia terlihat semakin cantik dengan balutan jilbab itu.
"Tapi... tapi aku belum siap, Zai. Aku malu, Aku masih merasa belum pantas memakainya."
"Lho kau ini bicara apa. Ini perintah langsung dari Allah, kamu menolaknya?"
"Sikapku saja masih belum baik, dosa dan kesalahan ku sangatlah banyak. Apa kata orang nanti."
Zainab tersenyum mendengar alasan sahabatnya itu. "Tidak ada tolak ukur dalam mengenakan hijab, apakah hati kita sudah baik atau belum, banyak atau tidak dosa kita. Dengan kita mengikuti perintah Allah untuk menutup aurat, itu sama dengan kita sudah menutup satu pintu dosa. Mudah-mudahan dengan kita berjilbab, ini menjadi rem dan pengingat bagi diri sendiri, disaat kita akan melakukan maksiat." Terang Zainab.
"Aku juga masih berusaha untuk tetap memperbaiki diri. Aku tidak pernah tahu esok aku akan mati dalam keadaan baik atau buruk, meskipun aku selalu berdoa ingin mati dalam keadaan husnul khotimah." Tutup Zainab.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Bantu dan selalu ingatkan aku ya." Sofia mengatupkan kedua tangannya.
"Hush apa-apaan sih, Sof. Sudah seharusnya tugas kita saling mengingatkan satu sama lain." Zainab menurunkan tangan Sofia.
"Aku juga ingin belajar sholat, selama ini aku cuma sholat setahun sekali, kalau pas hari raya idul fitri."
Zainab tergelak mendengar pernyataan Sofia. "Benarkah itu?."
Sofia menganggukan kepalanya.
"Baiklah, nanti aku akan mengajarkan mu. Aku juga mempunyai beberapa koleksi buku menarik, mungkin bisa kamu baca dan menjadikannya motivasi atau referensi."
"Kau memang sahabatku yang paling baik, terimakasih Zai."
Mereka pun berpelukan. Sofia beruntung bertemu dengan Zainab. Dia seperti sosok cahya penerang yang dikirim Tuhan untuknya, menjadikannya sebagai seorang sahabat, tidaklah akan merugi.
****
Para readers, maaf ya kalo mungkin ada yang typo atau muter2 alur ceritanya.
Jangan lupa like, commet, ngarep banget akuhhh.😁😁😁
__ADS_1